KEMATIAN KERBAU SAMOSIR DIDUGA KARENA PENYAKIT “NGOROK”

Medan, 26/10 (ANTARA) – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumatera Utara menduga kematian 72 ekor kerbau secara mendadak di Kabupaten Samosir, karena gejala klinis yang mengarah pada penyakit “ngorok”.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Sumut Muhaimin Damanik yang dihubungi ANTARA di Medan, Rabu, mengatakan, penyakit ngorok atau septicemia epezootica itu muncul karena adanya pembengkakan di leher hewan.

Pembengkakan pada leher tersebut, kata dia, menyebabkan hewan ternak milik kalangan masyarakat sulit bernapas sehingga menyebabkan kematian.

Selain itu, kata dia, ada juga indikasi jika ternak-ternak milik kalangan masyarakat yang mati mendadak tersebut mengalami penyerangan parasit darah.

Namun, kata dia, untuk memastikan penyebab kematian kerbau tersebut, pihaknya kini sedang melakukan penelitian di laboratorium milik Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Utara.

“Contoh darahnya sudah dibawa ke laboratorium,” kata dia.

Menurut Muhaimin, pihaknya belum menemukan indikasi jika kematian hewan ternak milik kalangan masyarakay tersebut disebabkan penyakit antraks.

“Antraks ‘nol’ atau tidak ada sama sekali di Provinsi Sumatera Utara,” kata dia.

Sebelumnya, sebanyak 72 ekor kerbau di Samosir, yakni di desa Martoba sebanyak 70 ekor dan Desa Sianjurmula-mula dua ekor ditemukan mati secara mendadak.

Untuk mencegah berjangkitnya penyakit yang menimpa ternak milik kalangan masyarakat meluas, maka Dinas Peternakan Kabupaten Samosir melakukan vaksinasi terhadap 486 ekor kerbau di sejumlah kecamatan di Samosir. ***4***
(T.I023/B/B015/B015)

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

2 Responses to KEMATIAN KERBAU SAMOSIR DIDUGA KARENA PENYAKIT “NGOROK”

  1. Pingback: dmt

  2. Pingback: penis envy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *