BILA AKHIRNYA AHOK KALAH DAN ANIES MENANG

veldy umbas-Sujud syukur ini akan menjadi kemenangan dramatis umat mayoritas Jakarta, bahkan Indonesia. Akhirnya si Kafir kalah dan keluar dari balai kota Jakarta. Pasangan Anies-Sandy menang Pilkada DKI. Lalu abaikan si No. 1 karena bapaknya masih sibuk ngurusin klarifikasi dengan Antasari Azar.

Mas Anies-Sandy akan diarak keliling Jakarta, mungkin menggunakan mobil VW berikut iring-iringin seluruh pendukung seperti FPI dan ormas-ormas lainnya. Lalu, bayangkan. Dalam 1 Tahun, 2 Tahun, 3 Tahun dan 5 Tahun. Gubernur Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandy Uno akan mewarnai kehidupan bermasyarakat di DKI.

Dalam 1 tahun bulan madu kekuasaan, memang saya tidak akan terlalu banyak mengeluh. Setelah itu, tentu saya sudah harus mulai melihat perkembangan apa yang akan mereka hasilkan sebagai pengganti Ahok-Djarot. Di sinilah, bayangan saya agak kabur. Mas Anies adalah orang yang sama yang kala itu pernah menjadi rektor Universitas Paramadhina. Apa kabar dengan universitas tersebut? Adakah namanya terdengar kini atau di masanya membawa prestasi yang berarti? Yang biasa saja.

Lalu, Mas Anies juga penggagas gerakan Indonesia Mengajar. Apa kabar dengan Indonesia mengajar? Mas Anies juga pernah menjadi menteri Pendidikan. Bandingkan prestasi mas Anies dengan Susi Pudjiastuti, Jonan, dan menteri-menteri lain. Mas Anies kurang meyakinkan sebagia menteri Pendidikan. Maka terbayang bagaimana terbengkalainya management pemerintahan terutama tentang tata kelola, transparansi dan standar kinerja.

Apalagi pemerintahan mas Anies-Sandy akan dipenuhi dengan urusan kepentingan ormas-ormas beraliran keras dan intoleran yang selama ini sudah mendukungnya.

Orang-orang itu tentu akan hilir mudik Balai Kota menagih upeti. Dan sejumlah elit-elit lain yang dengan gayanya mempreteli sumber-sumber pendapatan Pemda DKI. Anies tidak bisa bilang tidak terhadap mafia-mafia, makelar, broker-broker kakap di Jakarta. Anies sungkan, karena takut melakukan kekerasan verbal. Sementara Sandy juga akan sibuk ngurusi Oke-Oce di setiap kecamatan. Akan banyak produksi sepatu-sepatu lokal di setiap kecamatan yang harus diurusinya.

Penataan kota yang tadinya sudah bagus, akhirnya hancur karena kompromi-kompromi demi mendulang suara saat Pilkada. Dan Jakarta yang sudah macet, sumpek dan pengap akan semakin crowded, karena Gubernurnya sibuk memotivasi warganya untuk terus berbahagia, walaupun miskin dan tidak punya tempat tinggal. Para aparatnya sibuk pula mengutak-atik data guna menaikkan angka partisipasi pendidikan dan IPM agar tidak dibawa Papua (meski datanya keliru).

Para pedagang musiman memang bahagia sekali karena kini boleh berdagang di badan jalan, sehingga kemacetan semakin parah. Infrastruktur MRT, jalan, jembatan, rusun, rumah sakit, tidak perlu ada, karena dana nya akan dipakai menjadi training-training pengembangan SDM multi skill yang serta kursus-kursus pembahagiaan jiwa di setiap RT-RW. Intinya manusia akan dibangun.

Sebaliknya, tradisi Gubernur bertemu warga pada pagi hari di Balai Kota seperti biasanya ditiadakan. Karena Gubernur Anies lagi rapat bagaimana membuat Sundah Kelapa itu penuh nyiur melambai. Program Rusunawa dan sejumlah rusun pun dihentikan. Pengembangan Rumah Sakit Sumber Waras menjadi Rumah Sakit Kanker modern dan gratis bagi pasien yang kurang beruntung dibatalkan. Pasukan oranye yang biasanya menjadi penjaga keindahan kota pun tak bersemangat. Lalu tawur an antar sekolah pun makin menjadi-jadi. Mafia proyek dan makelar kasus pun gentayangan lagi di Balai Kota. Sejumlah RPTRA pun terlantar tak terurus, bus Trans-Jakarta pun nasibnya sama. Yang penting masyarakatnya hidup bahagia.

Saat istri saya melahirkan anak, kami tidak mendapat perhatian penuh karena semua pelayan medis dan rumah sakit bersalin, mereka tidak peduli dengan pelayanan. Mereka tidak boleh disangsi. Saat saya harus mengurusi admistrasi seperti KTP dan kartu keluarga, pelayanannya tidak maksimal karena Pegawai Negeri dan pejabat bebas masuk dan tidak masuk kantor sesuai dengan derajat kebahagian masing-masing.

Kata Pak Gubernur, yang penting warganya bahagia tanpa harus dibangun fasilitas publiknya. Dan Gubernurnya pun membebaskan jam masuk kantor pegawai-pegawainya sesuai dengan seleranya. “Yang penting PNS-nya bahagia,”kata Gubernur Anies. Aparat Sipil Negara DKI pun Nampak lamban dan kinerjanya lemah karena recruitmennya bukan berdasaran kemampuan melainkan berdasarkan koneksi dan perkoncoan (mangan ora mangan ngumpul, seng penting bahagia). Apalagi lelang jabatan, ditiadakan.

Sementara Wagubnya asik-masyuk ngurusi bisnisnya yang makin merajalela. Dan program OKE-OCE yang dijalankan ternyata tidak semuda merdunya janji karena ternyata pinjaman-pinjaman itu akan menjadi utang yang dibebankan melalui APBD yang sudah diatur oleh peraturan yang berlaku.

Terakhir, saya menunggu rumah tanpa DP (Down Payment bukan Dewi Persik lho ya…) yang dijanjikan. Tak satupun lembaga pembiayaan mau memberikan pinjaman, dan melalui BUMD coba menangani rumah tanpa DP, tapi terkendala dana karena kurang lebih 2 Juta warga Jakarta juga mengajukan kepemilikan rumah tanpa DP tersebut. Akhirnya semua tidak berjalan sebagaimana mestinya. Marbot-marbot pada ngamuk, pasukan oranye dan pasukan hijau tidak dikontrak lagi karena ekonomi pun semakin melambat. Jakartapun semakin semrawut, jorok, padat sumpek.

Terkadang, Gubernur Anies sulit ditemui karena sedang ada pertemuan tertutup dengan forum ulama-ulama, dan para elit-elit partai yang ingin berkonsultasi. Tidak seperti Gubernur pendahulu yang kerjanya super hebat yang hanya tidur 2 jam sehari sangat cekatan dan hafal dengan setiap rupiah APBD sehingga tidak terjadi kebocoran yang tidak perlu.

Dalam kondisi sedemikian, maka Jakarta melambat, perekonomian stagnan, sementara orang yang merasa berjasa berjuang untuk Anies-Sandy setiap harinya menunggu gilirian dibahagikan oleh sang Gubernur sebagai politik balas jasa.

Akhirnya saya tersadar. Kita tidak sedang mencari pemimpin agama. Kita tidak sedang mencari guru, dosen atau profesor. Kita tidak sedang mencari sosok pemimpin yang pinter merangkai kata. Yang kita cari ternyata adalah orang yang tegas, berani berjuang untuk kepentingan rakyat, berani melawan mafia. Tidak mudah dipermainkan parpol, serta konsisten berjuang mewujudkan keadilan sosial. Memberi diri untuk Jakarta, bahkan nyawanya untuk mengusakan keadilan social. Berani bertepuk meja dengan para politisi busuk di parlemen. Berani membuka lembar-lembar APBD ke publik.

Untunglah, hal ini tidak terjadi di alam nyata. Dan ketika otak, perut dan dompet terisi, maka saya pun dengan lega, bahagia bisa bersujud syukur dan berkata, Alhamdulillah. Nikmat yang Kau berikan terhadap kami yang mengalami kebahagiaan yang sempurna, karena kami diberi pemimpin yang punya hati, niat, dan kemauan keras untuk menyejahterakan kami; lahir dan batin. Meskipun dia buka seiman dengan saya.
sumber: kompasiana

Posted in Berita | Leave a comment

DEMOKRAT MENGAKU DIAJAK BERKOALISI DENGAN ANIES-SANDIAGA

Jakarta (ANTARA News) – Ketua tim pemenangan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Nachrowi Ramli, menyatakan partai pengusung Anies Bawedan-Sandiaga Uno menawari partainya berkoalisi untuk putaran kedua Pilkada DKI Jakarta.

“Iya (sudah ada tawaran dari Gerindra). Kita pelajari dulu,” kata Nachrowi di Jakarta, semalam.

Nachrowi mengatakan Partai Demokrat terlebih dulu akan mempelajari visi-misi kedua pasangan calon, yang diyakini akan melanjutkan ke putaran kedua, sebelum memutuskan berkoalisi. Menurut dia, untuk berkoalisi, visi-misi pasangan calon itu harus sejalan dengan Demokrat.

“Kalau kita berkoalisi dengan salah satu pasangan calon, dari dua yang ada, maka yang penting visi misinya itu harus sejalan,” jelas dia.

Nachrowi mengatakan Demokrat akan mengajak tiga partai pengusung Agus-Sylvi lainnya –PPP, PKB dan PAN– untuk membedah visi misi pasangan calon baik nomor urut dua maupun nomor urut tiga.

Hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei menunjukkan pasangan nomor urut dua Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan pasangan nonor urut tiga Anies Baswedan-Sandiaga Uno memperoleh suara yang membuat keduanya maju ke putaran kedua.

Sedangkan perolehan suara Agus-Sylvi tertinggal dari kedua pasangan sehingga pasangan ini mengakui kekalahannya.(Ant)

Posted in Berita | Leave a comment

DI BALIK KALAHNYA AGUS, DEMOKRAT KUALAT MAIN PECAT

Demokrat Kualat karena Main Pecat

Ribet bicara soal Demokrat. Akhir-akhir ini, Pak Beye yang mengambil kendali sepenuhnya atas Demokrat. Ketiadaan jubir yang mumpuni seperti Si Poltak membuat semua berantakan. Tidak heran karena komunikasi apalagi di dalam dunia politik sangat mendapatkan porsi yang besar, serius, dan tentunya tidak main-main. Perbedaan pendapat dan dukungan Ruhut dengan garis partai membuat pemecatan Ruhut tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Kedodoran karena ketegangan. Pak Beye terlalu tinggi dan jauh untuk menjawab seluruh isu dan keadaan yang terjadi. Apa hasilnya malah jadi bulan-bulanan di media apalagi media sosial. Sayang orang setinggi dan sebesar Pak Beye malah jadi tontonan dalam bahasa Anas. Pak Beye seharusnya mendelegasikan kepada jubir biasanya Si Raja Minyak bisa membuat hal yang serius menjadi cair karena candaan dan model pendekatannya yang kocak ini sangat membantu. Lihat apa yang dihasilkan Pak Beye, ketika dagelan ditanggapi dengan sangat serius. Banyak hal yang seharusnya dibiarkan saja malah menguntungkan, namun eh malah dijawab dengan sangat keras dan berlebihan.

Kader yang mau membantu kurang kompeten dan tidak percaya diri. Takut salah kelihatan dari model Ibas, Agus, Syarif Hasan, dan juga Roy Suryo. Beberapa kali tanggapan mereka atas isu terhangat justru tidak membantu sepertinya malah membuat makin payah keadaan. Fraksi Demokrat di Kura-Kura Hijau juga tidak banyak peran membantu keluar dari tekanan yang cukup merepotkan tersebut. Ide soal hak angket penyadapan juga nyaris tidak terdengar lagi. Gegap gempita seperti hangat-hangat tahi ayam dipakai oleh kader karena sepertinya Pak Beye yang memang susah untuk percaya pada kadernya untuk menjadi corong yang mumpuni. Roy setiap pernyataannya meskipun dikemas dengan tawa khasnya tetap saja sumbang alias tidak meyakinkan akan apa yang ia ucapkan.

Timses AHY juga tidak banyak tampil di media. Jauh lebih dominan Pak Beye yang secara struktural tidak ada di dalam tim pemenangan AHY tentunya. Kelas Pak Beye pun tentu berbeda dengan Prasetyo Edi, Andrian, atau Bambang Widjoyanto. Posisi yang pak Beye buat sendiri karena sikap tidak percaya orang lain membuat semuanya berantakan.
Kesalahan pertama jelas membuang aset potensial terkenal oportunisnya. Dalam hal komunikasi tentu sikap oportunis ini sangat diperlukan dan penting. Malah Ruhut dibuang. Menggerus sendiri dengan dalam bangunan benteng yang mau dibangun kala satu pilarnya malah dijebol sendiri tentunya.

Kedua, sikap tidak percaya orang lain. Hal ini jelas sangat terlihat dengan ketum Demokrat yang rata-rata kerabat bahkan beliau sendiri. Ketika ada orang luar, Anas masuk, kelihatan Pak Beye gelisah dan akhirnya lahir drama Anas masuk bui. Usai Anas hilang, kendali langsung di tangan Pak Beye, presiden sekaligus ketua umum, ketua dewan pembina, dan entah apalagi. Setelah Ruhut dipecatpun komunikasi di tangan beliau.

Ketiga, serangan bertubi-tubi menyasar Pak Jokowi secara spesifik justru memperlihatkan kualitas Pak Beye. Rivalitas itu antara Agus-Ahok, mengapa selalu mengaitkan dengan istana? Masih pengin istana?

Keempat, rivalitas yang dibangun Pak Beye ke Ahok berbeda dengan Anies, hal ini jelas mempertontonkan Pak Beye yang selama ini cermat menjadi kedodoran karena ambisius bukan demi bangsa dan negara.

Kelima, keseriusan dan kecermatan Pak Beye selama ini sepertinya ternyata hanya untuk mengamankan kekuasaan bukan dalam arti hati-hati dan cermat bagi bangsa besar ini. Gegabah ketika mendukung Agus secara tiba-tiba, menyerang Ahok dan Jokowi dengan lebaran kuda, dan seri lanjutannya yang makin menggerus pilar-pilar yang sudah terpatok dengan cukup baik sebenarnya.

Keenam, Pak Beye lupa model politikus di sini, demokrasi akal-akalan yang dibangunnya kembali memberikan pepesan kosong. Modal awal partai cukup, namun mesin partai ternyata tidak bergerak, khas Pak Beye. Parpol selama ini hanya datang sebagai simbol bukan suara, tampak jelas dalam pilkada kemarin.

Jika mau mengusung sang putera mahkota di tempat lain, alangkah bijaknya menunggu jeda dulu. Jangan baru KO di pertandingan satu langsung ditandingkan dengan lawan yang sama berat lagi, benar bahwa kekalahan adalah keberhasilan yang tertunda, kalau bahasa tinju mabuk pukulan bisa berabe jadinya. Trauma bisa usai masa depan Agus.

Tidak usah nggege mongso,semua ada waktunya. Pelan-pelan ikuti alr proses. Tidak ada yang instan kecuali mie dan kawan-kawannya. Bangun citra dan opini baik dulu. Medsos bisa dipakai, tapi pola usah Pak Beye perlu ditinggalkan. Tanggapi isu-isu daerah dan nasional dengan bijak, solutif, dan konstruktif. Tidak asal berbeda dengan pemerintah.

Jalin komunikasi dengan siapa saja. Terutama dengan PDI-P. Luka lama dan perseteruan Pak Beye dan Bu Mega tidak perlu diteruskan. Buka lembaran baru. Jika memaksakan diri di Jatim apa sanggup melawan juara bertahan yang masih baik-baik saja, atau calon lain yang lama menggarap Jatim. Demikian juga tempat lain.

Matangkan dulu berpolitik di partai atau cara lain untuk bisa menelaah persoalan bukan semata hapalan. Aplikasikan ilmu yang ditimba hingga Amerika yang kemarin belum terlihat. Catatan pilkada perdana yang carut marut bisa diperbaiki. Tidak usah banyak mengeluh, sikap menerima kekalahan sudah bagus dan baik.

Modal awal penerimaan kekalahan yang berbeda dengan si bapak, cukup untuk dibangun sebagai sarana menuju menjadi negarawan yang mumpuni. Bangun dulu dari Demokrat. Buat Demokrat sebagai partai modern bukan partai masa lalu dan keluarga saja.

Jayalah Indonesia

Salam,
Susy Haryawan

sumber: kompasiana

Posted in Berita | Leave a comment

INI HASIL AKHIR “QUICK COUNT” PILKADA DKI DARI 5 LEMBAGA SURVEI

JAKARTA, KOMPAS.com — Lima lembaga survei berbeda yang melaksanakan quick count atau hitung cepat Pilkada DKI Jakarta 2017 telah menyelesaikan proses penghitungan pada Rabu (15/2/2017) petang.

Kelima hasil hitung cepat yang dirangkum Kompas.com berasal dari lembaga survei Litbang Kompas, Cyrus Network, PolMark Indonesia, Lingkaran Survei Indonesia (LSI), dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Berikut hasil hitung cepat untuk ketiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta:

Litbang Kompas
Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni: 17,37 persen
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat: 42,87 persen
Anies Baswedan-Sandiaga Uno: 39,76 persen

Cyrus Network
Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni: 17 persen
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat: 43,9 persen
Anies Baswedan-Sandiaga Uno: 39,2 persen

PolMark Indonesia
Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni: 19,1 persen
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat: 41,2 persen
Anies Baswedan-Sandiaga Uno: 39,7 persen

LSI
Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni: 16,9 persen
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat: 43,2 persen
Anies Baswedan-Sandiaga Uno: 39,9 persen

SMRC
Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni: 16,7 persen
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat: 43,1 persen
Anies Baswedan-Sandiaga Uno: 40,2 persen

Hasil hitung cepat bukanlah hasil real penghitungan perolehan suara Pilkada DKI Jakarta. Proses rekapitulasi suara Pilkada DKI Jakarta akan dilaksanakan oleh KPUD DKI Jakarta dari tanggal 16 sampai 27 Februari 2017, sesuai dengan jadwal yang ditetapkan pihak KPUD.

Metode dan sebaran sampel masing-masing lembaga survei berbeda. Begitu pula dengan teknik pengolahan data hingga memunculkan hasil akhir seperti yang tertera di atas.
Kompas TV Ketua Tim Sukses Anies-Sandi, Mardani Ali percaya diri dengan hasil hitung cepat timnya atas paslon DKI Jakarta nomor urut 3.
sumber: kompas

Posted in Berita | Leave a comment

RUHUT: KASIHAN PAK SBY…

JAKARTA, KOMPAS.com — Juru Bicara Tim Pemenangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Syaiful Hidayat, Ruhut Sitompul, mengaku sudah memprediksi kekalahan pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni pada Pilkada DKI Jakarta.

Ia menyatakan, langkah Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mencalonkan anak sulungnya pada Pilkada DKI merupakan ulah para pembisik di dekat SBY.

“Kasihan Pak SBY. Pak SBY ini terpengaruh sama pembisik-pembisiknya saja. Enggak enak kan jadinya, ini seperti Pak SBY lawan Ruhut, Ruhut yang menang. Aku enggak kaget Agus kalah. Sudah pasti kalah kok,” kata Ruhut, saat dihubungi, Rabu (15/2/2017).

Ruhut menuturkan, dulu dia merupakan orang pertama yang melarang SBY mencalonkan Agus pada Pilkada DKI. Menurut Ruhut, Agus memiliki masa depan yang cemerlang di militer.

“Aku kan yang paling enggak setuju anaknya mundur. Tanya orang, tanya Presiden (Jokowi). Aku pernah nitip anaknya (SBY) kok biar jadi jenderal, tapi ya sudahlah. Yang penting aku happy. Ahok-ku menang sama Djarot,” lanjut Ruhut.

Hasil quick count Pilkada DKI Jakarta versi Litbang Kompas, pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni memperoleh 17,37 persen, Ahok-Djarot 42,87 persen, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno 39,76 persen.
sumber: kompas

Posted in Berita | Leave a comment

“TEMAN AHOK” INGIN ISTIRAHAT…

JAKARTA, KOMPAS.com — Pasangan calon Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat merajai hasil hitung cepat di beberapa lembaga survei. Pasangan nomor pemilihan dua itu pun diprediksi akan masuk ke putaran kedua.

Roda tim pemenangan belum bisa berhenti dan masih akan melanjutkan strategi pemenangan Basuki-Djarot. Bagaimana dengan “Teman Ahok”?

“Kami kan sudah dua tahun ngurusin Bapak (Ahok), mungkin merasa mulai agak capek ya,” ujar pendiri Teman Ahok, Singgih Widyastomo, kepada Kompas.com, Kamis (16/2/2017).

Singgih mengatakan, mereka belum bisa memutuskan apakah akan ikut membantu perjuangan Basuki-Djarot hingga pilkada berakhir. Hal itu akan mereka bicarakan lebih lanjut. Namun, hal yang pasti adalah mereka membutuhkan istirahat sejenak.

“Kami belum pikirkan itu, yang pasti kami mau istirahat dulu, yang pasti butuh liburan ya teman-teman semuanya,” ujar Singgih.

Jika terlibat, kata Singgih, mungkin “Teman Ahok” akan menjadi tim pendukung saja. Singgih mengatakan, garda terdepan tetap ada pada partai politik pengusung Basuki-Djarot.

Meski demikian, Singgih mengatakan, mereka tetap mendukung Basuki. Sejak awal, cita-cita mereka adalah melihat pria yang akrab disapa Ahok itu kembali menjadi gubernur.

“Teman-teman tetap berharap Bapak Ahok akan menang karena cita-cita kami sejak dulu ya melihat Bapak menang Pilkada DKI,” ujar Singgih.
sumber: kompas

Posted in Berita | Leave a comment

SUARA PENDUKUNG AGUS-SYLVI TAK MUNGKIN KE AHOK-DJAROT?

Setelah pasangan calon nomor urut satu, Agus Yudhoyono-Sylviana Murni, menyatakan kekalahan mereka, banyak kalangan awam memprediksi suara pasangan tersebut akan otomatis mengalir ke pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada Pilkada DKI Jakarta putaran kedua.

Apabila digabung, suara kedua pasangan calon tersebut dalam berbagai hasil hitung cepat pada putaran pertama mencapai sekitar 56%.

Prediksi penggabungan suara ini terutama didasari sentimen agama selama beberapa bulan terakhir. Dalam berbagai aksi organisasi massa keagamaan, seruan memilih pemimpin Muslim terus disuarakan.

Akan tetapi, Direktur Eksekutif lembaga survei Indikator, Burhanudin Muhtadi, mengatakan kenyataannya tidak akan sesederhana itu.

“Sepertinya, seolah-olah, Anies akan mendapat limpahan suara dari sekitar 17% pemilih Agus-Sylvi. Tapi ingat, dua bulan ke depan itu masih lama. Tiap hari bagi calon dan kubu adalah hari yang menentukan dan perubahan itu pasti terjadi,” kata Burhanudin.

Anies-Sandi, lanjutnya, tidak bisa terlena dan menganggap suara Agus-Sylvi akan dengan sendirinya menyeberang ke Anies-Sandi. Apalagi, menurut Burhanudin, pasangan calon petahana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat masih punya peluang untuk unggul.

“Kalau kemudian dua bulan ke depan Ahok mampu mengatasi imbas elektoral akibat ucapannya soal Surat Al Maidah 51, bukan tidak mungkin Ahok muncul sebagai pemenang. Saya tidak mau buru-buru menahbiskan seolah-olah putaran kedua seiring dengan perolehan suara Ahok yang cuma 43%. Anything can happen (semuanya masih bisa terjadi),” ujarnya.

Hasil hitung cepat

Dalam berbagai hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei, perolehan suara pasangan Agus-Sylvi berkisar antara 16% hingga 19%.

Dalam hitung cepat lembaga Indikator, misalnya, pasangan Agus-Sylvi meraih 17,28%. Adapun hitung cepat Litbang Kompas menempatkan pasangan tersebut pada posisi ketiga dengan perolehan 17,37%.

Berdasarkan rangkaian hasil tersebut, pasangan Agus-Sylvi menggelar jumpa pers di Wisma Proklamasi, basis tim pemenangan mereka, sekitar delapan jam setelah seluruh tempat pemungutan suara ditutup.

“Secara ksatria dan lapang dada, saya menerima kekalahan saya dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta. Saya dan Ibu Sylvi mengucapkan selamat kepada pasangan nomor dua bapak Basuki dan bapak Djarot kemudian pasangan nomor tiga bapak Anies dan bapak Sandi,” ujarnya.

Strategi putaran kedua

Setelah pasangan Agus-Sylvi menyatakan kekalahan mereka, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan belum merinci strategi apa yang hendak ditempuh untuk memenangkan pasangan Ahok-Djarot pada putaran kedua.

Hanya saja, saat berpidato di Rumah Lembang, yang merupakan basis tim pemenangannya, Ahok merujuk hasil jajak pendapat sebuah lembaga survei yang menyebutkan elektabilitasnya hanya 10%. Namun, hitung cepat lembagai survei itu kini menempatkan Ahok-Djarot unggul dari dua pasangan calon lainnya.

Artinya, menurut Ahok, “perjuangan belum selesai”.

Di lain pihak, Muhammad Taufik selaku Wakil Ketua Tim Pemenangan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno memberi gambaran umum strategi kubunya.

“Komunikasi politik dengan seluruh unsur tokoh masyarakat, dengan pimpinan partai yang lain, terus akan kami lakukan,” kata Taufik, yang juga wakil ketua DPRD DKI Jakarta.

Sampai saat ini, KPU DKI jakarta masih menghitung dan merekapitulasi suara. Jika KPUD menetapkan pemilihan gubernur DKI Jakarta berlangsung dua putaran, pemungutan suara putaran kedua akan berlangsung pada 19 April 2017 mendatang.
sumber: bbc

Posted in Berita | Leave a comment

KETIKA ANDA MENCOBLOS, APAKAH FAKTOR AGAMA TERLINTAS DI BENAK?

Di halaman gereja Katolik, Paroki Hati Kudus, di pusat kota Banda Aceh, Senin (13/02) lalu, seorang pria sedang menunggu anaknya pulang dari sekolah, yang berada dalam komplek gereja.

“Saya sudah 11 tahun tinggal di Banda Aceh, setelah tsunami,” kata Jesi Christian Pati memulai pembicaraan dengan BBC Indonesia.

Seperti warga Indonesia lain, Jesi akan hak suaranya dalam Pilkada 2017 walau tidak ada calon Wali kota Banda Aceh atau Gubernur Aceh yang seagama dengan dirinya.

“Tidak ada pilihan lain,” katanya, setengah tertawa.

Tinggal di wilayah yang mayoritas Islam dan, apalagi, memberlakukan syariat Islam, membuat dirinya harus memilih calon pemimpin yang dianggapnya juga menyuarakan kelompok minoritas.

Dan, menurut penilaiannya, ada dua calon Wali kota Banda Aceh dan Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ‘menyuarakan’ kelompok minoritas.

“Program mereka masih mendengarkan kebutuhan orang Kristen. Biasanya mereka bicara soal isu kemanusiaan, bukan melulu agama,” ungkapnya.

Pasangan calon gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Nomor urut 1: Tarmizi Karim-Machsalmina Ali
Nomor urut 2: Zakaria Saman-T Alaidinsyah
Nomor urut 3: Abdullah Puteh-Sayed Mustafa Usab
Nomor urut 4: Zaini Abdullah-Nasaruddin
Nomor urut 5: Muzakir Manaf-TA Khalid
Nomor urut 6: Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah

Calon seperti itulah, tambah Jesi, yang dipilih orang Kristen atau kaum non-Islam lainnya di Aceh. “Saya yakin 80%, suara warga Kristen di Aceh mirip dengan pilihan kita,” Jessi mengutarakannya dengan tersenyum.
Mengayomi semua etnis

Peunayong, di pusat kota Banda Aceh, merupakan lokasi pemukiman dan kegiatan komunitas warga Indonesia peranakan Cina.

Tidak jauh dari Pasar Peunayong, persisnya di Gampong Mulia, berdiri kedai kopi yang disebut Tenggeng.

“Ini tempat kami nongkrong, minum kopi, ngobrol atau main catur Cina,” kata Kho Khie Siong, atau biasa dipanggil Aky.

Pria kelahiran 1964 ini adalah salah-seorang warga peranakan Cina di Banda Aceh yang sering menjadi nara sumber atau juru bicara warga di wilayah itu.
Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Pasar Peunayong terletak di kawasan pemukiman dan kegiatan komunitas etnis Cina di Banda Aceh.

Dengan mengenakan kaca mata, kalung, serta kemeja Polo hijau, Akky menceritakan pengalamannya mendirikan Yayasan Hakka di Aceh, yang menghimpun suku Han yang disebutnya banyak mendiami sejumlah wilayah di Indonesia.

Lewat organisasi itulah, Aky yang beragama Buddha berusaha melibatkan diri dalam kerja-kerja sosial yang ujungnya demi menciptakan kerukunan antar etnis dan agama.

Dan perhelatan politik bernama Pilkada, kata Aky, membuat dia aktif untuk mensosialisasikan para calon-calon wali kota dan gubernur kepada para anggotanya. “Tapi saya tidak pernah memaksa mereka untuk memilih calon tertentu,” tandasnya.

Dan secara logika sederhana, tambahnya, warga Cina di Aceh akan memilih calon pemimpin yang dapat mengayomi semua etnis,”Tidak terkecuali kaum Tionghoa.”
Agama tidak diatur qanun

Baik Jesi atau Aky, rupanya, menyadari betul mereka tidak memiliki peluang untuk memilih calon pemimpin yang seagama. Seperti diketahui, Aceh memiliki kekhususan dengan penerapan Syariat Islam.

Walaupun tidak secara jelas disebutkan harus beragama Islam, sejumlah kursi pimpinan di berbagai lembaga pemerintahan -termasuk calon anggota parlemen daerah- mensyaratkan sang calon harus bisa membaca kitab suci Alquran.

Dalam qanun atau perda tentang Pilkada, persyaratan ketrampilan membaca Alquran itu juga dicantumkan.

“Tetapi,” kata anggota DPR Aceh dari Partai Aceh, Nur Zahri, yang terlibat dalam pembahasan qanun tersebut, “itu hanya diwajibkan kepada yang Muslim. Jadi, tidak diwajibkan kepada non-Muslim.”

Sesuai perintah UU pemerintahan Aceh nomor 11 tahun 2006, lanjutnya, bagi calon yang beragama Islam, diwajibkan memiliki kemampuan bisa membaca Alquran.

“Tapi, sekali lagi, ini tidak berlaku bagi yang non-Muslim,” tegas Nur Zahri yang menambahkan ada calon kandidat legislatif Partai Aceh di Singkil yang beragama Kristen dan tidak mengukitu tes kemampuan membaca Alquran.

Situasi anomali

Prof Dr Hamdi Muluk, Guru Besar Psikologi Politik UI

Dalam beberapa tahun terakhir, kecenderungan partai-partai Islam tidak banyak lagi dipilih. Artinya perolehan suara partai Islam rendah, misalnya Partai Bulan Bintang malah tidak lolos parliament threshold atas batas ambang parlemen. Sedang partai-partai yang lebih dekat ke Islam, seperti PPK, PKB, dan PAN itu kalau digabung perolehan suaranya, tidak lebih dari 30%. Itu data pemilu di tingkat nasional yang berbasis partai.

Cuma anomalinya, kalau menyangkut pemilihan kepala daerah, maka faktor agama atau etnisitas kepala daerah itu berpengaruh. Jadi masih sulit bagi pemilih Indonesia untuk memilih orang orang yang berbeda agama atau terkait kesukuan, terutama dalam kontesk pribumi dan nonpribumi.

Kasus Ahok kemarin juga ada anomali demikian.

Data-data pemilu selama ini memperlihatkan bahwa partai Islam tidak terlalu banyak diminati, tapi dalam kasus Ahok yang menyangkut persepsi bahwa agama direndahkan -seperti itulah kita sebut, ada persepsi itu- ternyata orang bereaksi sangat keras dan terjadilah demo-demo dengan tuntutannya, yang bisa kita lihat politis juga.

Mungkin karena partai abstrak dan mereka juga tidak mengerti seberapa Islam sebuah partai. Kalau orang itu konkrit, bisa dilihat dalam konteks agama dan suku. Tapi mungkin juga karena partai-partai di Indonesia gagal meraih kepercayaan publik.

Artinya, bahkan tindak tanduk partai-partai agama tidak selalu mencerminkan nilai-nilai agama, seperti korupsi, manipulasi dan ada kelakukan-kelakuan yang tidak benar, juga dari partai Islam sendiri. Jadi orang kehilangan kepercayan tehadap partai Islam.

Tapi kalau orang, dia adalah sosok tunggal dan bisa diminta pertanggungjawaban langsung kepada dia secara konkret.

‘Keseimbangan’ di Papua Barat

Di Provinsi Papua Barat, populasi sekitar 40% umat Islam dari total penduduk agaknya menjadi pertimbangan dari masing-masing calon gubernur dengan menggandeng calon wakil gubernur yang beragama Islam.

Ketiganya adalah: Dominggus Mandacan-Mohamad Lakotani, Irene Manibuy-Abdullah Manaray, dan Stephanus Malak-Ali Hindom.

Pasangan calon yang beragama Kristen dan Islam tersebut -menurut Dekan Fakultas Pertanian Universitas Papua, Agus Sumule- diperlukan karena faktor agama penting untuk pemilih pendatang dari Sulawesi dan Maluku Utara, yang sebagian besar merupakan umat Muslim.

“Apakah besar pengaruhnya? Saya katakan kita memang di Indonesia belum bisa lepas dari itu.”

“Mungkin penting bagi pendatang, tetapi saya kira untuk orang Papua tidak penting. Agama menjadi diperhitungkan para peserta yang ikut dalam kontestasi karena jumlah pendatang bukan main-main,” tambah Agus.

Tapi apakah strategi yang diambil ketiga calon gubernur Papua Barat memang sesuai dengan kecenderungan pemilih?

“Itu bagus, siapapun yang naik sudah ada perwakilan kita, jadi tidak diragukan lagi. Penting itu, boleh kata di Manokwari kan Muslim dan Non-Muslim itu fifty-fifty jadi ya wajar-wajar saja,” jelas Alidin, pria berusia 39 tahun asal Sulawesi Selatan yang ditemui di Masjid Manokwari.

Seorang pengemudi ojek di Manokwari yang berasal dari Maluku, Rusli, juga berpendapat faktor agama tidak bisa diabaikan dalam memilih pemimpin.

“Sebagai Muslim kami ingin agar ditingkatkan lagi, seperti pembangunan masjid. Secara pribadi memang penting mengingatkan Papua Barat, yang termasuk daerah rawan juga kan. Harapan kerukunan beragama terjadi dengan baik. Insya Allah aman.”

Selain sebagai penarik suara, keikutsertaan politisi beragama Islam juga menjadi penting sebagai simbol kerukunan di Provinsi Papua Barat, seperti disampaikan Mulyadi Jaya, pengamat sosial dan politik di Manokwari yang juga menjabat pimpinan wilayah Muhammadiyah.

Bahkan dia mengusulkan agar komposisi agama calon kepala daerah diundangkan untuk pilkada mendatang.

” Kalau menurut saya perlu diformalitaskan agar setiap pilkada, baik gubernur, bupati, dan walikota harus ada keseimbangannya. Misalnya gubernur Nasrani maka wakilnya dari Islam dan sebaliknya untuk menjaga kesimbangan. Saya rasa itu hal yang sangat baik ke depan, berbeda dengan pilkada sebelumnya,” sarannya.

Primordial lawan rasional

Seperti peribahasa lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, maka setiap daerah berbeda pula atmosfir politiknya, khususnya saat pilkada serentak.

Dan jika Anda mengikuti dengan seksama kampanye pemilihan Gubernur DKI Jakarta, maka faktor agama terasa bukan untuk menyeimbangkan, seperti di Papua Barat- namun menjadi alasan untuk ‘perpecahan’.

Beberapa unjuk rasa digelar menentang calon petahana Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, karena dituduh melakukan penistaan agama Islam, yang hingga saat ini sedang dalam proses pengadilan.

Memang faktor agama atau etnisitas tampaknya belum bisa diabaikan dalam pemilihan di Jakarta, dan Indonesia secara umum.

Prof Dr Hamdi Muluk, Guru Besar Psikologi Politik dari Universitas Indonesia, berpendapat Indonesia masih jauh dari harapan ‘pemilih rasional’ yang menentukan pilihan politik berdasarkan program dan kebijakan calon atau partai tertentu.

“Ternyata faktor-faktor primordial, etnisitas, dan agama, ternyata itu masih tetap berpengaruh. Kalau hasil simulasi kemarin itu, paling tidak 30% sampai 40% masih mendasarkan fakfor primordialisme untuk memilih. Itu sampel Jakarta, kalau di sampel-sampel daerah, angkanya bisa lebih besar. ”

Menurut Prof Muluk, selama ini partai Islam sepertinya tidak mendapat dukungan dari para pemilih namun berbeda dengan pemilihan kepala daerah.

“Kalau menyangkut pemilihan kepala daerah, maka faktor agama atau etnisitas kepala daerah itu berpengaruh. Jadi masih sulit bagi pemilih Indonesia untuk memilih orang orang yang berbeda agama atau terkait kesukuan, terutama dalam kontesk pribumi dan nonpribumi.”

Di Jakarta, memang bisa terlihat bagaimana faktor agama dan etnisitas menjadi salah satu faktor yang penting dengan reaksi keras dari sejumlah umat Islam atas tuduhan penghinaan agama salah seorang calon, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, yang kini sedang diadili.

Sementara pada sisi lain terdapat pula sekelompok pemiih yang mendukung kuat Ahok, yang kinerjanya dianggap yang baik dalam membangun Jakarta selama ini.

“Besok (pemungutan suara, Rabu 15 Februari) pembuktian yang mana yang unggul. Kalau yang menang ,misalnya, bukan petahana, artinya faktor emosional yang lebih besar dari rasional,

“Tapi kalau pada akhirnya petahanan yang menang, entah itu di putaran pertama atau kedua, berarti penjelasan rasional lebih kuat dari sentimen primordial.”

Bagaimanapun pembuktian itu tentu hanya untuk di Jakarta, yang belum tentu menjadi model bagi kecenderungan para pemilih untuk dalam menggunakan hak suaranya.
sumber: bbc

Posted in Berita | Leave a comment

SUASANA PILKADA DI KEPULAUAN SERIBU SEPERTI LEBARAN, KATA BUPATI

Jakarta (ANTARA News) – Bupati Kepulauan Seribu Budi Utomo mengatakan suasana Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di wilayahnya sama seperti perayaan Hari Raya Idul Fitri, berkaca pada lancarnya pelaksanaan pemilihan gubernur DKI Jakarta itu.

“Kalau dilihat, suasananya seperti suasana lebaran, karena pesta demokrasinya ramah. Semua saling menyapa bahkan kami beberapa kali diundang minum kopi bersama untuk diskusi tentang Pilkada,” katanya di Pulau Pramuka, Rabu.

Budi mengklaim bahwa setelah melakukan evaluasi di beberapa wilayah pemungutan suara, situasinya sangat kondusif, di mana masyarakat saling menghargai dan menghormati pilihan masing-masing.

“Kami sudah melakukan penyisiran dan monitor, alhamdulillah semuanya berjalan baik,” ujarnya.

Budi pun optimistis siapapun gubernur yang terpilih memimpin DKI Jakarta, tidak akan menimbulkan konflik di Kepulauan Seribu karena masyarakatnya yang sudah sangat demokratis.

“Pesta kita sudah berjalan dengan baik. Ke depannya kami berharap Kepulauan Seribu bisa menjadi daerah yang semakin kondusif,” ujarnya.

Di Pulau Pramuka sendiri, perhitungan manual setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS) menunjukkan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Anies Baswedan dan Sandiaga Uno unggul di daerah ini.

Pasangan nomor urut tiga itu meraup 446 suara, disusul pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Syaiful Hidayat dengan 413 suara, dan pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni sejumlah 229 suara.(Ant)

Posted in Berita | Leave a comment

AHOK-DJAROT UNGGUL PADA HITUNG CEPAT

Jakarta (ANTARA News) – Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat unggul di semua hitung cepat yang dilakukan sejumlah lembaga pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017, Rabu.

Hitung cepat yang dilakukan PolMark Indonesia menempatkan pasangan Ahok-Djarot di urutan pertama dengan perolehan suara 42,27 persen disusul pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno (39,77 persen) dan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni (17,96 persen).

Begitu pula pada hitung cepat yang dilakukan Indikator Politik Indonesia yang menempatkan pasangan Ahok-Djarot di urutan pertama dengan perolehan suara 43,16 persen disusul pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno (39,56 persen) dan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni (17,28 persen).

Pasangan Ahok-Djarot juga unggul di hitung cepat yang diadakan Saiful Mujani Research Center (SMRC). Pada pukul 19.20 dengan suara yang masuk mencapai 99,6 persen, perolehan suara Ahok-Djarot 43,22 persen disusul pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno (40,1 persen) dan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni (16,68 persen).

Pemungutan suara Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 diselenggarakan pada Rabu, diikuti tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur.

Mereka adalah Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni yang diusung Partai Demokrat, PPP, PKB dan PAN; Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat yang diusung PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Hanura dan Partai NasDem dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang diusung Partai Gerindra dan PKS.(Ant)

Posted in Berita | Leave a comment