TERHINDAR DARI SERANGAN OPT

Keunggulan bertanam padi dengan System of Rice Intensification (SRI) tidak hanya diakui oleh Dinas Pertanian baik provinsi maupun kabupaten/kota. Oleh petani juga menyakini teknologi yang disosialisasikan pemerintah tersebut mampu mendongkrak produktivitas padi petani.
Parno, ketua kelompok tani Sadar di Desa Sidodadi, Kecamatan Beringin Kabupaten Deliserdang dalam perbincangannya dengan MedanBisnis, belum lama ini mengakui keunggulan SRI tersebut.

Di desanya, pengembangan SRI sudah dilakukan selama enam musim tanam hingga akhir 2012 lalu. Perubahan yang paling menonjol yang mereka rasakan adalah biaya produksi yang terpangkas hingga berkisar 30%, mulai dari tenaga kerja, pupuk, obat-obatan hingga pengadaan sarana produksi tanaman.

“Kalau dengan cara konvensional biaya produksi yang kami keluarkan mulai olah lahan hingga panen berkisar antara Rp 8,5 juta – Rp 9,5 juta per hektare. Tetapi dengan SRI hanya berkisar Rp 7,5 juta – Rp 8,5 juta per hektare,” aku Parno.

Belum lagi dari perolehan produktivitas. Hasil riil yang diperoleh petani pada 2012 lalu mencapai 10 ton per hektare sementara dengan sistem konvesnional berkisar 8,9 ton per hektare. Dengan keuntungan yang diperoleh membuat petani yakin dengan metode baru sistem pertanian yang ditawarkan pemerintah.

Tingginya animo petani membuat luasan budidaya padi dengan SRI di desa tersebut semakin tinggi. Bahkan di luar program pemerintah (bukan demplot), realisasi pengembangan SRI mencapai 270 hektare hingga akhir 2012 lalu. Sementara  panen Januari 2013 lalu, pengembangan SRI sudah mencapai 100 hektare dengan produksi ril 7,5 – 8 ton per hektare gabah kering panen (GKP).

Sedangkan konvensional perolehan gabah berkisar 7 ton per hektare GKP. “Ini sebagai bukti bahwa teknologi pertanian dengan SRI sudah bisa diterima petani khususnya di Desa Sidodadi,” aku Parno yang juga menjabat Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Deliserdang.

Bapak empat anak ini lebih jauh mengatakan, dalam budidaya model SRI jarak tanam yang dibuat 30 x 30 cm, sementara dengan konvensional jarak tanamnya bervariasi, ada yang 20 x 30 cm dan ada juga yang 25 x 30 cm. Padahal, jarak tanam sangat mempengaruhi proses pertumbuhan anakan. Dengan jarak tanam 30 x 30 cm, ekosistem berjalan dengan bagus, sinar matahari bisa masuk dengan jumlah yang besar dan menembus ke tanah. Tanaman menjadi kokoh sehingga ketika musim hujan datang, tanaman tidak mudah roboh.

Selanjutnya, tanaman tidak mudah diserang hama dan penyakit. Tidak seperti cara konvensional, tanaman mudah rebah manakala musim hujan datang serta tingginya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) terutama jamur. “Ini karena, sinar matahari tidak leluasa masuk menembus tanaman. Masuknya sinar matahari mencegah kelembaban tanah dan itu menekan pertumbuhan OPT,” ujarnya.

Hematnya biaya produksi serta meningkatnya produktivitas yang dikeluarkan petani secara otomatis menambah pendapatan petani. Apalagi, harga GKP pada panen pertama pertengahan Januari lalu berkisar Rp 4.200 – Rp 4.300 per kg. Petani bisa memperoleh pendapatan berkisar Rp 31,5 juta per hektare. Dengan asumsi, harga jual GKP Rp 4.200 per kg dan produktivitas 7,5 ton.

Dikurang biaya produksi, katakanlah Rp 8 juta per hektare, petani diuntungkan sebesar Rp 23,5 juta dibagi empat bulan (masa tanam hingga panen), berarti pendapatan petani berkisar Rp 5.875.000 per bulan. “Itu masih dari produksi terendah yang diperoleh petani. Bagaimana jika hasil panen petani mencapai 10 ton. Keuntungan yang diperoleh petani jauh lebih besar lagi,” ujarnya.

Tetapi, lanjut Parno, harga gabah saat ini berkisar antara Rp 3.800 – Rp 3.900 per kg. Begitupun, petani masih diuntungkan. Karena itu, dia berharap program SRI ini bisa dikembangkan pemerintah lebih luas lagi dengan cara pembuatan demplot. Sehingga petani bisa meniru dan mengaplikasikannya dalam budidaya tanaman padinya.  ( junita sianturi)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *