APBD 2014 DIGUNAKAN JIKA TAK ADA KESEPAKATAN

“Kalau semuanya berjalan baik dan ada kesepakatan, maka APBD 2015 bisa digunakan. Tapi kalau tidak ada kesepakatan, maka kita akan menggunakan APBD DKI tahun 2014″

Jakarta (ANTARA News) – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DKI Jakarta Saefullah menyatakan apabila tidak ditemukan kesepakatan antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) dengan DPRD DKI, maka akan digunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2014.

“Kalau semuanya berjalan baik dan ada kesepakatan, maka APBD 2015 bisa digunakan. Tapi kalau tidak ada kesepakatan, maka kita akan menggunakan APBD DKI tahun 2014,” kata Saefullah di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu.

Menurut dia, apabila tidak dihasilkan kesepakatan antara Pemprov dan DPRD DKI, maka Gubernur akan membuat Peraturan Gubernur (Pergub) tentang penggunaan APBD 2014 dengan persetujuan Menteri Dalam Negeri (Mendagri).

Lebih lanjut, dia mengatakan penggunaan APBD DKI Tahun Anggaran (TA) 2014 tersebut nantinya tidak akan berpengaruh terhadap jalannya pembangunan di wilayah ibukota.

“Karena hanya nilainya saja yang mengacu pada anggaran tahun lalu. Sedangkan, jenis-jenis kegiatan atau program-program pembangunannya disesuaikan dengan yang telah disusun didalam anggaran tahun ini,” ujar Saefullah.

Meskipun sampai dengan saat ini APBD belum mendapat persetujuan dari Kemendagri, dia menuturkan program pembangunan serta kegiatan pelayanan masyarakat masih terus berjalan.

“Proses pembangunan dan pelayanan masyarakat tidak berhenti begitu saja. Memang ada beberapa kegiatan yang harus berhenti sementara waktu, tapi ada juga yang harus disegerakan,” tutur Saefullah.

Sementara itu, dia mengungkapkan saat ini pihaknya juga telah membentuk tim khusus yang akan melakukan klarifikasi terkait permasalahan APBD antara Pemprov dan DPRD DKI Jakarta.

“Tim khusus itu terdiri dari beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) DKI, diantaranya Inspektorat, Asisten, Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD), Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) serta dinas-dinas terkait,” ungkap Saefullah.(Ant)

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

SUATU HARI CUKERA DUDU DI LAU DEBUK-DEBUK

Oleh : Ita Apulina Tarigan*
Mata air panas Lau Debuk-debuk di Desa Daulu (Kab. Karo) cukup dikenal oleh orang-orang Karo sebagai sebuah daerah wisata yang unik. Di sana ada beberapa mata air panas yang mengalirkan air bercampur belerang ke sebuah kolam atau tepatnya danau kecil. Orang-orang bisa mandi air panas di sana.
Sebagian besar orang Karo pernah mendengar Lau Debuk-debuk sebagai tempat keramat. Konon, di sana menetap kedua putri Guru Penawar yang mati terserang cacar (remé). Sebagian orang menyebut mereka Beru Karo Sada Nioga, sebagian lain menyebutnya Tandang Riah Tandang Suasa. Meskipun ayah mereka (Guru Penawar) memiliki serbuk (pupuk) yang dapat menghidupkan kembali orang mati, Beru Kertah Ernala (Keramat Gunung Sibayak) keburu mencuri tulang-belulang mereka sebelum Guru Penawar tiba dari Taneh Alas. Begitulah awalnya, menurut cerita itu, Lau Debuk-debuk menjadi tempat pemandian kedua putri Guru Penawar yang, sebenarnya, bermerga Perangin-angin Kacinambun.
Namun, agaknya tak begitu banyak yang tahu bahwa setiap hari Cukera Dudu (disebut juga Cukera Ku Lau) selalu ada yang mengadakan upacara erpangir di Lau Debuk-debuk. Cukera Dudu adalah nama hari ke-13 setiap bulannya dalam kalender Karo yang sebulannya terdiri dari 30 hari.

Cukera Dudu Desember 2005

Untuk Desember 2005, Cukera Dudu jatuh pada hari Rabu tanggal 14. Mengunjungi Lau Debuk-debuk pada 14 Desember 2005 yl. ternyata memberi kesan berbeda terhadap Lau Debuk-debuk yang kita kenal di hari Minggu, saat banyak wisatawan dari Medan mandi di sana. Tak ada wisatawan kecuali beberapa keluarga yang sengaja datang ke sana untuk melakasanakan upacara erpangir ku lau.
Ada 4 mata air panas di luar kolam utama: 1. Telaga Beru Karo Sada Nioga, 2. Telaga Beru Sembiring, 3. Telaga Panglima dan 4. Telaga Guru Penawar. Setiap mata air sudah dipugar atas swadaya dari pengunjung yang merasa mendapat berkah dari Nini keramat mata air tersebut. Keluarga yang hendak erpangir terlebih dahulu mengadakan ercibal dan erlebuh di salah satu mata air ini.
Orang-orang yang erpangir biasanya datang dalam rombongan yang terdiri dari anggota keluarga. Ada yang datang karena memang disarankan oleh guru (dukun Karo) atau datang erpangir karena kebutuhan rutin dirinya sendiri. Para guru perjinujung, misalnya, paling tidak setahun sekali harus mengadakan erpangir ku lau.
Kelompok yang datang ke sana berasal dari mana saja. Pada Rabu 14 Desember 2005 itu, ada yang datang dari Binjai, Bahorok dan Karo Gugung. Tak jarang mereka berangkat jam 2 pagi dari kampung agar bisa tiba pagi-pagi sekali. Bahkan sehari sebelum Cukera Dudu tiba, mereka sudah sibuk mempersiapkan sesajen, memasak bekal dan membeli kebutuhan erpangir.

Urutan Acara

Sebelum erpangir dimulai, biasanya di pinggir telaga disusun berbagai macam sesajen. Bermacam penganan ada di sini, seperti pisang, cimpa, jeruk, buah pir, apel dan banyak lagi disajikan dengan rapi dan biasanya dialasi dengan tikar atau uis dagangen. Ada dua hal yang tidak pernah ketinggalan, yaitu daun sirih dan rokok yang dijepit di ranting kayu yang dipacakkan.
Maka mulailah dipanggil (erlebuh) Nini yang ingin ditemui. Seperti yang dilakukan oleh rombongan orangtua Novita Sari br Sebayang, penyanyi cantik yang namanya mengorbit akhir-akhir ini di blantika musik pop Karo. Keluarga Sebayang ini tidak pernah melewatkan Cukera Du du untuk erpangir di Lau Debuk-debuk. ”Seingatku, sejak kecil kami sudah dibawa ke sini,” ungkap Novita dengan polosnya.

Guru yang memanggil Nini biasanya dibawa oleh keluarga yang erpangir. Kebetulan Novita tidak perlu memanggil guru, karena ibunya sendiri TL beru Surbakti adalah guru. Ibu Novita adalah ketua Sada Perarih, Perkumpulan Guru Perjinujung Deleng Sibayak di Medan. Perkumpulan ini tampaknya mirip dengan Arisan Perjenujung Simpang Kuala Medan yang menjadi terkenal di dunia antropologi karena Prof. Dr. Mary Steedly dari Universitas Harvard membahasnya secara serius dalam bukunya yang berjudul Hanging Without A Rope.

Nini menghibur yang berkeluh kesah dan memberikan ramuan obat. Kadang Nini menjernihkan yang berselisih. Kebijaksanaan ini disampaikannya dengan bersenandung. Terkadang melalui dialog. Kita temukan beberapa hal yang lucu tetapi akrab atau kadang terlontar kata yang tidak dimengerti maknanya. Seperti ketika Nini meramal masa depan perekonomian seorang gadis. ”Sabar-sabar nakku, gundari lenga kin lit sénndu, cukup man ras ongkos saja. Pepagin mbué nge rehna. Ban buéna, dahkam, man embahenken pagi ku rumah galang,” ujar Nini melalui guru. Si gadis terbingung. Orang-orang di sekitarnya menjelaskan bahwa rumah galang berarti bank. Wah…….

Di semua kelompok yang melakukan ritual terdapat suasana seperti itu. Terkadang Nini mengajak menari atau meminta yang bertanya padanya untuk bernyanyi. Acara cengkerama ini berlangsung cukup lama.
Acara akan diakhiri dengan erpangir. Nini mangiri seluruh anggota keluarga dengan ramuan yang sebelumnya sudah didoakannya. Semerbak wangi bunga dan jeruk memenuhi udara mengalahkan aroma belerang. Siraman pangir di kepala disambut dengan tawa gembira. Setelah itu biasanya para keluarga pamit pada Nini. Guru mengangkat tangan tinggi-tinggi dan mata terpejam, sambil kakinya terus menari mengikuti irama musik kulcapi atau belobat yang diputar lewat tape recorder. Sampai guru akhirnya kembali normal dan Nini meninggalkan tubuhnya.

Makan Siang

Erpangir biasanya selesai menjelang siang. Setiap keluarga membawa bekal bermacam-macam lauk. Setelah erpangir mereka mandi di kolam Lau Debuk-debuk dan sesekali naik ke darat untuk makan. Demikian juga halnya guru Beru Surbakti yang memanggil Nini. Mengganti pakaian dengan basahan, kemudian melepas seluruh perhiasan emas berlian yang ada di sekujur tubuhnya.
”Mengapa begitu banyak perhiasan dipakai?” tanyaku. ”Adi la ermaga-maga, la ban mejilé, jungut-jungut Nini ah, la kari ia nggit reh,” ungkapnya seraya bersiap turun mandi ke kolam .
*ditulis 20 Desember 2005
sumber:iapulina

Posted in Adat Istiadat Karo, Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Cerita (Turi - Turin), Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

ASAL MULA BUDAYA ERLAU-LAU PADA MASYARAKAT KARO

Dari Barus, Ajinembah, Erlau-lau, Hingga Barus Jahe
(Cerita Memanggil Hujan dari Ajinembah setelah Bisikan Kalak Barus)

…“Ada sepasang suami istri yang kawin sumbang di kampung ini, karena itulah hujan tak kunjung datang dan sial akan terus menimpa desa ini,“ katanya…

Kota Barus, kota pelabuhan yang konon tersohor karena merupakan eksportir kapur barus yang mendunia, tinggallah sepasang suami istri yang sakti. Lambat laun Banyak orang yang datang kepada mereka untuk meminta kesaktian dan lainnya seperti ramuan obat-obatan, hingga membuat mereka merasa tidak nyaman untuk menetap di kota Barus.

Sepasang suami istri tersebut sepakat untuk mencari tempat yang baru agar hidup dengan tentram. Berangkatlah mereka ke dataran tinggi karo untuk mencari tempat yang baru untuk menetap. Mereka berangkat dengan membawa segenggam tanah dan air sebagai acuan tempat yang sama nantinya dengan tempat awal mereka (Barus).

Tibalah mereka di sebuah pematang sawah, dimana mereka melihat ada seorang petani yang sedang menanam padi dan bertanya kepada petani tersebut.
“ Wahai petani yang baik hati, Bolehkah saya beserta istri saya beristirahat dan bermalam di gubukmu?“ tanya sang pengelana itu kepada petani tersebut.

Sambil tersenyum, petani menjawab pertanyaan suami istri tersebut, “ Bukan saya menolak dan tidak memberikan ijin kepada kalian tapi alangkah baiknya kalian beristirahat dan bermalam di rumah saya saja,” ujarnya kepada suami istri pengelana tersebut.

Setelah pekerjaan Petani tersebut selesai, akhirnya mereka bertiga pun berangkat menuju kampung yang di kenal dengan Ajinembah. Di rumah sang petani, percakapan pun terjadi, mulai dari mengapa mereka akhirnya sampai di Ajinembah sambil menikmati ubi bakar dan teh hangat suguhan petani.

Sang Petani lalu menyarankan sejoli tersebut untuk menemui penghulu kampung yang ketika itu bermarga Ginting Munte untuk meminta izin untuk menetap di Ajinembah. Pasangan ini harus menunggu, karena kebetulan Ginting Mergana sedang menggelar syukuran pindahan rumah baru.

Hingga beberapa harinya hiruk pikuk di rumah penghulu kampung tersebut tiada habisnya, sehingga penghulu merasa risau karena tamu tamunya tak kunjung habis dan tidak ingat pulang dari rumah penghulu kampung. Lalu suami istri yang dikenal dari Barus tersebut menawarkan bantuan kepada penghulu kampung untuk mengatasi keadaan ini.

Oleh pasangan suami istri dari Barus ini, penghulu diminta menyiapkan beras, dedaunan, dan air. Setelah bahan-bahan terkumpul, Keluarga Barus tersebut menyiramkan ramuan ke kenjahe dan kenjulu rumah penghulu tersebut. Betapa terhenyaknya Penghulu karena setelah itu tamunya bagai tersadar lalu satu persatu pulang ke rumah mereka masing-masing.

Merasa terbantu oleh keluarga dari Barus ini, sebagai ucapan terimakasihnya, penghulu kampung mengangkat si Barus menjadi kalimbubu di kampung Ajinembah tersebut.

**

Tinggallah keluarga yang selanjutnya disebut Kalak Barus ini di Ajinembah. Di daerah dataran tinggi yang mengandalkan pertanian sebagai pencaharian berharap banyak pada hujan. Namun ketika itu kemarau panjang datang. Hujan tak kunjung datang dan banyak tanaman masyarakat kampung gagal panen. Sehingga masyarakat di kumpulkan oleh penghulu kampung di jambur.

Guru Sibaso atau “orang pintar” menjadi sosok yang dinantikan untuk memecahkan masalah karena dia dianggap mampu mendatangkan hujan melalui keilmuannya.
Tak perlu menunggu lama, malam itu juga Guru Sibaso dihadirkan. Seperti biasa, masayarakat terlebih dahulu akan bertanya mengapa kemarau panjang begitu tak kompromi sehingga menyusahkan masyarakat desa itu.

Dengan kemampuannya berkomunikasi dengan dunia lain, Guru Sibaso akhirnya berucap: “Ada sepasang suami istri yang kawin sumbang (sedarah) di kampung ini, karena itulah hujan tak kunjung datang dan sial akan terus menimpa desa ini,“ katanya.

Kecurigaan langsung mengarah pada pendatang baru, sejoli dari Barus. Kecurigaan yang liar membuat mereka memaksa penghulu untuk mengusir Kalak Barus tersebut. Penghulu Kampung yang bijaksana dan welas asih sangat bersedih, mengingat pasangan tersebut sangat baik hatinya dan sakti pula kemampuannya. Namun atas permintaan rakyatnya, Penghulu akhirnya meminta Kalak Barus tersebut meninggalkan Ajinembah.

Tak banyak yang bisa dilakukan Kalak Barus ini. Tidak untuk menangkal apa yang mereka tuduhkan, tidak juga membela diri. Mereka hanya harus pergi. Tanpa meninggalkan kesan lebih buruk, pasangan ini sambil tersenyum datar berlalu. Namun sebelum berlalu, Kalak Barus ini berbisik pada pengulu.

“Jika kalian ingin hujan datang ke kampung ini, maka semua masyarakat kampung harus mandi dan membasahi seluruh kampung ini “ ujarnya kepada penghulu.

**

Dalam perjalanannya, Kalak Barus ini menemukan sebuah tempat yang tanah dan airnya sama dengan yang dibawanya dari barus. Suami istri tersebut pun membangun gubuk untuk mereka tinggal disana. Nama ini sekarang berkembang dan dikenal dengan Barus Jahe. Mereka hidup tentram di sana.

Rupanya Ajinembah yang ditinggalkan tidaklah seberuntung itu. Berbulan-bulan ditinggalkan Kalak Barus, hujan tak juga datang. Ginting munte yang awalnya tak rela mengusir Kalak Barus ini semakin menyesal. Namun ia teringat akan pesan barus tentang hujan.

Setengah putus asa, Merga Ginting ini memutuskan melaksanakan apa yang dipintakan Kalak Barus tersebut. Lagi, Penghulu ini terhenyak karena tak lama setelah itu hujan turun dengan derasnya. Rakyat Ajinembah menyambut hujan dengan sukanya. Penasaran, rakyat yang seperti mendapat berkah dari langit bertanya akan penghulu, apa gerangan yang membuat hujan datang begitu derasnya setelah begitu lama dinantikan.

Terharu, penghulu dalam tangisnya menceritakan pengalamannya dengan Kalak Barus dan pesan yang disampaikannya sebelum berlalu dari Ajinembah. “ Aku menyesal telah mengusir Barus dan istrinya dari kampung kita ini, dia lah yang berpesan kepadaku agar melaksanakan ini sebelum dia pergi “ jawabnya kepada masyarakat kampung.

Penghulu Kampung Pun Menyuruh Masyarakat Kampung Mencari Barus Dan Istrinya Karena Merasa menyesal telah mengusir mereka. Selang beberapa bulan, akhirnya orang yang disuruh menemukan si Barus dan istrinya dan meminta mereka berdua agar kembali ke kampung Ajinembah karena merupakan pesan dan penyesalan penghulu kampung beserta masyarakat.

Kalak Barus pun berterimakasih atas niat baik penghulu dan rakyatnya, namun Kalak Barus ini sudah terlanjur suka dengan tempat baru mereka.
“Sampaikan terima kasih kami kepada penghulu kampung, kami sudah berbahagia di tempat ini dan berharap penghulu kampung tidak melupakan kami,” katanya dalam kesederhanaannya.

Atas pesan balasan yang dibawa rakyat Ajinembah dari Barus pada penghulu, penghulu tak puas. Dia merasa harus meminta sendiri kepada Kalak Barus tersebut dan memutuskan pergi ke Barus Jahe. Barus tetap menolak dengan alasan mereka berbahagia berada di barus jahe dan inilah tempat cikal bakal keturunan mereka berkembang nantinya.

Penghulu kampung Ajinembah Ginting mergana pun meminta ijin kepada Si Barus agar dapat membangun tempat dirinya di Barus jahe. “Di sini (Barusjahe) kubangun tempat untukmu, sebagai tanda aku adalah anak berundu, Kalimbubu,” kata pengulu Ajinembah tersebut.

Ikrar tersebut diterima sebagai awal mula berdiri Barus Jahe yang kemudian dipenuhi oleh keturunan Kalak Barus. Semakin beranak pinak mereka, akhirnya daerah-daerah sekitar Barus Jahe dibangun daerah-daerah baru oleh Keturunan Kalak Barus yang sakti tersebut.

Posted in Adat Istiadat Karo, Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Cerita (Turi - Turin), Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

AHOK SEBAR ANGKET KEPADA CAMAT DAN LURAH TERKAIT APBD DKI

Jakarta (ANTARA News) – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menggelar angket kepada seluruh camat dan lurah di lima wilayah ibukota terkait Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI dan DPRD DKI Jakarta.

Angket tersebut diberikan secara langsung oleh Ahok saat berlangsungnya kegiatan pengarahan kepada camat dan lurah yang dilaksanakan di Balai Kota DKI Jakarta.

“Ini namanya angket versi Ahok. Selanjutnya, terserah Anda. Kan saya sudah bilang, saya siap hadapi DPRD. Makanya, saya tawarkan kepada mereka (camat dan lurah), kalau dukung DPRD, artinya membantu memecat saya,” kata Ahok di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu.

Menurut dia, dengan digelarnya angket terhadap camat dan lurah itu, maka diharapkan untuk selanjutnya tidak akan ada lagi anggaran-anggaran yang tidak diperlukan, namun muncul secara tiba-tiba didalam APBD DKI.

“Tidak ada toleransi lagi untuk anggaran siluman. Tidak boleh ada anggaran yang diselipkan untuk hal-hal yang tidak dibutuhkan. Kalau oknumnya sampai ketahuan, langsung dipecat, dipidana,” ujar Ahok.

Dia menuturkan pelaksanaan angket bersi Ahok tersebut bukan bertujuan untuk mengumpulkan massa pendukung, akan tetapi memberikan kebebasan kepada seluruh jajarannya untuk menentukan APBD yang paling sesuai dengan yang telah diajukan.

“Kalau camat dan lurah merasa sesuai dan setuju dengan APBD versi DPRD, berarti APBD versi Pemprov DKI yang pakai e-budgeting harus diubah. Tapi kalau tidak setuju dengan anggaran versi DPRD, berarti memang ada anggaran siluman yang dimasukkan,” tutur Ahok.

Dalam kesempatan tersebut, salah satu lurah, yaitu Lurah asal Kelurahan Kamal, Jakarta Barat Joko Mulyono mengaku telah menemukan anggaran yang sebelumnya tidak pernah diajukan.

“Ada satu anggaran yang tidak pernah kami usulkan, tapi tiba-tiba muncul didalam APBD versi DPRD, yaitu anggaran pembuatangapura ornamen Betawi di Kantor Kelurahan Kamal sebesar Rp150.000.000. Sehingga, saya menyatakan tidak setuju dengan APBD versi DPRD,” ungkap Joko.(Ant)

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

KANTOR PELAYANAN KOPERASI KMGR DIRESMIKAN

HARIAN SUMUT | Kabanjahe – Kantor Pelayanan Koperasi Mega Gotong Royong Tanah Karo di Kota Kabanjahe diresmikan, Senin (2/3).

Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita pintu kantor oleh Kadis Koperindag Karo, Mulia Barus didampingi Penasehat Lusya Sukatendel bersama Ketua Umum, Tuty Dewi Sukatendel, Ketua Harian Esra S Depari, Netty Herawaty Ginting (Sekretaris) dan Sabar Kaban (Bendahara).

Badan Pengawas, Zulkarnain Sembiring, Hosanna br Karo dan Edy Frinz Sebayang serta jajaran anggota dari 45 unit pelayanan mencakup Tanah Karo, Deliserdang dan Simalungun.

Turut hadir tamu undangan dari DPRD Karo, Effendy Sinukaban, Martin Luther Sinulingga, Pengurus GAMKI Tanah Karo Gemar Tarigan dan Martinus Ginting, Kompak Pers Karo, Yayasan Sumber Terang Kasih Kabanjahe dan para simpatisan dari Gerakan Koperasi dan Gerakan Perempuan Tanah Karo.

Mulia Barus selaku pihak pemerintahan Kab. Karo mengucapkan selamat dan sukses atas pembukaan kantor layanan baru di Kota Kabanjahe yang mana kota Kabanjahe sebagai ibukota Kabupaten Karo disebut sebagai barometer dalam segala aspek kehidupan masyarakat Karo.

Pengurus KMGR Tanah Karo, Tuty Dewi Sukatendel, Esra S Depari, Netty Herawaty Ginting, Sabar Kaban dan Lusya Sukatendel dalam sambutannya, puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih dan terima kasih kepada jajaran anggota, tamu undangan serta simpatisan maupun para penyumbang yang mendukung pelaksanaan acara peresmian kantor layanan di Kabanjahe ini, dan memberikan angin segar bagi kita untuk tetap pada tujuan utama untuk menyatukan kekuatan warga masyarakat yang satu tujuan mewujudkan kesejahteraan secara bersama-sama.

“Mari kita semakin semangat dan mendukung perjalanan koperasi ini untuk lebih maju dan sejahtera bagi anggota serta bermartabat di lingkungannya dengan membayar kewajiban-kewajiban secara tertib, disiplin dan menjaga secara bersama-sama atas hal-hal yang tidak baik maupun tidak benar dan menjaga nama baik koperasi dilingkungan luar koperasi” ujar Lusya Sukatendel dengan semangat.

Tambah Esra S Depari, kantor baru ini dibuka setiap hari kerja dengan pelayanan petugas yang terlatih untuk melayani tabungan umum, tabungan cerdas dan tabungan simeteras, ditambah setiap anggota baru diakan pendidikan tentang koperasi setiap hari Selasa mulai jam 09.00 WIB s/d 11.00 WIB bertempat di kantor layanan Kabanjahe.

Layanan simpan-pinjam dapat dilakukan di Kabanjahe untuk mendapatkan layanan prima dan ramah. Walaupun layanan mobil tetap dilakukan bagi unit layanan pedesaan yang jauh dari jangkaun seperti yang telah dilakukan selama kurun waktu tujuh tahun terakhir mencakup Ujung deleng, Kidupen, Kutabuluh simole, Sarinpadang Simalungun dan Deli serdang.

Peresmian kantor layanan yang terletak di Jalan Bom Ginting 47 Kel.Lau Cimba Kabanjahe berlanjut dengan ibadah singkat dari Rohaniawan Pdt Samuel J Sibero (Moderamen GBKP Kabanjahe) dengan mengambil Nats Kabar Baik dari Kitab Yeremia 29: 7 yang menitik beratkan agar orang percaya kepada Mesias. (ber)
sumber: hariansumut

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

KUNJUNGAN DR. JUNIMART GIRSANG DI KARO, HIV-AIDS TREND PEMBAHASAN

HARIAN SUMUT | Kabanjahe- Guna menyerap permasalahan dari konstituennya secara langsung, Anggota Komisi III DPR RI Dr Junimart Girsang SH MH melakukan kunjungan kerja ke Pemkab Karo di Ruang rapat Kantor Bupati Karo Jalan Jamin Ginting No. 17 Kabanjahe, Rabu (4/3).

Kunjungan ini dilakukan terkait dengan penyerapan aspirasi dan pemantauan sasaran pembangunan daerah di Kabupaten Karo sesuai fungsi kedewanan di bidang pengawasan, anggaran dan legislasi.

Kedatangan mantan pengacara kondang yang merupakan anggota Mahkamah Kehormatan DPR/MPR ini langsung disambut Bupati Karo Terkelin Brahmana SH bersama Kapolres Karo AKBP Viktor Togi Tambunan SH SIK, Kepala Kejaksaan Negeri Kabanjahe, Perwakilan DPRD Karo, para Asisten dan pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemkab Karo.

Bupati Karo Terkelin Brahmana, dalam sambutannya mengucapkan rasa terima kasihnya atas kunjungan Anggota Komisi III DPR RI Dr Junimart Girsang SH MH ke Kabupaten Karo dan berharap hasil pertemuan hari ini dapat menjadi oleh-oleh untuk menjadi bahan masukan dan rapat di DPR RI pusat untuk kemajuan pembangunan Karo ke depannya.

Usai mendengarkan paparan Kapolres Tanah Karo dan Kejaksanaan Negeri Kabanjahe, putra Saribudolok yang merupakan politisi PDI Perjuangan ini memaparkan sejumlah persoalan yang sering diterimanya dari daerah pemilihannya. Di daerah ini menurutnya, hal-hal yang sering dilaporkan kepadanya selaku wakil adalah tentang Narkoba, Judi serta tingkat penderita HIV-AIDS yang tinggi, kasus-kasus pertanahan dan perizinan, seperti kasus PT WEP dan PT MIL, dan masalah lain yang sempat dibahas adalah tentang Kejaksaan dan Kepolisian yang memerlukan perbaikan infrastruktur serta tambahan anggaran untuk memaksimalkan program-program kerjanya serta kesulitan pemerintah dalam mendapatkan lahan untuk fasilitas umum seperti Tempat Pemakaman Umum.

Terutama yang sering diberitakan media massa selama ini tentang tingginya pengidap HIV-AIDS di Tanah Karo bukanlah rahasia umum lagi, bahkan sudah menjadi bahan pembicaraan di komisi III DPR RI, yang mana berita tersebut telah membuat resah Junimart. Pada tahun 2014, berdasarkan laporan kasus HIV AIDS, Karo menduduki peringkat ke 10 di Indonesia dan di Sumatera Utara, Karo juga menduduki peringkat 1 di kabupaten/kota provinsi Sumatera Utara.

Lanjut mengenai Judi, bukan hanya di Karo baik Simalungun dan Pakpak Bharat umumnya masyarakat menganggap judi adalah bagian dari adat, Junimart Girsang mengatakan “Itu bukanlah pembenaran tidak ada alasan, judi adalah judi,” ungkapnya. Beliau juga mengingatkan Kapolres Karo, Viktor Togi Tambunan, agar lebih ekstra dalam menekan premanisme di Tanah Karo yang selama ini melakukan pungutan-pungutan liar, karena biasanya kehidupan premanisme tidak jauh dari Narkoba dan penyakit-penyakit sosial masyarakat lainnya.

Menjawab pertanyaan Junimart, Bupati Karo Terkelin Brahamana SH mempersilahkan instansi terkait untuk memberikan pemaparan seperlunya. Menurut Kadis Kesehatan Kabupaten Karo Jansen Perangin-angin tercatat 555 orang yang positif mengidap HIV-AIDS bersifat komulatif, baik yang sudah meninggal. Peningkatan jumlah penderita HIV di Tanah Karo bukanlah hasil penularan yang terjadi di tempat ini, karena 75% dari yang tercatat postitif adalah masyarakat karo yang sebelumnya diluar Kabupaten Karo. Dinas Kesehatan juga telah melakukan pemeriksaan kepada 3000 Ibu hamil dan hasilnya ternyata seluruhnya negatif.

Terkait dengan tingginya kasus Narkotika di Tanah Karo pun tidak berdampak secara langsung terhadap penularan HIV, karena sampai saat ini Dinas Kesehatan belum ada menemukan penularan melalui jarum suntik, selain satu orang beberapa waktu lewat yang tertular melalui transfusi darah.

“Jadi penularan HIV-AIDS secara langsung di Tanah Karo bisa saya simpulkan hampir tidak ada,” ujarnya.

Mendapat jawaban dari Dinas Kesehatan, Junimart terlihat lebih lega karena selama ini ada ketakutan yang besar para wisatawan yang akan berkunjung ke Tanah Karo karena hal tersebut. Beliau juga mengatakan akan membahas lebih lanjut mengenai, Kartu Sakti Jokowi yang sampai saat ini belum selesai serta permohonan kejaksaan dan kepolisian dengan pihak-pihak terkait sekembalinya ke Jakarta. (hs/rs)
sumber: hariansumut

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

MENGENDARAI SEPEDA MOTOR PAGI DINI, GADIS BELIA DIRAMPOK DAN DIPERKOSA

IMANUEL SITEPU. DELITUA. Apa yang dialami MK (16) bersama temannya Rendy (22) warga Jl. Pertahanan Patumbak kiranya menjadi pelajaran bagi orangtua agar tidak membiarkan anak gadisnya keluar tengah malam. Bukan saja keretanya Honda Vario dirampok, keduanya pun disekap. Lalu, MK yang pelajar kelas 1 SMU ini diperkosa secara bergilir oleh keempat perampok [Rabu 25/2: sekira 02.00 wib].

Kawanan perampok itu mengendarai mobil Avanza warna hitam. Menurut keterangan Rendy kepada Sora Sirulo di Polsek Delitua, saat itu, ia minta diantarkan oleh MK ke rumah temannya di seputaran Titikuning. Begitu keduanya hendak pulang ke rumah di Jl. Karya Jaya (Pasar 5) keduanya dipepet oleh pengendara Avanza hitam.

Rendy dengan cepat memacu keretanya. Namun, Avanza itu tetap menempel dari belakang hingga di Kecamatan Namorambe.
“Waktu itu kami baru pulang dari rumah teman kakakku. Namun, sampai di Pasar 5, tiba-tiba kami diikuti mobil Avanza warna hitam, bang. Pelakunya ada 4 orang,” tutur Rendy.

Begitu sampai di tempat sunyi, tepatnya di Desa Penampungan (Kecamatan Namorambe), pengendara Avanza yang terdiri 4 orang berbadan tegap langsung memepet. keduanya langsung terjatuh ke tanah. Lalu, 3 pelaku yang mengaku anggota polisi itu turun dari kenderaan dan salah satu diantara mereka menguasai kereta milik korban.

Kedua bocah malang ini dimasukan ke dalam mobil. Dalam kondisi tangan diborgol dan mata ditutup dengan kain, keduanya dibawa ke tempat sunyi di kawasan Kecamatan Namorambe. Tidak jauh dari jembatan, MK kemudian diturunkan lalu diperkosa secara bergilir di semak-semak oleh ke empat pelaku.
“Dalam kondisi tangan diborgol, kami dibawa entah ke mana. Saya pun tidak tau persis tempatnya. Tapi seingatku menuju arah Namorambe. Sebenarnya, kami sudah berteriak rampok ketika dipepet. Tapi tidak ada yang mendengar karena jalan sudah sunyi,” katanya di Polsek Delitua.

Pantauan Sora Sirulo ini di Polsek Delitua (Siang), begitu melihat kehadiran kedua bocah ini bersama orangtuanya di Polsek Delitua, anggota tugas luar Polsek Delitua langsung menggiring keduanya untuk melakukan olah TKP. Dari hasil olah TKP yang dilakukan, ternyata lokasi perampokan yang dialami kedua bocah tersebut berada di wilayah hukum Polsek Namorambe. Keluarga korban kemudian diarahkan untuk membuat laporan ke Polsek Namorambe.

Kanit Reskrim Polsek Delitua AKP Martualesi Sitepu SH MH ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa, sesuai olah TKP, kejadian perampokan yang dialami keduanya berada di wilayah hukum Polsek Namorambe.

Lanjut dijelaskan oleh Sitepu, kedua korban mengaku diikuti dari Pasar 5 Jalan Namorambe. Lalu, sesampainya di Desa Penampungan (Kecamatan Namorambe), keduanya dirampok dan disekap. Menurut keterangan korban, dia diperkosa di sebuah jembatan.

“Saat kita tunjukkan beberapa jembatan yang ada di wilayah hukum Polsek Delitua, korban mengaku tidak sesuai. Sementara menurut keterangan salah satu korban, ia berhasil melarikan diri dan diselamatkan oleh Kepling di kawasan Simalingkar B. Satu korban lainnya dilepaskan di Jl. Flamboyan Raya sebelum Pajak Melati. Karena TKP awalnya berada di wilayah Namorambe, kita arahkan korban membuat laporan ke Polsek Namorambe,” papar Martualesi Sitepu.
sumber : sorasirulo

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

BATU PERTAMA MENARA 125 TAHUN INJIL KE KARO

NGGUNTUR PURBA. KABANJAHE. GBKP membangun Menara ‘125 Tahun Injil Masuk ke Taneh Karo’, ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Karo Terkelin Brahmana SH, Sekdakab Karo dr. Saberina MARS, Plt. Ketua Moderamen Pdt. Erick J. Barus MTh, Ketua Panitia Pembangunan Menara Ir. Budi D. Sinulingga dan salah seorang perwakilan dewan penasehat. Peletakan batu pertama ini diadakan di Kompleks GBKP Kota, Kabanjahe [Jumat 27/2].

Pembangunan menara ini terkait dengan dua kegiatan penting GBKP yakni Sidang Sinode di Retreat Centre Sukamakmur [11-17 April 2015] dan Jubileum 125 Tahun Masukny Injil ke Tanah Karo di Stadion Samura (Kabanjahe) [18 April 2015].

Peletakan batu pertama Menara GBKP diawali Kebaktian yang dipimpin oleh Pdt. Erick J. Barus MTh. Di dalam khotbahnya, ia menyampaikan bahwa penyelenggaraan Sidang Sinode dan Jubileum 125 Masuknya Injil ke Tanah Karo adalah dalam rangka melaksanakan Tri Tugas panggilan gereja; yakni persekutuan dan pelayanan dengan agenda utama evaluasi pelayanan GBKP selama 5 tahun berjalan, menyusun program pelayanan GBKP 5 tahun ke depan, pemilihan Moderamen GBKP untuk 5 tahun ke depan, peringatan masuknya injil ke Suku Karo (Jubileum ke-125 tahun).
pelestarian Buluhawar sebagai tempat masuknya injil

Ada empat hal yang ingin dicapai melalui Jubileum ini, yaitu pembangunan Menara GBKP, pendirian shelter GBKP untuk penderita HIV/AIDS dan Narkoba, peningkatan kualitias lembaga-lembaga pendidikan khususnya sekolah-sekolah yang dikelola oleh GBKP dan pelestarian Buluh Awar sebagai tempat pertama sekali masuknya injil ke Taneh Karo.

“Diharapkan Menara GBKP yang dibangun dapat membangun dan meningkatkan spiritual masyarakat Kota Kabanjahe untuk lebih ingat akan Tuhan,” ujar Pdt. Erick Barus.

Menara GBKP 2Bupati Karo Terkelin Brahmana SH dalam sambutannya mengingatkan panitia bahwa pembangunan fisik bukan yang utama. Menurut, terpenting adalah pembangunan mental agar umat GBKP di Taneh Karo semakin mengkhayati apa yang diajarkan Yesus dalam kehidupan sehari-hari. Dia berpesan agar semua tokoh agama, gereja dan masyarakat berpartisipasi aktif dalam menghadapi berbagai krisis dan tantangan kehidupan sehari-hari sehingga tidak mudah terpancing oleh isu-isu yang bisa memecah belah masyarakat dan senantiasa mendukung program pembangunan pemerintah daerah.

“Saya berharap pembangunan menara ini betul-betul digunakan seperti yang disampaikan bapak pendeta tadi, yaitu meningkatkan spriritual masyarakat Kota Kabanjahe. Bukan seperti ketika saya bersekolah di sini, dimana bunyi lonceng lebih sering menandakan adanya jemaat GBKP yang meninggal,” ujar Terkelin.

Sekdakab Karo dr. Saberina MARS dalam sambutannya meminta agar panitia tetap saling bergandengan tangan dan percaya kepada Tuhan bahwa setiap masalah pasti ada solusinya, terutama menghadapi masalah dana pembangunan menara. Dia berharap, dengan adanya menara ini, Taneh Karo dapat lebih maju lagi.

Ketua panitia pelaksana pembangunan menara GBKP Ir. Budi D. Sinulingga dalam laporannya menyatakan, menara GBKP akan dibangun setinggi 38 meter di kompleks GBKP Kabanjahe dan memakan biaya Rp. 2,5 M. Menara ini akan berfungsi untuk pendidikan agama luar sekolah yang diharapkan dapat meningkatkan nilai keagamaan Kristen dan kebudayaan Karo.
sumber : sorasirulo

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

KASUS KEMATIAN SALIUS BARUS MASIH MISTERIUS

HARIAN SUMUT |Tanah Karo – Kematian Salius Barus anak kelas I SMA Katolik Jl. Irian Kabanjahe diduga ada keterkaitannya dengan jaringan bisnis haram.

Menurut pihak orang tua korban, Puji Barus Ketika diwawancarai wartawan Harian Sumut di rumahnya Desa Suka Sipilihen Kecamatan Tigapanah Tanah Karo. Orang tua korban berkomentar tentang kronologis kejadian kematian anaknya atas tuduhan pencurian di ladang Jodea Ginting.
yang melihat pertama Endut Ginting alamat Desa Suka Sipilihen.

Lalu memberitahu kepada pemilik ladang terong jepan, Jodea Ginting alamat yang sama, kemudian mereka berdua memanggil Ketua Karang Taruna Risman Tarigan, dan hadir juga Herdi Tarigan lalu menganiaya korban di lokasi ladang Endur Ginting secara bersama sama pada hari Minggu sore tanggal 18 Januari 2015.

Singkat cerita, pelaku penganiayaan menyerahkan korban kepada pak udanya, Jointa Barus yang juga bertempat tinggal di desa itu, lalu pak uda korban membawanya dari tempat kejadian penganiayaan ke arah lokasi pas di depan rumah korban, selanjutnya korban meminta pada pak udanya, dia mau menemui ibunya di ladang pak udanya meminta pada Salius, “Kamu jangan lama nanti masalah tuduhan pencurian ini masih kita lanjuti lagi di kantor kepala desa,” ungkap pak udanya menirukan perbincangan terakhir mereka. Setelah tunggu punya tunggu, Salius Barus tidak muncul dan ketika ditanya pada ibu korban juga tidak mengetahui keberadaan korban.

Kemudian esok harinya ada warga memberitahukan kepada pak udanya bahwa Salius Barus sudah tergantung di perladangan juma rabin desa Suka pada hari senin 18 Januari 2015. Informasi itu menyebar dan diketahui dari Rama Ginting langsung kepada pak udanya Salius.

Menurut orang tua korban, kronnologis kejadian ini ada dugaan kami pihak keluarga korban, Salius Barus ketika dituduh melakukan pencurian terung jepang di ladang Jodea Ginting anggota Karang Taruna juga mencurigai korban sebagai mata-mata dan penghalang bagi para pelaku untuk melakukan bisnis haram atau ilegal yang dilakukan oleh oknum anggota Karang Taruna tersebut.

Pihak keluarga korban sudah membuat laporan pengaduan ke Polsek Tigapanah dan pihak Polsek sedang melakukan proses penyidikan dan pengembangan pemeriksaan terhadap para pelaku yang telah dilaporkan orang tua korban.

Kapolsek Tigapanah AKP B. Sitanggang membenarkan bahwa laporan pengaduan sudah diterima pihaknya dan masih terus mengembangkan penyelidikan terkait dugaan-dugaan pihak keluarga korban mengenai sejumlah nama yang disinyalir sebagai pelaku. Namun sayang, pihak Polsek Tigapanah hingga berita ini dikirim ke meja redaksi sepertinya kesulitan untuk mengungkap dugaan pembunuhan itu. (Rusmadi Lubis)
sumber: hariansumut

Posted in Berita, Berita Alumni SMA I Kabanjahe Angkatan 68/70, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

PEGAWAI KPK TAK TAKUT ANCAMAN SANKSI MENTERI PAN DAN RB

Jakarta – Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak takut dengan ancaman Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menteri PAN dan RB) Yuddy Chrisnandi yang akan menjatuhkan sanksi kepada pegawai KPK yang berdemo.

Para pegawai justru mempertanyakan ancaman tersebut atas aksi unjuk rasa yang dilakukan untuk memprotes kebijakan pimpinan melimpahkan berkas perkara Komjen Budi Gunawan ke Kejaksaan Agung.

Menurut Penasihat Wadah Pegawai KPK, Nanang Farid Syam, Yuddy tidak memiliki kapasitas untuk menjatuhkan sanksi kepada pegawai KPK. Menurutnya, pegawai KPK diatur dalam UU KPK.

“Apa kapasitas dia memberikan sanksi pada pegawai KPK? Dia paham KPK itu UU (Undang-undang)-nya apa? Jadi kami tidak membangkang pada manusia, tapi kami membangkang karena kebenaran diinjak-injak. Itu saja,” kata Nanang di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (3/3).

Untuk itu, Nanang menegaskan pegawai KPK tidak terpengaruh ancaman tersebut. Bahkan, pegawai akan kembali menggelar aksi jika pimpinan KPK tidak memenuhi tuntutan mereka.

“Tidak ada pengaruhnya,” tegasnya.

Aksi protes terhadap keputusan pimpinan KPK melimpahkan perkara Budi Gunawan ke Kejaksaan Agung dilakukan ratusan pegawai KPK di pelataran Gedung KPK, Jakarta, Selasa (3/3) pagi.

Aksi itu turut dihadiri Pelaksana Tugas (Plt) Pimpinan KPK, Taufiequrachman Ruki dan Indriyanto Seno Adji. Nanang mengaku kehadiran dua pimpinan sementara itu tidak direncanakan sebelumnya.

Dikatakan, meski memprotes kebijakan pelimpahan perkara Budi Gunawan, bukan berarti para pegawai memusuhi pimpinan secara personal.

“Saya tidak tahu (kehadiran Taufiequrachman Ruki dan Indriyanto Seno Adji). Ini ranah publik. Kami aksi spontan, siapapun yang merasa ini ada aksi, silakan. Kami sedang tidak memusuhi orang. Kami memusuhi ketidakbenaran. Itu saja. Kalau ada yang tidak benar pada orang, itu musuh kami,” tegasnya.

Seorang penyelidik KPK, Ali, menyatakan aksi para pegawai merupakan peringatan kepada pimpinan KPK. Meski pimpinan memiliki hak untuk memutuskan langkah KPK, para pegawai memiliki sikap untuk mengkritisi keputusan tersebut.

“Ini sekadar mengingatkan pimpinan kita. Walaupun mereka punya keputusan bahwa pegawai punya sikap,” katanya.

Ali menuturkan, usai menggelar aksi, para pegawai dikumpulkan Taufiequrachman Ruki di Auditorium Gedung KPK. Namun, Ali enggan membeberkan materi pertemuan itu.

“Kita taat asas kalau memang rahasia, untuk internal kita, kita simpan,” katanya.

Sebelumnya, Menteri PAN dan RB Yuddy Chrisnandi menyatakan, pegawai KPK harus mengikuti prosedur institusi dengan tidak menolak keputusan pimpinan.

Bahkan, Yuddy menyatakan, akan menjatuhkan sanksi kepada pegawai yang turut dalam aksi tersebut.

“Akan ada sanksi. Ancaman ini saya berikan peringatan agar bekerja dengan baik,” kata Yuddy.
sumber: beritasatu

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment