ANAS MENGAKU TAK KENAL DJOKO DAN TEDDY

Anas dipanggil sebagai saksi, bukan sebagai politikus.

JAKARTA – Penyidik KPK menanyai mantan Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum seputar relasinya dengan Irjen Djoko Susilo, AKBP Teddy Rusmawan, dan koleganya di DPR, Saan Mustopa, Benny K Harman, M Nazaruddin, serta almarhum Sutjipto. Namun, Anas tidak mengenal Djoko dan Teddy.

Pengacara Firman Wijaya meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa seluruh pengurus Partai Demokrat dalam kasus korupsi pengadaan alat simulator roda dua dan roda empat di Korps Lalu Lintas (Korlantas) Mabes Polri. Pasalnya, kliennya, Anas Urbaningrum, dipanggil dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum (Ketum) Demokrat.

Firman menegaskan, jika dalam kapasitas sebagai kader partai politik, kliennya bukanlah penyelenggara negara. Dia juga mengatakan sebagai ketum, Anas lebih banyak berperan sebagai simbol partai. Karena itu, jika KPK menemukan adanya dugaan keterkaitan Partai Demokrat dalam kasus ini yang ditandai dengan pemeriksaan Anas, pengurus juga harus diperiksa.

“Kalau korporasi tentu tidak individu. Ini bukan kapasitas pribadi Pak Anas, tetapi sebuah institusi, lambang dari sebuah partai. Ya kalau berbicara kebenaran materil, tentu semua aspek menyangkut aspek kelembagaan tentu sebaiknya begitu (diperiksa),” tegasnya, Jumat (15/3).

Pemanggilan Anas dalam kapasitasnya tersebut menimbulkan berbagai spekulasi, terutama kaitan kasus ini dengan partai penguasa ini. Dengan demikian, agar kasus lebih terang benderang, KPK diminta untuk memeriksa struktur pengurus partai.

Juru Bicara KPK Johan Budi tidak secara tegas membantah pemeriksaan Anas dalam kapasitasnya sebagai Ketum Demokrat. Sebaliknya, dia mengatakan pemanggilan Anas sebagai mantan Ketum Demokrat tidak berkaitan dengan isi pemeriksaan.

Johan mengatakan, dalam pemeriksaan, Anas sepenuhnya diperiksa dalam kapasitasnya sebagai anggota DPR periode 2009-2010. Keterangan yang penyidik butuhkan, ujar Johan, telah disampaikan oleh Anas dalam pemeriksaan yang berlangsung sekitar empat jam itu.

“KPK panggil Anas sebagai saksi, bukan politikus. Dia dimintai keterangan yang perlu kita klarifikasi, yang perlu kita dengar dari Anas. Posisi Anas sekarang kan predikatnya sebagai mantan Ketum Demokrat. Namun terkait pemeriksaan, dia sebagai anggota DPR waktu itu,” tegasnya.

Anas usai diperiksa menjelaskan dirinya ditanyai soal relasinya dengan sejumlah nama. Dia mengaku ditanyai apakah mengenal tersangka Irjen Djoko Susilo, AKBP Teddy Rusmawan, Saan Mustopa, Benny K Harman, M Nazaruddin, dan almarhum Sutjipto.

Dia mengaku kenal dan berinteraksi dengan empat nama terakhir, tapi tidak untuk dua nama pertama. Anas juga ditanyai soal komunikasinya dengan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani soal Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Kepada penyidik, kata Anas, ia tidak pernah berkomunikasi dengan Sri terkait hal tersebut.

Anas juga membantah kabar yang menyebut dirinya mengadakan pertemuan dengan Djoko dan Teddy serta Saan, Benny, dan Nazaruddin. Dia bersikukuh tidak mengetahui soal proyek pengadaan simulator.

“Saya sendiri sampai sekarang tidak punya jawaban mengapa saya jadi saksi dari kasus simulator SIM ini. Saya masih bingung dan saya tidak tahu apa relevansinya. Tapi saya bersedia hadir untuk berikan keterangan apa yang saya tahu,” tuturnya.
sumber : shnews

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *