PEMERKOSA BOCAH 6 TAHUN, TERANCAM 15 TAHUN PENJARA

ASAHAN-PM : Pemerkosa bocah 6 tahun, Sihol Sibarani (30) warga Dusun Hutabagasan Desa Aek Nauli, Kecamatan Medang Deras, Kabupaten Batubara dijerat dengan pasal 81 ayat 1 Undang–Undang Perlindungan anak dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun.

Hal itu disampaikan Kapolres Asahan AKBP Yustan Alpiani saat dikonfirmasi melalui Kasat Reskrim AKP Fahrizal didampingi Kanit PPA Aiptu Erika Tumanggor, Sabtu (22/2).

“Pasal yang diterapkan terhadap tersangka merupakan pasal perlindungan anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun,” terang Erika.

Menurut Erika, hasil pemeriksaan terungkap sebelumnya tersangka juga pernah terlibat dalam kasus pidana seperti pemerkosaan, pencurian serta judi dan pernah dihukum penjara.

Sebelumnya, Sihol yang ditangkap warga sempat jadi bulan–bulanan. Beruntung petugas cepat tiba di lokasi kejadian sehingga langsung diamankan ke Mapolres Asahan sedangkan korban J br Sitorus yang mengalami pendarahan akibat perkosaan dan penganiayaan dilarikan ke RS Bhayangkara Tebing Tinggi guna mendapat penanganan medis.

Pasca pemerkosaan yang dialami bocah 6 tahun itu, pihak keluarga emosi dan dendam terhadap pelakunya, Sihol Sibarani. “Hukuman penjara saja belum cukup diberikan kepada pelaku, hukuman mati baru pantas untuk Sihol. Dengan hukuman mati itu barulah dendam kesumat kami sama Sihol baru bisa hilang,” ucap Herdianto (18), abang kandung korban pemerkosaan itu.

Hingga kemarin, kondisi kesehatan korban pemerkosaan itu belum membaik. Pihak keluarga juga enggan menceritakan kondisi korban.

Terkait hukuman yang harus dijalani Sihol Sibarani, Kriminolog kota Medan, Nusariani Simatupang berharap agar pelaku dihukum berat. “Karena semakin hari semakin banyak orang yang tidak menghargai hak-hak perlindunghan terhadap anak. Padahal sebenarnya manusia itukan berhak mendapat perlindungan terutama anak-anak. Karena, anak-anak tidak dibenarkan untuk mengalami tindak kekerasan seksual,” ungkapnya, Kamis (21/2) malam.

Sebab dijelaskan ahli psikolog, Irna Minauli, pemerkosaan terhadap anak yang juga disertai dengan upaya pembunuhan, dapat menimbulkan trauma yang mendalam pada anak. Trauma akibat perkosaan (rape trauma syndrome) biasanya berupa gejala psikologis dan sosial.

“Gejala psikologis dari trauma tersebut awalnya ditandai dengan adanya ketakutan yang sangat besar ketika bertemu dengan orang asing yang tidak dikenalnya,” terangnya. (sus/awi/cr1).
sumber: posmetro

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *