VALENTINE! PRODUSEN COKELAT DI BANDA ACEH “HAPPY”

BANDA ACEH, KOMPAS.com — Budaya memperingati hari kasih sayang di pertengahan bulan Februari tidak hanya menyibukkan para remaja dan anak baru gede (ABG). Kesibukan juga dirasakan oleh Ismakhaira, seorang produsen permen cokelat rumahan di Banda Aceh, Provinsi Aceh.

Sejak sepekan sebelum hari ini, Ima sudah menerima banyak orderan permen cokelat dengan bentuk hati. Sang produsen Lala Coklat ini pun harus memperpanjang jam kerja bagi pegawainya dari 8 jam menjadi 12 jam per harinya.

Menjelang Hari Valentine yang jatuh hari ini, 14 Februari 2013, Ima—panggilan akrab wanita ini—mulai memperbanyak produksinya dengan berbagai bentuk corak serta kemasan untuk menarik minat para pembeli. Terlebih, di saat hari kasih sayang ini, permintaan cokelat terus melonjak.

“Ini memang salah satu hari yang sibuk bagi kami, soalnya banyak permintaan dengan berbagai aneka bentuk bisa saja satu konsumen mengorder lebih dari satu cokelat dengan aneka bentuk,” ujar Ima, sambil mondar-mandir di ruang dapur pembuatan cokelat di rumahnya, di kawasan Neusu Banda Aceh, Rabu (13/2/2013) kemarin.

Ismakhaira mengaku, di beberapa momen spesial setiap tahunnya, kedainya selalu kebanjiran pesanan cokelat dengan aneka bentuk. ” Ada tiga hari yang sangat sibuk bagi kami dalam setahun, yakni Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, dan hari kasih sayang,” ujarnya.

Meski bukan hari besar dan bukan tergolong hari raya, setiap tanggal 14 Februari, Kedai Lala Coklat selalu kebanjiran pesanan. “Cokelat dengan desain love bar-lah yang menjadi pesanan favorit pelanggan dengan berbagai ukuran,” kata ibu dua putri ini.

Cokelat khas dengan tema Valentine pun sengaja dibuat bagi para pemesan dan pelanggan yang akan meramaikan hari kasih sayang tersebut. Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan konsumen, Ismakhaira telah menambah bahan baku cokelat sejak sebulan sebelumnya.

Harga cokelat yang ditawarkan pun cukup bervariasi ditentukan dengan model dan ukurannya, yakni berkisar antara Rp 3.000 hingga Rp 140.000.

Sementara itu, sejumlah konsumen mengatakan sengaja membeli cokelat dengan bentuk yang indah untuk diberi kepada orang-orang yang dikasihi. “Memang sih, saya tidak paham, mengapa harus cokelat, tapi karena sudah menjadi kebiasaan di masyarakat luas, khususnya di kota besar dan luar negeri, jadi saya juga ingin membelikan cokelat dan dibagikan untuk orang-orang yang saya kasihi, saya hanya ingin hari ini terlihat berbeda saja dari hari-hari biasanya,” jelas Aldila, seorang pelanggan Lala Coklat.

Bermula dari hobi, Ismakhaira akhirnya menekuninya menjadi sebuah usaha yang membahagiakannya. Sejak empat tahun lalu, Ima mulai serius menekuni aktivitas ini. Bagaimana tak bahagia? Untuk hari-hari biasa, aku Ima, ia bisa mendapat omzet mencapai Rp 5 juta. “Kalau hari spesial seperti hari raya, bisa tiga atau empat kali lipat omzetnya karena khusus untuk cokelat, bisnis membuat permen cokelat belum banyak dilakoni oleh masyarakat,” kata Ima.
sumber : kompas

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *