INDONESIA MENEMBUS INDUSTRI KEDIRGANTARAAN

Indonesia bisa! BJ Habibie mendesain ulang pesawat N250 dan akan diproduksi kembali 2014.

Bacharudin Jusuf (BJ) Habibie boleh berbangga dengan mengatakan “N250 is still the best”. Wajar saja dia bilang demikian, “N250 masih yang terbaik”. Ini mengingatkan pada suasana kegembiraan yang membuncah di arena Indonesia Airshow 1996 di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng.

Di siang yang cerah kala itu semua mata tertuju ke langit, memandang N250 Gatot Kaca yang terbang menembus putihnya awan. Tak ada yang tak berdecak kagum. Ada Presiden Soeharto, para menteri, dan para duta besar negara sahabat. Pesawat gagah itu menjadi bintang pada ajang pameran pesawat terbang tersebut.

Peristiwa yang membesarkan hati pada 1996, namun sayangnya kemudian terlupakan “terbawa angin” krisis moneter pada 1997. Bahkan “burung besi” yang diluncurkan pertama kali pada 1995 itu sempat direncanakan untuk mendapatkan sertifikat Federal Aviation Administration (FAA) pada 2000, namun kemudian terhenti.

Meski demikian, Habibie tidak patah arang. Dia masih terus mengejar mimpinya: Indonesia mampu mengembangkan industri pesawat terbang. Sertifikat FAA pun direncanakan akan diperoleh dalam lima tahun mendatang.

Seperti biasanya, Habibie berbicara penuh gairah. Juga ketika menggelar acara open house menyambut Idul Fitri 1433 H di kediamannya di Jalan Patra Kuningan XIII, Jakarta, beberapa waktu lalu. “Kami akan redesign (desain ulang) pesawat, salah satunya mesin. Ini perlu karena ada gap teknologi kurang lebih 20 tahunan,” jelas mantan presiden itu dengan berbinar-binar.

Menurut pemilik 46 paten di bidang aeroneutika itu, pesawat tersebut akan terbang dalam lima tahun ke depan dengan perubahan rancangan pesawat yang serba digital. Setelah sebelumnya, yaitu pada Sabtu (11/8) dilakukan penandatanganan proyek pengembalian dan penyelesaian kembali pesawat N250 yang sempat terhenti.

Ide kembali memproduksi pesawat N250 dilontarkan oleh Habibie setelah melihat peluang pasar yang cukup besar menyusul tidak diproduksinya lagi pesawat Fokker F-50 yang selama ini menjadi pesaingnya.

Pesawat N250 merupakan pesawat regional komuter turboprop rancangan asli Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang sekarang menjadi PT Dirgantara Indonesia (DI). Pesawat tersebut menggunakan mesin turboprop 2439 KW dari Allison AE 2100 C buatan perusahaan Allison.

Pesawat berbaling-baling enam bilah itu mampu terbang dengan kecepatan maksimal 610 kilometer per jam (330 mil per jam) dan kecepatan ekonomis 555 kilometer per jam yang merupakan kecepatan tertinggi di kelas turborop 50 penumpang. Ketinggian operasi 25.000 kaki (7.620 meter) dengan daya jelajah 1.480 kilometer.

Diproduksi 2014

Di bawah bendera PT Regio Aviasi Industri (RAI), pesawat N250 yang telah dimodifikasi tersebut akan mulai diproduksi kembali pada 2014. PT RAI merupakan perusahaan patungan yang 51 persen sahamnya dikuasai PT Ilhabi milik putra sulung Habibie, Ilham Akbar Habibie, dan 49 persen sahamnya milik PT Eagle Capital yang didirikan oleh mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Erry Firmansyah.

Habibie menjadi Ketua Dewan Komisaris PT RAI. Adapun karyawan PT RAI direkrut dari sejumlah eks karyawan IPTN. Proyek ini juga akan melibatkan berbagai elemen, seperti Kemenristek, BPPT, dan PT DI.

“Saat ini kita masih dalam tahap pendirian perusahaannya, kemungkinan paling cepat baru mulai berproduksi dua tahun mendatang,” kata Erry saat dikonfirmasi SH, di Jakarta, Selasa (28/8).

Dia menjelaskan, untuk memproduksi kembali pesawat N250 tersebut PT RAI akan menjalin kerja sama dengan PT DI yang merupakan industri pesawat terbang yang pertama dan merupakan satu-satunya di Indonesia dan Asia Tenggara.

“Untuk fasilitas produksinya kita akan kerja sama dengan PT DI. Kalau untuk modal investasinya, sejauh ini sumbernya masih dari investor lokal,” ungkapnya.

Meski demikian, Erry belum bersedia merinci berapa besar investasi yang dibutuhkan untuk kembali memproduksi pesawat N250. “Kita belum sampai tahap itu, baru masuk tahap pendirian saja,” ujarnya.

Dia mengakui selain akan memproduksi pesawat N250, PT RAI juga akan memproduksi pesawat model lain yang ditargetkan mampu menembus pasar dalam negeri maupun pasar ekspor. “N250 memang salah satu model yang akan diproduksi, tapi ada model-model lainnya juga. Untuk pangsa pasar, terutama pasar domestik dan dipasarkan juga untuk pasar ekspor,” ia menambahkan.

Erry melihat prospek industri penerbangan di Indonesia masih sangat potensial, dan itulah yang mendasari perusahaannya tertarik untuk memulai bisnis di sektor industri kedirgantaraan bersama Ilham Akbar Habibie.

PT Eagle Capital yang didirikan Erry bersama Harry Wiguna pada awalnya hanya bergerak di sektor jasa konsultan keuangan dengan layanan lengkap. Perusahaan yang berdiri 13 Oktober 2009 itu fokus memberikan solusi keuangan perusahaan dan pasar modal khusus bagi klien dari berbagai industri.

Tinta Emas

IPTN tercatat sebagai perusahaan yang membawa nama besar bagi anak bangsa. Pada 1995, 15.700 karyawan IPTN menghasilkan pesawat N250 Gatot Kaca yang canggih dengan sistem Fly By Wire. Pada 10 Agustus 1995 pesawat itu pertama kali melakukan uji coba terbang, dan peristiwa itu diperingati setiap tahun oleh bangsa Indonesia sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas).

Pada 19 Desember 1996 pesawat N250 Krincing Wesi dengan 68 penumpang melakukan terbang perdana (first flight).

Namun di 1998, IPTN mengalami persoalan karena Dana Moneter Internasional (IMF) membuat kesepakatan peminjaman utang kepada pemerintah Indonesia dengan syarat program pengembangan dan program perdagangan pesawat N250 dihentikan untuk penghematan biaya penelitian dan biaya produksi. Akibatnya, IPTN melakukan PHK dan ditinggalkan 5.000 karyawannya.

Pada 2000 IPTN berubah nama menjadi PT Dirgantara Indonesia, dan pada 2004, dari 6.561 karyawannya tersisa 3.200 orang. Seribu di antaranya insinyur yang berpengalaman di bidang kedirgantaraan.

Kemudian pada 2008 PT DI mulai mendapat pesanan cukup besar, yakni empat unit pesawat CN235 oleh pemerintah Korea Selatan untuk kebutuhan Korean Coast Guard.

Tahun 2009-2010 PT DI memperoleh pesanan pesawat CN235 MPA dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia untuk TNI AL, disusul pesanan dari Kementerian Pertahanan sembilan unit CN295, dan dua unit CN235 untuk TNI AL.

Selanjutnya 2011, PT DI menjadi produsen komponen helikopter tailboom MK II EC725/EC225 dan dijual ke perusahaan EuroCopter di Prancis. Selain itu, menjual CN235-220 AT VIP ke Senegal Air Force.

Berikutnya pada 26 Juli 2012 mendapat pesanan dari PT Merpati Nusantara (Persero) untuk 20 pesawat NC212-400. Lalu 10 Agustus 2012 Kementerian Pertahanan membeli lagi satu unit CN235 untuk TNI AU, satu unit helikopter Super Puma untuk TNI AU, dan tujuh unit helikopter Bell 412 EP untuk TNI AD dan TNI AL. PT DI sudah menyerahkan empat helikopter Bell 412 EP kepada TNI AD.

Berikutnya pada 11 Agustus 2012 dilakukan penandatanganan proyek pengembalian dan penyelesaian kembali pesawat N250 yang dilakukan pemerintah Indonesia, PT DI dengan PT RAI dan PT Eagle Capital. Semoga saja proyek ini menorehkan tinta emas untuk anak negeri dan menjadi model bagi generasi muda di masa mendatang.(Wahyu Dramastuti)
sumber : http://www.shnews.co

This entry was posted in Berita, Berita Pilihan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *