PERAJIN TAHU TEMPE KELUHKAN HARGA KEDELAI IMPOR NAIK LAGI

MedanBisnis – Medan. Sejumlah pengrajin tahu tempe di Medan mulai mengeluh karena harga kedelai impor yang merupakan bahan baku utama pembuatan tahu tempe kembali naik. Budi, perajin tahu di Jalan KL Yos Sudarso mengatakan, sejak dua pekan terakhir, harga kedelai terus naik. “Akhir tahun kemarin memang normal, pasca kenaikkan pada pertengahan tahun lalu yang mencapai Rp 6.500 per kg,” katanya kepada MedanBisnis, Jumat (22/2).
Namun, kata dia, angka tersebut kembali naik pada Januari kemarin hingga menyentuh angka Rp7.000 per kg dan naik lagi dalam dua pekan ini hingga menyentuh angka Rp7.500 per kg. Pihaknya pun semakin kewalahan mendapat pasokan karena harga yang mahal itu.

Budi mengatakan, pemasok berdalih kenaikan itu merupakan dampak kenaikan harga impor dari AS yang mengalami gangguan panen. “Bagaimana UMKM bisa bertahan, kalau harga kedelai naik terus di tengah daya beli tempe dan tahu melemah,” katanya.

Tentu hal tersebut menyebabkan omzet usahanya menurun hingga lebih dari 20% akibat mahalnya biaya operasional karena harga kedelai impor makin mahal. Dilain sisi, pihaknya belum mau menaikkan harga tahu atau tempe karena takut kehilangan pelanggan.

Hal yang sama juga diungkapkan Iwan, perajin tempe yang tak jauh dari sana. Saat ini, kata dia, perajin hanya bisa mengandalkan kedelai impor dalam proses produksi karena pasokan kedelai lokal tak mencukupi. “Selain tak mencukupi, harga kedelai lokal juga relatif lebih mahal,” katanya tanpa memberi tahu perbandingan antara keduanya dengan alasan tak pernah membeli kedelai lokal.
Pihaknya sendiri membutuhkan paling sedikit satu ton kedelai dalam sepekan untuk proses produksi. Bahkan angka tersebut lebih tinggi lagi jika permintaan lagi tinggi.

Pantauan MedanBisnis di sejumlah pedagang pengecer di Medan, saat ini harga kedelai impor justeru mencapai angka Rp7.800 per kg, padahal pada akhir tahun kemarin masih dipatok dengan harga Rp6.700 per kg.

Rawin, pedagang di Pusat Pasar Medan mengatakan, naiknya harga kedelai impor tersebut disebabkan karena rencana pemerintah yang membatasi kuota kedelai impor ke Indonesia untuk melindungi petani dan pencapaian swasembada kedelai. “Makanya, sekarang banyak pedagang besar atau distributor yang mulai bermain harga,” katanya.

Selain itu, kata dia, saat ini permintaan konsumen cenderung turun akibat kenaikan harga tersebut. Rata-rata, pedagang di sana bisa menjual hingga 200 kg kedelai dalam sepakan, namun saat ini mereka hanya bisa menjual tidak lebih dari 150 kg setiap pekan. Omzetpun kian terseret. (daniel pekuwali)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *