KISAH WALI KOTA DUMAI DAN DUGEM SEHAT

KOMPAS.com — Publik di Kota Dumai, Provinsi Riau, dalam dua pekan terakhir terbelah dengan debat pro-kontra. Debat itu bermula dari acara pencanangan hiburan malam oleh sang Wali Kota, Khairul Anwar, di sebuah klub malam, di kota pelabuhan itu pada Minggu (10/3/2013) lalu.

Misi Khairul sebenarnya bagus. Dugem yang dicanangkannya harus jauh dari narkoba, minuman keras, dan wanita asusila. Dalam sambutannya membuka dugem itu, Khairul mengatakan bahwa Kota Dumai tidak memiliki wisata alam yang dapat dijual. Dumai tidak punya gunung, tidak punya pantai pasir putih, dan tidak pula memiliki sungai yang indah. Sementara itu, kota pelabuhan tersebut sangat padat dengan kegiatan sepanjang tahun yang dapat menghasilkan devisa sebesar Rp 174 triliun dari kegiatan ekspor CPO-nya keluar negeri.

Khairul kemudian membandingkan dengan Jeddah, kota pelabuhan di Arab Saudi, yang juga memiliki tempat-tempat hiburan. Dia ingin Dumai memiliki tempat hiburan malam bermarwah, bermartabat tanpa narkoba, miras, dan wanita asusila. Dengan mengucap bismillahirrohmanirrohim, Khairul pun membuka dugem sehat itu.

Ketika berita dugem itu ditulis media massa, timbul pro kontra. Ada yang setuju, tetapi tidak sedikit yang kontra. Yang setuju mengatakan, gagasan dugem sehat ala Khairul adalah sesuatu yang positif. Hal itu jika mengingat hiburan malam selama ini diwarnai dengan narkoba, miras, dan wanita nakal. Dengan dugem sehat, Khairul ingin agar narkoba dihilangkan. “Mengapa mencanangkan sesuatu yang positif harus diperdebatkan,” ucap kelompok pro Khairul.

Sebaliknya, kelompok yang kontra berpendapat, hiburan malam tidak perlu dipromosikan, walaupun dibungkus dengan nama dugem sehat. Yang namanya dugem pasti identik dengan maksiat. Titik. Tidak perlu ditawar-tawar lagi. Kok Wali Kota malah mengajak warganya dugem. Terlebih lagi, pada saat peresmian itu, wanita-wanita yang ada di klub memakai rok tinggi. Makanya, kelompok-kelompok agama dan mahasiswa lebih kencang memprotes pencanangan dugem itu.

Hampir setiap hari, media lokal meributkan hal itu. DPRD Dumai pun akhirnya memanggil Khairul untuk menjelaskan pencanangan dugem sehat yang digagasnya itu. Hari Kamis (21/3/2013) kemarin, DPRD Dumai resmi memanggil Khairul untuk melakukan klarifikasi di gedung Dewan.

Khairul tidak hadir dalam acara itu dan hanya diwakili oleh Kepala Dinas Pariwisata Eldar Afinta. Meski tidak hadir, Khairul tetap menjadi bulan-bulanan. Dia dikecam dari berbagai kalangan yang hadir. Salah satu hal yang paling dikecam adalah ucapan “bismillah” Khairul saat membuka acara dugem itu.

Eldar membantah keterangan yang menyebutkan Khairul mengucap “bismillah” pada saat pencanangan. Menurut Eldar, Khairul datang ke klub malam itu dengan tujuan ingin menjamu tamunya yang datang dari Jakarta. Hari itu, beberapa jenderal polisi dan petinggi dari Kementerian Pariwisata memang datang ke Dumai.

Bantahan Eldar tidak bertahan lama karena, tidak lama kemudian, di dunia maya beredar rekaman sambutan peresmian dugem itu. Faktanya, Khairul memang mengucap “bismillah”. Serangan kepada Khairul pun kembali gencar.

Kelompok politik yang berseberangan dengan Khairul tampak menjadikan kasus itu sebagai amunisi untuk menyerang. Muncul wacana untuk mengajukan interpelasi, dengan tujuan menggulingkan sang Wali Kota.

Apakah dugem sehat dapat menjatuhkan Wali Kota bertubuh besar ini? Kita lihat saja perkembangannya.
sumber : kompas

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *