AKSI TERORIS SOLO JANGGAL

JAKARTA – Indonesia Police Watch (IPW) berpendapat polisi yang profesional dan proporsional dalam menjalankan tugasnya dapat meredam aksi teror dan kekerasan terhadap anggota Polri.

Ketua Presidium IPW, Neta S Pane menyatakan, ancaman terhadap anggota polisi masih ada kendati Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror sudah melakukan penyergapan terhadap terduga teroris di Solo.

“Teror dan penembakan terhadap polisi tetap menjadi ancaman. Sebab, rasa kesal sebagian masyarakat terhadap polisi kian memuncak,” ujar Neta kepada wartawan di Jakarta, tadi malam.
join_facebookjoin_twitter

Dia mencatat, ada 11 polisi yang dikeroyok masyarakat dalam lima bulan pertama pada 2012. “IPW mengimbau Polri agar mengubah sikap, prilaku dan kinerjanya. Anggotanya jangan arogan, represif, memeras. Tapi bekerja profesional dan proporsional.”

Sementara dalam penyergapan terhadap terduga teroris di Solo yang menewaskan dua terduga teroris dan satu anggota Densus 88 Antiteror Polri, ICW menilai ada tiga kejanggalan.

Dia menjelaskan, pistol yang disita dari terduga teroris yang terbunuh adalah bareta dengan tulisan Property Philipines National Police. Padahal, sebelumnya Kapolresta Solo Kombes Asdjima’in menyebutkan, senjata yang digunakan menembak polisi di Pospam Lebaran jenis FN kaliber 99 mm.

“Pertanyaannya, apakah orang yang ditembak polisi itu benar-benar orang yang menembak polisi di Pospam Lebaran, atau ada pihak lain sebagi pelakunya?,” ujar Neta.

Kejanggalan kedua adalah Densus 88 bertugas tidak sesuai standar operasional. Bripda Suherman tewas tertembak karena tidak memakai rompi anti peluru. “Pertanyaannya, apakah benar pada malam 31 Agustus itu ada operasi Densus, jika ada kenapa anggota Densus bisa teledor, bertugas tidak sesuai SOP?.”

Kejanggalan ketiga, lanjut Neta, beberapa jam setelah penyergapan, Presiden SBY memerintahkan Kapolri segera meninjau tempat kejadian perkara. Padahal, dalam peristiwa-peristiwa sebelumnya, hal itu tidak pernah terjadi.

Pengamat intelijen Wawan Purwanto menegaskan, pemilihan usia muda untuk melakukan aksi terorisme sudah sejak 2006. Usia belia dipilih karena mereka tidak memiliki tanggungan keluarga sehingga aksi bisa dilancarkan dengan baik.

Penegasan Wawan tersebut menanggapi Kapolri Jenderal Timur Pradopo yang sebelumnya mengatakan bahwa dilihat dari usia yang muda, pelaku teror Solo merupakan orang-orang baru.

“Sedangkan untuk kelompok tua bertugas merekrut pelaku-pelaku baru. Anak muda direkrut karena mereka tidak punya tanggungan sehingga bisa all out untuk melakukan aksinya,” tandas Wawan saat dihubungi wartawan.

Sebelumnya diberitakan, ketiga pelaku Solo yang tertangkap merupakan eksekutor penembakan Pos Polisi Gemblekan, Jumat (17/8). Pelemparan granat di Pospol Glodok, Sabtu (18/8), serta penembakan Kamis (31/8) malam di Pos Polisi Singosaren, Serengan, yang menewaskan Bripka Dwi Data Subekti (56).

Selain itu, mereka juga melakukan penyelundupan senjata api dan amunisi dari Moro Filipina, yang dikenal sebagai pemukiman Islam garis keras.
sumber: http://waspada.co.id

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

4 Responses to AKSI TERORIS SOLO JANGGAL

  1. Pingback: cyber security in banking

  2. Pingback: order ketamine powder online for sale overnight delivery in usa canada uk australia cheap legally

  3. Pingback: glockonline.org

  4. Pingback: Plymouth workers call in sick more than any other UK city

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *