GAS 3 KG LANGKA DI TEBINGTINGGI, WARGA TERPAKSA GUNAKAN KAYU BAKAR

TEBINGTINGGI- Tampaknya masyarakat Kota Tebingtinggi pengguna gas ukuran 3 kilogram (Kg) harus beralih kembali ke bahan kayu bakar. Pasalnya selama seminggu ini gas ukuran 3 Kg sangat langka ditemukan di sejumlah agen, kios dan pengecer.

Akbar (35) penjual gas elpiji ukuran 3 Kg mengakui sudah seminggu lebih pasakon tabung dan gas ukuran 3 Kg dikurangi oleh pihak agen penyalur tunggal di Tebingtinggi. Biasanya setiap dua hari pasokan yang masuk bisa mencapai 30 tabung, tetapi seminggu ini hanya dipasok 15 tabung gas ukuran 3 Kg. “Banyak warga yang akan membeli kecewa, pasalnya gas ukuran 3 kg masuk dalam waktu satu jam sudah habis terjual,” kata warga Jalan KL Yos Sudarso Kota Tebingtinggi itu saat ditemui Sumut Pos, Senin (4/2).

Masih kata Akbar, selain langkanya gas, harga jual nya pun mengalami kenaikan hingga Rp500-Rp1.000. Menurut dia, kenaikan dan kelangkaan gas elpiji ukuran 3 Kg ini dipicu banyaknya kios penjual untuk berebut mendapatkan gas elpiji 3 kg dari agen penyalur tetap. “Biasanya kami jual kepada konsumen Rp15.000, kini naik menjadi Rp16.000, begitu pun warga berebut untuk mendapatkannya,” ungkap Akbar.

Agen tetap penyalur gas elpiji ukuran 3 Kg untuk wilayah Kota Tebingtinggi, UD Alam Jaya Lestari di Jalan Sudirman mengatakan pihaknya memang dibatasi kuato dalam pembelian oleh Pertamina. Tidak diketahui alasannya. Namun pasokan penjualan di distributor wilayah Tebingtinggi dikurangi, sekarang tinggal mencapai 2.800 tabung gas ukuran 3 Kg. Sementara untuk pemakai jumlah konsumen mengalami peningkatan.

“Kebutuhan konsumen untuk pemakai gas elpiji ukuran 3 kg di Kota Tebingtinggi sekarang mencapai 5.040 yang harus dipenuhi, sementara Pertamina UPMS II Belawan hanya memberikan 2.800 tabung perharinya (8,4 ton perhari), manalah cukup untuk membaginya, makanya kami melakukan pembatasan pembelian kepada agen kecil,”jelas Minchu pemilik UD Alam Jaya Lestari.

Masalah indikasi penimbunan gas elpiji ukuran 3 Kg, Minchu membantahnya. Pihaknya tetap menyalurkan kepada agen-agen kecil yang beroperasi di wilayah Kota Tebingtinggi agar pembelian terbagi semua. Hanya saja Minchu mengakui melakukan pembatasan jumlah penyaluran hingga mencapai 50 persen, karena kurangnya kuota. “Itulah yang menyebabkan gas elpiji ukuran 3 Kg langka di Tebingtinggi, kita berharap kepada Pemerintah melalui Pertamina untuk menambah jumlah kuota di wilayah Tebingtinggi mencapai  16,8 ton  atau sekitar 16.800 tabung perharinya untuk memenuhi permintaan warga yang semakin meningkat menggunakan gas elpiji,” jelas Minchu.

Atik (45) warga Kelurahan Lalang Kota Tebingtinggi ketika ditemui mengaku apabila gas ukuran 3 Kg tidak ada lagi dalam waktu seminggu ini, warga akan beralih menggunakan bahan kayu bakar. Dia mengaku kecewa atas kompensasi pemerintah yang  memberlakukan pemakaian gas untuk meninggalkan pemakain bahan bakar minyak tanah (minah), karena pemerintah tidak sanggup menyediakan gas elpiji untuk masyarakat.

“Saya selaku warga Indonesia kecewa, satu hari berkeling-keliling Kota Tebingtinggi, dari semua toko, kios dan agen ditanya, ternyata gas ukuran 3 kilogram habis dan kapan masuknya belum tau,” keluhnya.Sementara untuk membeli minah, kita juga mengalami kesulitan karena pasokan di kios juga habis. Ditambah lagi harganya yang selangit.

“Kita berharap gas elpiji 3 kilogram tidak ada lagi kelangkaan. Kami terpaksa memasak menggunakan kayu bakar,” aku Atik.
Kadis Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag) Tebingtinggi melalui Sekretaris, Boy Hutapea mengatakan akan memantau perkembangan kelangkaan gas elpiji ukuran 3 Kg di Tebingtinggi  itu.

Boy berharap  penyalur dan pengecer agar jangan mengambil kesempatan  dalam kelangkaan elpiji ini. (mag-3)
sumber: hariansumutpos

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

1 Response to GAS 3 KG LANGKA DI TEBINGTINGGI, WARGA TERPAKSA GUNAKAN KAYU BAKAR

  1. Pingback: jual rolex replica submariner green bezel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *