GENJOT PRODUKSI PADI DENGAN SRI

Peningkatan produksi pangan menjadi skala prioritas pemerintah di tengah kompleknya permasalahan pertanian dewasa ini. Mulai dari kondisi lahan pertanian yang sudah ‘sakit’, tingginya alih fungsi lahan pertanian ke pemukiman penduduk, perkebunan dan lain sebagainya hingga tingginya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Bahkan saat ini, masalah pertanian juga diperhadapkan dengan perubahan iklim ekstrem.
Mau tak mau, menggenjot produktivitas pertanian khususnya padi merupakan keharusan guna memenuhi pangan dalam negeri. Bila tidak, arus impor beras akan semakin deras.

Salah satu cara yang dilakukan pemerintah melalui Dinas Pertanian dalam meningkatkan produktiitas adalah dengan mengembangkan metode pertanian yang disebut System of Rice Intensification (SRI). Pengembangan ini sudah dimulai tahun 2008 lalu di Sumatera Utara (Sumut) lewat anggaran APBN. Namun, luasannya masih sangat sedikit, berkisar 20 an hektare.

Untuk selanjutnya, luasannya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Bahkan untuk tahun ini, lewat anggaran APBN luasannya mencapai 9.650 hektare yang menyebar di seluruh kabupaten/kota di Sumut. Sementara tahun 2012 lalu, luasannya  hanya berkisar 1.800 hektare yang dikembangkan dienam kabupaten, yakni Kabupaten Deliserdang seluas 300 hektare, Langkat 220 hektare, Batubara 380 hektare, Serdang Bedagai (Sergai) 300 hektare, Asahan dan Simalungun masing-masing seluas 300 hektare.

Sedangkan di tahun 2011, pengembangan pertanian dengan model SRI hanya berkisar 680 hektare yang tersebar di 14 kabupaten/kota di Sumut. Yang tiap-tiap kabupaten memperoleh 2 paket kecuali untuk Kabupaten Sergai dan Binjai masing-masing 5 paket. Tiap paket luasannya mencapai 20 hektare.

“Kita berharap dengan semakin luasnya lahan percontohan pengembangan SRI ini dapat diterima masyarakat tani kita. Karena, tidak mudah bagi petani merubah kebiasannya selama ini. Banyak yang tidak masuk akal petani menanam padi dengan sistem SRI ini,” kata Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Pertanian Sumut, Adam Brayun Nasution, dalam perbincangannya dengan MedanBisnis, pekan lalu di Medan.

Salah satunya kata Adam yang didampingi Kasi Lahan dan Perluasan Area, Adelina Hanum Nasution, penggunaan bibit satu batang per lubang tanam. Sementara kebiasaan petani selama ini penggunaan bibit sangat boros. Dalam satu lubang tanam bibit yang ditanam berkisar lima hingga enam bibit per lubang tanam. Akibatnya, benih yang disemaikan jumlahnya mencapai 25 – 30 kg per hektare. Bahkan ada yang mencapai 40 kg per hektare. Sementara dengan model SRI, satu bibit per lubang tanam menghemat penggunaan benih. “Cukup 5 – 10 kilogram benih per hektare,” sebutnya.

Dengan penggunaan benih yang sedikit berarti sudah menghemat biaya produksi petani. Dan, penghematan itu didukung lagi dari penggunaan pupuk. Pupuk yang dianjurkan untuk urea sebanyak 150 kg per hektare, TSP 100 kg, SP 36 sebanyak 50 kg dan NPK Phonska 75 kg per hektare.

Selain pupuk konvensional tersebut, petani juga dianjurkan untuk menggunakan pupuk organik sebanyak 4 ton per hektare. “Jumlahnya memang banyak, karena memang lahan pertanian kita sudah ‘kering’ akan unsur hara. Dan, ini juga salah satu cara kita untuk melepas ketergantungan akan pupuk konvensional. Ke depan petani hanya dianjurkan menggunakan pupuk organik,” sebut Adam.

Namun, dari model pengembangan SRI kata Adam, petani lebih diiritkan dalam biaya operasional. Petani bisa hemat antara Rp 1 juta – Rp 1,5 juta per hektare. Sementara dari segi produktivitas ada peningkatan sekitar 30% dari produktivitas yang diperoleh petani selama ini.
Penghematan lain yang diperoleh petani dengan model SRI adalah penggunaan air dengan cara intermitten atau pemberian air secara terputus-putus untuk merangsang pertumbuhan anakan padi.

Artinya, kata Adam, air hanya akan diberikan ketika tanaman betul-betul membutuhkan air. Yang harus diingat adalah, padi bukanlah tanaman air tetapi tanaman padi memerlukan air yang cukup selama proses pertumbuhannya.

“Rerata kebutuhan air dengan model SRI untuk satu musim tanam hanya 4.750 meterkubik (m3) per hektare. Sehingga bila dibandingkan dengan budidaya padi konvensional, penghematan air dapat mencapai 32 – 45 persen atau rerata 38 persen,” ungkap Adam. (junita sianturi)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

1 Response to GENJOT PRODUKSI PADI DENGAN SRI

  1. rani says:

    bagus sekali artikelnya, thanks 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *