MEREKA BILANG INI BUKAN AGAMA

INILAH Parmalim, yang hidup atas lima bentuk kesucian, yakni, Malim Parmanganon (mengendalikan diri dalam hal mencari nafkah hidup), Malim Pamerengon (bersikap baik dalam kehidupan bermasyarakat), Malim Parhundulon (sopan santun terhadap sesama),

Malim panghataiom (kehormatan dan tata susila) dan Malim Pardalanon (ketekunan dan kepatuhan). Parmalim meyakini sepenuhnya, Raja Sisingamangaraja titisan roh suci dari Tuhan Yang Maha Esa menjadi raja, pemimpin dan raja iman bagi Bangso Batak. Debata Mulajadi na Bolon adalah Tuhan Yang Esa itu dan Raja Sisingamangaraja adalah Nabi Parmalim.

“Raja Sisingamangaraja tidak dipilih, dia tumbuh sendiri,” kata Pimpinan Pusat Parmalim Huta Tinggi, Raja Marnangkok Naipospos selaku Raja Ihutan Parmalim kepada analisa, Kamis (14/7). Berikut petikan wawancaranya.

Analisa: Ada berapa jumlah umat Parmalim di desa Hutatinggi, Lagu Boti ini?

Raja Marnangkok: Kurang lebih ada 1.500 Kepala Keluarga (KK) di desa ini yang menjadi penganut Parmalim.

Analisa: Bagaimana perkembangannya, apakah ada peningkatan jumlah umat parmalim di desa ini?

Raja Marnangkok: Justru pengurangan yang terjadi, karena terjadi kematian.

Analisa: Tapi kelahiran juga ada kan pak?

Raja Marnangkok: Secara resmi belum ada data pasti jumlah penganut Parmalim di desa ini, Lebih kurang seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, kira-kira lebih dari 1.500 KK penganut Parmalim di desa ini.

Analisa: Apakah Parmalim itu?

Raja Marnangkok: Par itu artinya yang mengerjakan, Malim itu, yang beragama. Parmalim adalah yang beragama malim.

Analisa: Apakah parmalim ini sebuah agama?

Raja Marnangkok: Ya, tapi itulah rancunya negara kita ini. Kami bilang ini sebuah agama, kami meneruskan agama asli orang Batak, tapi mereka bilang ini bukan agama.

Analisa: Padahal kalau mengacu pada konvesi Jenewa, Parmalim sudah memenuhi persyaratan sebagai sebuah agama kan pak?

Raja Marnangkok: Ya secara ilmiah; ilmu theologi, Parmalim memenuhi syarat sebagai sebuah agama. Negara ini kan politis. Islam 90 persen, Kristen, Budha, Hindu dan lain-lain. Sedangkan kami? Coba sebut dimana kami? Tapi kami tidak bisa bilang apa-apa. Kami hanya ingin hidup aman, tenang, damai tanpa gangguan. Negara ini tidak mengakui Parmalim sebagai agama, itu terserah negara. Meskipun kami bermohon terhadap sesuatu yang mustahil untuk diakui, oleh karena itu kami tidak memohon, karena kami tahu diri. Intinya, yang penting kami bisa melaksanakan isi ajaran Parmalim.

Sejatinya tujuan beragama itu, untuk sebuah pencapaian (sorgawi). Jadi supaya kami bisa mencapai itu, kami harus menempatkan pribadi kami sesuai dengan ajaran-ajaran agama kami. Tujuannya agar kami menjadi manusia yang berguna, manusia yang bermanfaat.Itulah harapan kami, sebab hidup itu proses.

Perubahan zaman begitu cepat terjadi, untuk mengantisipasinya kami wanti-wanti kepada umat supaya jangan terperosok pada budaya-budaya yang masuk. Jangan terpengaruh pada hiruk-pikuknya dunia ini. Ikuti saja dunia itu, cari ilmu setingginya. Asalkan jangan cari pangkat, cari jabatan, tapi ilmu. Agar kami bisa menerima kata-kata dari orang dan memberikan kata-kata kepada orang. Itulah pembinaan di Parmalim. Begitupun saya tidak bisa menjamin umat, karena faktanya ada juga satu, dua atau tiga orang yang melenceng (menyerah).

Analisa: Siapa Tuhan dalam agama Parmalim?

Raja Marnangkok: Mulajadi Nabolon. Itulah pencipta alam semesta.

Analisa:Siapa nabinya?

Raja Marnangkok: Bagi kami nabi adalah utusan. Kalau diidentikkan dengan istilah agama sekarang, Nabi kami adalah Sisingamangaraja.Pengertian kami mengenai Sisingamangaraja dengan pengertian bangsa ini tentang Sisingamangaraja jauh berbeda. Bangsa ini menganggap Sisingamangaraja sebagai pahlawan, dengan titel Mayor Jenderal. Pangkat apa itu? Bagi kami dia adalah utusan Tuhan. Karena kehadirannya di dunia ini adalah satu keajaiban.

Analisa: Keajaiban seperti apa yang Bapak maksud?

Raja Marnangkok: Suami-isteri Raja Bona ni Onan Sinambela dengan Ibunda Boru Pasaribu yang sudah memiliki seorang anak perempuan. Kemudian Raja Bona ni Onan Sinambela melanglangbuana merantau, tinggallah isterinya di rumah sendirian. Pekerjaan isterinya adalah seorang penenun. Suatu hari, isteri ditegur oleh malaikat. Sejak kepergian Raja Bona ni Onan Sinambela merantau, keluarga kerap dirundung masalah.

Apalagi anak mereka semakin besar. Raja Bona ni Onan Sinambela tidak meninggalkan uang belanja untuk isterinya. Malaikat ini membisikkan kalimat, “Kau jangan bersedih, berlalulah yang pahit, kecaplah yang manis. Kamu akan diberi Tuhan titisan-Nya.” Pendek cerita lahirlah anaknya, dituduhlah dia berselingkuh. Itulah kisah pendek tentang kelahiran Sisingamangaraja. Kelahirannya diyakini ajaib karena berasal dari rahim perempuan yang kehamilannya bukan hasil dari hubungan antara suami dan isteri. Kalau di Agama Kristen seperti Bunda Maria.

Analisa: Tiba-tiba saya teringat dengan Yesus dalam agama Kristen, dan Isa Almasih dalam agama islam. Mengacu pada sejarah, Yesus pun Isa Almasih lahir secara ajaib. Berdasarkan sejarah juga, Yesus dan Isa Almasih menunjukkan hal-hal yang ajaib. Bisa menyembuhkan orang sakit dan meghidupkan yang telah mati, misalnya. Bagaimana dengan Sisingamangaraja, apa hal-hal ajaib yang pernah dilakukannya?

Raja Marnangkok: Keajaiban yang dilakukan Sisingamangaraja ini sangat banyak. Misalkan, dia pernah memaculkan tongkatnya ke atas tanah dan mata air langsung keluar dari dalam tanah. Ini dilakukannya ketika dia pergi ke suatu tempat yang sedang dilanda musim kemarau. Bukti keajaiban Sisingamangaraja itu pun masih ada sampai saat ini, itulah sungai Aek Sipangolu di Bakkara. Jadi kalau soal keajaiban, begitu banyak keajaiban Sisingamangaraja di Tano Batak ini. Mulai dari Sisingamangaraja I – XI. Keajaiban lainnya, mulai dari Sisingamangaraja I – X tidak ada makamnya.

Analisa: Apa kita menyebut kitab suci Parmalim?

Raja Marnangkok: Kitab suci Parmalim sama dengan kitab suci Muslim dan Kristen, hanya Parmalim memiliki pedoman (pustaha), yang berisi Poda (firman Tuhan), Tona (perintah Tuhan), Patik (aturan Tuhan) dan Uhum (Hukum Tuhan). Termasuk puji-pujian yang berlangsung setiap Sabtu dilafazkan di rumah peribadatan. Jadi kita tidak mendengar hikayat atau sejarah dalam agama kita.

Analisa: Boleh dijelaskan pak?

Raja Marnangkok: Masouru merupakan puji-pujian kepada Tuhan dengan sepuluh ekor sapi. Ini wajib dilakukan demi menghormati Raja sebagai utusan Tuhan. Pesannya, kalau kita sudah menghormati raja, berarti kita takluk kepada Tuhan. Paingoton berarti, setiap setahun sekali, umat menyisihkan hasil panennya untuk disumbangkan kepada warga yang tidak mampu atau kaum papa (miskin). Aturan yang diterapkan, simpanan uang yang berganda tidak diperbolehkan dalam ajaran Parmalim. Penghormatan kepada Tuhan ini pun tidak pandang bulu, baik kaya atau miskin. Apakah dia seorang pejabat atau hanya warga biasa. Beruntung dan sakit pun wajib menyembah Tuhan. Dialah Maha Kuasa, yang khalik langit dan bumi beserta isinya. Karena itu pujian-pujian wajib kita persembahkan kepada Tuhan.

Analisa: Seperti apa bentuk persembahan pujian-pujian yang dimaksud dalam agama parmalim?

Raja Marnangkok: Pada setiap kegiatan ibadah yang kita lakukan, setiap Sabtu, puji-pujian kepada Tuhan juga diberikan pada kegiatan Sipahalima dan Sipahasada.

Analisa: Bagaimana dengan rumah ibadah dalam agama Parmalim, apa namanya?

Raja Marnangkok: Rumah ibadah Parmalim disebut Bale Pasogit. Kalau di cabang-cabang (tiap daerah) disebut Bale Parsantian.

Analisa: Secara luasnya, di Indonesia ada berapa banyak cabang?

Raja Marnangkok: Ada 40 cabang Parmalim di seluruh Indonesia, khususnya di Sumatera.

Analisa: Terkait ritual Sipaha lima yang akan dilangsungkan besok pak, apa sebenarnya Sipahalima itu?

Raja Marnangkok: Sipaha itu bulan. Sipaha lima berarti bulan kelima yang menandai musim panen. Sipaha sada menandai awal tahun baru. Sipaha dua, tidak memiliki kegiatan berarti. Sipaha tolu menandai telah memasuki masa panen. Sipaha opat menandai kegiatan menjemur padi (masuk lumbung), sesudah kering padi itu dimasukkan ke lumbung. Seluruh umat Parmalim memberikan hasil panennya sebagai persembahan.

Minimal satu kaleng per rumah tangga. Padi itu dikumpulkan di dalam lumbung. Kalau tak ada padi, bisa ditukar dengan uang yang nilai rupiahnya senilai satu kaleng padi. takarannya disini adalah padi. Boleh dibilang, padi-lah yang menjadi kursnya. Sipaha lima secara umum adalah ritual untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan. Hasil pencarian kita selama satu tahun, kita sisihkan sebagian untuk persembahan. Sifatnya sukarela dan tak ada patokan.

Menjelang akhir tahun, bulan ke 12 atau disebut sebagai bulan hurung melakukan puasa selama 24 jam sebagai pembersihan dosa. Jenis makanan yang dimakan pun harus yang pahit-pahit (daun papaya, kipang, buah nangka y ang masih sebesar kelingking dewasa nangka). Hal ini dilakukan untuk mengingat penderitaan para pejuang parmalim. Penderitaan itu pun digambarkan melalui makanan yang pahit-pahit tadi. Bagi parmalim Sipahasada bukanlah sebuah perayaan besar, layaknya momen tahun baru di tiap tahun. Justru momen ini merupakan momen saling bermaaf-maafan antar sesama umat. Hampir 80 persen pekerjaan umat Parmalim adalah petani, khususnya di daerah Simalungun, Tapanuli, Labuhan Batu, Deli Serdang, Serdang Begadai.

Analisa: Bagaimana kaum parmalim hidup bermasyarakat. Maksud saya, ketika parmalim tidak diakui sebagai agama. Bukankah itu menjadi sebuah kendala. Mengisi kolom agama pada kartu identitas misalnya,

Raja Marnangkok: Kalau dulu memang sangat terkendala dengan ursan administrasi, namun sekarang karena sudah ada Undang-Undang Nomor 23/2006, penghayat Parmalim sudah bisa mengisi Parmalim pada kolom agama di KTP (Kartu Tanda Penduduk). Atau boleh mengosongkan kolom itu. Jadi tidak perlu lagi merasa terpaksa mengisinya dengan jenis agama yang diakui pemerintah.

Analisa: Boleh kita menyebut Parmalim sebagai agama yang minoritas bila dibandingkan dengan lima agama formal lainnya. Sebagai pimpinan, apakah tidak ada ketakutan kalau penghayat Parmalim akan semakin langka, lantas hilang ditelan waktu?

Raja Marnangkok: Itulah para pemikiran para ilmuwan. Dikatakan, Parmalim merupakan resistansi sejarah. Kalau resistan berarti suatu saat nanti akan punah. Itu tidak berlaku bagi Parmalim. Dulu jumlah penghayat Parmalim sedikit sekali, akibat tekanan kiri dan kanan, tapi sekarang kami bina anak-anak kami. Kami tidak punya mesin. Kami tidak memengaruhi orang lain. Kalau Parmalim seperti sekarang ini sampai yang akan datang, kami tidak pernah terlibat dalam politik praktis. Intinya, jangan sampai terpengaruh dengan ajaran agama-agama lain. Ada pendidikan non formal mengenai agama, termasuk belajar menari tor-tor. Oleh: Adelina Savitri Lubis
sumber: http://analisadaily.com

This entry was posted in Berita, Cerita (Turi - Turin). Bookmark the permalink.

1 Response to MEREKA BILANG INI BUKAN AGAMA

  1. Pingback: darkfox market url

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *