TERKELIN TARIGAN SE MM: PETERNAKAN SAPI DI TANAH KARO MENJANJIKAN

SOFYAN GINTING. BERASTAGI. Kab. Karo adalah wilayah pegunungan yang dikenal sebagai penghasil pertanian terbaik di Sumut. Hasil sayur, buah dan bunga sudah menembus mancanegara, tetapi masalah fluktuasi harga belum terpecahkan. Salah satu penyebabnya adalah tidak tekendalinya pola tanam, demikian Terkelin Tarigan SE MM kepada Sora Sirulo di Berastagi [22/2].

Dia berkeinginan keluar dari masalah ini setelah melihat perkembangan peternakan di Australia dan Jawa Tengah. Terkelin yang mantan Advisor Presdir RCTI ini mencotohkan kawasan Mbal-mbal Petarum yang, karena kurang produktif, dimanfaatkan oleh masyarakat menjadi daerah pengembalaan (perjalangen). Areal seluas lebih 50 ha ini cocok dijadikan pusat industri kecil yang dilengkapi gedung, alat pertanian semi modern dan sarana/prasarana lainnya untuk menjadikan 5 kabupaten sekitar (Karo, Taput, Tobasa, Dairi dan Simalungun) sebagai kawasan agropolitan sebagaimana ditetapkan oleh Menteri Pertanian Bungaran Saragih beberapa tahun lalu.

Areal yang masih berbatasan dengan hutan ini sangat potensial bagi pertanian dan peternakan (sapi perah, sapi biasa, kambing, babi, dll.). Infrastruktur tentunya menjadi prioritas Pemkab Karo walau sebagian masih perlu penataan lebih baik. Setidaknya, segera dilakukan pengerasan jalan  di lahan terlantar ini. Selanjutnya, investor (lokal dan macanegara) yang membangun bersama masyarakat setempat, papar Terkelin.

Terkelin menegaskan, peternakan sapi memiliki peluang perbaikan ekonomi rakyat. Masalah rmodal dan teknik pemeliharaan memerlukan infrastruktur dan sarana yang dapat diatasi dengan mengembangkan sistim pertanian berkelompok.

Peternakan saling terkait dengan pertanian. Limbah ternak dijadikan pupuk organik yang kini diminati petani lokal apalagi mancanegara. Selain sapi pedaging, sapi perah yang tidak lagi produktif dijual dagingnya seharga Rp 7-9 juta/ekor. Semua bernilai ekonomi, katanya.

Sebenarnya, tidak sulit bagi masyarakat Karo keluar dari masalah fluktuasi harga. Kwalitas harus menjadi perhatian utama sedangkan kwantitas perlu dikendalikan secara rutin. Permintaan pasar selalu terkait dengan kwalitas dan kwantitas.  Sistem pertanian berkelompok (Corporate Farming) perlu dikembangkan di Tanah Karo.

Indonesia diuntungkan oleh adanya predikat bebas PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) dan sapi gila sejak tahun 1990. Ini peluang emas bagi peternakan sapi Indonesia. Lihat saja kebutuhan daging sapi Indonesia yang masih diimpor (150.000 ton atau sekitar 30 persen dari kebutuhan domestik), papar Terkelin.
sumber : http://www.sorasirulo.net

This entry was posted in Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

1 Response to TERKELIN TARIGAN SE MM: PETERNAKAN SAPI DI TANAH KARO MENJANJIKAN

  1. Pingback: ketamine for sale

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *