SADIS, TANTE DAN SEPUPU DIBANTAI

Medan-andalas Petugas Kepolisian Sektor Medan Sunggal menangkap Imanuel Pranata Barus (16) dan tiga rekannya karena tega membantai tante dan sepupunya, warga Jalan Bunga Cempaka No 30, Kelurahan PB Selayang-II, Medan Selayang, Rabu (12/9) malam.

DITANGKAP-Empat pelaku pembantaian terhadap Nuriyanti dan anaknya, Nazwa, saat diperiksa di Mapolsek Medan Sunggal.

 

Akibat penganiayaan berat itu, Nuriyanti (32) akhirnya tewas di rumah sakit, sedang anaknya, Nazwa Aisyah Putri Barus (8) kritis dengan luka 32 tikaman.

“Motif pelaku adalah murni ingin merampok korban. Otak tindak pidana pembunuhan ini adalah Imanuel,” terang Kapolsek Medan Sunggal AKP Bachtiar Marpaung, Kamis (13/9).

Bachtiar menyebutkan, keempat pelaku dijerat pasal 340 Subs 338 jo 351 ayat 3 KUHPidana karena disangka sengaja melakukan pembunuhan berencana.

Imanuel bersama tiga rekannya, yakni Satria Syahputra (18), Sugi Herman alias Gebot (21), dan Nanang Setiawan (16), seluruhnya warga Medan Selayang masih menjalani pemeriksaan di Mapolsek Medan Sunggal, Jalan TB Simatupang.

Mereka ditangkap pada Kamis dinihari, beberapa jam setelah menikam Nuriyanti dan anaknya, Nazwa, dengan sadis, di rumah korban. Dari tersangka ditemukan barang bukti berupa pisau, cincin, dan handphone.

Imanuel diduga menjadi perancang pembantaian ini. Dia sakit hati karena tantenya tersebut terus menagih utangnya sebesar Rp800 ribu.

Pada Minggu (9/9), dia menyusun rencana dan mengajak temannya Satria Syahputra untuk merampok dan membunuh Nuryanti. Satria setuju, lalu mengajak Sugi dan Nanang.

“Saya punya utang karena sepeda motor saya gadaikan sama korban. Tapi karena saya belum ada duit untuk menebusnya dia marah-marah. Saya mengajak kawan saya untuk merampok dan membunuh korban, karena teman saya tidak ada duit mereka pun mau,” ungkap Imanuel.

Mereka kemudian mengintai rumah korban. Lantas pada Rabu (12/9) malam sekitar pukul 20.00 WIB, keempat pelaku datang dengan menggunakan sepeda motor.

[DITANGKAP-Empat pelaku pembantaian terhadap Nuriyanti dan anaknya, Nazwa, saat diperiksa di Mapolsek Medan Sunggal.]

DITANGKAP-Empat pelaku pembantaian terhadap Nuriyanti dan anaknya, Nazwa, saat diperiksa di Mapolsek Medan Sunggal.
Ternyata korban sedang berada di rumah bersama Nazwa, anak bungsunya. Para pelaku langsung menyekap dan menganiaya Nuriyanti. Tersangka Imanuel yang sudah membawa pisau dapur, menjadi eksekutor tunggal.

Dia menikam leher Nuriyanti dengan pisau dapur yang telah dibawanya dari rumah sebanyak dua kali. Kemudian menusuk bagian punggung Nuriyanti sebanyak tujuh kali.

Tak cukup sampai di situ, Imanuel juga menikam Nazwa. Sebelum melarikan diri para pelaku mengambil cincin dan handphone milik korban.

Dua jam setelah peristiwa itu, mantan suami korban, Perdamenta Barus (47) sibuk menelepon korban dan anaknya, karena tidak kunjung datang ke rumahnya untuk menjemput putra korban, Ismail Barus (11).

Penasaran, Pardamenta mendatangi rumah korban dan terkejut begitu melihat korban dan anaknya terkapar bersimbah darah di dalam rumah. Saat itu, Nazwa sempat menyebutkan nama Nuel (Imanuel) pada ayahnya, lalu pingsan.

Pardamenta lalu memberitahukan peristiwa itu kepada para tetangga hingga kabar tersebut sampai ke telinga petugas Polsek Medan Sunggal yang langsung turun ke tempat kejadian perkara.

Warga kemudian membawa Nuriyanti ke Rumah Sakit Umum (RSU) Elizabeth, namun nyawanya tak tertolong. Sementara Nazwa dibawa ke RSU Siti Hajar. Nyawa Nazwa selamat meski menerima 32 jahitan di tubuhnya.

Setelah melakukan olah tempat kejadian perkara, petugas langsung memburu para pelaku. Kamis dini hari atau beberapa jam setelah kejadian, petugas meringkus keempat pelaku di kediamannya masing-masing berikut barang bukti berupa 2 bilah pisau, serbet, dan baju berlumuran darah.(ACO)

Keluarga Minta Pelaku Dihukum Berat

Suasana duka menyelimuti kediaman Sugondo (59) di Jalan Perjuangan, Gang Famili, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, tempat jasad Nuriyanti (33) disemayamkan.

Tampak ratusan pelayat datang silih berganti ke kediaman orang tua almarhumah Nuriyanti yang semasa hidupnya dikenal sebagai sosok wanita yang baik dalam bertetangga.

Nuriyanti tewas mengenaskan akibat ditikam beberapa kali oleh keponakannya sendiri, Imanuel Pranata Barus dan tiga teman Imanuel.

Sugondo yang masih sangat terpukul dengan kematian putrinya itu meminta agar Imanuel dan tiga rekannya yang sudah ditangkap polisi dihukum berat karena tega membantai putrinya, Nuriyanti hingga tewas dan cucunya, Nazwa, hingga kritis.

“Kami menduga ada motif dendam, karena sebelumnya dia (Imanuel) sering ketauan hendak mencuri di rumah anakku (Nuryanti) tapi selalu dimaafkan dan diberi nasihat,” terang Sugondo dengan mata masih berkaca-kaca menahan kesedihan yang mendalam.

Masa Kritis

Sementara itu kondisi Nazwa (8), mulai stabil dan masih menjalani observasi oleh tim medis RS Siti Hajar Medan. Hal ini disampaikan dr Rahmad, tim medis yang menangani korban saat dikonfirmasi di RS Siti Hajar, Kamis (13/9).

“Ada lebih dari lima luka yang dialami korban. Saat ini dia (Nazwa) tengah menjalani observasi dan tindakan intensif oleh tim medis. Selain telah menjahit beberapa luka, kita juga telah memberikan obat antibiotik dan infus. Nazwa juga akan menjalani rongent,” ujarnya.

Disinggung apakah korban kritis akibat luka tikaman senjata tajam, Rahmad belum bisa memastikan penyebabnya. “Kita belum tau apakah itu luka tikam ataupun bukan, karena saat ini masih menunggu visum dari kepolisian untuk menentukan penyebab luka yang dialami pasien,” terangnya.

Saat dikunjungi di Ruang Melati II Lantai II RS Siti Hajar–tempat Nazwa mendapatkan perawatan–terlihat sejumlah luka tikam di leher kiri, rusuk kiri, dan lengan kiri korban.

Bocah yang masih duduk di bangku kelas II SD ini terlihat lemah dan mengerang kesakitan karena menderita sejumlah luka yang dialaminya.

Dibantu perawat, Rahmad tampak mengobati luka di tubuh  Nazwa yang sesekali mengerang dan menahan sakit dan diberikan infus di tangan kanannya.

Beberapa anggota keluarga dan tetangga korban yang datang tampak merasa prihatin atas peristiwa yang dialami korban. Ayah korban Pardamenta Barus dengan tabah dan sabar juga tampak mendampingi Nazwa, bungsu dari dua bersaudara itu.

Nenek korban, Tigan Tarigan (71) ibunda dari Pardamenta Barus mengatakan, Nazwa kritis akibat pendarahan atas sejumlah luka yang dideritanya. “Setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit ini kondisi dia (Nazwa) sudah mulai sadar dan sudah mau berbicara,” katanya.(YN)
sumber : harianandalas

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima. Bookmark the permalink.

2 Responses to SADIS, TANTE DAN SEPUPU DIBANTAI

  1. Pingback: white house market

  2. Pingback: what is digital transformation in business

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *