BUYER TAHAN PEMBELIAN, NILAI EKSPOR BIJI COKLAT SUSUT

MedanBisnis – Medan. Nilai ekspor biji coklat (kakao) Sumatera Utara (Sumut) sepanjang tahun 2012 merosot hingga 34,02%. Kondisi ini masih dipicu melambatnya perekonomian di Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS) sehingga banyak buyer (pembeli) yang menahan order komoditas unggulan Sumut tersebut.
Kasie Hasil Pertanian dan Pertambangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut, Fitra Kurnia, mengatakan, penurunan nilai ekspor ini memang sangat dipengaruhi minimnya permintaan dari buyer.

Fitra menjelaskan, selama ini negara tujuan biji coklat Sumut masih didominasi Amerika dan negara-negara di Uni Eropa. Dengan kondisi krisis seperti sekarang, sangatlah wajar kalau sejumlah industri mengurangi produksi.

“Meski biji coklat rata-rata digunakan sebagai bahan baku di industri makanan, namun dampak krisis dirassakan hampir semua sektor. Jadi, karena menghindari kerugian, buyer lebih memilih mengurangi produksi yang otomatis berpengaruh terhadap permintaan bahan baku,” ujarnya di Medan, Rabu (30/1).

Berdasarkan data Surat Keterangan Asal (SKA), sepanjang tahun 2012, nilai ekspor biji coklat turun 34,02% dengan nilai US$ 71,601 juta dan volume 29.679 ton dibandingkan periode yang sama ditahun lalu dengan nilai US$ 108,52 juta dan volume 34.862 ton.

“Tidak hanya nilai, volume ekspornya juga turun. Biasanya, penurunan volume memang sangat dipengaruhi nilai yang melorot. Hal ini juga bisa dipengaruhi oleh harga. Tapi begitupun, permintaan terhadap biji coklat asal Sumut diperkirakan akan kembali tinggi tahun ini. Hal ini seiring dengan prediksi akan membaiknya perekonomian di kawasan Eropa dan AS,” ucapnya.
Selain Amerika, adapun negara tujuan biji coklat Sumut selama ini antara lain Malaysia, China, Perancis, AS dan Italia.

“Negara-negara tersebut memang banyak membutuhkan bahan baku kakao dari Sumut untuk pengolahan industri coklat di sana,” jelas Fitra. Meski ada juga sejumlah negara lainnya yang melakukan seperti Singapura, Spanyol dan Brazil, namun permintaannya berfluktuasi dan tergantung harga.

Dharma, salah seorang eksportir biji kakao di Sumut, mengakui, biji coklat Sumut masih sangat diminati. “Kalau terjadi penurunan permintaan, itu memang tidak terlepas dari kondisi ekonomi global,” katanya.

Begitupun, karena untuk negara importir, standar kualitas produk memang menjadi prioritas utama, diharapkan petani kakao hendaknya melakukan fermentasi komoditas kakaonya agar memiliki nilai tambah (added value). Dengan begitu, pasar akan semakin luas karena dari fermentasi diperoleh peningkatan mutu dan harga. Apalagi, kebutuhan coklat cukup tinggi karena industri coklat terus berkembang terutama di kawasan Eropa dan AS.

Sementara untuk realisasi ekspor semua komoditas pada SKA, seperti biji kakao, teh, hortikultura, hasil hutan bukan kayu, kopi, rempah-rempah, biji pinang, minyak atsiri dan lainnya, CPO, karet, hasil laut, hasil laut udang, labi-labi, paha kodok dan minyak kelapa serta tembakau mengalami penurunan nilai ekspor 22,21% dengan nilai US$ 4,562 miliar dan volume 4.318.406 ton dibandingkan periode yang sama ditahun lalu US$ 5,865 miliar dan volume 4.731.958 ton. (elvidaris simamora)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

1 Response to BUYER TAHAN PEMBELIAN, NILAI EKSPOR BIJI COKLAT SUSUT

  1. Pingback: Official Runtz Crew California

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *