MENGANGKAT TULANG-TULANG, CARA ORANG KARO MENGHORMATI LELUHURNYA

Orang Karo sangat beradat dan menghargai leluhur sehingga secara khusus memilki kebudayaan mengumpulkan kembali tulang-tulang leluhur yang telah lama meningal dunia. Cara ini dikenal dengan Nampeken TULAN-TULAN (Nampeken = mengambil dalam arti mengumpulkan kembali , Tulan-tulan = Tulang/ skeletons). Dalam bahasa sederhananya dikatakan MUAT TULAN-TULAN (MUAT= MENGUMPULKAN). Muat tulan-tulan  merupakan satu dari sekian banyak upacara adat karo,sebagai wujut penghormatan kepada orang tua dan leluhur.
Tulan-tulan/ Tulang-tulang (sumber SAPOHOLLAND FB Group)                      Tulan-tulan/ Tulang-tulang (sumber SAPOHOLLAND FB Group)

Biasanya acara seperti ini dilakukan di JAMBUR.  Jambur adalah Rumah tempat penyelengaraan kegiatan adat suku Karo yang lebih besar dari sebuah pesta perkawinan. Bayangkan saja sejumlah anak beranak empat hingga lima keturunan berkumpul bersama untuk mengujutkan acara ini.

Pengumpulan tulan-tulan (SAPO HOLLAND FB GROUP)                                                       Pengumpulan tulan-tulan (SAPO HOLLAND FB Group)

Dalam sebuah kesempatan:  Ade Fani Ketaren, menyampaikan pengalamannya dalam kegiatan adat budaya KARO ini. Yang bertugas mengali kuburan adalah anakberu,semua tulang2 yang di ambil lalu di cuci bersih,lalu di mandikan dengan lau penguras (air yang dibuat khusus untuk acara ini) yang  dibuat dari ramuan jeruk purut, air kelapa muda dan beberapa rempah lain.Lalu setelah bersih dan di mandikan dengan lau penguras, maka tulang belulang di susun sedamikina rupa dan dibacakan doa-doa. Kemudian di bungkus dengan dagangen (kain putih) lalu di sumpitken (dibungkus sedemikian rupa). Kemudian tulang-tulang tersebut di bawa kerumah sambil menunggu prosesi saudara yang lain selesai.

Namun belakangan ini  yg bertugas mengali kuburan sekarang sudah mengunakan aron/pekerja yang diminta khusus dan dibayar. Lihat gambar, laki-laki yang jongkok di sebelah kiri itu anak beru “bayaran” istilahnya. Setelah semua tulang belulang sodara2 yang lain terkumpul, maka tulang belulan di masukkan dalam peti kecil dan masing-masing peti di buat nama yang bersangkutan, lalu di adakan acara adat namanya ngampeken tulan-tulan yang biasanya di adakan di jambur. Acara ini biasanya di hadiri oleh seluruh keluarga yang bersangkutan,dan biasanya y hadir sangat banyak lebih banyak dari pesta perkawinan dan adat kematian. Setelah prosesi adat selesai maka tulan-tulan tadi semua dimasukkan ke dalam sau bangunan yang di sebut Geriten (bangunan khusus yang digunakan sebagai tempat mengumpulkan tulang-tulang tersebut).

Kegiatan ini masih terkait dengan keyakinan lama orang Karo dan masih terjaga dengan baik hingga saat ini walaupun acaranya sudah diubah dengan kegiatan yang menggunakan religi yang modern sesuai perkembangan  keyakinan. Kegiatan ini tentunya membutuhkan kerjasama, kesepakatan dan dana yang cukup besar, sehingga ini dapat menjadi salah satu indikator bahwa orang Karo telah memiliki BUDAYA yang tinggi dan menjaga NILAI KEMANUSIAAN HINGGA KELELUHURNYA YANG TELAH MENINGGAL DUNIA.
sumber : http://unik.kompasiana.com

This entry was posted in Adat Istiadat Karo, Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima. Bookmark the permalink.

2 Responses to MENGANGKAT TULANG-TULANG, CARA ORANG KARO MENGHORMATI LELUHURNYA

  1. Bujur ku kataken man bandu si mada Web enda,sebab ngo i tamakendu tulisen enda bas halamaen web ndu,sumber si i katakendu ena aku,namu i jenda ku persinget man bandu tenteng foto bas tulisen enda,apakah engo pindo ndu izin man si mada foto,sebab foto enda menjadi bahan pertikaiyan bas tiulisen KOMPASANIA si i bahan Bode Harto Tarigan si ku bagiken bas Group Sapo Holan Nl.foto enda labo aku simada,bahkan tulisen i KOMPASANIA tentang tulisen enda engo i hapus .Cuba telusurindu ras pindondu izin man simada,adi aku meriahkel ukurku ngo ibahanndu tulisen enda,Enda banci menjadi media pembelajaran man banta kerina,ras ngarap kel aku banci si tambahi ras-ras,sebab isina masih sangat minim kel.
    Bujur ras mejuah-juah

    • admin1001 says:

      Bujur, man kam t/s Bode Harto Tarigan entah apai pe kam simada foto enda bagi siinformasiken t/s Ade Fani Ketaren mindo kami persetujuanndu melalui website enda, adina meriah ukurndu ras la kam keberaten maka untuk mendukung tulisen enda i tamaken kami tetap foto hasil karyandu enda. Tapi adina la meriah ukurndu banci hapus kami, tapi adi banci min tetap bagenda saja, sebab website enda salah sada tujun utamanya emkap guna memperkenalkan budaya Karo ku kerina jelma babo doni enda lah la ngenca man kita khususna generasi muda Karo tapi man jelma diluar Karo. Gelah arah sie kita kalak Karo (khusus generasi muda Karo) reh kelengna pagi ateta budayata ras tetap dilestarikan guna sebagai penghormaten man tua-tua siadita, ras di luar kalak Karo siarapken metedeh atena pagi ndahi Taneh Karo Simalem siertina lit gunana man keluargata sitading ijah khususna sikujuma kurumah sebab lako minaganna entah jong, kol, rimo ras sidebanna termasuk persadu-sadu i Berastagi.
      Bujur, ras timai kami katandu.

Leave a Reply to admin1001 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *