IMIGRAN GELAP AFGANISTAN HARUS DIWASPADAI

MEDAN –  Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara (Sumut) diminta terus mewaspadai bahaya aksi teroris di Sumut. Salah satu sorotan yang terus diwaspadai yakni masuknya penadatang ‘haram’ (imigaran gelap) ke wilayah Sumut yang acap kali sering terjadi. Ada sinyalemen kalau pendatang haram itu masuk wilayah Sumut telah terorganisir yang tujuannnya untuk upaya menghimpun kekuatan untuk merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Sering masuknya imigran gelap ke Sumut harus segera ditangani oleh pemerintah, pihak intelijen dan Polda Sumut harus betul-betul giat untuk mencari tahu apa sebenarnya tujuan mereka datang ke Sumut. Karena secara logika tidak mungkin imigran gelap seperti dari Afganistan bisa masuk ke Sumut dengan alasan terdampar, ada dugaan besar ada yang memasok dan mengatur datangnya para pendatang haram tersebut,” ujar Ketua Umum DPP Pemuda Pancasila 1959 Rudi Hartawan Tampubolon kepada Waspada Online tadi malam.

Lanjut Rudi, kalau dilihat kenyataan selama ini banyak warga pendatang haram dari Afganistan yang tertangkap di Sumut baik melalui pihak bea cukai ataupun pihak kepolisian tiba-tiba para pendatang haram tersebut hilang atau lari. ”Inikan hal yang sangat mustahil, orang yang tingginya hampir dua meter dan jumlahnya ratusan orang bisa lari, sangat aneh. Saya saja kalau pergi ke Amerika kalau lari pasti tertangkap, walaupun badan saya kecil apalagi mereka yang tingginya hampir dua meter tak mungkin tak nampak, ini kalau bicara logika,” ujar Rudi.

Artinya menurut Rudi, imigran yang masuk ke Indonesia khususnya di Sumut ini sudah terorganisir dengan rapi, inilah yang harus diselidikai oleh aparat keamanan, karena lanjut Rudi bentuk-bentuk teror, bentuk-bentuk aksi disinterogarsi bangsa, itu dimulai bertahun-tahun. ”Bukan hari ini dibuat baru besok kejadian, makanya pemerintah harus waspada melihat ini,” ujar Rudi.

Yang lebih aneh lagi lanjut Rudi, para imigran gelap Afganistan tersebut saat tertangkap bisa berbahasa Indonesia. “Inikan aneh, orang Afganistan bisa bahasa Indonesia. Sementara menurut saya bahasa Indonesia adalah yang sangat sulit untuk dipelajari. Artinya mereka sudah lama masuk ke Indonesa, siapa yang masukkan, itu tugas polisi atau intelijen untuk mengetahui sekelompok orang yang sangat banyak ini masuk ke Indonesia,” ujar Rudi.

Rudi juga menyebutkan sebegai generasi muda, mendesak pemerintah dan aparat berwenang untuk menyikapi hal tersebut demi keutuhan NKRI yang tercinta ini.

Sementara itu DPP LSM Serikat Kerakyatan Indonesia (Sakti) Tongam Fredy Siregar kepada Waspada Online menyebutkan kalau masuknya imigran gelap khusus warga Afganistan ke Sumut harus ditanggapi serius. Polisi harus mampu mengungkap hal tersebut. Karena saat ini Indonesia sudah menjadi sorotan dunia luar sebagai salah satu  negara sarang teroris. “Kita tidak mau Sumut dikotori dengan orang-orang asing yang akan merongrong negara NKRI ini,” ujar Tongam.

Sementara itu maraknya aksi teroris akhir-akhir ini Kepolisian Resort Kota (Polresta) Medan dan jajarannya melakukan razia-razia di perbatasan. Menurut Kabag Ops Polresta Medan Kompol Sudung F Napitu, setiap polsek-polsek yang berada di perbatasan sudah diperintahkan untuk melakukan razia mencegah masuknya anggota jaringan teroris ke Medan. Menurutnya Polresta Medan juga tetap melakukan pengamanan di berbagai objek vital yang rawan menjadi serangan aksi teror anggota jaringan teroris.

“Objek vital tersebut seperti hotel, bank, dan pusat-pusat perbelanjaan dan tempat -tempat yang menjadi sasaran teroris,” ujar  Sudung.

Seperti diberitakan sebelumnya  pada September 2011 lalu sebanyak sembilan warga negara asing (WNA) yang datang ilegal ke Indonesia diduga berasal dari Afganistan, ditangkap petugas security dan Imigrasi Bandara Polonia Medan saat akan bertolak ke Jakarta dengan penerbangan Lion Air.

Sementara itu, Kepala Unit Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Bandara Polonia Idul Adheman membenarkan penangkapan WNA diduga berasal dari Afganistan tersebut. “Yang menangkap petugas security Bandara Polonia Medan, setelah itu saya hubungi petugas Imigrasi agar membawa mereka ke kantor untuk penyelidikan lebih lanjut,” sebutnya.

Menurut dia, WNA ilegal selalu menggunakan nama samaran, makanya harus diteliti lebih lanjut. Sementara dalam dua bulan belakangan ini jarang terdengar orang asing yang masuk ilegal ke Sumut. Kesembilan WNA tersebut yakni, Ahmad Farid (Pakistan), Muhammad Asi s/o Nadir Ali dan Muhammad Dullah s/o Muhammd Ayub (Afghan). Hassan Hubain, Azam Muhammad Ali, Asif Ali Yawas, Jon Ali , Tahira (wanita) dan Ali, semua warga Afganistan.

Pejabat Imigrasi Polonia belum mendapat data, kenapa WNA itu harus berangkat ke Jakarta atau hanya sebagai kota transit untuk menuju daerah lain. Belum ada informasi pasti. Namun menurut ciri-ciri meyakinkan, ke-9 WNA ini diperkirakan berasal dari Afganistan. “Menurut informasi, mereka sudah berada di Medan sejak beberapa hari sebelumnya, entah dari mana mereka masuk ke Medan, masih dalam penyelidikan petugas Imigrasi,” sebutnya.
sumber: waspada

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

1 Response to IMIGRAN GELAP AFGANISTAN HARUS DIWASPADAI

  1. Pingback: Runtz Marijuana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *