DJAMIN GINTINGS MENYELAMATKAN MARTABAT REPUBLIK INDONESIA

Djamin Gintings Selamatkan “Daerah Modal”
Opini- oleh USMAN PELLY

Saya masih ingat sosok perwira-perwira TNI ketika itu. Djamin Gintings orangnya kurus tinggi semampai, selalu pakai peci tentara.

Setelah Kutacane dibombardir dua pesawat pemburu Belanda, esok paginya saya ikut kakek mengungsi ke sebuah desa sekitar 12 km dari kota. Setiap pagi saya dan kakek ke kota dari desa pengungsian itu untuk berjualan di pasar. Kami melewati Macan Kumbang, sebuah perkebunan karet yang dibangun semasa Jepang. Ternyata beberapa minggu sebelum penyerangan pesawat Belanda itu, Macan Kumbang, telah menjadi markas pertahanan Let.Kol. Djamin Gintings, Komandan Resimen IV TNI pindahan dari tanah Karo.

Di kota orang bercerita bahwa markas pertahanan RI itu hijrah dari Tanah Karo ke Tanah Alas, sesuai kesepakatan Renville. Tanah Karo dianggap sudah menjadi wilayah Belanda dan Negera Sumatra Timur (NST). Karena itu kedudukan Kutacane menjadi penting. Kini Tanah Alas menjadi garis pertahanan RI terdepan menghadapi Belanda. Kota kecil itu bertambah ramai, banyak tentera dan pengungsi dari Tanah Karo dan Dairi. Mereka sibuk mendirikan rumah-rumah darurat dan barak-barak pengungsi. Di pinggir sungai (Lawe) Alas dan Lawe Bulan yang mengapit Kutacane, penuh berjejer Barak pengungsi. Sampai-sampai di halaman rumah Raja Alas (Polonas), didirikan rumah-rumah bambu yang beratap rumbia.

Malam hari, jalan satu-satunya yang membelah kota hingar bingar, motor truk tentera hilir mudik, ada yang membawa pengungsi, pasukan tentera dan korban yang luka tembak, sebahagian besar dari pertempuran di sekitar Mardinding (Desa Perbatasan antara Tanah Karo dan Tanah Alas yang menjadi markas pertahanan Belanda).

Kami melihat Djamin Gintings hanya dari kejauhan, waktu apel bendera pagi di markas Macan Kumbang, ketika kami melintasi markas itu. Atau waktu menghadiri perayaan nasional dan rapat umum di Lapangan Bola Kutacane. Saya masih ingat sosok perwira-perwira TNI ketika itu. Djamin Gintings orangnya kurus tinggi semampai, selalu pakai peci tentara, sedang Kol. Muhammad Din (staf Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo dari Kutaraja). Beliau selalu berpakaian tentera Jepang lengkap dengan samurainya. Kami sangat mengagumi mereka dan selalu bergaya seperti komandan-komandan TNI waktu itu.

Demikianlah rona kehidupan Kutacane, kota kecil di front perbatasan pertahanan RI dan Belanda (1947), sibuk dengan hilir mudik tentera dan pengungsi. Kami siap-siap melompat ke lobang pertahanan yang disiapkan dibelakang sekolah, ketika serine dan pesawat pemburu Belanda datang memuntahkan peluru. Keadaan kota kecil yang sesak itu mulai berobah ketika penyerahan kedaulatan (1950).

Seminar Brastagi

Waktu surat permohonan anak tertua Djamin Gintings, Riemenda Jamin Gintings SH,MH (lahir di Kutacane) dan adiknya Dra Riahna Jamin Gintings, M.Sc datang–agar saya memberi makalah dalam seminar Djamin Gintings di Berastagi–untuk mengusulkan beliau sebagai Pahlawan Nasional, saya sambut dengan baik. Di benak saya terbuhul sesuatu yang terus menggema dari pengalaman semasa remaja di Kutacane dan keberhasilan Djamin Gintings memepertahankan garis batas pertahanan Indonesia-Belanda di Tanah Alas dengan melakukan perang gerilya di Tanah Karo.

Sesuatu yang kemudian makin jelas di benak saya, sesudah saya melakukan studi dari berbagai buku dan catatan historis auto biografi kedua bukunya: ”Titi Bambu” dan ”Bukit Kadir,” serta dua buku standar lainnya seperti ”Kadet Brastagi” (1981) dan ”Jendral Soedirman” (Pribadi, 2009), saya mulai berpikir bahwa Djamin Gintings bukan sembarang hero atau pahlawan perang kemerdekaan. Tetapi beliau telah menyelamatkan daerah modal republik, satu-satunya di luar pulau Jawa.

Perintah Mundur

Atas perintah Kol. Hidayat Komandan Divisi X, yang berkedudukan di Kutaradja, Djamin Gintings diperintahkan mundur ke Tanah Alas Kutacane. Perintah ini merupakan kesepakatan RI dan Belanda yang dituangkan dalam perjanjian Renville (1947). Dalam perjanjian itu semua wilayah Tanah Karo dianggap merupakan daerah pendudukan Belanda, sehingga semua pasukan TNI harus disingkirkan dari daerah itu. Djamin Gintings harus mengosongkan seluruh wilayah Tanah Karo, walaupun sebagian besar wilayah itu, secara de facto masih berada dalam kekuasaan republik, yaitu daerah antara Lisang dan Lau Pakam.

Dengan perasaan perih dan pilu Djamin Gintings dan pasukannya melaksanakan keputusn itu. Semua pasukan Resimen IV mundur ke Tanah Alas dan pasukan Belanda dengan leluasa memasuki daerah-daerah yang dikosongkan itu.

Jendral Soedirman selaku Panglima Besar TNI, waktu itu turut merasakan betapa keputusan Renville itu melukai hati para prajuritnya. Sebab itu melalui radio, beliau menyampaikan amanatnya, ”Anak-anakku anggota Angkatan Perang, tiap-tiap perjuangan mempunyai pasang surutnya, tetapi dengan iman kita tetap teguh dan jiwa yang tetap besar, kita masih tetap sanggup untuk mengatasi percobaan ini dan percobaan-percobaan lainnya yang mungkin akan menyusul lagi.”

Amanat Panglima Besar Jendral Soedirman yang ditutup dengan perintah agar TNI tetap bertanggungjawab terhadap jiwa dan harta rakyat–ternyata mampu menghibur kekecewaan para prajurit TNI–termasuk Djamin Gintings dan pasukannya. Dengan penuh semangat keprajuritan pasukan Resimen IV meninggalkan kantong-kantong gerilya dan markas pertahanannya untuk berhijrah ke Kutacane (Tanah Alas).

Dalam sejarah perang kemerdekaan, hijrah pasukan-pasukan TNI tidak hanya di Tanah Karo tetapi juga di Jawa Barat. Pasukan Siliwangi umpamanya harus hijrah meninggalkan Jawa Barat ke Jawa Timur (yang dikenal dengan istilah the long march dalam film Darah dan Doa, 1952). Luas wilayah republik sesudah perjanjian Renville yang dianggap sebagai ”daerah modal” semakin mengecil dan secara ekonomi dan politis semakin terpojok (Hardiyono 2000).

Di Jawa hanya meliputi Daerah Istimewa Yogyakarta, Surakarta, Kediri, Kedu, Madiun, sebagian Keresidenan Semarang, Pekalongan, Tegal, dan bahagian Selatan Banyumas (Pribadi 2009). Sedang di luar Pulau Jawa hanya tinggal Provinsi Aceh. Mungkin waktu itu tidak semua perajurit TNI yang yang hijrah ke Kutacane, menyadari betapa pentingnya Daerah Modal Aceh untuk dipertahankan, terutama apabila dilihat dari strategi geopolitik nasional dan internasional.

Mengobarkan Perang Grilya

Setelah Macan Kumbang di Kutacane dibangun sebagai markas resimen dan persiapan logistik, permukiman keluarga diselesaikan, maka pembangunan teritorial bersama pejabat pemerintahan Tanah Alas segera dilaksanakan oleh Djamin Gintings. Beliau masuk dan keluar kampung sampai kepelosok Tanah Alas, bertemu dengan Penghulu Kampung (Kepala Desa). Di benak beliau berkecamuk pemikiran, kalau Belanda menyerbu dan menduduki Kutacane, mampukah Resimen IV mempertahankan Tanah Alas dengan mengembangkan perang grilya? Pertanyaan itulah yang hendak beliau jawab.

Tetapi, pada tgl. 22 Desember 1948, malam harinya Djamin Gintings mengumpulkan semua perwira stafnya, dan semua Komandan Batalion. Rapat semalam suntuk sampai pagi hari itu membahas : (1) Apakah Tanah Alas mampu dipertahankan sampai tetes darah terakhir dengan cara militer konvensional, sementara persenjataan yang tidak seimbang dan persediaan amunisi yang terbatas pula, atau (2) TNI melakukan segera serangan terhadap kedudukan Belanda di Tanah Karo, berarti melanggar garis statusquo walaupun dengan cara bergrilya dengan perlengkapan seadanya? (Kadet Brastagi, 1981)

Kedua pertanyaan itu tidak dapat segera dijawab. Apabila Belanda menyerang secara frontal Tanah Alas, dengan peralatan yang modern (panser, tank, pasukan berkuda/logistik) serta backing pesawat tempur, maka Kutacane pasti dapat segera diduduki Belanda. Ketika Tanah Alas jatuh ke tangan Belanda, maka Blang Kejeren, Singkel dan Aceh Selatan akan terancam pula. Daerah belakang Aceh ini, merupakan titik-titik lemah pertahanan Provinsi Aceh. Memang pertahanan Aceh bagian Timur dan sepanjang rel kereta api cukup kuat dan solid. Karena itu pula, waktu ada usul mengganti Djamin Gintings sebagai Komandan Resimen IV yang pindah ke Kutacane dengan Kol. Muhammad Dien. Tapi Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo waktu itu, Tgk. M. Daud Beureueh tidak setuju dan tetap mempertahankan Djamin Gintings. Tanah Karo dan Djamin Gintings tidak mungkin dipisahkan, sedangkan Tanah Karo merupakan bumper (penyangga) daerah belakang Provinsi Aceh yang menjadi modal republik.

Keesokan hari, sekitar jam tujuh pagi setelah perundingan di markas Macan Kumbang itu, pesawat tempur Belanda kembali memuntahkan pelurunya kearah pertahanan Djamin Gintings. Anehnya, Let.Kol. Djamin Gintings, seakan mendapat isyarat dari serangan udara itu untuk bertindak cepat. Tanpa meminta persetujuan Komandan Divisi (Kol.Hidayat di Kutaraja), beliau memutuskan untuk segera menyerang Mardinding dan Lau Balang. Keduanya adalah pos terdepan Belanda di Tanah Karo yang berbatasan langsung dengan Aceh (Tanah Alas).

Keputusan merebut kedua benteng Belanda ini, bertepatan pula dengan siaran radio yang menyatakan Belanda telah menyerbu dan menduduki Yogyakarta, Presiden dan Wakil Presiden RI kemudian ditawan. Dalam pidato singkat penyerbuan ke Tanah Karo, Djamin Gintings sebagai Komandan Resimen IV, terus terang menyatakan bahwa ” …memang saya belum mendapat perintah dari Komandan Divisi … tetapi demi keselamatan Negara RI saya akan memikul tanggung jawab penuh untuk segera menyerang daaerah yang diduduki Belanda itu …”

Penyerangan mendadak dan berani yang dilakukan Djamin Gintings ini, memang di luar dugaan Belanda, sehingga Belanda kucar-kacir mempertahankan Mardinding dan Lau Balang. Hanya dengan keunggulan senjata, bantuan pasukan berlapis baja dari Kabanjahe dan logistik militer yang kuat, serta merelakan korban yang tidak sedikit, Belanda dapat bertahan. Begitu juga dipihak Resimen IV, banyak korban dan peristiwa tragis yang mereka lalui seperti pristiwa Bukit Kadir yang menewaskan perwira resimen Abd.Kadir yang gagah berani.

Dampak penyerbuan Mardinding dan Lau Balang (walaupun tidak berhasil direbut), menyebabkan semua pasukan Belanda harus mengkonsentrasikan diri pada benteng yang lebih permanen dan kuat menghadapi pasukan Djamin Gintings. Apalagi sesudah serangan frontal itu, Djamin Gintings mengobarkan perang grilya. Taktik hit and run (serang dan menghindar)–selalu menimbulkan kerusakan yang tidak terduga di pihak Belanda. Demikianlah selama tujuh bulan (Januari s/d Agustus 1949), perang grilya berkecamuk menyebabkan Belanda terkooptasi di Tanah Karo, dan terpaksa melupakan serangan ke Kutacane (Tanah Alas), sampai penyerahan kedaulatan (1950).

Dalam Konperensi Meja Bundar (23 Agustus 1949), Provinsi Aceh secara utuh dapat didaftarkan sebagai ”daerah modal” Republik Indonesia di luar pulau Jawa dalam status RI sebagai salah satu negara bagian dari RIS. Djamin Gintings telah berhasil menyelamatkan daerah modal itu, yang berarti menyelamatkan martabat Republik Indonesia terutama di mata dunia internasional. Djamin Gintings bukan sembarang pahlawan kemerdekaan.
MONDAY, 07 MAY 2012 02:29
sumber:karosiadi

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Cerita (Turi - Turin), Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

DJAMIN GINTING, PUTRA KARO PENERIMA GELAR PAHLAWAN NASIONAL

Merdeka.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan memberikan gelar pahlawan kepada empat tokoh yang berjasa bagi Indonesia. Salah satunya adalah Letjen TNI (Purn) Djamin Ginting.

Letjen TNI (Purn) Djamin Ginting lahir di Desa Suka, Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, 12 Januari 1921 meninggal di Ottawa, Kanada, 23 Oktober 1974 pada umur 53 tahun. Ginting adalah seorang pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Tanah Karo.

Karier militer Ginting dimulai setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah dia bergabung dengan satuan militer yang diorganisir oleh opsir-opsir Jepang. Pemerintah Jepang membangun kesatuan tentara yang terdiri dari anak-anak muda di Tanah Karo guna menambah pasukan Jepang untuk mempertahankan kekuasaan mereka di benua Asia. Djamin Ginting muncul sebagai seorang komandan pada pasukan bentukan Jepang itu.

Rencana Jepang untuk memanfaatkan putra-putra Karo memperkuat pasukan Jepang kandas setelah Jepang menyerah kepada sekutu pada Perang Dunia II. Jepang menelantarkan daerah kekuasaan mereka di Asia dan kembali pulang ke Jepang.

Sebagai seorang komandan, Djamin Ginting bergerak cepat untuk mengkonsolidasi pasukannya. Dia bercita cita untuk membangun satuan tentara di Sumatera Utara.

Dia menyakinkan anggotanya untuk tidak kembali pulang ke desa masing masing. Dia memohon kesediaan mereka untuk membela dan melindungi rakyat Karo dari setiap kekuatan yang hendak menguasai daerah Sumatera Utara.

Situasi politik ketika itu tidak menentu. Pasukan Belanda dan Inggris masih berkeinginan untuk menguasai daerah Sumatera.

Dalam rangka menghadapi gerakan pemberontakan Nainggolan di Medan (Sumatera Utara) maka Panglima TT I, Letkol Inf Djamin Ginting melancarkan Operasi Bukit Barisan. Operasi ini dilancarkan pada tanggal 7 April 1958. Dengan dilancarkannya operasi Bukit Barisan II ini, maka pasukan Nainggolan dan Sinta Pohan terdesak dan mundur ke daerah Tapanuli.

Dipenghujung masa baktinya, Djamin Ginting mewakili Indonesia sebagai seorang Duta Besar untuk Kanada. Di Kanada ini pulalah Djamin Ginting, mengakhiri hayatnya.

Berikut karier Djamin Ginting:

1. Kepala Staf Kodam II/Bukit Barisan

2. Assisten Dua Bagian Perang di TNI

3. Panglima TT I Bukit Barisan

4. Panglima Sumatera Utara

5. Dengan pangkat Mayor Jenderal, menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Front Nasional, di Kabinet Dwikora Revisi Kedua

6. Penggerak dari pembentukan GAKARI yang nantinya akan membentuk GOLKAR
sumber:merdeka.com

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

MENDAGRI UNDANG DPRD ACEH BICARAKAN ATURAN CAMBUK

Liputan6.com, Jakarta – Sabtu 27 November lalu, DPRD Aceh mengesahkan 7 Qanun atau peraturan daerah. Salah satunya adalah pengesahan Qanun Jinayat, aturan yang memberikan hukuman cambuk bagi pelanggar kasus kriminal seperi pelecehan seksual, pemerkosaan, judi, dan lain-lain.

Qanun itu pun menuai pro dan kontra. Karena aturan tersebut tak hanya mengatur bagi umat Islam tapi juga penganut agama lain. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan, pihaknya akan mengundang DPRD Aceh untuk duduk bersama dan membahas Qanun kontroversial itu.

“Mudah-mudahan minggu depan ada rapat kembali mengundang pihak Aceh untuk menyamakan persepsi,” tutur Tjahjo di Kantor Wapres, Jakarta, Jumat (7/11/2014).

Jelang penyamaan persepsi tersebut, Tjahjo pun berkonsultasi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla. “Salah satu agenda rapat hari ini (dengan Pak JK) itu (bahas Qanun Jinayat),” imbuhnya.

Selain itu, Tjahjo menuturkan pihak pemerintah tidak akan mengintervensi pembahasan Qanun di Aceh. “Ada RPP yang belom selesai. Ada beberapa 85 Qanun yang sedang dievaluasi yang belum mengena, kita serahkan pada Aceh lagi,” tandas politisi PDIP itu.

Dalam Qanun Jinayat itu, hukuman cambuk yang bakal dikenakan bagi pelanggar bervariasi mulai dari 10 kali hingga 150 kali. Qanun ini juga berlaku bagi non-muslim yang melanggar syariat Islam. Soal ini diatur dalam Pasal 5 poin b dan c.
sumber : liputan6

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

MENHUT: PENGUNGSI SINABUNG HARUS JAGA HUTAN LINDUNG

Medan (Antara) – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya meminta pengungsi erupsi Gunung Sinabung, Karo, Sumataera Utara, yang akan direlokasi ke Siosar menjaga hutan lindung di sekitar kawasan pemukiman baru itu yang berada di hutan produksi.

“Menhut menegaskan itu saat meninjau lokasi hutan lindung yang sebagian dibuka untuk akses jalan ke kawasan relokasi korban erupsi Gunung Sinabung di Siosar, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Kamis,” kata Gubernur Sumut H Gatot Pujo Nugroho usai peninjauan di Medan, Kamis malam.

Jalan itu berada  di kawasan hutan produksi di Desa Siosar.Jalan pintas yang akan dibuka dengan jarak lebih kurang 6,5 kilometer tersebut membelah hutan produksi dan hutan lindung.

Menteri, kata Gubernur, meninjau langsung kawasan tersebut agar penggunaan lahan hutan lindung dan hutan produksi yang akan dipinjamkan itu tidak menimbulkan penyimpangan.

Menteri menegaskan, karena lahan tersebut termasuk hutan lindung, maka masyarakat harus tahu status lahan dan harus dijaga.

Menurut Siti Nurbaya, pihaknya akan menginstruksikan pihak kehutanan di Sumut melakukan pengawasan ketat.

Hutan lindung yang akan dibuka untuk keperluan pengungsi Sinabung tersebut seluas 11 hektare dan itu nantinya akan menjadi jalur menuju pemukiman baru tersebut.

Pembukaan jalan sepanjang 6,5 kilometer itu akan menelan biaya sebesar Rp11,5 miliar.

Sementara, luas lahan yang akan dijadikan tempat tinggal bagi pengungsi Sinabung sekitar 30 hektare dan daerah perladangan seluas 450 hektare.

Adapun jumlah pengungsi Sinabung yang akan direlokasi sebanyak 1.700 kepala keluarga (KK).

“Lokasi daerah relokasi pengungsi erupsi Gunung Sinabung hanya berjarak lebih kurang 7 kilometer dari Kota Kabanjahe, Ibu kota Kabupaten Karo,” kata Gubernur.

Gatot menegaskan, terkait pembukaan dan pembangunan jalan itu, pihaknya sudah menginstruksikan Pelaksana Tugas Bupati Karo Terkelin Tarigan melaporkan perkembangan proyek itu.

Kadis Kehutanan Sumut Halen Purba menyebutkan jalan yang sudah ada menuju kawasan relokasi sepanjang 12 km dewasa ini bisa ditempuh dengan waktu sekitar satu jam.

“Tetapi, kalau nanti jalan baru sudah siap dibangun dengan panjang 6,5 km jarak tempuhnya hanya 15 menit saja,” ujarny.(Ant)

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

RATUSAN PRAJURIT TNI BANTU RELOKASI PENGUNGSI SINABUNG

Liputan6.com, Karo – Sebanyak 480 prajurit TNI terlibat langsung membantu relokasi para pengungsi korban bencana erupsi Gunung Sinabung. Misalnya melakukan pengerasan jalan, pembukaan jalan baru serta membangun rumah di Siosar, Desa Kacinambun, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut). “Keterlibatan para prajurit TNI tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke wilayah Sinabung pada 29 Oktober 2014 lalu, setelah Presiden RI melihat secara langsung kondisi para korban,” kata Kadispenum Puspen TNI Kolonel Inf Bernardus Robert dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, Kamis (6/11/2014). Ia menjelaskan, skala prioritas yang dibutuhkan oleh para korban yaitu tempat tinggal, tempat ibadah, sekolah dan lahan pertanian untuk aktivitas kehidupan sehari-hari. “Maka Presiden RI memerintahkan kepada TNI untuk melaksanakan karya bakti skala besar guna dapat segera merelokasi para korban bencana erupsi Gunung Sinabung,” imbuh Bernardus. Hal ini menurut Bernadus, sekaligus sebagai bentuk komitmen untuk membantu pemerintah daerah dalam mengatasi kesulitan masyarakat. Ini sesuai dengan amanah UU RI No 34 Tahun 2004 tentang TNI, di mana tugas pokok TNI dilaksanakan melalui Operasi Militer untuk Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Di antaranya pemberdayaan wilayah, membantu pemerintahan daerah dalam penanggulangan bencana alam. “Kepedulian prajurit TNI untuk merealisasi harapan masyarakat di 7 desa dan 1 dusun, sehingga dapat segera memiliki tempat tinggal yang baru, tempat ibadah, sekolah dan lahan pertanian untuk aktivitas kehidupan sehari-hari dalam menata kehidupan dan harapan baru,” papar Bernadus. Ia menambahkan, karya bakti yang dilaksanakan prajurit TNI dan elemen masyarakat tersebut akan berlangsung hingga pertengahan Juli 2015 yang terbagi dalam beberapa tahap dan akan menyelesaikan beberapa kegiatan fisik. Di antaranya lanjut Bernadus, pembangunan kurang lebih 2.053 unit rumah sederhana tipe K-36 dengan menggunakan anggaran dana bantuan dari Presiden RI dan BNPB, pengerasan jalan sepanjang 3,4 km, pembukaan jalan dan pengerasan sepanjang 5,8 km, pembukaan lahan untuk permukiman seluas 9 hektare dan pembangunan sarana dan prasarana pemukiman. “Dalam kegiatan ini TNI mengerahkan sejumlah peralatan antara lain 8 unit dozer, 4 unit ekskavator, 2 unit setum walks dan 10 unit dump truck 2,5 ton,” urai Bernadus. Selain itu menurut Bernadus, para prajurit TNI dari beberapa satuan di jajaran Kodam I/Bukit Barisan antara lain Korem 023/KS, Zidam I/BB, Yonzipur 1/DD, Yonarmed 2/105, Yonif 100/Raider, Yonarhanudse 11/BS, Yonkav 6/Serbu, Yonif 121/MK,Yonif 122/TS, Yonif 125/SMB dan Kodim 0205/TK. “Para prajurit TNI juga melakukan kegiatan nonfisik antara lain sosialisasi kepada masyarakat, doa bersama dengan masyarakat dekat sasaran, pengarahan dan pembekalan kepada calon penghuni dan penyuluhan pertanian (terhadap pengungsi Sinabung),” pungkas Kadispenum Puspen TNI. sumber : liputan6

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

PRAJURIT TAK KENAL BERAT BUKA RELOKASI PENGUNGSI SINABUNG

Kabanjahe, Sumut (ANTARA News) – Prajurit TNI AD tidak mengenal istilah berat dalam melaksanakan tugas membangun jalan baru relokasi pengungsi erupsi Gunung Sinabung di Desa Siosar, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.

Hal tersebut dikatakan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menjawab wartawan usai pembukaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) skala besar di eks Kampus Universitas Karo, Kabanjahe, Rabu.

KSAD Nurmantyo menyebutkan, seberat apapun medan yang dihadapi dalam membuka jalan baru di Desa Siosar untuk membangun rumah pengungsi erupsi gunung Sinabung harus tetap dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab

“Ini merupakan tugas prajurit TNI AD yang harus dilaksanakan untuk membantu para pengungsi Sinabung yang menghadapi bencana alam tersebut,” ujar jenderal bintang empat.

Dia menyebutkan, tugas yang diberikan pemerintah kepada prajurit TNI AD untuk membangun jalan baru, perumahan dan kawasan pertanian bagi pengungsi erupsi gunung Sinabung merupakan tugas yang sangat mulia.

Sebab, jelas mantan Pangkostrad itu, prajurit TNI AD sangat dekat dengan rakyat dan termasuk dengan para pengungsi erupsi Sinabung yang sedang menghadapi bencana alam ini.

“Jadi, prajurit TNI AD harus ikut membantu untuk meringankan beban penderitaan yang dihadapi para pengungsi erupsi gunung Sinabung, dengan cara membangun fasiltas jalan dan perumahan di kawasan relokasi Desa Siosar,” kata orang pertama di Mabesad.

Nurmantyo menambahkan, jumlah prajurit TNI AD yang akan dikerahkan untuk membangun jalan baru di relokasi Desa Siosar sepanjang 3,4 kilometer, lebar 5 meter, sebanyak 893 personel dan ditambah warga pengungsi.

“Sedangkan pembangunan rumah tahap pertama sebanyak 50 unit dari jumlah 360 unit yang direncanakan pemerintah untuk pengungsi erupsi gunung Sinabung, harus selesai dikerjakan selama tiga minggu,” kata Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.(Ant)

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

KSAD: POHON DI KAWASAN RELOKASI JANGAN DITEBANG

Kabanjahe (ANTARA News) – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menegaskan, pohon berukuran besar yang berada di kawasan relokasi pengungsi Gunung Sinabung di Desa Siosar, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, jangan ditebang.

“Mari kita bersama-sama menjaga lingkungan dengan baik, dan tidak ada yang menebang kayu, maupun merusak kawasan agropolitan tersebut,” katanya di Kabanjahe, Sumatera Utara, Rabu.

Hal tersebut dikatakannya usai membuka program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) yang dipusatkan di eks Kampus Universitas Karo (UKA) Kabanjahe untuk kegiatan pembuatan jalan baru relokasi pengungsi erupsi Gunung Sinabung di Desa Siosar.

KSAD menyebutkan, merusak atau mengambil pohon yang hidup di Desa Siosar adalah menghancurkan lingkungan dan juga nantinya akan berdampak merugikan kepada manusia.

Oleh karena itu, menurut dia, masyarakat harus ikut bertanggung jawab menjaga lingkungan dan jangan membiarkan adanya penebangan kayu-kayu yang terdapat di daerah Siosar yang akan dijadikan sebagai tempat tinggal pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung.

“Jalan baru menuju ke Desa Siosar akan dibangun sepanjang 3,4 kilometer, lebar 5 meter dan juga daerah pertanian bagi pengungsi erupsi Gunung Sinabung,” kata mantan Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad) itu.

Gatot menambahkan, pembangunan rumah tahap pertama sebanyak 50 unit dari jumlah 360 unit yang direncanakan pemerintah untuk pengungsi erupsi Gunung Sinabung.

Pengerjaan puluhan unit rumah baru untuk pengungsi erupsi Gunung Sinabung itu, dikemukakannya, harus dapat diselesaikan selama tiga minggu oleh prajurit TNI AD, dari target satu bulan.

“Pembangunan rumah baru tersebut, akan dikerjakan oleh 893 personel TNI AD dari Kodam I/Bukit Barisan dan dibantu warga pengungsi erupsi Gunung Sinabung,” kata jenderal berbintang empat itu.

Kawasan Desa Siosar jaraknya lebih kurang 20 kilometer dari Kota Kabanjahe, ibu kota Kabupaten Karo. Sedangkan, pengungsi erupsi Gunung Sinabung yang akan ditempatkan di relokasi Desa Siosar berasal dari tujuh desa dan satu dusun di Kabupaten Karo.

Dari tujuh desa itu, beberapa di antaranya Desa Simacem, Desa Bekerah dan Desa Sukameriah adalah daerah zona merah yang hanya berjarak 4 Km dari kawah Gunung Sinabung.

Jumlah pengungsi erupsi Gunung Sinabung tercatat sebanyak 3.284 jiwa atau 1.018 kepala keluarga (KK) yang ditempatkan di 12 titik penampungan di Kabupaten Karo dan Kabanjahe.(Ant)

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

RP2 MILIAR DITRANSFER KE REKENING BUPATI TOBASA

TERUNGKAP DALAM SIDANG KORUPSI PLTA ASAHAN III

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sidang lanjutan kasus korupsi pembangunan base camp dan Prasarana PLTA Asahan III dengan terdakwa, Tumpal Hasibuan selaku Camat Meranti dan Marole Siagian selaku Kepala Desa (Kades) Meranti Utara, Kabupaten Toba Samosir, kembali digelar di ruang Utama Pengadilan Tipikor Pengadilan Negeri Medan, Selasa (4/11) siang.

Dalam agenda keterangan saksi tersebut, menghadirkan Robert Afrianto Purba selaku Manager Proyek PLTA Asahan III dan Haposan Siagian selaku Mantan Staf Enginering PT PLN. Dalam keterangannya, Robert mengatakan kalau PT PLN Pikitring mentransfer uang senilai Rp 2 miliar ke rekening Bupati Toba Samosir (Tobasa) Kasmin Simanjuntak, guna pembebasan lahan pembangunan base camp PLTA Asahan III. Padahal, lahan untuk pembangunan base camp seluas 9 hektar itu bukan milik Bupati Tobasa, melainkan milik Marole Siagian dan Edison Purba Siagian.

“Memang sempat kami pertanyakan kenapa uang itu ditrasnfer ke rekening pak Kasmin, kenapa bukan ke rekening pak Marole saja. Tetapi pak Marole bilang kalau untuk mentransfer ke rekening pak Kasmin saja. Makanya uang Rp 2 miliar itu ditransfer ke rekening pak Kasmin,” jelasnya.

Mendengar keterangan saksi, Jaksa Penuntut Umum (JPU) kemudian bertanya kenapa uang Rp 2 miliar tersebut tetap ditransfer, padahal penerimanya bukan pemilik tanah. “Terus kenapa saksi mentransfernya, kan sudah tau kalau itu bukan rekening Marole?” tanya JPU.

Saksi Robert pun menjawab, mereka tidak mempermasalahkan siapa yang menerima uang tersebut, yang penting itu sah dan tidak bermasalah. “Karena Marole sendiri bilang suruh transfer ke rekening pak Kasmin makanya ditransfer. Kita kan pendatang, jadi kita tidak permasalahkan uang itu ditransfer kemana,” ujarnya.

Kemudian majelis hakim yang diketuai oleh Parlindungan Sinaga bertanya kenapa pihak PLN tidak mempermasalahkan transfer tersebut ke rekening yang bukan pemilik tanah yang hendak dibebaskan.

“Saat itu, saudara saksi kan sudah tahu Kasmin itu siapa? Dia Bupati Tobasa. Kenapa saudara transfer uangnya ke dia. Ini saudara sudah menyimpang dari tanggung jawab. Ini nyata-nyata saudara transfer ke rekening Kasmin dan mengaku tidak masalah. Logika dasarnya harus jalan, kenapa tidak ke si Marole saja saudara transfer. Mau duitnya dikemanakan Marole, itu terserah dia nantinya. Saudara tidak segampang itu percaya, ini uang negara, bukan uang nenek moyang,” tegasnya.

Mendengar pernyataan hakim, saksi Robert pun hanya bisa diam dan hanya tertunduk dan tidak memberikan jawaban.

Hakim kemudian menyatakan, Robert sangat berperan dalam perkara ini. Dimana seharusnya transfer Rp 2 miliar ke rekening Bupati Tobasa itu tidak terjadi, jika dia menolak mengirimkannya karena Kasmin tidak berhak menerima Rp2 miliar itu.

“Seharusnya di-cut itu transfernya. Jangan mau transfer karena Kasmin itu bukan pemilik tanah,” tambahnya.

Hakim kemudian bertanya kepada jaksa, apakah Kasmin sudah menjadi tersangka dalam kasus ini. “Jaksa, apakah Kasmin ini sudah menjadi tersangka?” tanya hakim.

Jaksa pun membenarkan kalau Kasmin sudah jadi tersangka. “Sudah yang mulia,” jelas JPU.

Selanjutnya, jaksa bertanya soal tugas saksi Robert dalam proyek ini. Robert pun menyatakan, tugasnya melakukan pengawasan pembangunan lahan base camp dan access road PLTA Asahan III.

Menurutnya, lahan untuk pembangunan base camp seluas 9 hektar dan access road seluas 25,6 hektar. Dimana pembangunan base camp, di dalamnya ada sarana sosial, olahraga, klinik dan kantor. Sementara untuk access road hanya pelebaran jalan dan sampai sekarang belum selesai. “Berapa anggarannya untuk keseluruhan pembangunan itu,” tanya jaksa.

Robert pun menyatakan, pembebasan semua lahan itu menelan anggaran sebesar Rp 17 miliar. Dimana untuk access road sebesar Rp 10 miliar lebih dan base camp sebesar Rp 6 miliar lebih. Untuk lahan base camp, kata saksi, ada dua pemiliknya, yakni Edison Purba Siagian dan Marole Siagian. Sementara untuk access road banyak pemiliknya.

“Kalau pembebasan lahan seluruhnya sekitar Rp 17 miliar, untuk pembangunan base camp Rp 6 miliar, kalau Access Road Rp 10 miliar. Untuk pelepasan lahan yang base camp udah dibayar, kalau yang access road, sebagian warga ada yang sudah dan ada yang belum,” jelas Robert.

Sementara itu saksi lainnya, Haposan Siagian selaku Mantan Staf Enginering PT PLN mengatakan, dia hanya menerima hasil pengukuran lahan dari konsultan yang ditunjuk. Pengukuran lahan itu, katanya, dengan cara dipatok. Dimana untuk base camp ada 4 patok dengan jarak 200 meter.

“Pada base camp ada tanaman sawit dengan jarak sekitar 8 meter. Kemudian ada tanaman pisang dan nangka,” kata saksi Haposan.

Hakim kemudian bertanya kenapa lahan tersebut bermasalah. Saksi pun menjawab karena ada dualisme kepemilikan. Dimana yang pertama sebagai hutan lindung yang diakui Menteri Kehutanan. Dan yang kedua adalah milik masyarakat yang sudah tinggal ratusan tahun di daerah itu.

Usai mendengarkan keterangan saksi-saksi majelis hakim menunda persidangan hingga minggu depan dengan agenda keterangan saksi.

Dan kedua saksi ini dihadirkan jaksa untuk memberikan keterangan terhadap dua terdakwa, yakni Camat Meranti, Tumpal Hasibuan, serta Kepala Desa (Kades) Meranti Utara, Kabupaten Toba Samosir, Marole Siagian.

Masih dalam perkara ini, sebelumnya sudah divonis dua orang masing-masing 2 tahun 4 bulan, yakni Saibon Sirait selaku Ketua Panitia Pengadaan Tanah (P2T) dan Rudolf Manurung selaku Wakil Ketua P2T. (bay/bd)
sumber: sumutpos

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

MORATORIUM CPNS TAK BERLAKU UNTUK GURU DAN TENAGA MEDIS

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB), Yuddy Chrisnandi terus berupaya memperbaiki serta memperketat seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), salah satunya melalui moratorium.

Banyaknya jumlah PNS menyebabkan kinerja kurang maksimal. Terlebih masyarakat banyak yang menilai buruk kinerja PNS. Di tengah kritik tersebut, kementerian melakukan audit dengan melakukan evaluasi beban kerja pegawai.

“Kita mendengar adanya kritik dari masyarakat selama ini dan kita tindaklanjuti. Kritik masyarakat, ada yang bilang PNS kerjanya baca koran, jam pulang kerja belum usai tapi kantor sudah kosong. Kritikan seperti itu kita tindaklanjuti,” ucap Yuddy di Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (4/11) petang.

Kendati begitu, Yuddy menjelaskan bahwa moratorium CPNS tidak berlaku untuk tenaga profesi guru dan tenaga medis dengan beberapa catatan.

“Guru dan tenaga medis adalah jumlah terbesar yang menginginkan masuk PNS, kami oke saja. Tetapi kalau orang hanya sekedar ingin menjadi pegawai negeri, ya kita tanya dulu keahliannya apa dan penerimaannya lebih diperketat,” tandas Politikus Partai Hanura ini. (chi/jpnn)
sumber: sumutpos

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

SEKITAR 7.846 HEKTARE TANAMAN PERTANIAN RUSAK

Tebaran Awan Panas Sinabung

MedanBisnis – Karo. Aktivitas Gunung Sinabung masih terus meluncurkan awan panas guguran. Karenanya, warga tetap diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di kawasan radius 3 Km puncak kawah. Tiga kecamatan (Naman Teran, Merdeka, dan Berastagi) terkena dampak abu vulkanik kiriman, Minggu (2/10).
Dari lubang kawah gunung berapi aktif yang menyandang status Tipe A pasca meletus 2010 lalu itu, keluar awan panas dengan jarak jangkauan 3,5 km ke arah Timur-Timur Laut, pada pukul 10.03 WIB .

Akibatnya, sejumlah desa di tiga kecamatan tersebut mendapat serangan debu abu vulkanik dengan intensitas berat dan sedang. Dalam tiga pekan terakhir, arah angin terus berubah-ubah sehingga hampir seluruh kawasan sekitar perbukitan Sinabung terkena dampak tebaran abu vulkanik, seperti Kecamatan Payung, Simpang Empat, Tiga Nderket, Kuta Buluh, dan Dolat Rakyat.

Akibatnya, laju arus kegiatan ekonomi dan pertanian menjadi terganggu. Data yang diperoleh MedanBisnis dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Pemkab Karo, Jumat (31/10), terkait penilaian dan kerugian pasca erupsi Gunung Sinabung tertanggal 20 Oktober 2014 (dampak erupsi sebulan terakhir,red) mencapai Rp 126.200.175.000.

Dengan taksiran kerusakan areal pertanian seluas 7.846 hektare. “Dari data petugas lapangan kita, tanaman pangan yang rusak berat seluas 149 hektare, sedang 13 hektare dan rusak ringan 2.016 hektare,” jelas Sekretaris Distanbun Pemkab Karo, H Safrudin.

Dikatakannya, sayuran yang mengalami rusak berat sekitar 2.110 hektare, sedang 443 hektare dan rusak ringan 690 hektare. Kemudian, tanaman buah hanya mengalami rusak sedang dengan luasan 918 hektare.

Tanaman hias yang mengalami rusak berat hanya sekitar 2 hektare dan tidak ada terkena kerusakan sedang dan ringan. Sedangkan tanaman perkebunan yang mengalami rusak berat seluas 32 hektare, rusak sedang 1.473 hektare dan rusak ringan untuk sementara tidak ditemukan.

“Taksiran Distanbun Karo, kerugian tanaman pangan mencapai Rp 3.643.305.000, tanaman hortikultura Rp 117.502.470.000, tanaman sayuran Rp 95.584.720.000, tanaman buah Rp19.917.750.000, tanaman hias Rp 2.000.000.000 dan perkebunan mencapai Rp 5.054.400.000.

Angka di atas meliputi pendataan tujuh kecamatan yang terkena imbas langsung tebaran abu vulkanik. Diantaranya Kecamatan Payung, Tiganderket, Simpang IV, Naman Teran, Berastagi, Merdeka dan Dolat Rakyat.

Dengan rincian kerusakan di Kecamatan Payung tanaman pangan seluas 149 hektare, hortikultura 386 hektare (sayuran 311 hektare dan buah 75 hektare), perkebunan 124 hektare.

Kecamatan Tiga Nderket, pangan 1.907 hektare, hortikultura 232 hektare dan perkebunan 841 hektare, Kecamatan Simpang Empat tanaman pangan seluas 87 hektare, hortikultura 670 hektare, Kecamatan Naman Teran tanaman pangan 35 hektare, hortikultura 329 hektare, serta perkebunan 40 hektare.

Kemudian, Kecamatan Berastagi komoditi hortikultura seluas 390 hektare, Kecamatan Merdeka tanaman hortikultura 1.505 hektare dan Kecamatan Dolat Rakyat tanaman hortikultura seluas 651 hektare dan tanaman perkebunan 280 hektare.

“Ini merupakan perhitungan saat pendataan. Angka nominal dapat berubah naik atau turun jika terjadi perubahan gunung atau cuaca. Kemungkinan curah hujan dapat membantu pertumbuhan tanaman yang tertutup abu vulkanik. Dalam hal ini, angka kerugian dapat berkurang. Tetapi sebaliknya apabila tebaran debu meningkat maka jumlah kerugian akan meningkat pula,” ujar Safrudin.
sumber : medanbisnisdaily

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment