KETUA KADIN DS MERASA DIZOLIMI SATKER

MEDAN (Waspada): Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Deliserdang  dizolimi Satker pengembangan kawasan pemukiman dan perbatasan Sumut  kegiatan pengembangan kawasan pemukiman perkotaan.

“Saya merasa dizolimi oleh Satker dan asistennya dan akan membawa  permasalahan ini ke ranah hukum karena telah dirugikan dan tidak dihargai,”  kata Hariman Tua Dibata Siregar kepada wartawan di Medan, Selasa (29/2).

Dijelaskan Hariman, selaku kuasa Direktur CV Chintya Agung menjadi  pemenang pelelangan di Departemen PU, pada 21 Februari 2012 untuk paket  Pekerjaan Pembangunan Jalan Akses dan Saluran Drainase Perumahan PNS Kec.  Pangururan, Kab. Samosir ,dengan penawaran Rp1. 315.917.000.

Kemudian, 3 April 2012, diterbitkan Surat Penunjukan Barang/Jasa (SPPBJ) dan 5  April 2012 diterbitkan Surat Perintah Mulai Kerja dan menandatangani kontrak  dengan PPL Pengembangan Kawasan Permukiman Perkotaan. “12 April 2012,  kami melakukan survey ke lapangan bersama PPK dan beberapa staf dinas  tersebut dan di lapangan banyak yang berubah dari RAB dan bestek yang  dilelangkan,” sebut Hariman.

Melihat kondisi yang tidak sesuai gambar dan bestek, terjadilah perubahan dari  perencanaan awal 50 persen. Kemudian 25 Juli 2012, selesailah pekerjaan  tersebut dan dibayar 95 persen. Namun Desember 2012 curah hujan sangat  tinggi dan pekerjaan yang sudah selesai dikerjakan banyak yang rusak, karena  tanah pada jalan tersebut belum pernah dipadatkan.

Kemudian Januari 2013, bersama Satker dan staf serta konsultan perencanaan  dan pengawasan dari pekerjaan tersebut meninjau ke lokasi dan membawa  tanah tersebut untuk dites di lab untuk mengetahui tingkat kadar air pada tanah.  “Hasil tes lab kadar tanah hanya 3 persen dan diputuskan membongkar jalan  yang telah di Lapen. Ini sudah disepakati dengan membuat saluran drainase  dan lenning walaupun tidak ada kontral awal dengan anggaran Rp278 juta,”  sebutnya.

Setelah itu, lanjut Hariman, pihaknya mulai mendrop semua kebutuhan untuk  pekerjaan mulai dari Beko, peranca, molen, dan lainnya sehingga total dana  yang sudah dikeluarkan berkisar Rp100 juta.

“Saya mencoba menghubungi Satker dan stafnya melalui handphone tidak  diangkat, kemudian di SMS kalau anggota di lapangan sudah bingung apa yang  mau dikerjakan karena sebelumnya Satker berjanji akan memberikan dana  kalau sudah habis Rp100 juta dan mendapat jawaban gak apaapa, tarik aja  anggota pulang,” tuturnya.

Kemudian, Jumat (15/2) Ida Mariana sebaga Satker meminta Hariman datang ke  kantornya di Jln. Setia Budi dan disebutkan kalau Hariman tidak bersedia untuk  bekerja dengan alasan ada orang yang menyampaikan kepada Satker. “Saya  akan membawa masalah ini ke ranah hukum dengan mengadu ke Poldasu,”  tegasnya.

Waspada yang mencoba mengkonfirmasi kepada Ida Mariana sebagai Satker  tidak mengangkat handphonenya, bahkan di SMS juga sampai tadi malam  tidak memberikan jawaban. (m39)
sumber: waspadamedan

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *