PENGUNGKAPAN TERORIS BISA MENYESATKAN

Polisi harus mengungkap dokumen soal teror. Tidak cukup hanya berdasarkan pengakuan.

JAKARTA – Serangkaian pengungkapan kasus teroris di Solo, Jawa Tengah (Jateng), Depok, termasuk penemuan benda yang diduga bahan peledak di kawasan Tambora, Jakarta Barat sepatutnya disikapi dengan bijak.

Semua pihak jangan langsung terburu-buru mengembangkan asumsi bahwa sejumlah peristiwa yang diungkap polisi tersebut ditujukan untuk teror.

Hal itu dikatakan pengamat intelijen Wawan H Purwanto ketika dihubungi SH di Jakarta, Kamis (6/9) siang. “Hal itu bisa menyesatkan,” katanya.

Ia mengatakan, pengaitan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya harus memiliki dasar yang kuat. Semisal, aparat harus mengungkap dokumen yang menunjukkan adanya rencana teror, tidak cukup hanya berdasarkan pengakuan.

Dia mengemukakan, aparat harus dapat membuktikan ke publik bahwa penangkapan terduga teroris hingga penemuan benda yang diduga bahan peledak berkaitan langsung dengan serentatan aksi teror di Solo, Jawa Tengah, Jumat (31/8) lalu.

Kalau tidak, katanya, informasi yang berkembang bisa semakin menyesatkan publik dan aparat. “Namun, memang apa yang terjadi saat ini hanya pengembangan. Tetapi, semua itu sedang diteliti keterkaitan langsungnya,” katanya. Ia menambahkan, umumnya rencana teror itu memiliki sasaran reguler, alternatif, dan darurat.

Berdasarkan catatan SH, sepanjang pekan ini Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menangkap sejumlah terduga teroris.

Bahkan, dalam penyergapan di Jalan Veteran, Solo, Jawa Tengah (Jateng), Jumat (31/8) malam, petugas terlibat baku tembak, mengakibatkan dua terduga teroris, F (19) dan M (19), tewas. Anggota Densus 88 Antiteror Bripda Suherman juga tewas dalam peristiwa itu.

Pada saat sama, petugas juga menangkap hidup-hidup B (24), terduga teroris, di Solo, Jateng. Dia dibekuk di rumahnya di Karanganyar, Jateng.

Tidak lama berselang, pada Rabu (5/9) pagi Densus 88 Antiteror juga menangkap terduga teroris Fir (20) di Perumahan Anyelir II, Depok, Jawa Barat. Polisi melansir bahwa Fir terkait jaringan teroris di Solo, Jateng. Fir disebut-sebut sebagai pihak yang menentukan target kegiatan Alamliyah lalu ikut menentukan sasaran.

Terakhir, pada Rabu (5/9) petang, petugas menemukan sejumlah bahan yang siap diracik menjadi bom di rumah terduga teroris MT (28) di Jalan Stasiun Angke, Gang Teratai VII RT 002/RW 004, Kelurahan Jembatan Besi, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. MT yang meracik bom itu kabur menggunakan bajaj. Bom racikan tersebut disebut-sebut akan dibawa ke Ambon.

Sel Terorisme Meluas

Anggota DPR Bambang Soesatyo kepada SH mengatakan, rangkaian penangkapan sejumlah terduga teroris mengindikasikan bahwa faktor penyebab terjadinya instabilitas nasional telah tereskalasi. Kewaspadaan seluruh elemen masyarakat harus ditingkatkan, karena ada indikasi sel-sel terorisme terus berkembang dan meluas.

“Pembiaran terhadap benih-benih terorisme di negara ini bisa menjerumuskan masa depan Indonesia ke dalam perangkap negara gagal. Risiko seperti inilah yang harus diperhitungkan semua pihak. Karenanya, benih-benih terorisme tidak boleh mendapat tempat di negara ini,” katanya.

Bambang lebih lanjut menuturkan, fakta-fakta terbaru mengenai identitas terduga teroris menunjukkan mereka bukanlah orang lama. Dari fakta itu bisa dibuat kesimpulan bahwa proses perekrutan dan pelatihan calon-calon pelaku teror terus berlangsung. Kalau fakta ini tidak direspons sebagaimana mestinya, itu berarti ada yang salah pada sistem hukum dan sistem pengendalian keamanan negara.

Bambang pun berharap fakta tentang terduga teroris tidak direduksi dengan faktor lain seperti keyakinan atau kepentingan sempit lainnya. Kalau bukti hukumnya menunjukkan yang bersangkutan terduga teroris, ia harus diperlakukan sebagai terduga teroris tanpa harus dikaitkan dengan keyakinan yang bersangkutan.

Divisi Humas Polri di Jakarta, Kamis (6/9) siang, memutar rekaman video pengakuan B (22), terduga teroris di Solo, Jateng yang ditangkap dalam keadaan hidup di kediaman mertuanya, Wiji, di Desa Bulurejo, Kecamatan Gondangrejo Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (31/8/) malam.

Dalam video itu terungkap bahwa sejumlah penembakan terhadap polisi di Solo bertujuan membuat polisi takut. Hal itu telah dirancang sejak 2007. Dengan demikian, teroris bisa mengondisikan konflik pecah di Solo, seperti di Poso dan Ambon.

Terduga teroris B mengatakan, penyerangan terhadap polisi mulai dapat dilakukan setelah terduga teroris F datang dari Moro, Filipina pada 2012. ”Target kami adalah aparat thogut, aparat polisi itu,” kata terduga teroris B dalam rekaman video tersebut yang disebut-sebut dibuat di Yogyakarta. (Ninuk Cucu Suwanti)
sumber : http://www.shnews.co

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

1 Response to PENGUNGKAPAN TERORIS BISA MENYESATKAN

  1. Pingback: woodland hills personal injury lawyer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *