Sejarah Sinabung Jaya

KISAH BUS SINABUNG JAYA, DULU DAN KINI – (1)

Sudah tahu dengan bus Sinabung Jaya? PO. Sinabung Jaya adalah nama dari perusahaan otobus yang melayani trayek “Medan – Tanah Karo” dan beberapa daerah lainnya di Provinsi Sumatera Utara. Sekilas, jelas akan terlihat biasa saja. Seperti saat kita menggunakan jasa angkutan umum lainnya, tentu tak akan banyak pertanyaan tentang angkutan yang kita tumpangi. Namun, ada sesuatu yang khusus pada Sinabung Jaya. Ternyata, perusahaan otobus Sinabung Jaya memiliki kisah yang panjang dan mengesankan. Berikut rangkuman kisah Sinabung Jaya yang Gobatak sunting dari sinabungjaya.com. ( Gobatak & Sarudung.blogspot)

Admin :

Admin akan menyajikan secara bertahap dan lengkap serta didukung dengan foto dokumentasi keluarga dan lainnya. Semoga sajian ini bermanfaat bagi generasi muda walau apapun profesi yang digeluti serta tingkap pendidikan yang terendah sekalipun dimiliki asal ada kemauan, disiplin, mau bekerja keras dan pantang putus asa, berhemat dan punya cita-cita akan berhasil dikemudian hari menjadi salah satu orang yang sukses dalam mencapai cita-citanya., semoga terima kasih salam sinabung jaya & Taneh Karo Simalem.

Begini kisahnya :

Perusahaan Otobus PO. Sinabung Jaya yang beralamat di Jl. Veteran Gang Usaha Tani, Berastagi, Kabupaten Tanah Karo Provinsi Sumatera Utara mulai dirintis oleh Reti Sembiring Gurukinayan yang dilahirkan pada tahun 1904 di kampung Gurukinayan yang letaknya persis di bawah Gunung Sinabung, kecamatan Payung, Kabupaten Tanah Karo.  Mempersunting seorang gadis bernama Releng br Sitepu anak saudara dekat dari ibunya yang berasal dari kampung Berastepu dan dikaruniai 10 (sepuluh)  anak yang terdiri dari 7 (tujuh) anak pria dan 3 (tiga) anak perempuan.

Profil Sjaya-Ayahanda Reti dan Ibu Releng

Foto Alm.Ayahanda  Reti Sembiring Gurukinayan dan istrinya Almh.Ibunda  Releng Bru Sitepu Tahun 1961 pada saat mendirikan perusahaan otobus PO. Sinabung Jaya tanggal 1 April 1961

Reti Sembiring Gurukinayan adalah seorang anak sulung dari keluarga petani yang ayahnya bernama Ngupahi Sembiring Gurukinayan yang beristrikan Peraten br Sitepu yang kebetulan juga berasal dari kampung Berastepu yang lokasinya bertetangga dengan kampung Gurukinayan, yang dikarunia 3 (tiga) orang anak yaitu Reti  Sembiring Gurukinayan, Bantamuli br Sembiring Gurukinayan dan Rekat Sembiring Guruki-nayan.

Profil Sjaya-nini bulang dan nini karo Foto kedua orang tua Almarhum Reti Sembiring Gurukinayan tahun 1930. Ngupahi Sembiring Gurukinayan dan istrinya Peraten Bru Sitepu

Dibesarkan dan dididik di keluarga petani, bukan berarti Reti Sembiring Gurukinayan ingin menjadi petani walaupun tanah ladang dan sawah yang akan diwariskan oleh ayahnya kelak cukup untuk menghidupi keluarganya di kemudian hari, beliau mempunya cita-cita lain untuk masa depannya. Walaupun tidak pernah mengikuti pendidikan formal di bangku pendidikan sekolah rakyat (sekolah dasar) atas kemauan keras untuk mewujudkan cita-citanya secara otodidak akhirnya dimasa remajanya dapat membaca, menulis dan berhitung.

Profil Sjaya-gerbang desa gurki dan gunung sinabung Foto Gunung Sinabung yang dilihat dari pintu masuk kampung Gurukinayan yang terletak dibawah gunung tersebut  di abadikan  pada tanggal 11 Juni 2006 oleh Kartika Sari (Tika) Bru Purba, cucu paling bungsu dari anak alm. Reti Sembiring Gurukinayan, Nurain Bru Sembiring Gurukinayan.

Dalam masa pertumbuhan remajanya beliau ketika berumur 11 tahun telah meninggalkan kampung Gurukinayan menjadi kernek bus di kampung Batukarang, karena tokehnya atau pemilik bus bernama Atol Bangun berdomisili di kampung tersebut. Reti Sembiring Gurkinayan mempunyai cita- cita agar dikemudian hari beliau ingin memiliki armada bus walaupun pada saat itu hanyalah sebagai kernek bus ban mati / roda mati diawal tahun 1915. Beliau sadar bahwa untuk dapat memiliki armada bus sendiri tentu akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan panjang serta harus memiliki tekad yang kuat, mau bekerja keras, disiplin dan juga hemat. Pada waktu itu tidak semua yang menjadi kernek bus/ truk otomatis dikemudian hari akan  dapat  menjadi  seorang  supir.  Peningkatan kariernya  tidak  akan pernah tercapai apabila tidak dapat mengambil hati supirnya yang mempunyai otoritas cukup besar untuk menentukan siapa yang layak sebagai kerneknya dalam mengoperasikan bus / truk  yang   dipercayakan oleh pemiliknya (majikannya) Kalau  sang  kernek  tidak  rajin  dan  tekun  serta disiplin dan gigih maka kemungkinan besar sang kernek dapat diberhentikan oleh supirnya dan kedudukannya akan digantikan oleh orang lain yang menurut sang supir lebih baik atau selamanya hanyalah sebagai kernet karena sang supir tidak pernah memberi kesempatan baginya untuk belajar mengemudi.

Profil Sjaya-Mobil-Ford tahun 1915 menggunakan ban matiFoto : Mobil-Ford tahun 1915 menggunakan ban mati. (ilustrasi)

Mengingat pada waktu itu, Reti Sembiring Gurukinayan yang mempunyai cita-cita yang tinggi bagi dirinya dan untuk masa depannya serta keluarganya dikemudian hari, beliau berusaha menjadi kernek yang gigih, rajin dan disiplin dan  disayangi oleh supirnya serta mempunyai rasa memiliki. Karena khawatir suatu saat kemungkinnan akan diberhentikan oleh sang supir bila tidak rajin dan disiplin maka dalam melaksanakan tugasnya sebagai kernek bus beliau bekerja keras agar penghasilan dari setoran bus yang mereka operasikan bersama supirnya minimal dapat menghasilkan setoran yang layak dan wajar kepada pemilik bus. Akan tetapi tidak hanya masalah setoran yang jadi patokan bagi dirinya dalam melaksanakan pekerjaannya, tapi juga masalah perawatan bus pun menjadi perhatian utamanya, sehingga beliau juga berupaya untuk mengetahui seluk beluk mesin bus termasuk membersihkan bus di poolnya pada malam hari apabila selesai operasi pada pagi dan siang hari. Pada saat itu untuk dapat menjadi supir tidaklah semudah pada saat ini, pekerjaan sebagai supir sangat didambakan oleh banyak orang bagi mereka yang tidak mau melanjutkan sekolahnya ketingkat yang lebih tinggi, apalagi bagi seorang pemuda bernama Reti Sembiring Gurukinayan yang pada awalnya adalah seorang yang buta aksara sehingga tidak ada pilihan lain selain menjadi kernek dulu baru menjadi supir kemudian memiliki armada bus sendiri, cukup sederhana cita-citanya, sedangkan pekerjaan sebagai petani di kampung tidak ada dalam benaknya. Disamping itu pekerjaan sebagai supir sangat dihormati oleh masyarakat didaerah kelahirannya, dan tentunya juga menjadi idaman oleh para gadis untuk dapat dipersunting menjadi istri seorang supir. Didalam pikirannya, hanya  dengan jalan yang sedang dia tekuni inilah satu-satunya jalan bagi dirinya untuk mencapai masa depan yang lebih baik dikemudian hari. Apalagi beliau anak tertua dari 3 (tiga) bersaudara, maka seyogyanya dapat memberikan contoh atau panutan bagi saudara lainnya, hal ini berlaku umum di masyarakat Karo. Ada kepercayaan masyarakat Karo, apabila anak tertua berhasil atau sukses / memiliki pendidikan tertinggi maka dengan sendirinya adik-adiknya akan mengikutinya jejaknya, orang yang sukses didalam keluarga akan dengan sendirinya memiliki wibawa dan jadi panutan dibandingkan dengan yang tidak berhasil, terutama dihadapan saudaranya atau adik-adiknya.

Profil Sjaya-Ayahanda Rekat dan Ibu GotoFoto Alm. Ayahanda Rekat  Sembiring Gurukinayan (adik kandung Alm. Reti Sembiring Gurukinayan) bersama Almh Ibunda  Goto  Bru Sitepu.

Mengingat begitu tingginya cita-cita yang sebenarnya mungkin cukup sederhana bagi sebagian orang, apalagi tidak terlalu sulit untuk mencapainya, karena hanya dengan bermodalkan mau bekerja keras, tekun, disiplin dan mau berhemat serta mempunyai rasa memiliki maka kemungkinan besar akan dapat berhasil. Beliau sadar bahwa orang yang awalnya buta aksara maka beliau tidak mengimpikan cita-cita yang muluk-muluk, hanya satu keinginannya bahwa pada suatu saat dapat memiliki bus sendiri yang akan dia kemudikan sendiri dan dirawat sendiri agar biaya perawatannya akan semakin ringan. Oleh sebab itu, pada pada malam harinya setelah selesai membersihan bus yang menjadi tanggung jawabnya sehari-hari , beliau juga mencuci tidak hanya pakaiannya sendiri akan tetapi juga pakaian supirnya, walaupun    tidak pernah disuruh oleh supirnya yang memang bukan menjadi tanggung jawabnya sebagai kernek bus. Demikian juga diwaktu senggang beliau tidak lupa untuk belajar membaca, menulis dan berhitung secara otodidak sehingga akhirnya berhasil. Beliau tidak pernah mengikuti pendidikan formal karena situasi dan kondisi keluarga pada waktu itu tidak memungkinkan untuk mengikuti pendidikan formal dijaman penjajahan, apalagi sebagai anak tertua semasa kecilnya beliau juga harus ikut menggendong dan merawat adik-adiknya serta membantu ibunya di ladang.

Profil Sjaya- bus roda mati tahun 1930-1Foto bus roda mati tahun 1930 yang pada waktu itu lebih tepat disebut oplet atau minbus karena daya angkutan penumpang tidak lebih dari 12 (dua belas) penumpang dengan posisi menyamping. Armada bus “ATOL” seperti inilah pada waktu itu dimiliki Alm. Bapak  Atol Bangun

Semasa hidupnya, untuk menandatangangi dokumen yang berhubungan usahanya , tanda tangannya cukup sederhana dengan menulis nama awalnya sendiri. Melihat kegigihannya dalam melakukan pekerjaannya sehari-hari dan disenangi supirnya, maka dalam waktu relatif tidak terlalu lama, cita-citanya tahap  pertama  dapat  dicapainya. Beliau  diberi   kesempatan   oleh supirnya untuk belajar menyetir bus pada saat selesai operasi atau dalam perjalanan pulang ke pool di kampung Batukarang. Tidak hanya itu, beliau juga dibimbing supirnya secara terus menerus agar dapat mengetahui seluk beluk mesin maupun system elektrik serta cara perbaikannya.

Perlu diketahui, bahwa pada waktu itu, seorang supir haruslah orang yang paling tahu seluk beluk teknis mesin serta elektriknya, hal ini memang harus menjadi persayaratan utama karena apabila terjadi  masalah atau kerusakan di tengah jalan maka sang supirlah yang  harus bisa memperbaiki sendiri bus yang menjadi tanggung jawabnya dan tindak mungkin mendapat bantuan dengan segera apabila terjadi kerusakan di tengah perjalanan. Apalagi kondisi alamnya pada waktu itu antar  kampung  atau kota lokasi cukup jauh dan harus melewati hutan atau sawah/ ladang penduduk setempat yang jarang dilewati kenderaan lain yang jumlahnya didaerah tersebut masih dalam hitungan jari.

Profil Sjaya-bus atol 1931Armada bus PO. ATOL di Dataran Tinggi Karo Tahun 1930 di Kabanjahe yang dimiliki oleh Bapak Atol Bangun yang berasal dari desa Batukarang, sekarang di Kabupaten Karo Sumut dimana Bapak Reti Sembiring Gurukinayan pernah menjadi kernek dan pengemudi Bus Atol tersebut

Setelah cukup lama menjadi kernek bus, pada tahun 1930 Reti Sembiring Gurukinayan meningkat statusnya dari kernek menjadi supir bus ban mati yang selama ini menjadi cita-cita yang cukup lama dipendamnya. Beliau mengoperasikan bus ban mati bernama “ATOL” yang pemiliknya bernama Atol Bangun yang berasal dari Batukarang. Beliau cukup lama bekerja pada majikannya tersebut sehingga hubungan antara beliau dengan bapak Atol Bangun bukan lagi seperti hubungan kerja antara majikan dan karyawannya, akan tapi menjadi hubungan keluarga yang sangat baik. Hal ini dapat dilihat dikemudian hari, sewaktu beliau pindah ke Berastagi pada tahun 1948 dan setahun kemudian menyusul istri dan anak-anaknya, bapak Atol Bangun sering berkunjung ke rumah beliau di Berastagi, hubungan kekeluargaan ini tetap berlangsung walaupun bapak Atol Bangun bukan lagi majikan beliau.

    Profil Sjaya-bus atol 1931- Atol Bangun dan keluargaBapak Atol Bangun bersama keluarga dan karyawannya foto bersama didepan Kantor PO. ATOL tahun 1930 di Kabanjahe, sekarang ibu kota Kabupaten Karo Sumut.

Beliau tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah dicapainya, karena cita-cita awal yang paling tinggi bagi ukuran beliau pada waktu itu adalah, pada suatu saat beliau bercita-cita memiliki armada bus sendiri. Oleh sebab itu beliau sadar bahwa pekerjaan sebagai kernek kemudian menjadi supir hanyalah jalan untuk meraih cita-citanya tersebut. Selama menjadi kernek maupun supir bus, beliau bekerja keras dan tidak mengenal lelah, disiplin, hemat agar pada suatu saat dapat mewujudkan cita-citanya tersebut, uang yang sudah dikumpulkan dari hari kehari setelah dipergunakan sebagian untuk keperluannya, kemudian disimpan dibawah kasur. Karena kegigihannya selama bekerja pada majikannya tersebut di atas, beliau tidak hanya disayangi majikannya tapi juga disegani oleh kerneknya, hal ini dapat dibuktikan dikemudian hari, dimana setelah beliau  memiliki bus sendiri sampai memiliki perusahaan otobus PO. Sinabung Jaya  hubungan silaturahmi antar dia dengan mantan supirnya, maupun kernek dapat terpelihara sepanjang hidupnya. Malah setelah beliau meninggal dunia, banyak mantan supirnya maupun kerneknya tetap membicarakan dan mengenang beliau , walaupun dulu mereka sering ditegor, malah ada yang pernah dikejar-kejar dengan membawa martil karena kesalahan fatal yang mereka buat sehingga mesin busnya rusak antara lain lupa mengisi air radiator yang seharusnys setiap sampai di stasiun pemberhentian terakhir harus di periksa ulang sebelum berangkat lagi ke stasiun awalnya. Walapun sering ditegor atau dimarahi mereka tidak pernah sakit hati karena apa yang dilakukan beliau dapat mereka maklumi atau pada tempatnya, dan semua itu tujuannya adalah   untuk   mendidik      mereka supaya menjadi pintar atau menguasai mesin dan elektri bus yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini sering mereka ceritakan kepada anak-anak beliau termasuk kami yang pada waktu PO. Sinabung Jaya didirikan pada tanggal 1 April tahun 1961 sudah berumur 10 tahun.

Setelah karier Reti Sembiring Gurukinayan meningkat yang tadinya hanyalah sebagai kernek kemudian menjadi seorang supir yang disenangi oleh majikannyanya, barulah beliau punya cita-cita berikutnya yaitu mempunyai istri dengan  pemikiran  sudah   dapat   memberikan  nafkah kepada istri maupun anak-anaknya di kemudian hari. Beliau mempersun-ting seorang istri bernama Releng br Sitepu dari keluarga ibunya di Berastepu pada tahun 1930 dalam usianya  yang  ke  duapuluh enam tahun, sehingga hubungan kekeluargaan semakin erat persaudaraannya. Beliau tinggal bersama istrinya di rumah yang cukup sederhana yang baru dibangunnya di ladang Tambak Rahu yang berlo -kasi dipinggir kampung Gurukinayan kearah gunung Sinabung, hasil dari jerih payahnya selama menjadi kernek dan supir.

Profil Sjaya-rumah sederhana tambak rahu gurkyFoto rumah sederhana yang dibangun oleh alm. Reti Sembiring Gurukinayan yang berlokasi di ladang Tambak Rahu, kampung Gurukinayan dan sebagai tempat tinggal pertama kali sewaktu Almarhum baru membina rumah tangganya dengan istrinya almarhum Releng Bru Sitepu yang sampai saaat ini tetap berdiri dengan kokoh tanpa pernah dilakukan perbaikan yang berarti, foto diabadikan pada  tanggal 11 Juni 2006 oleh Kartika Sari Bru Purba, cucunya  paling bungsu.

Pada tahun 1931 lahir lah anak pertama yang diberi nama Kueteh Sembiring Gurukinayan (Pa Bas), dan dua tahun kemudian lahir seorang anak perempuan, akan tapi beberapa hari kemudian dipanggil Allah Bapa yang maha kuasa. Karena pada waktu itu masyarakat Karo pada umumnya masih penganut animisme dan karena umurnya baru beberapa hari maka jasadnya harus dibakar dan abunya dilarungkan di sungai Parik Lau dekat ladang keluarga Kembilik kampung Gurukinayan.

Profil Sjaya-kueteh sembiringFoto : Drs.  Kueteh Sembiring Gurukinayan (Pa Bas), Penggagas  Merk “ Sinabung Jaya” anak sulung Bapak Reti Sembiring Gurukinayan/ Releng Bru Sitepu sehingga beliau lebih di kenal dengan panggilan nama “Pa Kueteh” (Bapaknya Kueteh) dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat Batak Karo.

Selanjutnya, pada tahun 1936 lahir anak yang ketiga laki-laki diberi nama Dors Erti Sembiring Gurukinayan (Pa Eka) , kemudian anak ke empat Baik Bru Sembiring Gurukinayan  (Nd. Bania) lahir di desa Gurukinayan tanggal 11 Desember 1941, Kemudian tanggal 20 Juni 1942 lahir anak ke lima Arnem Sembiring Gurukinayan  (Pa Febrian) di desa Gurukinayan. Pada tanggal 01 Oktober 1945 lahir anak ke enam Rasmi Sembiring Gurukinayan (Pa Edik) di Gurukinayan, dan anak ke tujuh anak perempuan Nurain Bru Sembiring Gurukinayan (Nd. Prima) di desa Tiganderket tanggal 30 Oktober 1947. Kemudian lahir di Berastagi 3 (tiga) anak terakhir  Rophian Sembiring Gurukinayan (Pa Ninta) tanggal 16 Juni 1951, selanjutnya Eriwan Sembiring Gurukinayan (Pa Andi) tanggal 01 Oktober 1953 sampai  dengan   anak   yang   kesepuluh  (terakhir)  pada  tanggal 29 Juni 1956   yang  bernama Resmond Jaya Sembiring Gurukinayan (Pa Irvan), sama dengan kepercayaan daerah lainnya, banyak anak akan membawa banyak rejeki.(Bersambung)

KISAH BUS SINABUNG JAYA, DULU DAN KINI – (2)

Selanjutnya, pada tahun 1936 lahir anak yang ketiga laki-laki diberi nama Dors Erti Sembiring Gurukinayan (Pa Eka) , kemudian anak ke empat Baik Bru Sembiring Gurukinayan  (Nd. Bania) lahir di desa Gurukinayan tanggal 11 Desember 1941, Kemudian tanggal 20 Juni 1942 lahir anak ke lima Arnem Sembiring Gurukinayan  (Pa Febrian) di desa Gurukinayan. Pada tanggal 01 Oktober 1945 lahir anak ke enam Rasmi Sembiring Gurukinayan (Pa Edik) di Gurukinayan, dan anak ke tujuh anak perempuan Nurain Bru Sembiring Gurukinayan (Nd. Prima) di desa Tiganderket tanggal 30 Oktober 1947. Kemudian lahir di Berastagi 3 (tiga) anak terakhir  Rophian Sembiring Gurukinayan (Pa Ninta) tanggal 16 Juni 1951, selanjutnya Eriwan Sembiring Gurukinayan (Pa Andi) tanggal 01 Oktober 1953 sampai  dengan   anak   yang   kesepuluh  (terakhir)  pada  tanggal 29 Juni 1956   yang  bernama Resmond Jaya Sembiring Gurukinayan (Pa Irvan), sama dengan kepercayaan daerah lainnya, banyak anak akan membawa banyak rejeki.

profile sjaya-truck chevrolet tahun 1932.tanah karoTruck/ Bus ban mati Dataran Tinggi Karo, disamping membawa hasil pertanian juga dipergunakan unttuk angkutan penumpang tahun 1935. Truck/ bus sedang mengakut kol diangkut ke kota Berastagi/ Kabanjahe.

Pekerjaanya sebagai supir oleh Reti Sembiring Gurukinayan tidak hanya untuk satu armada bus tapi berganti lagi kepada bus peti sabun (bus pekan-pekan) lainnya yang pada waktu itu jenis bus ini dapat berubah fungsi dalam arti pada siang hari dapat mengangkut penumpang dan malam hari dapat membawa hasil bumi untuk dibawa ke kota dengan mencabut bangku-bangku yang terbuat dari kayu dan tidak dilapisi dengan jok (knock down), yang pada keesokan harinya akan dijual oleh para petani  pada  hari  pekan/ pasar yang pada setiap kota berbeda. Hari pasar antara lain untuk kota Kabanjahe pada hari Senen dan Kamis, Berastagi pada hari Rabu dan Sabtu, sedangkan hari Kamis untuk Tiga Nderket.

Barang petani yang akan dijual pada hari pekan tersebut dibawa terlebih dahulu oleh bus peti sabun pada malam hari ke pasar yang di tuju, kemudian keesokan harinya petani tersebut menyusul dengan menumpang bus yang sama, kemudian setelah selesai hari pasar atau  setelah barang hasil sawah/ ladangnya laku dijual barulah petani membayar ongkosnya termasuk ongkos barangnya pada waktu pulang kembali ke kampungnya dengan menumpang bus yang sama , sambil membawa uang dari penjual-an hasil kebun/ sawahnya setelah dibelanjakan sebagian untuk membeli bibit, pupuk mapun kebutuhan sehari-hari lainnya.

Sampai akhir tahun 1937 Reti Sembiring Gurukinayan masih mengemudikan bus bernama “ATOL” milik Atol Bangun yang berasal dan tinggal di Batukarang yang menggunakan roda mati.

Profil Sjaya- bus roda mati tahun 1930-1Bus roda mati tahun 1930 (ilistrasi), sampai tahun 1937 Reti Sembiring Gurukinayan masih mengemudikan bus bernama “ATOL” milik Atol Bangun yang berasal dan tinggal di Batukarang, Dataran Tinggi Karo, sekarang Kabupaten Karo Sumut

Sebenarnya kalau dikatakan bus kurang tepat, karena yang umumnya dikatakan bus paling sedikit dapat mengangkut 20 (dua puluh) orang penumpang atau lebih, sedangkan mobil tersebut hanya dapat mengangkut penumpang tidak lebih dari 8 (delapan) sampai dengan 10 (sepuluh) penumpang, dimana tempat mesin didepan kelihatan lebih panjang kalau dibandingkan dengan tempat penumpangnya dibelakang, atau mungkin lebih tepat dikatakan opelet atau mini bus, sebagai ilustrasi prototipe oplet tersebut dapat dilihat pada foto tersebut di atas.

Profil Sjaya-sesuai arah jarum jam- Sahun br Sitepu (Nande Ganin); Releng br Sitepu (Nande Kueteh)

Foto sesuai arah jarum jam : Sahun br Sitepu (Nande Ganin) saudara sulung dari ibunda Releng br Sitepu (Nande Kueteh), istri dari ayahanda Reti Sembiring Gurukinayan. Diabadikan di ladangnya Sebintun desa Berastepu Kabupaten Karo Sumut pada tahun 1964, dengan latar belakang gunung Sinabung hanya berjarak 2,5 km dari puncak gunung.

Akhirnya dari hasil tabungannya selama menjadi supir dan dengan dukungan keluarga dari keluarga mertuanya Sepit Sitepu  yang  mempunyai anak 3 (tiga) orang yaitu anak sulung Sahun br Sitepu (Nande Ganin); Releng br Sitepu (Nande Kueteh) dan bungsu Jusup Batang Sitepu (Pa Rustam) dari Beratepu maupun adiknya Bantamuli br Sembiring Gurukinayan (Nande Budi) yang dipersunting oleh Bagin Singarimbun (Pa Budi) dari Temburun, maka pada tahun 1937 dibelilah untuk pertama kalinya truk roda 8 (delapan) yang selama ini sangat dicita-citakan.

Profil Sjaya-Jusup Batang Sitepu (Pa Rustam) -mama nguda berastepu Bapak Jusup Batang Sitepu (Pa Rustam), ipar ayahanda Reti Sembiring Gurukinayan yang berasal dari desa Berastepu yang bertetangga dengan desa Gurukinayan di Kabupaten Karo Sumut.. Belia seorang kreatif dan pernah merintis pembuatan usaha rumah tangga “sabun batangan” di desanya tahun 1940-an merek dagangnya seperti foto diatas meniru sabun batang “cap salam” di Sumut.

Beliau membeli truk bak terbuka ban mati berwarna   merah atau disebut juga “gara takal” (kepala merah) dengan saudaranya Jemat Sembiring Gurukinayan (Pa Siman), ayah dari Bapak Siman Sembiring Gurukinayan yang telah banyak mem-berikan informasi dalam penyempurnaan sejarah ini yang pada saat ini telah berusia 75 tahun dan Tempi Sembiring Gurukinayan (Pa Damenta) yang pada saat ini juga telah berusia 89 tahun dengan kondisi yang tetap sehat dan tinggal di kampung Gurukinayan. Mobil tersebut beliau kemudikan sendiri oleh Reti Sembiring dan dikerneki secara bergantian oleh Sempa Sitepu (Pa Rakut); Jumpa Ginting (Pa Akim); Jabab Sembiring Meliala (Pa Ros) dan terakhir oleh Tabas Surbakti (Pa Bini) kemanakannya.

Profil Sjaya-bus Karo- Bis milik Deli Spoor di Brastagi 1900-1940 Foto bus Dataran Tinggi Karo- Bus milik Deli Spoor (DIENS) di Berastagi 1900-1940

Truk tersebut diberi nama Sinabun (bukan Sinabung) dengan logo gambar “Nenas” pada lambungnya, karena pada waktu itu di kampung Gurukinayan disamping hasil kebun utamanya buah jeruk, juga terdapat kebun nenas yang buahnya cukup besar sebagai hasil sampingan pada kebun yang sama. Karena truk tersebut terlalu panjang maka chasissnya dipendekkan atau dihilangkan 2 (dua) roda belakang menjadi roda 6 (enam) serta diubah karoserinya menjadi type “Peti Sabun”, Sehingga bus tersebut lebih mudah di operasikan didaerah tersebut yang jalannya sangat sempit dan berliku-liku yang umumnya terdapat didaerah pegunungan. Bus tersebut dioperasikan untuk melayani angkutan Kotacane Medan penumpang maupun barang didaerah Gurukinayan dan sekitarnya yaitu Berastagi, Kabanjahe dan Tiga Nderket.

profile sjaya-truck chevrolet tahun 1932.1Truck Chevrolet tahun 1932 (ilustrasi)

Sedangkan Batak Bangun (Pa Tringani)  pada tahun 1942 yang juga berasal dari kampung Gurukinayan membeli bus ban hidup (bukan ban mati) pada jaman Jepang hasil penjualan tembakau yang banyak ditanam disekitar kampung Batukarang dan sekitarnya maupun penjualan jeruk yang dijual di Tiganderket sekitar 6 (enam) kilometer dari kampung Gurukinayan yang merupakan pasar utama disekitar daerah terasebut. Beliau menjalani trayek Medan ke Pematang Siantar dan dikerneki oleh adiknya Nabas Bangun (Pa Roma).

profile sjaya-truck chevrolet tahun 1932Truck Chevrolet tahun 1932 (ilustrasi)

Pada jaman Jepang tersebut sudaranya satu kakek Mayan Sembiring Gurukinayan (Pa Ngonggar) yang juga tinggal dikampung Gurukinayan berpatungan dengan Pa Pena Sitepu Batunanggar dan Ngenan Sitepu (Pa Binje) membeli truk yang mereka pergunakan untuk berdagang tembako ke Kotacane, Aceh Tenggara yang dikemudikan oleh Rekat Sembiring Gurukinayan adik kandung bungsu Reti Sembiring Gurukinayan. Oleh sebab itu pada jaman Belanda maupun Jepang penduduk kampung Gurukinayan telah memiliki beberapa tokeh / juragan bus maupun truk. Dari sekian tokeh tersebut hanyalah Reti Sembiring Gurukinayan yang memulai kariernya sebagai kernek sedangkan lainnya hanyalah sebagai pemodal yang awalnya sebagai petani sukses. Hal ini dapat dibuktikan bahwa beberapa diantara mereka sepanjang hidupnya tidak pernah dapat mengemudikan bus/ truk yang mereka miliki antara lain saudaranya Jemat Sembiring Gurukinayan dan Mayan Sembiring Gurukinayan.

Pada tahun 1940 Reti Sembiring Gurukinayan berkongsi lagi dengan Jemat Sembiring Gurukinayan (Pa Siman) membeli mobil truk chasiss yang di daerah tersebut di sebut mobil kope bersama dengan saudaranya Ngasami Sembiring Pandia (Pa Uli/ Toko Cahaya Kabanjahe) yang berasal dari kampung Payung dekat kampung Gurukinayan  yang pada waktu itu juga membeli mobil yang sama dalam kondisi baru.

Profil Sjaya-truck chevrolet tahun 1940.Truk Chevrolet Tahun 1940, sejenis yang pernah dibeli pada tahun 1940 oleh ayahanda Reti Sembiring Gurukinayan berkongsi lagi dengan Jemat Sembiring Gurukinayan (Pa Siman)

Kemudian, pada tahun 1946, bus yang mereka miliki masuk armada perusahaan otobus Maspersada artinya mas ipersada (mas disatukan) yang dipinpin oleh Raja Oekum Sembiring Meliala (Pa Terangmalem) yang berasal dari Berastepu tapi dibesarkan di kampung Tanjung. Bergabung dengan Maspersada terpaksa dilakukan karena pada saat itu bahan bakar hilang dari pasar, sehingga dengan masuk armada Maspersada dengan sendirinya akan mendapat jatah bahan bakar untuk menunjang operasional bus mereka.

Bus yang mereka miliki dikemudikan secara bergantian dengan Batak Bangun (Pa Tringani), yang dipergunakan untuk rute pekan-pekan antara kampung Gurukinayan ke Tiganderket, Berastagi atau ke Kabanjahe.

Walaupun sudah memiliki bus/ truk bersama  Jemaat  Sembiring  Gurukinayan, Reti Sembiring Gurukinayan tidak merasa puas dengan apa yang  sudah  dicapainya,  dimana   beliau   juga   membuka   kedai   kopi dirumah saudaranya Rajangena Sembiring Gurukinayan (Pa Saman) yang kebetulan berlokasi di jalan utama di tengah kampung Gurukinayan pada tahun 1946 atau beberapa bulan setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan bekerja sama dengan Pa Miji perantauan Banjar dari Banjarmasin yang sudah berpengalaman membuka usaha kedai kopi. Disamping pintar memasak juga dapat membuat aneka   macam   kue, yang   dikampung Gurukinayan pada waktu itu merupakan makanan yang sangat digemari oleh masyarakat setempat. Pada waktu membuka kedai kopi tersebut Reti Sembiring Gurukinayan telah menjalin hubungan bisnis, dimana pada hari-hari tertentu beliau berbelanja di toko grosir kelontong toko “MO HAP” (ada spasi antara mo dan hap) yang pemiliknya bernama Mohap di ruko depan pintu masuk sebelah kanan pasar Berastagi atau disamping Kedai Kopi/ Mie “Pa Misang”, tepatnya sederetan Toko Onderdil/ SPBU  Garuda, atau dengan Toko Klontong Sinabung  Berastagi, pada saat ini. Akan  tetapi   karena   terjadi  agresi kedua tahun 1947 oleh Belanda dimana pihak pemerintah Hindia Belanda yang ingin kembali menduduki Wilayah Republik Indonesia menyebabkan sebagian besar penduduk yang tinggal di dataran tinggi Karo terpaksa mengungsi ke hutan, sebagian diantaranya mengungsi ke daerah Aceh Tenggara. Demikian juga halnya dengan situasi tidak menentu yang terjadi di kampung Gurukinayan, maka dengan terpaksa mobil bus peti sabun yang sudah mereka miliki tersebut dijual pada bulan Nopember 1947, sedangkan mobil truk chasiss “dipinjam” oleh pihak Belanda untuk mendukung agresi mereka ke daerah Kotacane dan sekitarnya yang dikemudikan oleh Tabas Surbakti (Pa Bini), yang kemudian karena merasa terancam jiwanya di daerah operasi Belanda di Aceh Tenggara (Kotacane), beliau meninggalkan truk tersebut di “Gunung Setan” sekitar Kotacane, yang akhirnya hilang tidak berbekas.

Profil Sjaya-Tabas Surbakti (Pa Bini) keponakan Reti SembiringBapak Tabas Surbakti (Pa Bini) keponakan ayahanda Reti Sembiring yang mengikuti jejaknya dari kernek, supir dan kongsi dengan pamannya sampai akhir hayatnya sebagai pengusaha angkutan bus di PO. Sinabung Jaya, dan sekarang diteruskan anaknya bernama Dalton Surbakti yang tinggal di desa Mardingding Kabupaten Karo Sumut.

Pada agresi kedua tersebut, keluargapun harus kembali mengungsi ke hutan untuk menghindar dari tentara Belanda setelah membumi hanguskan rumah mereka (rumah adat) atas perintah tentara Republik pada waktu itu dengan pertimbangan agar Belanda tidak memanfaatkan rumah mereka sebagai tempat untuk mendukung operasi penjajah (apa tentara Belanda mau tinggal di rumah adat ?). Akibat dari pembumi hangusan tersebut semua Rumah Adat (atap ijuk) yang telah dibangun dengan cara gotong royong oleh para pendahulunya semua menjadi abu dan tidak berbekas, kecuali rumah adat bapak Tingger Sembiring Gurukinayan dekat Los atau Jambur (gedung pertemuan) kampung Gurukinayan. Dalam pengungsian tersebut, pada tanggal 20 Nopember 1947 lahir anak ketiga dari adik bungsunya Reti Sembiring Gurukinayan yaitu Rekat Sembiring Gurukinayan  seorang laki-laki dan diberi nama Rumah Pudung Sembiring Gurukinayan tepatnya di hutan Liang Date, yang 21 hari sebelumnya pada 31 Oktober 1947 lahir anaknya sendiri anak yang  keenam perempuan diberi nama Nuraini br Sembiring Gurukinayan di Temburun. Dalam pengungsian ini Arnem Sembiring  yang lahir pada tanggal 20 Juni 1942 anak ke empat dari Reti Sembiring Gurukinayan telah berumur 5 (lima ) tahun  sehingga pada waktu itu dalam pengungsian dianggap cukup besar untuk diberi tugas untuk   membawa   cerek/ teko tempat minum sambil berjalan kaki ditengah hutan. Sehingga setelah selesai mengungsi dan untuk mengenang bagaimana suka dukanya dalam pengungsian pada beliau diberi panggilan sehari-hari oleh keluarga dengan sebutan “Pa Cerek” yang didaerah Karo berarti Bapak cerek, karena selama dalam pengungsian cerek tersebut tidak pernah lepas dari genggamannya sehari-hari.

Profil Sjaya-rasmi,rophian dan arnemFoto : Sesuai arah jarum jam Rasmi Sembiring (celana pendenya koyak), Rophian Sembiring dan Arnem Sembiring (Pa Cerek) di depan rumah kontrakan sederhana rumah kontrakan dinding tepas atap rumbia di Gang Sinar, Jl. Udara Berastagi Sumut tahun 1952.

Sedangkan anaknya yang ke lima Rasmi Sembiring yang lahir pada tanggal 01 Oktober 1945  masih berumur 2 (dua) tahun sehingga harus tetap digendong oleh kakaknya Baik br Sembiring Gurukinayan yang yang pada waktu itu sudah berumur 6 (enam) tahun (lahir tanggal  11 Desember 1941) kawin dengan Kenal Singarimbun yang berasal dari Mardingding. Dalam pengungsian tersebut Rasmi Sembiring mengidap penyakit rabun senja akibat kekurangan vitamin A, akan tetapi karena dapat diketahui lebih dini maka dapat disembuhkan dalam waktu yang relatif singkat.

Selama dalam pengungsian darah yang mengalir dalam diri dan jiwa  Reti Sembiring Gurukinayan bukanlah darah seorang petani seperti almarhum ayahnya Ngupahi Sembiring Gurukinayan, akan tetapi darah seorang pengusaha, dimana dalam hal ini dapat dibuktikan dalam suasana pengungsian pun bakat sebagai pengusaha dapat ditunjukkannya yaitu dengan membukan kedai kopi di tengah hutan sekitar perbatasan dengan Aceh Tenggara. Cangkir yang pada waktu itu terbuat dari bahan kaleng/ alumenium diganti dengan sepotog bambu dengan memanfaatkan ruasnya sebagai cangkir. Karena dalam hutan tersebut tidak ada saingannya maka kedai kopi darurat tersebut banyak diminati oleh para pengungsi lainnya, sehingga dalam suasana pengungsian di tengah hutan Reti Sembiring Gurukinayan dapat memberikan nafkah kepada keluarganya.

Pada awal tahun 1948 keluarga kembali ke kampung Gurukinayan dari pengungsian, dan pada waktu mau menempati kembali rumah di ladang Tambak Rahu yang ditinggal beberapa waktu pada waktu mengungsi sudah ditempati keluarga lainya yaitu Nini Bulang (Kakek) dari Kuat Sembiring Gurukinayan (Pa Jaya), dan atas pendekatan secara kekeluargaan beliau mau mengosongkan rumah tersebut, dan kembali ditempati oleh Reti Sembiring Gurukinayan beserta keluarganya.

Karena memang sudah ditakdirkan yang memiliki jiwa pengusaha maka sepulang dari pengungsian Reti Sembiring Gurukinayan kembali membuka usaha kedai kopi ditempat yang sama. Kedai tersebut cukup laris karena disamping menjual minuman dan rokok, beliau juga menjual Sukat (umbi keladi) yang direbus dan dihidangjkan dalam keadaan panas dan dimakan bersamnaan dengan “gula kerep” (gula batak/ merah yang dihidangkan dalam bentuk potongan kecil). Umbi keladi tersebut hasil ladang mereka di Tambak Rahu yang ditanam istrinya tercinta Releng br Sitepu yang mempunyai cukup andil yang cukup besar untuk membantu cita-cita suaminya yang ingin kembali memiliki bus sendiri. Dalam membuka kedai tersebut beliau dibantu oleh iparnya Musim ginting (Pa Sangkut) dan Lem Sitepu Batunanggar (Pa Nomin)

Pada tahun yang sama  yaitu pada tahun 1948, saudaranya satu kakek Mayan Sembiring Gurukinayan (Pa Ngonggar) yang berkongsi dengan Batak Bangun (Pa Tringani) membeli bus peti sabun, akan tetapi mereka mengalami musibah yang cukup fatal karena bus yang dibeli dengan susah payah di bom oleh tentara Jepang dekat sembahe pada waktu terjadi serangan dari pihak sekutu/ Inggris.

profil sjaya-bus damri chevrolet 1948 Bus Chevrolet Tahun 1948, bus peti sabun (dinding belakang bisa dibuka tutup seperti truk supaya dapat digunakan untuk memasukkan keranjang hasil pertanian pada malam hari)  seperti  ini yang pernah dibeli Reti Sembiring  Gurukinayan yang berkongsi dengan saudara sekakek Mayan Sembiring Gurukinayan (Pa Ngonggar) dan  dengan Batak Bangun (Pa Tringani), dimaa untuk menghidupkan mesinya harus diengkol dari depan.

Pa Miji  rekan bisnisnya dalam   membuka usaha kedai kopi sebelum agresi kedua,  tidak ikut ambil bagian membuka kedai kopi di Gurukinayan, akan tetapi Reti Sembiring Gurukinayan memberi bantuan modal kepada beliau untuk membuka kedai kopi/ rumah makan di dekat los Tiganderket atau jalan ke Kutabuluh. Karena keahlian beliau memasak dan membuat aneka makanan kecil, dalam waktu relatif singkat usahanya berkembang dengan pesat karena orang tidak hanya minum kopi, teh atau makan makanan kecil, tapi juga makan nasi khususnya pada hari pekan setiap hari Kamis. Kebetulan pada waktu itu ada orang  menawarkan   motor halus bekas kepada Pa Miji, dan beliau tertarik sehingga langsung membeli motor “Halus”  (dikatakan motor halus karena suara mesinnya nyaris tidak terdengar atau  “Motor Kitik/ Kecil ” yang  didaerah  Tinggi Karo   maksudnya mobil  sedan) tanpa berkonsultasi dengan Reti Sembiring Gurukinayan sebagai penyandang modal, dimana hanya dalam tempo 1 (satu) tahun Pa Miji telah mampu membeli mobil sedan dari usaha rumah makan tersebut.Akan tetapi kepemilikan mobil tersebut hanya berlangsung beberapa bulan, karena beliau menjualnya kembali setelah mengalami kecelakaan sewaktu mengemudikan mobil yang pada waktu itu mungkin belum berpengalaman. Sehingga Pa Miji yang tadinya statusnya meningkat disekitar daerah tersebut (karena tidak semua orang mampu memiliki mobil sedan) , kembali  ke  status  semula sebagai pengusaha kedai kopi/ rumah makan di Tiganderket, penurunan tingkat status sosial tersebut mungkin karena memang  belum saatnya memiliki motor halus pada waktu itu.

Profil Sjaya-Sedan Chevrolet Fleetline tahun 1948, type yang pernah di beli Pa MijiFoto : Sedan Chevrolet Fleetline tahun 1948, type yang pernah di beli Pa Miji yang di Taneh Karo disebut motor halus atau motor kitik/ kecil.

Sambil membuka kedai kopi di Gurukinayan pada tahun 1948, Reti Sembiring Gurukinayan bekerjasama dengan saudaranya Negeri Sembiring Gurukinayan (Pa Guru) dan Batak Bangun (Pa Tringani) membeli 1 (satu) unit truk, dan beberapa waktu kemudian menambah 2 (dua) unit yang dipergunakan untuk mengangkut barang sampai ke Pematang Siantar yang dimotori oleh Negeri Sembiring Gurukinayan (Pa Guru) untuk mencari muatan dan dikemudikan oleh Batak Bangun, sedangkan dari Pematang Siantar dibawa barang barang kelontong maupun minyak tanah untuk dijual disekitar Gurukinayan, Berastepu, Batukarang sampai ke Tiganderket dan sekitarnya yang pada waktu itu sangat langka dijumpai di pasar, sedangkan bus lainnya untuk menjalani trayek pekan-pekan yang dikemudikan oleh Reti Sembiring Gurukinayan beserta adik bungsunya yang poolnya di Berastepu, sedangkan yang dikemudikan Tabas Surbakti poolnya di Gurukinayan. Akan tetapi  rekan bisnisnya Batak Bangun (Pa Tringani) mengundurkan diri dari patungan tyersebut, sehingga Reti Sembiring Gurukinayan harus meminjam uang mertuanya Sepit Sitepu (Pa Sahun) yang tinggal di Berastepu untuk membeli saham Batak Bangun yang mengundurkan diri dari perkongsian tersebut.

Profil Sjaya-chevrolet tahun 1948Truck Chevrolet Tahun 1948, truck/ bus seperti ini yang dibeli Reti Sembiring Gurukinayan bekerjasama dengan saudaranya Negeri Sembiring Gurukinayan (Pa Guru) dan Batak Bangun (Pa Tringani) membeli 1 (satu) unit truck.

Pada waktu membuka kedai kopi di kampung Gurukinayan pada tahun 1948, situasi keamanan belum stabil dan ada pihak tertentu yang ingin menculik Reti Sembiring Gurukinayan,  sehingga  beliau dengan terpaksa kembali mengungsi seorang diri tidak ke hutan akan tetapi ke Berastagi. Menurut informasi dari keluarga, pada waktu beliau membuka kede kopi ada oknum/ warga diluar kampung Gurukinayan yang bertandang ke kampung tersebut dan singgah di kedainya untuk minum kopi. Setelah selesai meminum kopi, beliau langsung membayar minumannya dengan uang Jepang , akan tetapi karena pada waktu itu didaerah tersebut tidak berlaku lagi uang “Jepang” dimana yang berlaku adalah uang “Belanda” maka dengan sopan beliau mengatakan, “tidak usah dibayar”. Rupanya kerena  ucapannya  itu  membuat  “Oknum” tersebut merasa tersinggung atau tercoreng harga dirinya,  sehingga bebe-rapa hari kemudian “Oknum” tersebut beserta dengan kelompoknya berencana untuk menculik Reti Sembiring Gurukinayan dengan alasan tidak jelas. Hal ini pada waktu itu bisa saja terjadi kepada siapapun,  karena situasi yang tidak kondusif yang mengakibatkan ada istilah siapa yang kuat maka ia yang menang dalam arti seseorang dapat saja  langsung  diculik  dengan  alasan  yang  tidak  jelas yang kemudian tidak pernah kembali atau pulang kekeluarganya . Akan tetapi, sebelum rencana tersebut dapat mereka laksanakan,  ada  keluarga  dekat dari kelompok tersebut, Pa Pangkat Ginting memberitahu adiknya Bantamuli br Sembiring Gurukinayan (Nande Budi Singarimbun) di Tiganderket mengenai rencana tersebut. Sehingga malam hari itu juga adiknya Bantamuli br Sembiring Gurukinayan dengan membawa uang simpannya langsung berangkat ke Gurukinayan untuk menginformasikan rencana penculikan tersebut, dan malam itu juga Reti Sembiring Gurukinayan mengungsi ke Berastagi dan tinggal di rumah Pa Namaken Ginting Suka (keluarga dari suami adiknya Bagin Singarimbun) dengan meninggalkan keluarganya di rumah ladang Tambak Rahu (tempat jasadnya di makamkan kemudian hari) sambil membawa uang hasil usaha kede kopinya dan bantuan uang dari adiknya yang pada waktu itu sudah menjadi pedagang tembakau di sekitar daerah Tiganderket dan Batukarang.

Profil Sjaya-kedai kopi gurukinayanSalah satu suasana kedai kopi di desa Gurukinayan yang suasananya  penuh dengan kekeluargaan

Kede kopi yang ditinggalkan di Gurukinayan diteruskan oleh keluarganya Musim Ginting (Pa Sangkut) dan dibantu Lem Sitepu (Pa Nomin) dan diawasi oleh adik bungsunya Rekat Sembiring Gurukinayan (Pa Nimpan). Sedangkan istrinya yang ditinggal di kampung Gurukinayan berjualan sayur mayur dari hasil kebun mereka serta dibantu anak-anaknya.

Pada tahun tersebut juga Reti Sembiring Gurukinayan kembali membeli truk yang dipergunakan untuk mengangkut pasir dari Lau Dah (dekat Kabanjahe) yang kemudian dijual ke toko material (bangunan) di kota Kabanjahe maupun Berastagi dengan dibantu kerneknya Tabas Surbakti (Pa Bini) yang selama ini tinggal di kampung Gurukinayan. Mereka berdua tanpa kenal lelah mengangkut pasir siang malam dari Laudah untuk dijual kembali di kedua kota tersebut di atas. Sedangkan adiknya Rekat Sembiring Gurukinayan diberi tugas untuk mengawasi kedai kopi mereka di Gurukinayan.

Kemudian pada tahun 1949 atau satu tahun kemudian keluarganya menyusul pindah ke Berastagi dan mengontrak rumah petak dengan dinding tepas (teratak) atap rumbia yang sangat sederhana di Gang Sinar, Jalan Udara Berastagi (lihat foto di bawah).

profile sjaya- ibunda Releng bru Sitepu beserta anaknya  (sesuai arah jarum) Nuraini bru Sembiring, Baik bru Sembiring, Rophian Sembiring dan Rasmi Sembiring pada tahun 1952Foto : ibunda Releng bru Sitepu beserta anaknya  (sesuai arah jarum) Nuraini bru Sembiring, Baik bru Sembiring, Rophian Sembiring dan Rasmi Sembiring pada tahun 1952 di rumah kontrakan dinding tepas atap rumbia di Gang Sinar, Jl. Udara Berastagi Kabupaten Karo Sumut

Pada waktu di rumah kontrakan tersebut lahir anaknya yang ke 8 (delapan) pada tanggal 16 Juni 1951 yang diberi nama Rophian Sembiring Gurukinayan. Kemudian pada awal tahun 1952 keluarga pindah dan mengontrak rumah petak yang berdinding papan atap seng  di belakang Toko Mas Namaken/ Toko Roti Samudra, Jl. Veteran Berastagi yang kondisinya lebih baik apabila dibandingkan dengan rumah kontrakan yang ada di Gang Sinar Berastagi. (lihat foto di bawah). Pada waktu mengontrak rumah tersebut lahir anaknya yang ke 9 (sembilan) diberi nama Eriwan Sembiring Gurukinayan yang lahir pada tanggal  01 Oktober 1953.

Profil Sjaya-anak ke 8 delapan) Rophian Sembiring tahun 1952 di depan rumah petak dinding papan atap seng yang dikontrakanFoto anak ke 8 delapan) Rophian Sembiring tahun 1952 di depan rumah petak dinding papan atap seng yang dikontrak  Reti Sembiring Gurukinayan di belakang Toko “Roti Samudra” dan Toko Mas Namaken Berastagi, Dibelakang kelihatan ibunda Releng br Sitepu, dan juga terlihat baterai bekas bus “PO. PMG” dekat pintu sebelah kiri, cikal bakal “PO. Sinabung Jaya” dikemudian hari.

Satu tahun setelah pindah bersama keluarganya di Berastagi, pada tahun 1950 Reti Sembiring Gurukinayan mengundurkan diri dari kerjasama dengan saudaranya Negeri Sembiring Gurukinayan karena ingin berusaha sendiri.

Pada tahun 1950 Tidak lama kemudian, dari hasil penjualan bus/ truk tersebut ditambah dengan hasil usaha kede kopinya di  kampung  Gurukinayan  dan   bantuan uang dari adiknya Bantamuli br Sembiring Gurukinayan dan juga mertuanya  Sepit Sitepu, serta bantuan tokehnya Bapak   Pho Siong Liem pemilik  Bank “South Asia Bank” di Jl. Kesawan Medan, dibelilah mobil  chasiss  Chevrolet tahun 1950  untuk   dijadikan menjadi bus peti sabun (disebut demikian karena bantuk bodynya persis seperti kotak sabun).

Beliau mempunyai hubungan dengan Bapak Pho Siong Liem tidak terlepas dari bantuan atau rekomendasi dari tokehnya  pada waktu  beliau  masih membuka    kedai   kopi  di   Gurukinayan   yaitu   Bapak   Mohap   yang mempunyai toko grosir kelontong Toko  MO HAP (ada spaci antar huruf mo dan hap) di  depan Pasar Berastagi. Bus peti sabun yang baru dibeli masuk perusahaan   armada   bus   DIENST  (Negara Sumatera Timur) yang dioperasikan disamping membawa penumpang juga membawa komoditi pertanian disekitar daerah tersebut untuk dibawa ke Berastagi, Kabanjahe dan sekitarnya, dan selanjutnya dari sana membawa barang-barang kelontong kembali kesekitar daerah Gurukinayan/ Tiga-nderket.

Profil Sjaya-chevrolet tahun 1950 Truck Chevrolet Tahun 1950 (ilustrasi)

Akan tetapi pencantuman nama armada tersebut di atas hanya berlangsung  beberapa  bulan,  karena  pada  tahun 1950 kebetulan telah berdiri “Usaha Nasional PMG “ ( Perusahaan Motor Gunung ) yang dimiliki Kompeni Bangun (biasanya disebut Tokeh PMG) yang berasal dari  Batukarang. Dimana logo PMG meniru logo Chevrolet yang pada waktu itu kenderaan khususnys untuk kenderaan besar yang dipergunakan untuk angkutan penumpang maupun barang menggunakan mobil buatan Amerika Serikat tersebut.

Beliau memilih bergabung dengan PMG, walaupun pada saat itu sudah ada perusahaan otobus Maspersada milik Raja Oekum Sembiring Meliala. Bus tahun 1950 tersebut masuk armada PO. PMG (Perusahaan Motor Gunung) BK. 44980 nomor lambung 36 dengan trayek “Gurukinayan Pekan-Pekan”, dikemudikan   oleh   Tabas   Subakti (Pa Bini)  menjalani trayek  pekan-pekan  dari kampung Gurukinayan ke Berastagi/ Kabanjahe dan  Tiganderket pada waktu hari pekan (pasar) yaitu hari Rabu dan Sabtu ke Berastagi, hari Kamis ke Tiganderket dan hari lainnya ke Kabanjahe. (Bersambung)

 

2 Responses to Sejarah Sinabung Jaya

  1. Temsofid says:

    Lengkap ya min. hehehheehehe
    TUtus kel aku ngogesa. 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂
    bage kpeken sejarah sinabung enda. Meriah ka pe ngogesa piah nggo lupa ridi.
    hihihii..
    bujur Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *