YANG ORGANIK DARI TAMAN SIMALEM

Tidak hanya keindahan alam yang menjadi andalan Taman Simalem Resort, tapi juga sektor agribisnisnya menjadi salah satu nilai jual yang mereka tawarkan kepada pengunjung, baik dalam maupun luar negeri. Sedikitnya, 100 kilogram sayur mayur tiap minggu keluar dari usaha agribisis yang mereka kembangkan. Dan, semua itu adalah organik. Bahkan,Taman Simalem telah memegang sertifikasi organik dari Lembaga Sertifikasi Organik Seluliman atau disingkat LeSOS.

Rabu pagi (30/1) MedanBisnis mendapat kesempatan berkunjung ke Taman  Simalem Resort (TSR) yang berada di Merek, Kabupaten Karo. Kunjungan itu tak lain untuk melihat panen perdana sayuran organik yang dilakukan TSR bersama kelompok tani binaannya di Desa Pangambatan, Kecamatan Merek seluas dua hektare.

Sayuran yang dipanen itu, ada sawi, pak choy dan kalian. Secara seremoni panen itu dilakukan Kepala Dinas Pertanian Karo Agustoni, Camat Kecamatan Merek Data Martina Ginting, Eddy Tanoto Sukardi selaku Direktur Taman Simalem, Ketua Umum Asosiasi Bio-Agro-Input Indonesia (ABI) Mukti Setiarto, Mr Johan selaku Konsultan Germany International Zusammenarbeit/Corporation (GIZ)  serta yang mewakili petani.

“Ini panen perdana yang kami lakukan bersama petani yang benar-benar mau diajak bekerja sama dengan kami untuk mengembangkan pertanian organik, yang tidak menggunakan pupuk maupun pestisida kimia sintetik. Ini adalah murni organik yang ramah lingkungan,” ucap Direktur Taman Simalem Eddy Tanoto Sukardi memulai obrolannya dengan MedanBisnis.

Ada tiga kelompok tani dengan jumlah petani sebanyak 12 orang yang terlibat dalam pengembangan pertanian organik ini. TSR memfasilitasi teknologi, sarana produksi pertanian (saprotan) seperti benih dan pupuk organik sementara  petani kemauan dan tenaga. Setelah menghasilkan, baru harga diberikan ke petani setelah dipotong biaya saprotan yang sudah dikeluarkan.

“Sekitar lima hektare lahan yang kami sediakan namun sejauh ini masih dua hektare yang sudah dikelola dan sudah menghasilkan. Kami berharap, petani benar-benar bersemangat dan mau melakukan pertanaman organik ini,” ucapnya.

Soal pemasaran, Eddy mengatakan, pihaknya siap menampung hasil-hasil pertanian organik milik petani. “Seluruh hasil pertanian yang kami kembangkan baik di kawasan Taman Simalem Resort maupun yang dikerjasamakan dengan petani ini untuk konsumsi tamu-tamu Taman Simalem. Jadi, sayur mayur yang kami sajikan kepada pengunjung maupun tamu resort murni organik,” jelasnya.
Bahkan setelah Imlek, pihaknya akan melakukan pemasaran ke luar dengan menjalin kerja sama dengan sejumlah pasar modern yang ada di Medan. “Produksi sayur dari kawasan Simalem mulai berlebih, makanya kami mencoba membangun kerja sama dengan beberapa pasar modern di Medan,” sebut Eddy.

Begitupun, pihaknya berharap petani-petani yang ada disekitaran kawasan Taman Simalem mau dan bersedia mengembangkan pertanian organik demi menunjang kontinuitas pasar. Apalagi, Taman Simalem telah memegang sertifikasi label organik dari Lembaga Sertifikasi Organik Seluliman (LeSOS), pada tanggal 26 Desember 2012 lalu. “Masih kami satu-satunya perusahaan yang memegang sertifikat label organik di Sumatera Utara (Sumut) ini,” akunya.

Memang, sejak kehadiran Taman Simalem Resort di Kabupaten Karo, perusahaan yang menawarkan keindahan Kawasan Danau Toba ini sudah mengembangkan pertanian organik di atas lahan 25 hektare.

Awal tahun 2004 komoditas pertama yang mereka kembangkan adalah jeruk manis kemudian pertengahan tahun 2004 berkembang ke tanaman biwa. Barulah ditahun 2005, mereka ekspansi mengembangkan tanaman sayur-sayuran, kopi dan markisa.

Bila dirinci dari luasan lahan, luas tanaman jeruk ada 8 hektare, biwa 5 hektare, markisa 2 hektare, kopi 5 hektare, teh sekitar 3 hektare dan selebihnya sayur-sayuran dengan berbagai jenis. Ada sawi manis, sawi putih, pak choy, brokoli, bit merah, kalian, kol, kembang kol, ubi jepang, strawberry dan lain sebagainya.

“Semuanya organik dan tidak ada sedikit pun unsur kimia sintetik yang kami tambahkan dalam budidaya pertanian yang kami lakukan,” ungkap Eddy.

Terhadap benih dan bibit yang digunakan, Eddy mengatakan, sebagian masih didatangkan dari luar negeri (impor) untuk tanaman tertentu seperti benih pak choy dan sebagian lagi dari lokal. Tapi, ke depan semua benih dan bibit yang akan digunakan dari dalam negeri.

Pihaknya juga bekerja  sama dengan lembaga penelitian dan pengembangan (Litbang) Pertanian seperti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang ada di Tongkoh, Kabupaten Karo dalam bidang teknologi pertanian. “Teknologi pertanian dalam negeri sudah maju bahkan tidak kalah dengan Negara-negara maju seperti Amerika, Jepang dan Jerman,” ujar Eddy. (junita sianturi)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

2 Responses to YANG ORGANIK DARI TAMAN SIMALEM

  1. Pingback: Buy Adderall

  2. Pingback: https://tkoextracts.org/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *