MUTU KURANG DIPERHATIKAN

MedanBisnis – Medan. Nilai ekspor komoditas rempah-rempah di Sumataera Utara (SUmut) terus mengalami penurunan. Kondisi ini dipicu kurangnya perhatian mutu produk sehingga tidak mampu bersaing di pasar internasional.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut, Darwinsyah mengatakan, mutu produk yang kurang menjadi prioritas utama membuat rempah-rempah tidak mampu bersaing. Meskipun permintaan pasar masih banyak seperti dari India dan Eropa.

“Pasar internasional pasti mengutamakan mutu produk, tapi kita banyak tidak memperhatikan ini. Selain juga enggannya masyarakat mengembangkannya akibat nilai jual rempah yang melemah,” ujarnya dalam sambutannya pada acara Bimbingan Teknis Kebijakan Ekspor Daya Saing Kopi, Rempah-rempah dan Produk Kayu di Medan, Kamis (22/9).

Dikatakannya, banyak permasalahan yang dihadapi komoditas rempah-rempah dalam pengembangannya yakni budidaya yang belum maksimal atau masih berupa tanaman sela, sehingga standar mutu ekspornya tidak dipakai.

“Hal ini pula yang membuat harga jualnya rendah dan tidak menguntungkan buat petani dalam mengembangkannya,” kata Darwin.

Dirincikannya, untuk nilai ekspor kopi, teh dan rempah-rempah pada periode Januari hingga Juli 2011 dibandingkan periode yang sama ditahun lalu mengalami penurunan sebesar US$ 4,151 juta.

“Tidak hanya nilai, tapi volume nya juga turun yakni tahun lalu sebanyak 69.367 ton dan tahun ini hanya sekitar 63.960 ton. Penurunan juga terjadi periode perbulannya untuk Juli 2011 sebanyak 7.217 ton dan Juni 2011 sebesar 7.884 ton,” katanya.

Menurutnya, selain volume ekspornya yang menurun nilai jual rempah juga melemah sehingga memicu penurunan devisa dari ekspor komoditas rempah-rempah. Namun meski volume dan nilai menurun, ekspor masih berlangsung ke berbagai negera seperti Rusia, Brazil, Jepang, Malaysia dan Korea.

“Rempah-rempah yang banyak di ekspor yakni kayu manis, cengkeh, kemiri, kapulaga, kemenyan dan kencur,” ucapnya.

Permasalahan yang banyak dialami pada komoditas rempah-rempah seperti tanaman kopi yakni sebagian besar tanaman kopi di sentra produksi sudah tua sehingga produktivitas turun, gangguan hama yang memerlukan penanganan intensif, kondisi iklim yang tidak stabil sehingga mengangggu jadwal panen serta standar mutu ekspor yang tidak dipakai.

Sama halnya pula dengan masalah yang dihadapi komoditas kayu seperti kurang mendukung sarana jalan baik dari sumber bahan baku menuju lokasi pengolahan sehingga memperlambat penyampaian bahan baku ke pabrik. Serta energi atau listrik yang terkenal dengan biyar/pet berpengaruh terhadap kelancaran proses produksi di pabrik pengolahan, yang akhirnya menimbulkan biaya tinggi dan sulit bersaing dengan negara China, Vietnam dan Malaysia.

Kasie Eskpor Hortiukultura Direktorat Produk Pertanian dan Kehutanan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementrian Perdagangan, Yerry Syauta mengatakan, banyak tanaman rempah-rempah yang semakin tua dan tidak dikembangkan sehingga produksinya turun. Padahal banyak daerah di Indonesia yang berpotensi mengembangkan tanaman rempah-rempah seperti Maluku, Aceh, Irian, Jawa Timur, Sulawesi Utara dan Sumut.

“Proses pengembangan komoditas rempah-rempah memang dinomor dua kan atau tidak menjadi prioritas bagi pemerintah. Meski masih ada pemberian bantuan bibit kepada masyarakat seperti pala, cengkeh dan gambir,” katanya.

Komoditas rempah-rempah ini, lanjutnya merupakan ekspor yang dibebaskan karena dianggap kebutuhan di dalam negeri sudah mencukupi. Hal ini seharusnya dapat membangkitkan gairah petani mengembangkannya seperti untuk komoditas pala yang permintaan dunia meningkat.

Apalagi negara penghasil pala, Granada Amerika Tengah lagi krisis produksi sehingga ini menjadi kesempatan baik bagi Indonesia memanfaatkan meningkatkan ekspornya.

“Harganya juga sudah mahal atau sekitar Rp 160.000 hingga Rp 190.000/kg dari setahun yang lalu hanya dapat dijual Rp 60.000/kg. Tapi kelemahan kita masih mencampur pala yang kualitas rendah dengan yang bermutu sehingga harga jualnya jadi murah,” ungkapnya.

Senada dikatakan Kasie Ekspor Tanaman Semusim Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementrian Perdagangan, Wijayanto. Untuk tanaman kopi, Indonesia masih mempunyai potensi perluasan 500 hektar yang dapat dikembangkan seperti di Papua, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera.

“Untuk Sumut, pengembangan kopi jenis arabika dan Indonesia sendiri sudah menjadi negara ketiga penghasil setelah Brazil dan Kolumbia. Sedangkan untuk jenis Robusta, menjadi negara penghasil kedua setelah Vietnam. Untuk itu pemerintah terus melakukan program hilirisasi dengan bantuan bibit dan revitalisasi agar produksinya terus meningkat,” pungkasnya. (yuni naibaho)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

1 Response to MUTU KURANG DIPERHATIKAN

  1. Pingback: press here

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *