JALAN MEDAN-BERASTAGI ‘DIHANTUI’ ANCAMAN LONGSOR

Starberita – Berastagi, Ruas badan jalan nasional menghubungkan Ibukota Provinsi Sumatera Utara, Medan, dengan kota turis Berastagi Kabupaten Karo, sekarang ini ‘dihantui’ ancaman longsor. Masyarakat harapkan perhatian serius dari pemerintah. Jalur alternatif Medan-Berastagi kian terasa semakin dibutuhkan.Longsor di badan jalan seputaran Doulu, Kabupaten Karo hingga perbatasan Deliserdang kerap kali terjadi. Sedikitnya 10 titik di sekitar kawasan hutan lindung Taman Hutan Raya Nasional (Tahura) Bukit Barisan tersebut rawan longsor.

alt“Setiap kali terjadi longsor, antrean macet berpuluh kilometer dari kedua arah tidak terelakkan, seperti yang terjadi, Sabtu (16/2) di kilometer 57, desa Doulu. Bahkan ratusan warga yang kebetulan berpergian di malam hari terjebak macet terpaksa menginap di atas mobil”,ujar tokoh pemuda Berastagi, Drs Joy Harlim Sinuhaji yang juga mantan anggota DPRD Karo kepada andalas, Minggu (17/2).

“Ini harus menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah, baik Pemkab Karo, Pemkab Deliserdang maupun Pemprovsu, agar ke depan bersinergi mengidentifikasi daerah-daerah rawan bencana longsor,” ujarnya.

Sementara praktisi pembangunan dari Universitas Quality Berastagi, Drs MJP Sagala SH MS, mengatakan ancaman longsor di seputaran Tahura yang setiap saat bisa terjadi, mengingat sekarang ini wilayah Tanah Karo intensitas hujan semakin meninggi. Untuk itu Pemprovsu harus tanggap dan peka, dengan menyediakan alat-alat berat di sejumlah titik yang rawan longsor.

Disisi lain dikritiknya perbaikan kerusakan ruas jalan nasional menghubungkan kota Medan dengan sejumlah Kabupaten di Provinsi Sumut dan Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam (NAD) tersebut tidak pernah bertahan lama.

Perbaikan yang dilakukan di titik-titik tertentu melalui dana perawatan rutin setiap tahunnya, tidak mampu bertahan lama. Karena belum setahun, sudah hancur. Belum lagi badan jalan yang tidak tersentuh perbaikan, kian lama semakin parah.

Sejauh monitoring andalas, kerusakan badan jalan tersebut terdapat disejumlah loksi, diantaranya satu titik dekat simpang Tuntungan Pancur Batu, beberapa titik di kawasan Desa Sugau Kecamatan Pancur Batu, hingga Desa Sembahe Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deliserdang.

Di wilayah Kecamatan Pancur Batu, kerusakan yang paling parah di kawasan Desa Sugau di kilometer 25-26, kilometer 27-29 kawasan Desa Bintang Meriah hingga Simpang Desa Buah Nabar Kecamatan Sibolangit.Sedangkan di Kecamatan Sibolangit kerusakan yang paling parah ditemui di kawasan Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deliserdang. Padahal jalan tersebut baru saja siap diperbaiki.

Apalagi ketika hujan turun, yang mengakibatkan permukaan jalan yang rusak tertutup air, diperkirakan mempercepat daya tahan aspal jalan. Demikian juga cor beton kiri-kanan badan jalan yang menelan dana miliaran rupiah itu sudah mulai tampak rusak, padahal pembangunannya baru siap dikerjakan, kecamnya.

Sementara itu menurut keterangan warga setempat, B Sitepu (48), perbaikan yang menelan dana miliaran rupiah, tidak bertahan lama khususnya di desa Bandar Baru atas, akibat menjamurnya bisnis penjualan air di kawasan tersebut mengalir ke badan jalan. Banyaknya beroperasi kedai kopi tempat pemberhentian mobil dan truk-truk besar yang sekaligus tempat pencucian kendaraan mengakibatkan limbah pencucian tersebut umumnya terlepas begitu saja ke badan jalan.Air yang dijual melalui mobil tanki ke Medan yang bersumber dari pegunungan tersebut juga tidak luput tumpah membasahi badan jalan, sehingga membuat badan jalan semakin cepat rusak.Untuk itu, masyarakat sangat mengharapkan perhatian serius dan tegas dari pemerintah Deliserdang dan Pemprovsu agar segera memperbaiki drainase jalan yang menghubungkan kota Medan dengan kota turis Berastagi tersebut, sebelum kerusakan badan jalan makin parah lagi.

Sementara itu, solusi mengatasi kemacetan atau ancaman longsor, arus lalulintas di ruas jalan Medan-Berastagi, perlu disikapi secara bijak oleh Pemprovsu maupun DPRD SU termasuk pihak-pihak terkait lainnya, seperti Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah 1 Medan dengan implementasi yang konkrit di lapangan.

Pemerintah perlu menyegerakan penyelesaian pembangunan jalur baru, sebagai jalan alternatif. Seperti jalan Kabupaten Karo-Langkat, melalui kuta Rayat-Telagah, dan jalur lintasan Deliserdang (Tanjung Morawa) – Seribudolok (Simalungun – Tongging (Karo), yang disebut dengan Rawasering yang sudah digagas hampir 10 tahun. Atau Deliserdang-Simalungun-melalui Simpang Desa Cingkes Kecamatan Dolok Silau (Simalungun) menuju Kabanjahe melalui Simpang Desa Sinaman Kecamatan Tigapanah (Karo), sebagai jalur alternatif Medan-Berastagi, yang semakin dibutuhkan.(RTA/MBB)
sumber: starberita

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

2 Responses to JALAN MEDAN-BERASTAGI ‘DIHANTUI’ ANCAMAN LONGSOR

  1. Pingback: mdma

  2. Pingback: diyalaU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *