PENGAMAT: PELAKU PENEMBAKAN SOLO TERLATIH

Semarang (ANTARA News) – Pengamat terorisme Noor Huda Ismail menilai penembakan di Pos Polisi Plasa Singosaren Solo, Jawa Tengah, yang menewaskan Bripka Dwi Data Subekti (57) pada Kamis (30/8) malam, dilakukan oleh orang yang terlatih melakukan aksi teror.

“Pelaku itu jelas orang yang terlatih menggunakan senjata api, karena dari beberapa saksi yang melihat, pelaku tenang saat menembak dari jarak dekat, kemudian meninggalkan lokasi penembakan tanpa kerepotan,” katanya di Semarang, Jumat.

Menurut dia, di Indonesia ada dua kelompok yang mampu melaksanakan aksi kekerasan secara profesional.

“Yang pertama adalah kelompok yang sebelumnya berasal dari militer atau kepolisian, baik yang masih aktif maupun tidak, yang melakukan teror dengan motif tertentu karena kecewa dengan institusinya,” katanya.

Kelompok kedua adalah kelompok sipil yang pernah mendapat pelatihan militer di luar negeri, ujar Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian itu.

Ia meminta kepada semua pihak agar tidak terburu-buru menuduh kelompok aktivis Islam garis keras yang melakukan aksi penembakan polisi di Solo itu.

“Kita harus sama-sama menghormati investigasi yang dilakukan kepolisian karena untuk menyudutkan suatu kelompok tertentu perlu bukti yang kuat dan jika analisa kita salah maka harus ada pertanggungjawaban publik,” katanya.

Noor Huda berpendapat, ada tiga hal mengapa di Kota Solo selalu terjadi aksi teror dan bergejolak dibandingkan dengan di daerah lain.

Tiga hal tersebut, kata dia, di Solo tidak ada organisasi “mainstream” yang kuat seperti NU dan Muhammadiyah, sehingga banyak muncul kelompok-kelompok yang kemudian mengadvokasikan cara pandang keagamaan yang tidak “mainstream”.

“Yang kedua dan ketiga adalah Sultan di Solo tidak kuat sehingga masyarakatnya mencari budaya lain serta di Solo biasanya menjadi `dapur` gerakan tapi presentasinya tidak di kota setempat,” katanya.

Terkait dengan adanya beberapa analisa pengamat yang menyebutkan bahwa aksi teror di Solo itu ada hubungannya dengan pencalonan Wali Kota Solo Joko Widodo menjadi Gubernur DKI Jakarta, Noor Huda menganggap pendapat itu lemah.

“Argumen itu lemah karena pada saat terjadi pengebomam Hotel JW Marriot, Gubernur DKI Jakarta dijabat oleh Fauzi Bowo,” ujarnya.

Kasus penembakan oleh orang yang tidak dikenal itu terjadi di Pos Polisi Plasa Singosaren Kota Solo, Kamis (30/8), sekitar pukul 21.00 WIB.

Penembakan yang dilakukan dua orang tidak dikenal itu mengakibatkan seorang petugas polisi, Bripka Dwi Data Subekti, meninggal dunia di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo.

Korban mengalami luka kena tembakan sebanyak empat kali, yakni dua tembakan di tubuh, dan dua lainnya mengenai tangannya. Pelaku dua orang dengan mengendarai sepeda motor.

Setelah divisum di Rumah Sakit Umum Dr. Moewardi Solo, jenazah Bripka Dwi Data Subekti dimakamkan di Astana Temu Ireng Bejen, Ngringo, Kabupaten Karanganyar.

Korban yang merupakan anggota Samapta Polsek Serengan Polresta Surakarta beralamat di Jalan Bima Sakti 28 Blok C RT 10 RW 22 Perum Ngringo Indah, Kabupaten Karanganyar itu, meninggalkan seorang istri, Niken Sri Parawani.

Selain itu, korban juga meninggalkan tiga anak, yakni Gopta Andika Pratama (28), Arya Dwi Werdana (26), dan Hany Tri Prajaduta. (Ant)

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

1 Response to PENGAMAT: PELAKU PENEMBAKAN SOLO TERLATIH

  1. Pingback: one up chocolate bar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *