OLIMPIADE KUNO YUNANI 2.400 TAHUN LALU: BERTANDING TELANJANG DAN DISAKSIKAN PEREMPUAN LAJANG

Olimpiade Tokyo dibuka di stadion tanpa penonton, pada Jumat malam (23/07). Presiden Komite Olimpiade Internasional, Thomas Bach, mengatakan memasuki stadion akan menjadi momen kegembiraan dan juga perasaan lega karena inilah Olimpiade paling bermasalah dalam sejarah karena diselenggarakan di tengah pandemi.

Olimpiade dimulai lebih dari 2.400 tahun lalu di Olympia, di Peloponnese, Yunani.

Setiap empat tahun, sekitar 50.000 orang berdatangan dari seputar Laut Tengah,

Tak ada medali emas, perak, ataupun perunggu. Pemenangnya akan mendapatkan mahkota rangkaian daun dan buah zaitun. Mereka disambut seperti pahlawan.

Para atlet bertanding untuk mengangkat kejayaan kota mereka dan para pemenang dianggap telah disentuh oleh para dewa.

Namun seperti apa suasana Olimpiade kuno yang dilaksanakan pada tahun 436 Sebelum Masehi?
Bagaimana caranya menuju Olimpia?

Banyak yang melalui zona perang untuk dapat sampai ke Olimpia. Walaupun saat itu ditetapkan gencatan senjata selama pertandingan Olimpiade, namun tetap saja perang berlanjut di sejumlah tempat.

Artinya, para atlet mungkin saja menghadapi pertempuran saat dalam perjalanan dan perlu sangat berhati-hati.

Yang boleh masuk ke arena pertandingan hanya pria dan perempuan lajang alias belum menikah. Perempuan yang sudah menikah tidak boleh masuk.

Dengan banyaknya jumlah penonton yang juga berbondong-bondong, perjalanan ke kota Yunani itu juga sangat lambat karena macet.

Di mana mereka tinggal?

Puluhan ribu orang menuju Olimpia yang dianggap sebagai tempat suci dan tak berfungsi penuh sebagai sarana olahraga, dengan prasarana yang sangat minim.

Sayangnya, Olimpia hanya memiliki satu hotel, Leonideo. Harga menginap di sana di luar jangkauan para penonton, sehingga dikhususkan bagi para tamu kehormatan dan pengurus.
Lokasi Hotel Leonideo, satu-satunya di lokasi Olimpiade kuno Yunani.

Penyewaan tenda dan paviliun dari kanvas tersedia namun banyak yang berminat dan harganya juga sangat mahal.

Jadi saat itu, sebagian besar penonton membawa tenda mereka sendiri. Tetapi ada juga yang tidur di tempat terbuka.

Bagaimana mencari makanan?

Semua jenis makanan tersedia di luar stadion dan arena pertandingan namun para penjual makanan sengaja menaikkan harga. Jadi para penonton perlu berhati-hati supaya tak terperangkap.

Namun, para penonton ada yang bersabar untuk menunggu sampai hari ketiga pertandingan, karena ada 100 lembu yang dikorbankan sebagai persembahan bagi Dewa Zeus.

Para hari itu, biasanya dilaksanakan saat bulan purnama, menjadi arena panggang lembu.

Sebagian daging disisihkan untuk Dewa Zeus, namun selebihnya dibagikan untuk 50.000 penonton. Jadi tak ada yang akan kelaparan.

Cabang olahraga apa saja yang bisa ditonton? Atlet dalam kondisi telanjang dalam sebagian besar pertandingan

Cabang olahraga Olimpiade kuno

Hari 1

Hari pertama sebagian besar seremonial. Biasanya para atlet diambil sumpahnya untuk mengikuti peraturan, tradisi untuk memastikan bahwa pesta olahraga berbagai cabang olahraga ini berjalan lancar.

Tidak hanya atlet yang diambil sumpahnya, tetapi juga para wasit yang perlu berjanji tidak terlibat suap.

Begitu semua pihak diambil sumpahnya, penyelenggara mengadakan lomba untuk menentukan peniup terompet mana yang dipilih untuk memainkan musik di depan khalayak.

Yang juga dipilih adalah siapa yang akan menyampaikan nama-nama atlet dan mengumumkan awal dan akhir lomba.

Hari 2

Lomba balap kuda selalu populer dan dimulai pada hari berikutnya.

Lomba lain termasuk lomba kereta – ditarik empat kuda – dan ada juga lomba kereta dengan kuda muda.

Seberapa piawainya pengendali kereta, yang menang adalah pemilik kuda.

Pada sore harinya diadakan cabang pancalomba untuk menilai kemampuan fisik atlet.

Selama beberapa jam, lima pertandingan dilangsungkan, lempar cakram, lompat jauh, lembing, lari, dan gulat. Di sebagian besar pertandingan, peserta berlomba dengan kondisi telanjang.

Siapapun yang menang, akan memegang gelar juara selama empat tahun.

Hari 3

Inilah hari istirahat dan bersenang-senang, tanpa adanya pertandingan.

Agendanya adalah menyembelih 100 lembu.

Hari 4

Pada hari ini diselenggarakan lomba lari di stadion.

Lomba lari adalah yang paling popular dan berlangsung sepanjang stadion sepanjang kira-kira 192 meter.

Lomba populer lainnya dalah pertandingan dengan menggunakan perisai, helm, dan pelindung kaki.

Setelah saat makan siang, lomba bela diri berlangsung, termasuk tinju, gulat, pankration, serta gabungan keduanya. Para penonton biasanya banyak sekali untuk lomba ini, jadi banyak yang datang lebih awal.

Lomba pankration cukup brutal.

Lomba ini cukup brutal dengan satu-satunya aturan adalah dilarang menggigit lawan, mencolok mata dan hidung atau menyasar alat kelamin.

Hari 5

Hari terakhir Olimpiade adalah momen untuk memberikan penghargaan kepada para juara.

Para pemenang setiap lomba mendapat benang wol merah, menandakan juara Olimpiade dan mendapat mahkota dari daun pohon zaitun.

Selanjutnya diisi dengan perayaan bagi mereka semua yang terlibat dalam pertandingan.

Para pemenang diundang khusus untuk hadir dalam jamuan yang juga dihadiri oleh para wasit, para politisi dan tamu kehormatan.

Bagaimana cara bertahan di tengah cuaca super panas?

Olimpiade berlangsung di tengah musim panas dan risiko kepanasan sangat tinggi. Itulah sebabnya, orang yang datang perlu banyak minum, walaupun Sungai Cladeo tengah menyusut dan air minum cukup sulit didapat.

Penyelenggara saat itu sempat mempertimbangkan untuk membuat saluran air dan air mancur untuk persediaan air minum di Olympia.

Selain kesulitan air minum, dengan air sungai yang menyusut, mereka yang datang juga sulit untuk mandi selama Olimpiade.

Dengan kondisi ini, dan begitu padatnya orang yang datang, bau tak sedap menyebar di Olympia.

Tempat berteduh juga sulit dicari dan pohon-pohon zaitun banyak dipenuhi orang-orang yang berteduh.

Dengan suhu udara yang begitu panas, dan kurangnya air minum, berdiri menyaksikan pertandingan selama 16 jam sehari juga sangat melelahkan.

Di stadion, hanya sangat sedikit kursi dan sebagian besar diperuntukkan tamu kehormatan dan politisi.

Area berkemah di luar stadion juga penuh dengan orang-orang yang menawarkan jasa lain selain penjual makanan, termasuk para peramal.

Namun sejumlah hal positif yang dapat dinikmati di Olympia adalah pertunjukan makan api, kontes kecantikan, orang yang bermain sulap dan juga tawaran pijat.

Ada juga hiburan lain seperti para penyair, politisi yang berpidato, para filsuf dengan ajaran-ajarannya dan sejarawan yang juga sibuk menyebar pengetahuannya.

Herodotus, penulis “The Stories” dan kemungkinan salah satu sejarawan paling terkenal saat itu, sering memberikan kuliahnya di bangku salah satu kuil terkenal Olympia.

Ada atlet yang curang? Hukumannya cambuk

Walaupun saat itu tidak ada alat teknologi canggih untuk melacak atlet yang melanggar aturan ataupun curang, para wasit sangat ketat dan cukup keras dalam menjatuhkan hukuman.

Hukuman fisik cukup sering dijatuhkan walaupun hanya untuk pelanggaran minor seperti terlalu cepat mengambil start. Bentuk hukumannya adalah hukuman cambuk, padahal atlet harus bertanding dalam kondisi telanjang di berbagai cabang olahraga.

Hukuman seperti ini cukup penting untuk mencegah curang, sesuatu yang cukup sering terjadi.

Ada beberapa contoh kecurangan saat itu misalnya petinju yang menerima suap dan sengaja kalah dalam pertandingan.

Untuk pelanggaran yang lebih serius, ada hukuman denda, dan dana yang dikumpulkan dipakai untuk membangun patung-patung perunggu Dewa Zeus.

Alas untuk patung-patung ini bertuliskan nama-nama atlet yang curang dan mereka dipaksa untuk memberikan sumbangan, sebagai pengingat pelanggaran yang mereka lakukan.

Patung-patung ditempatkan di sepanjang rute ke stadion, dan diharapkan dapat menjadi efek jera bagi mereka yang mencoba untuk curang dalam pertandingan.
sumber: bbc

Posted in Berita | Leave a comment

KASUS COVID-19 BERTAMBAH 49.071, MENINGGAL 1.566 ORANG

TEMPO.CO, Jakarta – Satuan Tugas Penanganan Covid-19 melaporkan sebanyak 49.071 orang terkonfirmasi positif Covid-19 pada Jumat, 23 Juli 2021. Dengan penambahan itu, total orang yang sudah terinfeksi virus tersebut sebanyak 3.082.410.

Jumlah orang yang terkonfirmasi Covid-19 hari ini didapat dari pemeriksaan 274.246 spesimen. Sementara, jumlah orang yang berhasil sembuh dari penyakit ini sebanyak 38.988. Sehingga total pasien sembuh mencapai 2.431.911.

Adapun jumlah pasien meninggal sebanyak 1.566 orang. Sehingga total kematian sejak pandemik ini melanda tanah air mencapai 80.598 orang.
sumber: tempo

Posted in Berita, Informasi Kesehatan | Leave a comment

MALANG NASIB BOCAH VINO, ISOMAN SENDIRI USAI ORANG TUA MENINGGAL KARENA COVID-19

Merdeka.com – Sungguh malang nasib Vino, bocah kelas 3 SD di Kampung Linggang Purworejo, Tering, kabupaten Kutai Barat. Dia menjadi yatim piatu usai kedua orang tuanya meninggal terpapar Covid-19. Vino kini harus menjalani isolasi mandiri di rumah.

Ibu kandung Vino, Lina Safitri (31) dan ayah kandungnya, Kino Raharjo (31), meninggal pada Senin (19/7) dan Selasa (20/7) lalu usai dirawat di RS Harapan Insan Sendawar (RS HIS) Kutai Barat. Lina saat itu sedang mengandung 5 bulan.

Sebelum kejadian itu, Kino sempat sakit sekitar 10 hari di rumahnya. Awal mulanya, Kino yang yang kesehariannya menjual bakso keliling itu sempat kehujanan saat berjualan.

“Adik saya ini memang ada riwayat tipes. Jadi sebelummya berjualan pentol, tipesnya kambuh. Jadi dia kedinginan, makan pun muntah. Sempat diberi obat tapi tidak sembuh,” kata kakak kandung Kino, Margono mengawali ceritanya kepada merdeka.com, Kamis (22/7) malam.

Pada 11 Juli 2021, adiknya dibawa ke RS HIS. Dari pemeriksaan, Kino dinyatakan positif Covid-19. “Setelah itu masih di rumah,” ujar Margono.

“Berikutnya tanggal 12 Juli, giliran istri Kino (Lina Safitri) mengikuti tes PCR di Puskesmas sama anaknya, Vino. Iya, hasilnya positif. Lina ini memang sedang hamil 5 bulan,” tambah Margono.

Saat menjalani isolasi mandiri bertiga, kondisi kesehatan orang tua Vino memburuk. Mereka pun dirujuk ke RS HIS. Sebab, ibu Vino diketahui memiliki penyakit penyerta asma.

“Ibu Lina ini ada (komorbid/penyakit bawaan) asma,” ungkap Margono.

“Duluan Lina dirawat di rumah sakit dijemput medis 14 Juli. Kemudian adik saya, Kino. Dalam perawatan, Lina meninggal 19 Juli, adik saya sehari kemudian 20 Juli. Iya, pas hari raya Iduladha kemarin,” sambungnya.

Dari hasil swab PCR, sang anak pun terkonfirmasi positif Covid-19. Dia harus menjalani isolasi mandiri hingga 26 Juli 2021 mendatang. Sepeninggal orang tua, Vino yang sebatang kara terpaksa diisolasi di rumah sendiri.

“Sampai aman nanti tanggal 26 Juli. Jadi Vino isolasi mandiri sendiri di rumah, depan televisi. Tapi kami, keluarga dan tetangga tidur di teras depan rumah,” ungkap Margono.

Sejauh ini, Vino dalam kondisi sehat. Tetangga ramai-ramai membantu Vino dengan mengirimkan makanan dan vitamin. “Di sini banyak keluarga, keluarga besar. Alhamdulillah banyak bantuan warga sebagai donatur. Dari banyak pihak mulai sembako dan pakaian. Kami tidak bisa sebutin satu per satu,” jelas Margono.

“Tidak ada keluhan badan panas dari Vino. Memang sebelumnya, begitu tahu ibu bapaknya meninggal sempat nangis tapi tidak terus-terusan menangis. Keluarga terus menghibur Vino. Bahkan sering video call dengan mbahnya di Jawa untuk terus menghibur Vino,” tutup Margono. [ray]
sumber: merdeka

Posted in Berita, Informasi Kesehatan | Leave a comment

MAHFUD AJAK PUBLIK SAMPAIKAN ASPIRASI BILA TAK SETUJU CARA PEMERINTAH TANGANI COVID

Merdeka.com – Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD menyatakan bahwa pemerintah sudah dengan segala daya menangani pandemi Covid-19. Pemerintah secara transparan kerap melakukan analisis ilmiah agar pandemi bisa berakhir.

“Terkait perkembangan penanganan Covid-19, pemerintah telah dengan segala daya dan upaya menangani Covid ini secara terbuka, secara transparan melalui analisis-analisis data dan metode-metode ilmiah agar bisa selesai masalah ini,” katanya saat jumpa pers virtual, Jumat (23/7).

Mahfud mengakui, dalam praktiknya secara ilmiah pun banyak pendapat yang berbeda. Ada yang setuju, bertentangan, dan memberi alternatif lain.

“Bahkan ada dilema yang sangat kita rasakan dalam menangani Covid ini pertama dalam penyembuhan dan penangkalan harus diadakan pembatasan kegiatan bagi masyarakat kalau istilah ekstremnya itu lockdown meskipun kita tidak pakai istilah itu, karena bersama itu lalu kita mengobati, memvaksin,” tuturnya.

Tetapi, kata Mahfud, jika pembatasan masyarakat dilakukan terlalu ketat maka masalah ekonomi atau kehidupan masyarakat juga menjadi berat bagi masyarakat itu sendiri. Pemerintah pun telah mengambil keputusan di antara berbagai pendapat yang ada.

“Jadi berbuat ini kurang tepat, berbuat ini kurang tepat sehingga perlu dicari jalan sebaik-baiknya, dan pemerintah tentu harus mengambil keputusan dan telah mengambil keputusan di antara berbagai pendapat yang ada itu,” ucapnya.

Oleh sebab itu, lanjut Mahfud, kebijakan dan langkah-langkah yang diambil pemerintah tidak semuanya bisa diterima oleh masyarakat. Maka, dalam kerangka mencari jalan yang baik bersama, Mahfud mempersilakan masyarakat menyampaikan aspirasi. Yang penting, semuanya punya tujuan sama untuk menyelamatkan rakyat Indonesia.

“Aspirasi resmi tertulis melalui telepon, melalui media, melalui apapun yang penting semuanya ikut prosedur yang telah ditetapkan dalam rangka mencapai satu tujuan yaitu menangani Covid itu adalah menjaga keselamatan masyarakat, menjaga keselamatan rakyat, Salus Populi Suprema Lex Esto, keselamatan rakyat adalah hukum yang tertinggi,” pungkasnya. [ray]
sumber: merdeka

Posted in Berita, Informasi Kesehatan | Leave a comment

DEMO TOLAK PPKM KOK DIIKUTI PELAJAR DAN ADA BOM MOLOTOV?

Xhardy – Kemarin terjadi aksi unjuk rasa tolak PPKM di Bandung yang berakhir ricuh.

Sebanyak 150 orang diamankan polisi. Tiga orang dinyatakan reaktif usai menjalani tes swab antigen. “Dari hasil sementara untuk swab antigen, ternyata sudah ada tiga orang dinyatakan reaktif,” kata Kapolrestabes Bandung Kombes Ulung Sampurna Jaya.

Massa aksi sendiri sebelumnya ricuh saat melakukan aksi demo tolak PPKM di Bandung. Polisi membubarkan dan mengamankan sejumlah orang.

Dan seolah mengulang kembali style demo-demo sebelumnya, pelajar dikerahkan. Sudah paham, kan, kalau pelajar ikut demo, berarti demo ini sudah pasti adalah bagian dari politisasi sebuah isu. Ini bukan gerakan murni unjuk rasa, tapi ada maksud lain yaitu memancing keributan dan gejolak sosial.

Mereka yang diamankan berjumlah 150 orang. Rata-rata dari mereka berstatus sebagai pelajar. 9 orang mahasiswa, 35 pelajar SMA, 6 pelajar SMP dan 34 lainnya warga biasa. Selain membuat ricuh, mereka yang diamankan juga tidak menerapkan protokol kesehatan. Mereka tak memakai masker bahkan berkerumun. Mereka menutup jalan sehingga terjadi kemacetan panjang, melakukan perusakan.

Tak hanya itu, polisi juga menemukan demonstran yang membawa molotov. Molotov itu didapat dari lima orang demonstran. Kelimanya saat ini sudah diamankan untuk dilakukan pemeriksaan mendalam.

Seperti yang tadi saya jelaskan di awal, ini bukan unjuk rasa tolak PPKM, tapi upaya membuat kerusuhan dengan kedok menolak PPKM Darurat. Pengerahan pelajar adalah buktinya. Pelajar tahu apa soal PPKM Darurat dan pandemi? Mereka cukup belajar saja, bukan ikut demo karena masih belum paham masalahnya.

Apalagi kalau sudah membawa bom molotov. Mana ada demo bener itu sampai bawa bom molotov, kecuali memang niatnya bikin rusuh doang. Maka mungkin ada yang membiayai mereka dan mensponsori demo ini. Kejadian ini adalah ulangan dari demo penolakan RUU KPK, RKUHP dan RUU Cipta Kerja. Ada pengerahan pelajar dalam membuat kerusuhan. Dalangnya? Kalau melihat pola ini, maka dalangnya sama. Kelompok yang sedang pusing mencari cara untuk mengganggu pemerintah lewat politisasi isu pandemi.

Pelajar ini, meski masih dianggap bocil, tapi banyak yang tidak punya otak. Disuruh apa pun, mau saja melakukan. Dibayar sedikit, langsung jadi kerbau dicocok hidung. Otaknya mampet, tidak bisa paham akibat dari apa yang diperbuat. Tidak bisa berpikir, kalau sudah tertangkap, maka dia tidak akan dibantu.

Buat polisi, rasanya sudah perlu dibuat sebuah aturan baru atau setidaknya hukuman lain yang lebih keras. Jangan hanya ditangkap, lalu buat pernyataan maaf pakai materai, dijemput orang tua lalu kasus selesai. Kalau prosedurnya begini terus, tak akan ada rasa takut. Besok-besok ya kumat lagi gilanya.

Berikan hukuman, apa pun itu, misalnya hukuman sosial, misalnya jadi relawan Covid-19 biar paham kengerian di lapangan. Atau suruh kerja bersihkan sampah dan kekacauan akibat demo tadi. Biarkan mereka merasakan capek bekerja. Enak aja bikin rusuh lalu pulang begitu saja.

Inti dari semua ini adalah tindakan tegas. Harus tegas. Ketegasan berbanding lurus dengan tingkat jera. Semakin tegas, maka bisa bikin makin jera.

Sebenarnya di beberapa daerah, sudah ada demo terkait penolakan PPKM Darurat. Tapi di Bandung ini yang agak kacau. Semoga saja tidak diikuti oleh daerah lain. Rasa-rasanya, sejak pemerintah umumkan perpanjangan PPKM Darurat hingga 25 Juli, ada yang mulai serius merancang situasi agar masyarakat membangkang dan melakukan perlawanan.

Coba pikir, setelah amati situasi politik di negara ini, kalian pasti setuju kalau kelompok sebelah sangat haus dan lapar akan kekuasaan. Bahkan sangat ngeri melihat nafsu mereka dalam melakukan segala cara. Isu apa pun pasti akan dijadikan senjata politik untuk berseteru dengan pemerintah.

Memangnya mereka tidak akan manfaatkan kegelisahan rakyat terkait PPKM Darurat untuk melancarkan aksi lain? Kesempatan ini terlalu sayang untuk dilewatkan, bukan? Alasannya, sangat mudah memancing emosi masyarakat di kala susah seperti ini. Dikompori sedikit saja sudah cukup kok.

Seperti yang pernah dikatakan Ngabalin, pemerintah kerja double, mengatasi pandemi sekaligus menangkis serangan dari sampah demokrasi atau warga kelas kambing.

Bagaimana menurut Anda?

sumber: seword

Posted in Berita | Leave a comment

VAKSIN: SIAPAKAH PETERNAK SAPI BENJAMIN JESTY, SANG PAHLAWAN VAKSINASI TANPA TANDA JASA?

Lebih dari 250 tahun sebelum pandemi virus corona, virus mematikan lainnya – cacar – telah menyapu habis Eropa.

Wabah penyakit menular ini melahirkan pengembangan vaksin pertama – sebuah tonggak penting di bidang medis yang disematkan kepada dokter asal Gloucetershire, Edward Jenner.

Tapi, tatkala Jenner menjadi kaya dan termasyhur karena penemuannya, teknik ini telah dirintis lebih dari dua dekade sebelumnya oleh seorang peternak sapi perah asal Dorset, Inggris, yang status sosialnya membuatnya tak pernah menerima pengakuan sepantasnya.

Nisan makam Benjamin Jesty di Desa Worth Matravers, Inggris, merupakan bukti atas perannya dalam penemuan vaksin.

Beranjak ke tahun 1985, ketika ahli mikrobiologi Patrick Pead, yang tengah berlibur di Dorset, mengambil buku kecil berjudul Benjamin Jesty: The First Vaccinator di sebuah toko di Desa Worth Matravers.

“Saya pikir, ‘Itu tidak benar, [yang mengembangkan vaksi pertama] itu adalah Edward Jenner’,” ujar Pead.

“Kami pergi ke halaman gereja dan melihat batu nisannya dan hari itu telah mengubah hidup saya.”

Pada tahun-tahun berikutnya, Pead menjadi layaknya seorang detektif, mengumpulkan sedikit demi sedikit informasi tentang sosok Jesty.

Dia berusaha melacak bukti-bukti baru, termasuk satu-satunya lukisan potret diri sang peternak yang diyakini hilang selama lebih dari seabad, namun dapat ditemukan di wilayah lain di dunia.

Kisah Jesty dimulai pada 1774, ketika peternak dari Yetminster ini sengaja menginfeksi keluarganya dengan cacar sapi sebagai upaya melindungi mereka dari virus cacar (smallpox) yang mematikan.

Cacar adalah penyebab utama kematian pada abad ke-18. Kebanyakan orang terinfeksi selama hidup mereka, dan sekitar 30% dari mereka yang terinfeksi meninggal dunia.

Jesty telah tertular cacar sapi di masa belianya dan mengetahui bahwa para pemerah susu agaknya, entah bagaimana, kebal dari penyakit manusia yang lebih mematikan itu.

Menggunakan nanah yang diambil dari goresan luka pada ambing sapi, dia menggunakan kaos kaki rajutan untuk menggores materi yang terinfeksi ke kulit istri dan dua anak lelakinya.

Namun istrinya sakit parah dan, walaupun akhirnya sembuh, Jesty malah menjadi korban fitnah.

“Pengadilan terakhir bagi ilmu sihir digelar kurang dari 40 tahun sebelumnya,” ungkap Pead.

“Jesty dicaci maki, orang-orang menaruh curiga kepadanya.

“Pada masa itu, semua orang pergi ke gereja di hari Minggu dan tubuh manusia itu suci, tetapi di sini ada sosok pria yang mengambil sesuatu dari seekor binatang dan menusukkannya ke tubuh manusia.”

Eksperimen Jesty kemudian terbukti berhasil ketika upaya untuk menginfeksi putranya menunjukkan bahwa mereka kebal terhadap cacar.

Pada 1796, Edward Jenner, yang diyakini sudah mendengar tentang langkah luar biasa Jesty, melakukan prosedur serupa pada seorang bocah lelaki berusia delapan tahun, tetapi temuannya ditolak oleh Royal Society.

Sebuah ilustrasi tahun 1811 memperlihatkan ambing sapi yang terinfeksi dan lengan manusia.

Pada 1798 dia melakukan berbagai eksperimen pada 23 anak dan, setelah mendapat dukungan dari rekan-rekannya dan raja, dia dianugerahi sejumlah besar uang oleh parlemen – pertama £10.000 pada 1802, kemudian £20.000 selanjutnya pada 1807.

Namun kontribusi Jesty tidak luput dari perhatian, di mana para dokter dan pendeta menyerukan agar dia juga diakui.

Pada 1805, upaya lobi mereka telah meyakinkan Institut Vaksin Cacar Institute di London untuk menanyai Jesty perihal eksperimennya dan dia diberi gulungan dan lanset emas.

Seniman terkemuka – Michael William Sharp – juga ditugaskan untuk melukis potretnya tetapi, terlepas dari isyarat itu, para pendukung Jenner yang berjejaring dengan baik memenangkan hari itu, dan Jesty tampaknya hanya akan tetap menjadi catatan kaki dalam sejarah medis.

Pencarian Pead untuk menemukan lukisan potret diri Jesty membawanya ke arsip-arsip perusahaan pembuat bir, Eldridge Pope, di Dorchester – lukisan itu telah diberikan kepada keluarga Pope saat pernikahannya, tetapi semenjak saat itu raib.

Setelah bertanya, dia diberi nomor telepon keturunan keluarga Pope di Afrika Selatan.

Dia berujar: “Saya langsung menelepon mereka – sekitar jam 10 malam. Mereka mengatakan ‘digantung di sini di atas perapian di rumah keluarga.'”

Pemiliknya mengatakan dia ingin menjual lukisan itu dan berharap agar lukisan itu kembali ke Inggris.

Pada tahun-tahun berikutnya, Patrick Pead menjadi layaknya seorang detektif, mengumpulkan sedikit demi sedikit informasi tentang sosok Jesty.

Pada 2006, Yayasan Wellcome Trust sepakat untuk mendapatkan lukisan potret diri itu, tetapi perjalanannya kembali ke Inggris merupakan “mimpi buruk”, ujar spesialis pengembangan penelitian William Schupbach.

“Biaya untuk membawanya ke Inggris cukup besar dibandingkan dengan harga pembeliannya,” katanya.

“Lukisan itu berada di sebuah kompleks peternakan di bangunan rumah yang besar di Eastern Cape. Jadi kami harus memastikan siapa yang bertanggungjawab atas benda seni ini yang harus mengemudikan truknya ratusan mil untuk sampai ke rumah pertanian ini.

“Kami tidak tahu dalam kondisi apa lukisan ini – benda itu telah disimpan di sebuah gudang di Dorset sebelum dibawa ke Afrika Selatan.

“Dan karena Afrika Selatan berada di luar Uni Eropa, ada aneka aturan terkait impor.”

Setelah proyek restorasi yang berjalan dua tahun, lukisan itu akhirnya dipamerkan kepada publik – pertama kali di Museum Dorset di Dorchester, kemudian di galeri Wellcome Collection.

Semenjak itulah, minat pada kisah Jesty telah tumbuh, dan Pead telah menulis buku dan artikel, memberikan ratusan ceramah dan dianugerahi Fellowship of The Historical Association untuk penelitiannya.

Dia berujar: “Saya seorang ilmuwan yang bekerja di bidang kedokteran dan saya tahu semua kemajuan dibangun di atas temuan orang lain.

“Vaksinasi tidak diambil begitu saja oleh Benjamin Jesty atau Edward Jenner, itu dibangun dari apa yang terjadi sebelumnya – itu sebabnya Jesty memang pantas mendapat pengakuan.”
sumber: bbc

Posted in Berita, Informasi Kesehatan | Leave a comment

LONGGARKAN PPKM, SATGAS SEBUT 4 SYARAT INI HARUS TERPENUHI

Merdeka.com – Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menjelaskan pertimbangan yang diambil pemerintah terkait pelonggaran atau relaksasi kegiatan masyarakat di masa pandemi. Wiku mengatakan, ada empat komponen yang mengacu dari World Health Organization (WHO) sebelum mengambil kebijakan pelonggaran.

“Pertama, perhitungan tren kasus dan indikator epidemilogi lainnya di mana angka keterisian TT (tempat tidur), dan penambahan kasus positif harian yang terus alami penurunan serta menetapkan prasyarat pelonggaran yang dipertimbangkan dengan potensi kasus ke depan,” katanya saat jumpa pers virtual, Kamis (22/7).

Kedua, lanjut Wiku, kapasitas manajemen sistem kesehatan meliputi penguatan fasilitas kesehatan milik pemerintah dan swasta. Yakni dengan upaya konversi TT, pembangunan RS darurat dan lapangan maupun kemitraan dengan penyedia jasa telemedis.

“Ketiga, aspirasi dan perilaku masyarakat, yaitu penurunan mobilitas serta kepatuhan masyarakat dalam pembatasan yang cukup ketat selama sebulan terakhir,” ucapnya.

Keempat, kata Wiku, adalah dampak sosial ekonomi. Khususnya bagi masyarakat dengan pendapatan menengah ke bawah dan usaha mikro.

“Perlu diingat bahwa melakukan relaksasi bukan berarti menghapus pembatasan layaknya kembali ke masa awal sebelum pandemi Covid-19 terjadi,” ucap Wiku.

“Akan tetapi, secara bertahap dan hati-hati menuju kehidupan normal yang baru sekaligus bersiap jika memang perlu dilakukan pengetatan kembali,” pungkasnya.

Wiku melanjutkan, nantinya evaluasi pelonggaran juga diamati setelah hari ke 10 hingga ke 14. Dia memohon kepada masyarakat untuk tetap waspada supaya kondisi tetap stabil sehingga relaksasi dapat dilakukan dengan baik.

“Pemerintah berusaha sebaik mungkin dan melakukan monitoring persiapan maupun mensosialisasikan prosedur relaksasi agar semua elemen masyarakat siap menjalankan kebijakan yang akan diterapkan dengan penuh tanggung jawab,” pungkasnya. [bal]

Ingat #PesanIbu

Jangan lupa Selalu Mencuci Tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak Mari Bersama Cegah Penyebaran Virus Corona

sumber: merdeka

Posted in Berita, Informasi Kesehatan | Leave a comment

KOREA UTARA HUKUM WARGANYA YANG IKUT ALA K-POP: DARI PENJARA HINGGA HUKUMAN MATI

Di sini tak ada gaya rambut seperti milik Korea Selatan, kata Kim Jong-un

Media milik pemerintah Korea Utara mendesak kaum muda di negaranya untuk menentang penggunaan bahasa gaul dari Korea Selatan, dan mengatakan kepada mereka untuk berbicara dengan standard bahasa Korea Utara.

Ini merupakan peringatan terbaru dari surat kabar resmi Korea Utara untuk menentang penggunaan fesyen, gaya rambut dan musik ala Korea Selatan.

Ini merupakan bagian dari undang-undang terbaru yang berusaha untuk membasmi segala bentuk pengaruh asing, dengan ancaman hukuman berat.

Mereka yang melanggar aturan ini akan menghadapi hukuman penjara bahkan eksekusi mati.

Surat Kabar Rodong Sinmun memperingatkan kaum milenial tentang bahayanya mengikuti budaya pop Korea Selatan.

“Penetrasi ideologi dan budaya di bawah papan warna-warni borjuasi bahkan lebih bahaya dibandingkan musuh yang mengangkat senjata,” tulis artikel tersebut.

Surat kabar ini juga menekankan dialek Korea Utara adalah yang tertinggi, dan anak muda harus menggunakannya dengan benar.

Pemerintah Korea Utara baru-baru ini juga berupaya untuk menghilangkan penggunaan bahasa gaul yang berasal dari Korea Selatan, seperti panggilan perempuan kepada suaminya “oppa” – yang berarti “kakak tertua” tapi juga sering digunakan untuk panggilan kepada pacar.

Pengaruh budaya asing dilihat sebagai ancaman bagi rezim Komunis Korea Utara, yang berada di bawah cengkeraman kekuasaan pemimpin tertinggi Kim Jong-un.

Dia baru-baru ini melabeli K-pop sebagai “kanker ganas” yang bisa merusak kaula muda di Korea Utara, seperti dikutip dari New York Times.

Siapapun yang tertangkap mengikuti media dari Korea Selatan, Amerika Serikat atau Jepang, saat ini akan menghadapi hukuman mati. Mereka yang tertangkap menonton media-media asing ini akan menghadapi penjara selama 15 tahun.

Namun terlepas dari risiko tersebut, pengaruh asing terus meresap ke Korea Utara, dan jaringan teknologi yang tinggi telah membawa masuk media-media yang dilarang tersebut untuk terus beroperasi di dalam negara.

Beberapa pembelot dari Korea Utara mengatakan, telah menonton drama Korea Selatan. Hal ini menjadi salah satu alasan bagi mereka untuk memutuskan kabur dari Korea Utara.

Yang Moo-jin seorang profesor di University of North Korean Studies mengatakan kepada media Korea Herald bahwa Kim Jong-un, yang memperoleh pendidikan di Swiss “menyadari dengan baik bahwa budaya Barat atau K-pop bisa dengan mudah merasuki generasi muda dan memiliki dampak negatif terhadap sistem sosialis”.

“Dia tahu bahwa aspek budaya dapat membebani sistem. Jadi dengan menentangnya, Kim berusaha untuk mencegah masalah lebih lanjut di masa depan.”
sumber: bbc

Posted in Berita | Leave a comment

PPKM DARURAT: ‘BENDERA PUTIH’ WARGA DAN JANJI RELAKSASI JOKOWI DI TENGAH PENGURANGAN JUMLAH TES

Sejumlah masyarakat mengatakan tak sanggup menghadapi sulitnya perekonomian di tengah perpanjangan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat di Pulau Jawa-Bali.

Di Bandung dan Garut, Jawa Barat, asosiasi pedagang kaki lima, restoran, dan perhotelan mengibarkan bendera putih sebagai tanda mereka menyerah dengan situasi yang ada.

Sementara itu, pemerintah berjanji akan melonggarkan aturan PPKM mulai 26 Juli jika tren kasus menurun.

Namun, epidemiolog mengkritik cara pemerintah melihat penurunan kasus, di tengah jumlah tes covid-19 yang semakin berkurang.

‘Dukung PPKM, tapi izinkan kami mencari rezeki’

Sejumlah gerobak bercat biro berjejer rapi tanpa isi di Jalan Cikapundung Barat, yang terletak dekat alun-alun kota Bandung, Jawa Barat.

Para pedagang kaki lima hanya duduk-duduk sambil mengobrol, seiring dengan aktivitas perdagangan yang nyaris mati. Hingga awal pekan, bendera-bendera putih berkibar di area itu.

Nandang Mulyana, pengurus Paguyuban PKL Cikapundung Barat mengatakan bendera itu dipasang karena para pedagang tak bisa berjualan sejak PPKM darurat. “Kami di sini benar-benar tidak berdagang karena PPKM Darurat. Akses jalan semua ditutup. Pembeli juga tidak ada, terus yang ojek online juga enggak bisa masuk karena aksesnya pada ditutup, jadi susah.

“Jadi kami benar-benar enggak bisa buka usaha lagi. Tolonglah dari pemerintah, beri kelonggaran pada kami untuk bisa mencari rezeki dengan jualan,” ujar Nandang.

Ia sendiri mengatakan sepakat dengan kebijakan pemerintah melakukan pembatasan, tapi ia berharap para pedagang tetap diakomodir untuk berjualan.

Pedagang sop kambing di area itu, Efi Purwadi, juga mengeluhkan pendapatannya yang menurun nyaris 100%.

“Saya kan jualan mulai jam 05:00 sore, jam 06:00 jalanan ditutup. Jadi cuma punya waktu berjualan satu jam. Bagaimana coba?

“Iya kalau enggak hujan, kalau hujan gimana. Menjeritlah…” ujarnya.

Baik Nandang maupun Efi Mengaku hingga dua minggu pelaksanaan PPKM darurat belum mendapatkan bantuan sosial yang dijanjikan pemerintah.

Mereka mengaku hanya pernah mendapat sumbangan sembako dari pihak kepolisian setempat.

Meski demikian, setelah melakukan mediasi dengan perwakilan kecamatan, para pedagang sepakat menurunkan bendera dan spanduk putih itu.

‘Kita nyerah’

Namun, di Garut, Jawa Barat bendera putih bergambarkan emoticon menangis masih berkibar di sejumlah jalan.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Garut, Deden Rohim menjelaskan makna bendera itu.

“Kita nyerah, menyerah…dengan mengibarkan bendera yang lagi nangis itu. Sudah tidak bisa lagi, mau berbuat apa? Itu refleksi hati. Kami mau tidak mau harus begitu gitu,” ujar Deden.

Jika kondisi ini tak membaik, Deden mengatakan PHK karyawan akan menjadi opsi yang dilakukan setelah hampir satu tahun setengah bisnis berjalan “terseok-seok” katanya.

Meski mendukung penuh kebijakan PPKM darurat pemerintah, Deden mengaku pemerintah setempat tak pernah mengajak pihaknya berdiskusi mengenai kebijakan yang akan diambil juga solusi-solusi yang bisa dilakukan.

Selain itu, ia mengatakan, pemerintah juga tak pernah memberi insentif bagi para pengusaha terdampak, seperti keringanan pajak juga listrik.

Sebelumnya, pemerintah berjanji akan segera menggelontorkan bantuan pada para pelaku usaha pariwisata.

Namun, Deden mengaku hingga kini belum mendapatkannya.

Kemungkinan relaksasi tanggal 26 Juli

Di tengah keluhan sejumlah masyarakat itu, Presiden Joko Widodo berjanji akan melakukan relaksasi kebijakan segera, jika angka kasus menurun.

Ia mengeklaim saat ini penurunan kasus Covid-19 sudah terlihat.

“Kita selalu memantau, memahami dinamika di lapangan dan juga mendengar suara-suara masyarakat yang terdampak dari PPKM. Karena itu jika tren kasus terus mengalami penurunan, maka 26 Juli 2021 pemerintah akan melakukan pembukaan secara bertahap,” ujarnya dalam konferensi pers (20/07).

Pedagang sayuran keliling melayani pembeli di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Selasa (13/7/2021). Bank Indonesia merevisi target pertumbuhan ekonomi sepanjang 2021 dari semula 4,1-5,1 persen menjadi 3,8 persen.

Pada hari Selasa (20/07), jumlah penambahan kasus Covid-19 berkisar di angka 38.000, menurun dari puncaknya di angka 57.000 kasus pada pekan sebelumnya.

Sebelumnya, Koordinator PPKM Darurat, Menteri Luhut Pandjaitan mengatakan berharap kebijakan PPKM dapat diterapkan hingga kasus turun di bawah 10.000.

Namun, target ini dikritik epdemiolog Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono yang mengatakan pemerintah harusnya fokus pada positivity rate atau persentase penambahan kasus positif dibagi jumlah orang yang diperiksa, alih-alih penambahan kasus baru.

“Menurut saya pemerintah salah ya… Kalau tesnya diperbanyak kemungkinan kasusnya tidak akan turun di bawah 10.000. Harusnya, targetnya positivity rate yang kurang dari 10%,” ujarnya.

Saat ini, positivity rate Indonesia masih di kisaran 21%, atau sekitar empat kali lebih tinggi dari standar Organisasi Kesehatan Dunia, WHO.

Jumlah tes covid-19 sendiri terus menurun, hingga mencapai hanya sekitar 180.000 di hari Selasa (20/07), padahal di awal PPKM, pemerintah menargetkan peningkatan jumlah tes hingga 410.000 per hari.

Ketika angka kasus Covid-19 menyentuh angka 40.000 hingga 50.000-an, jumlah tes pernah mencapai sekitar 250.000.

‘Jangan buru-buru relaksasi’

Dari sisi ekonomi, Teuku Riefky, ekonom dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, mengatakan pemerintah tak perlu buru-buru melakukan relaksasi jika kasus belum terkendali.

Jika itu dilakukan pemerintah, kemajuan pemulihan kesehatan yang telah dibangun akan jadi sia-sia, dan peningkatan ekonomi berkelanjutan akan sulit dicapai, ujarnya.

“Kita perlu pahami bahwa penanganan kesehatan, pemulihan kesehatan, sejatinya adalah kebijakan ekonomi yang paling ampuh saat ini.

“Kalau pemerintah tidak memprioritaskan apsek kesehatan, pemerintah tidak membantu aspek ekonomi. Kita lihat aspek ekonomi sempat tumbuh sebentar, lalu kemudian turun lagi,” kata Teuku Riefky.

Ia juga mengakui di saat-saat seperti ini, bantuan ekonomi yang bisa diberikan pemerintah terbatas, misalnya hanya pada UMKM dan masyarakat yang paling terdampak secara ekonomi saja.

Indonesia, katanya, tak seperti beberapa negara maju yang bisa memberi bantuan gaji per bulan pada semua masyarakat.

Namun begitu, ia berharap, jika PPKM darurat bisa dilakukan dengan baik, yang disertai dengan pengawasan ketat di lapangan, kondisi kesehatan bisa pulih, hal yang akan berdampak positif pada ekonomi.

“Yang perlu dipahami bersama adalah bahwa selesaikan dulu masalah kesehatan, baru perekonomian bisa pulih,” ujarnya.

Sementara itu, dalam masa perpanjangan PPKM ini, pemerintah mengatakan akan mengalokasikan tambahan anggaran perlindungan sosial Rp55,21 triliun berupa Bantuan Sosial Tunai (BST), Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa, Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan sembako, bantuan kuota internet, dan subsidi listrik.

Pemerintah juga memberikan insentif untuk usaha mikro informal sebesar Rp1,2 juta untuk sekitar 1 juta usaha mikro.”Saya sudah memerintahkan kepada para menteri terkait untuk segera menyalurkan bansos tersebut kepada warga masyarakat yang berhak,” kata Presiden Joko Widodo (20/07).

Bagaimana di negara lain?

Indonesia kini menjadi negara yang menyumbangkan kasus covid-19 tertinggi di kawasan Asia dan Asia Tenggara.

Namun, varian delta yang disebut lebih mudah menyebar membuat sejumlah negara tetangga juga menjalankan kebijakan pembatasan serupa.

Di Malaysia, kebijakan pembatasan telah dilakukan dari awal Juni.

Namun, Perdana Menteri Muhyiddin Yassin mengatakan pembatasan akan terus dilakukan sampai kasus turun di bawah 4.000 dari jumlah saat ini di kisaran 10.000.

Di Singapura, pembatasan akan diperketat lagi mulai Kamis (22 Juli) hingga 18 Agustus untuk membendung lonjakan kasus di kalangan komunitas, sebagaimana dilaporkan The Strait Times.

Jurnalis di Bandung, Yuli Saputra, berkontribusi untuk liputan ini.
sumber: bbc

Posted in Berita, Informasi Kesehatan | Leave a comment

SATGAS: 33 KABUPATEN KOTA DI JATIM BERSTATUS ZONA MERAH COVID-19

Merdeka.com – Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Jawa Timur menyampaikan 33 dari 38 kabupaten/kota di provinsi itu saat ini berstatus zona merah atau berisiko tinggi terhadap penyebaran virus corona.

“Pekan ini ada 33 daerah, setelah pekan lalu 19 daerah. Lalu ada lima daerah zona oranye/jingga atau berisiko sedang,” ujar anggota Satuan Tugas Kuratif COVID-19 Jawa Timur dr. Makhyan Jibril ketika dikonfirmasi di Surabaya, Rabu (21/7).

Ke-33 daerah tersebut, yakni Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Kediri, Kota Batu, Kabupaten Madiun, Kabupaten Malang, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Tuban, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Ngawi, dan Kota Kediri, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Situbondo, dan Kabupaten Bojonegoro.

Selanjutnya, Kabupaten Bangkalan, Kota Madiun, Kabupaten Jember, Kabupaten Magetan, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Probolinggo, Kota Surabaya, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Jombang, Kabupaten Blitar, Kabupaten Gresik, Kabupaten Pacitan, Kota Mojokerto, Kota Pasuruan, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Pasuruan, Kota Malang, Kabupaten Lamongan, dann Kabupaten Bondowoso.

Sedangkan lima daerah zona oranye meliputi Kota Probolinggo, Kabupaten Sumenep, Kota Blitar, Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sampang.

Dengan demikian, di Jatim tak ada satu pun daerah berstatus zona kuning (risiko penularan rendah), apalagi zona hijau (tidak berisiko penularan).

Berdasarkan data Satgas Penanganan COVID-19 Jatim pada Selasa (20/7) per pukul 16.00 WIB, terdapat tambahan sebanyak 5.654 kasus baru terkonfirmasi positif, 2.582 kasus sembuh dan 268 kasus meninggal dunia.

Secara kumulatif, total terkonfirmasi positif COVID-19 hingga saat ini sebanyak 249.245 kasus, dengan rincian 48.569 kasus (19,49 persen) dirawat, 184.213 kasus (73,91 persen) sembuh, dan 16.463 kasus (6,61) persen meninggal dunia.

Dokter Jibril menjelaskan naiknya angka dan bertambahnya daerah zona merah karena kasus yang meningkat selama sepekan terakhir.

“Penentuan zona dari Satgas Pusat juga karena didasarkan 15 indikator epidemiologi mingguan,” ucap dokter muda yang juga juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Jatim tersebut.

Selain itu, kata dia, juga disebabkan faktor peningkatan kapasitas testing (pengujian) maupun pemeriksaan sampel yang naik tiga kali lipat. [ded]
sumber: merdeka

Posted in Berita, Informasi Kesehatan | Leave a comment