ANDALKAN PERAWATAN DAN KUALITAS TERBAIK

Di lahannya seluas dua hektare ini, terlihat tiga orang petani sedang memenuhi gerobak sorongnya dengan tanah. Tanaman ukon berusia satu bulan dengan tinggi tanaman sudah mencapai sekitar 30 hingga 40 cm itu menurut Felix Yuda, hanya dipupuk menggunakan pupuk kompos yang dibuatnya sendiri.
Pupuk kompos buatannya itu merupakan campuran dari tongkol jagung, abu kopi, dan sekam padi. Sebelum digunakan, campuran ketiganya difermentasikan lebih dahulu selama minimal satu bulan. Dalam waktu tersebut, pupuk akan berwarna lebih coklat cenderung gelap.


Foto: Andalkan Perawatan dan Kualitas Terbaik

“Dibutuhkan 20 ton pupuk kompos untuk lahan seluas dua hektare dan pemupukan hanya dilakukan dua kali saja mulai tanam hingga masa panen tiba tepatnya, yakni pada saat sebelum ditanami dan empat bulan kemudian setelah tanam,” jelasnya.

Pada pemupukan kedua, kata dia, dilakukan peletakan induk rimpang ukon, sebagai benih terpilih. Tanahnya juga dibumbung. Pada saat pembumbungan, benih tidak boleh terlalu lembab dan juga tidak boleh terlalu kering. Untuk menjaga suhu tanah stabil, benih ditimpa dengan tanah bercampur serabut tipis.

Selain itu juga bermanfaat untuk melindungi ukon agar terlindungi dari sinar matahari secara langsung. “Secara teknis, perawatannya tidak rumit,” katanya menambahkan sambil menunjukkan salah satu ukon yang baru berusia beberapa minggu.

Ia menjelaskan, pengolahan pupuk kompos dilakukan sendiri oleh beberapa petani yang sudah mengerti tentang pembuatan pupuk. Di tempat pengolahan pupuk, terdapat 1 buah lat berat yang digunakan untuk pemupukan lahan.  Gundukan tongkol jagung, abu kopi, dan sekam padi menggunung terpisah.

Di sebelahnya, gundukan pupuk campuran ketiganya, masih dalam fermentasi dan warnanya masih coklat muda. “Masih beberapa minggu lagi sampai bisa digunakan untuk pupuk,” katanya.

Dijelaskannya, seluruh bahan baku pupuk, tongkol jagung, abu kopi, dan sekam padi, dibeli dari masyarakat sekitar. “Yang terbuang dari petani kita beli dengan harga yang pantas untuk dijadikan pupuk. Dengan demikian  terjadi saling melengkapi antara dirinya dengan petani lainnya,” ucap Felix.

Ia menilai, di Desa Serba Jadi, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, tanahnya lebih aman dari penggunaan pestisida daripada tempat lainnya. “Saat ini cukup sulit mencari lahan yang bebas dari penggunaan pestisida. Karena itu pupuk yang kita gunakan full organik, tidak ada pestisida sintetik,” katanya.

Begitu juga dalam membeli bahan baku pupuk tersebut juga melihat asal muasalnya. “Bisa memasuki pasaran Jepang dan Korea menjadi bukti bahwa ukon ini bersih dari pestisida,” katanya.

Dalam perawatan sehari-hari, menurutnya beberapa petani yang merupakan masyarakat setempat melakukan pembersihan rerumputan sekedarnya yang ikut tumbuh di sekitar tanaman.

Ia berpendapat, mencari lokasi yang bebas dari penggunaan pestisida di Sumatera Utara cukup sulit. Hanya beberapa daerah yang cocok untuk ditanami ukon. “Itu kendala utama, karena tidak hanya lahan yang harus bersih, tapi lahan sekitarnya juga harus bersih, kalau tidak ikutan rusak,” katanya.

Felix lebih juah menjelaskan, ekspor yang sudah dilakukan sejak 15 tahun yang lalu tidak terlepas dari komitmen kuat untuk hanya menggunakan pupuk organik. Dengan pupuk organik, menurutnya dapat memperpanjang usia kesuburan tanah. Sebaliknya, penggunaan pestisida hanya akan merusak tanah dan tanaman. “Kita harus bisa melihat jangka panjang,” lanjutnya.

Dikatakannya, hasil tanaman akan berkualitas dengan menjaga dan merawatnya melalui  cara-cara yang benar. Dengan demikian, dapat meningkatkan kepercayaan importir dan roda perekonomian petani akan terus berjalan. (cw 02/yuni naibaho)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *