LAFARGE BANGUN PABRIK SEMEN DI LANGKAT

MEDAN (Berita): PT Lafarge Cement Indonesia (LCI) akan membangun pabrik semen di Bahorok, Langkat dengan investasi mencapai Rp3,5 triliun dan diperkirakan dapat beroperasi tahun 2015.

Hal itu diungkapkan  Presiden Direktur PT LCI Marc Jarrault kepada wartawan dalam acara media ghatering di Swiss Bel Hotel Medan Kamis (28/7) siang. Dalam acara itu hadir sejumlah petinggi LCI di antaranya Vice President & Director Supply Chain Managemnt Clara Lee, Direktur Keuangan Wee Beng Khoon, Direktur Haryanto Chandra, Direktur Marketing Budi Dermawan, Direktur Human Resources Ahmad Rulantova, VP CSR and Communications Nuke Prabandari, Pharaoh Hirani dan Media & Public Relations Assistant Manager Henny Kusuma.

Marc Jarrault menjelaskan, Lafarge sudah mengantongi izin sejak tahun 1998. Keinginan membangun pabrik semen di Bahorok, Langkat karena potensi sumber daya alam yakni batu kapur sebagai salah satu bahan bakunya cukup banyak di sana. Namun karena tahun 1998 lagi krisis moneter karena juga akuisisi keuangan dunia, termasuk di Asia maka keinginan itu tertunda.

Tapi tahun 2003 menurut Marc, Lafarge kembali memproses keinginan membangun pabrik semen tersebut di sana. Lagi-lagi naas, tsunami melanda Aceh tahun 2004 sehingga menghancurkan dua pertiga pabrik semen Lafarge di Lkhonga, Aceh dan merenggut sekira 200 nyawa pekerja.

Kendala lainnya pabrik di Bahorok terlalu dengan kawasan ekosistem hutan lindung sehingga kerjasama dengan LSM untuk masalah lingkungan yang intinya bagaimana ekosistem lingkungan itu tetap terjaga dengan baik. Sebagai contoh pabrik semen di Kenya, restorasi lingkungannya sesuai dengan keinginan masyarakat setempat sehingga sekarang bisa dilihat jerapah, zebra dan binatang lainnya yang bersebelahan dengan kawasan pabrik.

“Jadi perlu dibereskan dulu berbagai masalah seperti masalah lingkungannya sehingga butuh waktu lama,” jelas Marc. Namun pembangunan pabrik semen di Bahorok perlu sekali mengingat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Langkat mencapai 60 persen seiring pula dengan konsumsi semen cukup tinggi sehingga membutuhkan pabrik semen baru di Indonesia.

Menurutnya, untuk membangun pabrik semen dibutuhkan dana hingga Rp3,5 triliun. Sekarang lagi proses studi kelayakan dan angka sementara kapasitas produksi semen di Langkat mencapai 1,5 juta ton tiap tahun. Produksi itu nantinya siap melayani pasar Sumatera Utara. “Diharapkan pabrik di Langkat dapat beroperasi empat tahun ke depan atau tahun 2015,” katanya.
Ia menambahkan pabrik semen di Lhoknga, Aceh dibangun  oleh PT Semen Andalas Indonesia (SAI) sejak tahun 1983 dengan nama produksi semen Andalas. Tapi kini berubah menjadi PT LCI. Lafarge sendiri melalui PT SAI masuk ke Indonesia sejak tahun 1998. Ini merupakan langkah pertama Lafarge di Asia.

Sebelum peristiwa tsunami, jelasnya, pabrik di Aceh memiliki kapasitas sebesar 1,4 juta ton per tahun. Lafarge memiliki kapasitas pelabuhan sendiri di Lhoknga dan terminal pengantongan di Lhokseumawe, Belawan, Batam dan Dumai.

Pasca tsunami, Lafarge kembali merekonstruksi pembangunan pabriknya di Aceh tahun 2007 menggunakan teknologi terkini dan memenuhi standar internasional dengan dana mencapai 300 juta dolar AS. Kapasitas produksi juga ditingkatkan menjadi 1,6 juta ton per tahun.

Pembangunannya melibatkan Krakatau Engineering sebagai kontraktor utama ditambah 80 kontraktor lokal yang melibatkan alokasi 50 persen dari anggaran biaya modal lokal.  “Pabrik mulai berproduksi akhir tahun 2010,” katanya.

Marc menyebut Lafarge berdiri sejak tahun 1883 di Perancis dan kini berkembang secara global di dunia dalam bidang industri bahan bangunan. Saat ini Lafarge merupakan pemimpin dunia untuk industri semen, peringkat kedua di agregat, peringkat ketiga untuk beton dan gypsum.

Kini Lafarge beroperasi di 78 negara yang tersebar di Eropa. Amerika Utara, Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika dan Asia serta memperkejakan sebanyak 78.000 karyawan di seluruh dunia. Pada tahun 2009, Lafarge mampu membukukan penjualan sebesar 15,9 miliar Euro dan menghasilkan pendapatan operasi sebesar 2,5 miliar Euro. Tahun 2010, penjualan meningkat jadi 16,2 miliar Euro. Saham Lafarge juga tercatat di Paris Stock Exchange.

Dana CSR
Marc menyebut pihaknya juga menggelontorkan bantuan Rp4 miliar hingga Rp5 miliar tiap tahun untuk dana lingkungan atau corporate social responsibility (CSR). Penyaluran ke berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, keagamaan, lingkungan dan ekonomi dengan membantu usaha mikro kecil menengan (UMKM) di sekitar pabrik.

Dalam bidang lingkungan misalnya, Lafarge mengumpulkan sapi ternak di satu tempat atau di jalan sehingga kotoran ternak itu dapat menjadi bahan bakar bagi masyarakat. Untuk mengurangi emisi karbondioksida (CO2), jelasnya, Lafarge berencana menggunakan 10 persen sekam padi sebagai bahan bakar sehingga dapat mengurangi batubara dan bahan bakar lainnya. (wie)
sumber: http://beritasore.com

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

1 Response to LAFARGE BANGUN PABRIK SEMEN DI LANGKAT

  1. Pingback: buy paypal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *