SULTAN DIMINTA BANTU TUNTASKAN KASUS PENYERANGAN LAPAS CEBONGAN

Empat tahanan tewas diberondong peluru. Para pelaku masih misterius

VIVAnews – Masyarakat Anti Kekerasan Yogyakarta (Makaryo) meminta Raja Kraton Yogyakarta sekaligus Gubernur DIY, Sultan Hamengkubuwono X, turun tangan dalam menuntaskan kasus kekerasan yang terjadi di LP Cebongan, Sleman yang menewaskan empat tahanan Polda DIY dalam kasus pengoroyakan anggota Din Intel Kodam IV Diponegoro, Serka Santosa hingga tewas.

Apalagi pasca-kejadian tewasnya anggota Din Intel Kodam IV Diponegoro, juga terjadi pengeroyakan yang mengakibatkan anggota Kodim Yogya Sriyono mengalami luka bacok di kepala dan kritis di RS Bethesa Yogyakarta.

“Kita meminta supaya Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan HB X turun tangan dan mendesak Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengusut,” kata Koordinator Makaryo, Tri Wahyu, Minggu 25 Maret 2013.

Harapan agar Sultan HB X turun langsung itu bukan hanya dilakukan retorika semata. Tetapi, dilakukan implementasinya mengawal kasus hukum yang tengah berjalan.

“Kami minta raja bukan hanya sekedar menghimbau semata, tetapi tindakan kongkret dengan mengawal kasus ini hingga selesai,” harapnya

Lebih lanjut, Wahyu mengatakan jika kasus ini tidak segera dituntaskan dengan menangkap pelakunya akan merembet pada kondisi keamanan dan kenyamanan sebagian masyarakat di Yogyakarta.

Sementara itu, Komando Inti Keamanan (KOTIKAM) DIY membantah, adanya anggapan bahwa pihaknya terlibat dalam kasus kekerasan baik yang di Hugo’s yang mengakibatkan tewas anggota Kopassus maupun kasus pembacokan di Jalan Dr Sutomo yang menimpa anggota intel Kodim 0734 Yogyakarta.

Sebaliknya, KOTIKAM justru siap membantu petugas kepolisian maupun TNI diterjunkan untuk memberantas premanisme dan mengungkap pelaku aksi kekerasan, termasuk dalam kasus penembakan brutal di LP Cebongan, Sleman, beberapa hari lalu.

”Pelaku tindak kriminal yang bernama Diki bukan anggota KOTIKAM DIY,” kata Ketua Umum KOTIKAM DIY, Harun Al Rasyid.

Dengan tegas, dia mengatakan bahwa orang tersebut, sama sekali bukan anggota KOTIKAM. Bahkan, secara pribadi juga bukan anak buah dari organisasi yang ia pimpin. Meski demikian, ia mengaku bahwa dirinya dianggap sebagai bapak mereka.

”Sejak lama saya sudah bekerja di dunia malam. Mereka menganggap saya sebagai bapak, dan mereka saya anggap sebagai anak saya tapi bukan anak buah saya. Hanya kalau ada hal yang bersifat konflik, bisa saya rangkul,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menegaskan, pihaknya juga tidak tahu menahu mengenai pelaku kasus penembakan di LP Cebongan Sleman. Pihaknya mengutuk adanya aksi tersebut, yang dianggap semakin meresahkan kondisi Yogyakarta.

“Kami akan membantu untuk mengungkap siapa di balik penyerangan di LP Cebongan. Kami tidak bertindak sendiri, namun berkoordinasi dengan Polri dan TNI, paling tidak membagi informasi,” tuturnya. (ren)
sumber: vivanews

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *