ENAM KAB/KOTA USULKAN PROVINSI SUMATERA TIMUR

Serahkan Berkas ke Gubsu

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Enam kabupaten/kota yaitu Asahan, Batubara, Tanjungbalai, Labuhanbatu,  Labuhan Batu Utara dan Labuhan Batu Selatan bergabung mengusulkan pembentukan Provinsi Sumatera Timur. Berkas usulan diserahkan Komite Pemerkaran Provinsi Sumatera Timur kepada Gubsu,H Gatot Pujo Nugroho, Kamis (24/7).

Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Komite Muslim Simbolon, Sekretaris Kamsil Rambe, Ketua Dewan Pengarah Sigit Pramono Asri , Ketua DPRD, mewakili Pemerintah kabupaten/kota, tokoh agama dan masyarakat dari enam kabupaten/kota.

Gubsu didampingi Sekda Provsu Nurdin Lubis menerima berkas usulan berupa naskah kajian akademik yang dilakukan oleh Pusat Penelitian unimed, surat persetujuan dan dukungan pemkab/pemko, DPRD , dukungan seluruh kepala desa/ lurah, pemerintahan desa, ormas dan tokoh agama.

“Ini akan kami evaluasi dan teliti dan koordinasikan dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Utara,” ujar Gubsu ketika menerima berkas usulan dimaksud.

Gubsu kemudian meminta Sekda Provsu H Nurdin Lubis untuk meneliti berkas usulan dan berkas serta melakukan koordinasi dengan DPRD Provinsi Sumatera Utara.

Ketua Komite Pemekaran Provinsi Sumatera Timur Muslim Simbolon menjelaskan bahwa pemekaran sudah diperjuangkan sejak tahun 2002. Berbeda dengan daerah lain, ujar Muslim, kami terlebih dahulu menyiapkan naskah akademis kemudian disampaikan kepada enam Kepala Daerah. “Semuanya menyetujui,” ujarnya.

Simbolon menjelaskan, berdasarkan hasil studi, dari 35 indikator yang dipersyaratkan oleh Peraturan Pemerintah  78/2007  Tentang Tatacara Pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan Daerah, diperoleh hasil poin 452 yang artinya sangat direkomendasikan. “Provinsi Induk skornya 486 poin, artinya dengan pemekaran tersebut tidak akan memiskinkan provinsi induk,” jelasnya.

Ditambahkan Muslim, apabila dimekarkan maka provinsi baru bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 7,87 persen pada tahun 2014-2019 yang berarti di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

Beberapa tokoh bergabung dalam Komite Pemekaran Provinsi Sumatera Timur diantaranya H Ajib Shah S.Sos sebagai Ketua Dewan Pembina dan Abdul Wahab Dalimunthe sebagai salah satu Ketua Dewan Pengarah. (rel/mea)
sumber: sumutpos

 

Posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

ANAK PENJUAL JAGUNG MASUK TARUNI AKEDEMI MILITER TNI AD

Sersan Taruni Puspita Ladiba

Medan-andalas Sersan Taruni Puspita Ladiba menjadi salah satu putri terbaik asal Kota Medan yang diterima menjadi Taruni Akademi Militer Tahun 2013. Jumat (25/7) dara berparas manis tersebut silaturahmi ke  Kasdam I/BB Brigjen Cucu Sumantri di Makodam I/BB Jalan Gatot Subroto Km 7,5 Medan.

Kepada Puspita Ladiba, Kasdam I/BB mengaku sangat bangga kepada salah satu putri terbaik dari Kota Medan itu diterima menjadi Taruni Akademi Militer.

Kasdam berpesan selama mengikuti pendidikan harus menjadi prajurit yang terbaik dan memegang teguh jati diri karena TNI adalah Tentara Rakyat yang berasal dari warga negara Indonesia.

Tentara Pejuang, tentara yang berjuang untuk menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tidak mengenal menyerah dalam melaksanakan serta menyelesaikan tugasnya.

Tentara Nasional, tentara kebangsaan Indonesia yang bertugas demi kepentingan negara di atas kepentingan daerah, suku, ras, dan golongan agama, serta Tentara Profesional, tentara yang terlatih, terdidik, dan diperlengkapi secara baik.

Puspita Ladiba lahir pada tanggal 5 Mei 1995 di Muara Teweh, Kalteng, berdomisili di Jalan Suka Tangkai, Medan Johor. Alumnus SMA Eria Medan itu merupakan anak kedua dari empat bersaudara.

Ayahnya, Herry Naldi Febri hanyalah seorang sopir, sedangkan ibunya, Rika Chari bekerja sebagai penjual jagung bakar di Jalan STM Medan.

Awalnya masuk Taruni Akademi Militer, Puspita Ladiba melihat dari brosur tentang penerimaan Taruni Akmil Tahun 2013 bagi wanita.

“Kemudian saya mendaftarkan diri di Kodam I/BB. Selama mengikuti seleksi banyak isuebahwa untuk masuk menjadi Taruni Akademi Militer harus punya uang dan backing, tapi dengan tekad dan doa yang kuat saya berusaha untuk diterima,” ungkapnya.

Tahap selanjutnya ia mengikuti seleksi tahap pertama di SMA Matauli Sibolga yang meliputi seleksi aspek kesehatan, jasmani, psikologi, dan akademik yang diseleksi sangat ketat.

“Ternyata semua isu tersebut tidak benar. Selama seleksi saya dapat mengikuti dengan baik dan memenuhi syarat untuk mengikuti tes lanjutan ke Magelang calon taruni yang mengikuti seleksi dari seluruh Indonesia sebanyak dua puluh satu orang yang diterima sebanyak enam belas orang,” sebutnya.

Dalam kesempatan itu Puspita Ladiba mengajak putra/putri yang masih duduk di bangku SMA sederajat, bila ada kesempatan agar bergabung untuk masuk menjadi Taruni Akdemi Militer. “Segera mendaftarkan diri dan tidak dipungut biaya,” tegasnya.

Selama mengikuti pendidikan di Akademi Militer Sersan Taruni Puspita Ladiba menerima prestasi Tanggap Perunggu (aspek Akademi) dan Tanggon Perunggu (aspek Sikap dan Perilaku). Hadir dalam pertemuan itu Aspers Kasdam I/BB dan Kapendam I/BB.(GUS)
sumber : harianandalas

Posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

KALANGAN DPR APRESIASI KPK TANGKAP PEMERAS TKI

Jakarta (ANTARA News) – Wakil Ketua Timwas Tenaga Kerja Indonesia DPR RI Poempida Hidayatullah memberikan apresiasi atas tindakan Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap oknum pemeras para TKI di Bandara Soekarno-Hatta.

“Inspeksi mendadak KPK di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta yang menangkap oknum adalah suatu hal yang perlu diapresiasi,” kata Poempida Hidayatulloh di Jakarta, Sabtu.

Sebelumnya dalam inspeksi mendadak di bandara Soekarno Hatta Tangerang, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan 18 orang, di antaranya oknum Polri dan TNI Angkatan Darat, terkait dengan penyediaan pelayanan publik untuk Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

“Salah satu elemen yang menjadi masalah utama dari berulang-ulangnya masalah yang merundung para TKI adalah basis penegakan hukum yang lemah,” katanya.

Menurut Poempida apa yang dilakukan KPK kali ini ibarat “pucuk dicinta ulam tiba”. Langkah yang diambil KPK ini seperti gayung bersambut dengan harapan dan rekomendasi Timwas.

Poempida menegaskan, jika KPK saat ini fokus pada basis pemerasan atau suap yang ada di Bandara, sebenarnya sebagian lingkup kecil saja.

“Seyogianya KPK melakukan pemantauan dan operasi di lingkup lainnya, seperti pembuatan KTKLN, proses rekrutmen di Ciracas, titik pemulangan TKI yang baru kembali ke daerah dan tentu semua basis birokrasi yang terkait dengan penyelenggaraan TKI,” katanya.

Menurut Poempida, dalam konteks penegakan hukum yang dibutuhkan dalam masalah TKI ini tidak hanya pada basis pidana khusus korupsi saja, tetapi juga harus merambah pada aspek kekerasan, intimidasi, penipuan dan bahkan pada isu perdagangan manusia.(Ant)

Posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

JOKOWI NYATAKAN IDUL FITRI MOMEN PEMERSATU BANGSA

Jakarta (ANTARA News)- Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) mengatakan Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijriah merupakan momen pemersatu bangsa.

“Setelah kita menjalani satu bulan di bulan penuh barokah, mafiroh dan pengampunan, sekarang kita kembali ke fitri sebagai sebuah bangsa besar agar seluruh masyarakat kembali menjadi sebuah bangsa yang satu, bangsa Indonesia,” kata Jokowi di Balaikota sesaat sebelum meninggalkan Balai Kota, Senin.

Jokowi menambahkan momen Lebaran hendaknya digunakan sebagai momen rekonsiliasi di tahun politik setelah digelar pemilihan umum.

“Yang dulu mungkin ada kerenggangan dan kerikil kecil waktu pilpres dengan teman dan tetangga karena perbedaan pilihan politik, di hari yang fitri ini bisa rukun kembali,” katanya.

Lebih lanjut Jokowi meminta agar masyarakat kembali menjalankan aktivitas seperti sedia kala.

“Jalankan aktivitas seperti biasa kembali. Jangan ada lagi nomer dua nomer satu, sekarang hanya satu Indonesia,” kata dia.

Jokowi melakukan sholat Ied dan open house di Balaikota. Setelah itu Jokowi menerima beberapa tamu di Rumah Dinas Taman Surapati nomor 7.

Tamu yang diterima antara lain Menparekraf Mari Elka Pangestu, Ketua Umum Hanura Wiranto, Wamen Perhubungan Bambang Susantono, wartawan dan sejumlah warga.(Ant)

Posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

JOKOWI NYATAKAN TIDAK PERNAH BERMIMPI JADI PRESIDEN

Solo (ANTARA News) – Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa dirinya tidak pernah bermimpi menjadi Presiden Republik Indonesia, dan semuanya muncul begitu saja atas dukungan rakyat.

“Saya tidak pernah bermimpi menjadi Wali Kota Surakarta, Gubernur DKI Jakarta, apalagi sekarang Presiden terpilih. Semunya ini tidak direncanakan,” kata Jokowi disela acara buka bersama dengan wartawan di Kota Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu malam.

Menurut Jokowi, semuanya muncul begitu saja atas dukungan rakyat, dan tidak ada yang direncanakan menjadi Wali Kota, Gubernur, dan Presiden.

Kendati demikian, Jokowi meminta bersabar karena proses politik, demokrasi sudah dilewati, dan kini tinggal menunggu proses hukum di Mahkamah Konstitusi (MK).

“Semuanya harus bersabar dan tidak perlu tergesa-gesa,” ucap mantan Wali Kota Surakarta itu.

Meskipun, Jokowi menjadi Kepala Negara RI, kegiatan “blusukan” yang sering dilakukan saat menjabat wali kota taua gubernur tetap berjalan seperti biasa.

“Kita mempunyai pengalamam sekup kecil saat menjabat wali kota, dan agak besar Gubernur DKI Jakarta. Sehingga, dirinya langkah pertama mengidentifkasi dan memilah-milah masalah yang ada dan mana yang perlu diprioritaskan,” tuturnya.

Jokowi menjelaskan, pihaknya pertama yang membangun revolusi mental melalui pendidikan dari bawah untuk membenahi sumber daya manusia (SDM).

“Revolusi mental harus dibangun bagaimana kita menghargai orang lain, misalnya, pemimpin dan senioaritas. Namun, kita menjadi pemimpin harus memberikan contoh yang baik bawahannya,” tukasnya.

Budaya menghargai senioritas ini, kata Jokowi, harus dibangun dan diluruskan agar cara berpikir negatif menjadi positif.

“Kita sangat prihatin masa seorang pemimpin negara menjadi bulan-bulan. Kita harus mempunyai budaya sopan santun,” ujarnya.

Sementara Jokowi selama kunjungannya di Kota Solo, sebelumnya juga sempat melakukan blusukan di Pasar Klitikan Notoharjo.

Menurut Jokowi, pihaknya menengok pasar klitikan tersebut hanya melepas rasa kangen, untuk melihat perkembangan sekarang cukup pesat.(Ant)

Posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

TIM PRABOWO-HATTA RINCI PELANGGARAN PEMILU PRESIDEN TIAP PROVINSI

Jakarta (ANTARA News) – Tim Pembela Merah Putih (kuasa hukum Prabowo Subianto-Hatta Rajasa) merinci dugaan pelanggaran Pemilu Presiden 2014 di 33 provinsi Indonesia, melalui laporan gugatan yang diserahkan ke Mahkamah Konstitusi.

Berdasarkan dokumen Permohonan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pemilu Presiden 2014 yang telah dipublikasi melalui situs resmi www.mahkamahkonstitusi.go.id, beberapa dugaan pelanggaran yang dapat diinformasikan antara lain terjadi di Provinsi Aceh.

Di sana, mereka menganggap ada kejanggalan jumlah seluruh pengguna hak pilih di provinsi itu tidak sama dengan jumlah surat suara yang digunakan.

Kubu Prabowo-Hatta menyebut Komisi Pemilihan Umum di Provinsi Aceh beserta jajarannya tidak dapat menjalankan tugas pokok dan fungsinya sesuai peraturan perundang-undangan berlaku sehingga Pemilu Presiden yang demokratis tidak tercapai.

Di Provinsi Sumatera Utara, tepatnya Kabupaten Nias Selatan, kubu Prabowo-Hatta mengatakan, KPU setempat menggunakan kekuasaannya untuk mengubah hasil perolehan suara pasangan calon menjadi 100 persen hingga 200 persen.

Pada bagian ini Tim Prabowo-Hatta menyatakan telah mengajukan keberatan kepada Panitia Pengawas Pemilu dan telah diakomodasi melalui rekomendasi pemungutan suara ulang di sejumlah TPS, namun rekomendasi itu belum dijalankan KPU di sana.

Lalu di Provinsi Sumatera Barat, diduga terjadi pelanggaran terstruktur, sistematis dan masif berupa mobilisasi pemilih melalui Daftar Pemilih Khusus Tambahan (DPKTb). Hal ini menurut tim Prabowo-Hatta, terindikasi dari jumlah seluruh pengguna hak pilih tidak sama dengan jumlah suara sah dan tidak sah.

Di Provinsi Riau, Jambi serta Bangka Belitung, tim Prabowo-Hatta menyatakan, terdapat masing-masing 444.756, 213.789 dan 78.581 pengguna hak pilih yang bermasalah.

Sementara di Lampung dan Jakarta juga terdapat dugaan mobilisasi pemilih melalui DPKtb, di mana khusus di Provinsi DKI Jakarta, pengawas pemilu telah merekomendasikan kepada KPU DKI Jakarta agar dilakukan pengecekan terhadap 5.817 TPS serta Pemungutan Suara Ulang di 13 TPS, namun hanya rekomendasi PSU yang dijalankan KPU.

Lebih jauh untuk Provinsi Jawa Barat tim Prabowo-Hatta mengaku tidak mendapatkan respon yang kuat dari KPU setempat untuk mengakomodir serta menyelesaikan penyimpangan-penyimpangan yang telah diajukan melalui pengawas pemilu.

Sedangkan dugaan pelanggaran lain juga dinilai terjadi di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, NTB, NTT, seluruh provinsi di Pulau Kalimantan dan Sulawesi, Maluku Utara, serta Papua dan Papua Barat.

Atas dasar itu dalam petitum-nya Tim Pembela Merah Putih yang terdiri dari 95 pengacara memohon kepada MK untuk mengabulkan permohonan seluruhnya.(Ant)

Posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

KERUSAKAN JALAN DI KABANJAHE GANGGU ARUS MUDIK

Kabanjahe-andalas Kerusakan infrastruktur jalan di sejumlah titik pintu gerbang masuk kota Kabanjahe diperkirakan dapat mengganggu kelancaran arus lalu lintas mudik dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1435 H, khususnya di jalur-jalur yang ramai dilintasi kendaraan angkutan umum pedesaan (Angped) maupun angkutan antar kota dalam provinsi (AKDP).

Fakta kerusakan jalan, sudah menjadi cerita yang tidak pernah berkesudahan. Seperti amatan andalas, Jumat (25/7) di pintu gerbang keluar masuk kota Kabanjahe di jalan Kapten Pala Bangun dan  Nabung Surbakti yang ramai dilalui kenderaan angkutan umum jalur Kabanjahe-Dairi-Simalungun-Aceh Selatan NAD dan Medan-Kabanjahe-Aceh Tenggara (NAD) ditemukan sejumlah titik kerusakan jalan yang mengganggu kelancaran arus lalu lintas.

Jalur ini adalah jalur padat lalu lintas di kota Kabanjahe. Karena selain angkutan antar provinsi melintas di jalur itu, angkutan pedesaan yang datang dari arah Kecamatan Tiga Panah-Merek dan Munte, Tiga Binanga, Lau Baleng dan Mardingding padat melintas dari jalan itu.

Begitu juga kendaraan jenis truk besar mengangkut jagung dan komoditi pertanian lainnya berasal dari jurusan Tiga Binanga, Juhar, dan Mardingding termasuk Aceh Tenggara menuju Medan merupakan jalur satu-satunya lintasan menuju ibukota provinsi Sumut itu.

Begitu juga di sepanjang jalan Kota Cane Kabanjahe-hingga Tiga Binanga di samping sebagian besar jalan mengalami kerusakan, juga terlihat dibeberapa titik rawan longsor. Kerusakan parah terlihat di Desa Sarinembah Kecamatan Munte, seputaran anatara Simpang desa Perbesi hingga jembatan Lau Mandin.

Titik selanjutnya, kerusakan parah di Pametar Desa Benjire Kecamatan Tiga Binanga. Jalan alternatif, Desa Batukarang–Singgamanik pun kondisinya tidak jauh beda. Sehingga bila tiba hari H lebaran Idul Fitri mendatang diperkirakan akan dapat mengganggu kelancaran arus lalu lintas keluar masuk Kota Kabanjahe.

Sementara jalan keluar masuk kota Kabanjahe yang sampai saat ini masih dalam keadaan baik adalah simpang tiga Masjid Agung persisnya depan galon dan jalan Kabanjahe-menuju perbatasan Langkat. Keadaannya masih mulus, karena perbaikan dilakukan baru beberapa bulan lalu, jadi sampai saat ini belum ada kerusakan dan tidak ada kekhawatiran kemacetan lalu lintas akibat kerusakan jalan.

Selain itu, puluhan bahkan ratusan truk pengangkut dolomit dan batu kapur asal Dairi yang setiap hari melintasi Kota Kabanjahe juga diperkirakan dapat mengganggu kelancaran arus lalu lintas menjelang Hari Raya Idul Fitri. “Untuk itu diminta kepada pihak kepolisian supaya menentukan jadwal melintas angkutan jenis truk besar, agar tidak mengganggu kelancaran berlalulintas di Kota Kabanjahe,”kata warga Kabanjahe, Ginting dan Tarigan.

Anggota DPRD Karo Sentosa Sinulingga ketika diminta tanggapannya atas kerusakan jalan di sejumlah titik keluar masuk pintu gerbang kota Kabajahe mengatakan, infrastruktur jalan yang berada menuju keluar kota Kabanjahe yang sebagian besar adalah jalan provinsi atau jalan nasional, jadi pemeliharaan dan perawatannya tentunya berada di tangan provinsi maupun pusat. Namun meski demikian tidak ada salahnya kita mengingatkan kepada instansi atasan, agar jalan-jalan yang rusak itu segera mendapat prioritas perbaikan.

Kalau tahun ini biaya perbaikannya belum dianggarkan, untuk tahun anggaran 2015 mendatang diharapkan dapat dianggarkan. Karena kerusakan jalan itu sangat merusak dan mengganggu perekonomian masyarakat Karo dan sekitar 15 kabupaten yang melintasinya.

Menyangkut soal kerusakan jalan di inti Kota Kabanjahe, erat kaitannya dengan belum disahkannya APBD kabupaten Karo 2014. “Karena semua anggaran perbaikan maupun pemeliharaan infrastruktur jalan dianggarkan di APBD Karo TA 2014 ini. Untuk itu kita berharap, Jumat (25/7) ini, APBD kita dapat segera ketok palu. Agar instansi terkait dapat segera melaksanakan kegiatannya, khusus terkait masalah penanganan perbaikan jalan,”ujar Sinulingga.

Untuk itu, diminta kepada instansi terkait, sesudah APBD disahkan, hendaknya dinas terkait bisa segera melaksanakan kewajiban untuk memperbaiki jalan yang rusak di Kota Kabanjahe, begitu juga jalan-jalan menuju pedesaan, karena jalan adalah nafas perekonomian bagi masyarakat Karo.(RTA)
sumber : harianandalas

Posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

PLT SEKRETARIS DAERAH TAPANULI UTARA : CAMAT PAGARAN TIDAK BERSALAH

Tarutung-andalas Plt Sekdakab Tapanuli Utara, HP Marpaung menegaskan, tindakan Camat Pagaran Risda Taraja yang meminta uang Rp 2 juta ke panitia pembangunan Gereja Kristen Luther Indonesia (GKLI) Untejungga Resort Sitamba Pealangge, salah. Dia justru menyalahkan pihak GKLI Untejungga karena tidak mau mengembalikan uang dimaksud kepada Camat Pagaran.

Dalam penjelasan HP Marpaung yang terlihat emosi karena dikorfirmasi andalas, Kamis (24/7), uang yang diberikan camat kala itu adalah sumbangan Bupati Torang Lumbantobing untuk membantu pembangunan GKLI Untejungga.

“Namun karena bupati waktu itu tidak bisa hadir, diutuslah Camat Pagaran Risda Taraja untuk menghadirinya dengan memberikan sumbangan bupati sebanyak Rp 2 juta,”kata HP Marpaung didampingi Kabag Kesra Oloan Hutabalian.

Dengan demikian, lanjutnya, pihak GKLI dalam hal ini penerima sumbangan bupati haruslah mengembalikan uang Camat Pagaran Risda Taraja karena proposalnya sudah direalisasi Pemkab Taput sebesar Rp 2 juta.

“Jadi tolonglah berikan penjelasan kepada pihak GKLI agar mengembalikan uang sumbangan Bupati Torang Lumbantobing yang didahulukan Camat Pagaran itu,”ujar HP Marpaung.

Ketika ditanya apakah setiap sumbangan dari bupati kepada gereja maupun ke pihak lain, mekanismenya harus mengembalikan lagi setelah proposal direalisasikan ? HP Marpaung malah marah-marah dengan menghardik agar menulis besar-besar di media.

“Tulis besar-besar di mediamu ya, saya katakan Camat Pagaran di sini tidak salah. Dan Pemkab Taput juga tidak menyumbang pembangunan gereja,”hardiknya.

Marpaung juga mempersilahkan pihak GKLI untuk mengembalikan dana sumbangan hasil proposal dari Pemkab Taput sebesar Rp 2 juta. “Ya, kalau pihak GKLI Untejungga mengembalikan, silahkan. Kita akan menerima,”katanya enteng.

Terpisah, salah seorang warga Desa Lumban Silintong saat dimintai komentarnya sangat menyesalkan tindakan oknum Camat Pagaran Risda Taraja, karena terkesan membodohi rakyatnya dengan memberikan sumbangan atas nama bupati. Namun harus dikembalikan setelah proposalnya cair dari Pemkab Taput.

“Kita sangat menyesalkan tindakan Camat Pagaran itu karena terkesan melakukan pembodohan dan pembohongan kepada masyarakat Pagaran,”kata Hutabarat  dan P Purba.(HOT)
sumber : harianandalas

Posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima | Leave a comment

BERASTAGI SIAP BERSOLEK SAMBUT MUSIM LIBURAN LEBARAN

Berastagi-andalas Tiga hari memasuki libur lebaran, tingkat hunian hotel berbintang di Berastagi alami kenaikan pesanan. Diperkirakan, capaian terkini sekitar 80 % akan sampai ke tahap sempurna hingga seminggu kedepaannya.

Pernyataan ini diungkapkan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo, Dinasti Sitepu SSos didampingi Kabid Obyek dan Daya Tarik Wisata, Mussa Ginting serta Sekretaris PHRI Kabupaten Karo, Edi Sofyan dan Ketua Bidang Promosi PHRI Kabupaten Karo, Kasman Sembiring SH kepada wartawan, Jumat (25/7) di Berastagi.

Menurutnya, sesuai data yang ada dari masing-masing hotel berbintang seperti Mikie Holiday, Grand Mutiara, Green Garden, Horison, Bukit Kubu, Grand Orri, Sinabung Hills, Sibayak Internasional, Berastagi Cottage, Danau Toba, Taman Simalem Resort dan Suite Pakar, seluruhnya telah hampir terisi penuh. Semua hotel di Tanah Karo sudah siap bersolek sambut musim libur lebaran. Dengan total jumlah kamar keseluruhan berkisar 1234 kamar, tinggal 20-an persen lagi yang belum dibooking.

Namun demikian, pesanan yang ada ke masing–masing hotel jumlahnya variatif. Tetapi sangat diyakini jika hal itu akan merata ketika malam takbiran tiba, apalagi kini gunung api Sinabung semakin bersahabat dengan alam sekitarnya. Apalagi, Kota Berastagi terbilang jauh dari pusat kegiatan vulkanologi Sinabung, dan terdapat jarak sekitar 18 Km antara Berastagi dengan Sinabung.

Kemudian, hal lain yang mendukung prediksi Berastagi akan menjadi sasaran wisatawan selama musim liburan lebaran adalah pada soal jarak tempuh dan didukung udara segar. Dengan jarak tempuh 65 Km dari Medan, pengunjung telah dapat menikmati udara sejuk Berastagi.

“Kita ketahui, tingkat kemacetan juga sudah berkurang karena jalan sudah diperlebar dan diperbaiki. Hingga tak ada pilihan sebenarnya menghabiskan waktu libur selain ke Berastagi,”kata Sitepu.

Apalagi kemudian, dari informasi yang ada untuk tamu-tamu travel pihak hotel telah melakukan diskon, dan bagi tamu keluarga pihak hotel tidak ada yang menaikkan tarif harga kamar, semuanya setandar seperti harga-harga yang terjangkau. Didukung keramahan masyarakatnya, budaya dan kondisi kamtibmas daerah ini yang aman.

“Jadi, silahkan datang dan saksikan keindahan panorama yang dimiliki Tanah karo Simalem ini,”katanya.(RTA)
sumber : harianandalas

Posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

KISAH BUS SINABUNG JAYA, DULU DAN KINI – (2)

Pada tahun 1931 lahir lah anak pertama yang diberi nama Kueteh Sembiring Gurukinayan (Pa Bas), dan dua tahun kemudian lahir seorang anak perempuan, akan tapi beberapa hari kemudian dipanggil Allah Bapa yang maha kuasa. Karena pada waktu itu masyarakat Karo pada umumnya masih penganut animisme dan karena umurnya baru beberapa hari maka jasadnya harus dibakar dan abunya dilarungkan di sungai Parik Lau dekat ladang keluarga Kembilik kampung Gurukinayan.

Selanjutnya, pada tahun 1936 lahir anak yang ketiga laki-laki diberi nama Dors Erti Sembiring Gurukinayan (Pa Eka) , kemudian anak ke empat Baik Bru Sembiring Gurukinayan  (Nd. Bania) lahir di desa Gurukinayan tanggal 11 Desember 1941, Kemudian tanggal 20 Juni 1942 lahir anak ke lima Arnem Sembiring Gurukinayan  (Pa Febrian) di desa Gurukinayan. Pada tanggal 01 Oktober 1945 lahir anak ke enam Rasmi Sembiring Gurukinayan (Pa Edik) di Gurukinayan, dan anak ke tujuh anak perempuan Nurain Bru Sembiring Gurukinayan (Nd. Prima) di desa Tiganderket tanggal 30 Oktober 1947. Kemudian lahir di Berastagi 3 (tiga) anak terakhir  Rophian Sembiring Gurukinayan (Pa Ninta) tanggal 16 Juni 1951, selanjutnya Eriwan Sembiring Gurukinayan (Pa Andi) tanggal 01 Oktober 1953 sampai  dengan   anak   yang   kesepuluh  (terakhir)  pada  tanggal 29 Juni 1956   yang  bernama Resmond Jaya Sembiring Gurukinayan (Pa Irvan), sama dengan kepercayaan daerah lainnya, banyak anak akan membawa banyak rejeki.

profile sjaya-truck chevrolet tahun 1932.tanah karoTruck/ Bus ban mati Dataran Tinggi Karo, disamping membawa hasil pertanian juga dipergunakan unttuk angkutan penumpang tahun 1935. Truck/ bus sedang mengakut kol diangkut ke kota Berastagi/ Kabanjahe.

Pekerjaanya sebagai supir oleh Reti Sembiring Gurukinayan tidak hanya untuk satu armada bus tapi berganti lagi kepada bus peti sabun (bus pekan-pekan) lainnya yang pada waktu itu jenis bus ini dapat berubah fungsi dalam arti pada siang hari dapat mengangkut penumpang dan malam hari dapat membawa hasil bumi untuk dibawa ke kota dengan mencabut bangku-bangku yang terbuat dari kayu dan tidak dilapisi dengan jok (knock down), yang pada keesokan harinya akan dijual oleh para petani  pada  hari  pekan/ pasar yang pada setiap kota berbeda. Hari pasar antara lain untuk kota Kabanjahe pada hari Senen dan Kamis, Berastagi pada hari Rabu dan Sabtu, sedangkan hari Kamis untuk Tiga Nderket.

Barang petani yang akan dijual pada hari pekan tersebut dibawa terlebih dahulu oleh bus peti sabun pada malam hari ke pasar yang di tuju, kemudian keesokan harinya petani tersebut menyusul dengan menumpang bus yang sama, kemudian setelah selesai hari pasar atau  setelah barang hasil sawah/ ladangnya laku dijual barulah petani membayar ongkosnya termasuk ongkos barangnya pada waktu pulang kembali ke kampungnya dengan menumpang bus yang sama , sambil membawa uang dari penjual-an hasil kebun/ sawahnya setelah dibelanjakan sebagian untuk membeli bibit, pupuk mapun kebutuhan sehari-hari lainnya.

Sampai akhir tahun 1937 Reti Sembiring Gurukinayan masih mengemudikan bus bernama “ATOL” milik Atol Bangun yang berasal dan tinggal di Batukarang yang menggunakan roda mati.

Profil Sjaya- bus roda mati tahun 1930-1Bus roda mati tahun 1930 (ilistrasi), sampai tahun 1937 Reti Sembiring Gurukinayan masih mengemudikan bus bernama “ATOL” milik Atol Bangun yang berasal dan tinggal di Batukarang, Dataran Tinggi Karo, sekarang Kabupaten Karo Sumut

Sebenarnya kalau dikatakan bus kurang tepat, karena yang umumnya dikatakan bus paling sedikit dapat mengangkut 20 (dua puluh) orang penumpang atau lebih, sedangkan mobil tersebut hanya dapat mengangkut penumpang tidak lebih dari 8 (delapan) sampai dengan 10 (sepuluh) penumpang, dimana tempat mesin didepan kelihatan lebih panjang kalau dibandingkan dengan tempat penumpangnya dibelakang, atau mungkin lebih tepat dikatakan opelet atau mini bus, sebagai ilustrasi prototipe oplet tersebut dapat dilihat pada foto tersebut di atas.

Profil Sjaya-sesuai arah jarum jam- Sahun br Sitepu (Nande Ganin); Releng br Sitepu (Nande Kueteh) Foto sesuai arah jarum jam : Sahun br Sitepu (Nande Ganin) saudara sulung dari ibunda Releng br Sitepu (Nande Kueteh), istri dari ayahanda Reti Sembiring Gurukinayan. Diabadikan di ladangnya Sebintun desa Berastepu Kabupaten Karo Sumut pada tahun 1964, dengan latar belakang gunung Sinabung hanya berjarak 2,5 km dari puncak gunung.

Akhirnya dari hasil tabungannya selama menjadi supir dan dengan dukungan keluarga dari keluarga mertuanya Sepit Sitepu  yang  mempunyai anak 3 (tiga) orang yaitu anak sulung Sahun br Sitepu (Nande Ganin); Releng br Sitepu (Nande Kueteh) dan bungsu Jusup Batang Sitepu (Pa Rustam) dari Beratepu maupun adiknya Bantamuli br Sembiring Gurukinayan (Nande Budi) yang dipersunting oleh Bagin Singarimbun (Pa Budi) dari Temburun, maka pada tahun 1937 dibelilah untuk pertama kalinya truk roda 8 (delapan) yang selama ini sangat dicita-citakan.

Profil Sjaya-Jusup Batang Sitepu (Pa Rustam) -mama nguda berastepu Bapak Jusup Batang Sitepu (Pa Rustam), ipar ayahanda Reti Sembiring Gurukinayan yang berasal dari desa Berastepu yang bertetangga dengan desa Gurukinayan di Kabupaten Karo Sumut.. Belia seorang kreatif dan pernah merintis pembuatan usaha rumah tangga “sabun batangan” di desanya tahun 1940-an merek dagangnya seperti foto diatas meniru sabun batang “cap salam” di Sumut.

Beliau membeli truk bak terbuka ban mati berwarna   merah atau disebut juga “gara takal” (kepala merah) dengan saudaranya Jemat Sembiring Gurukinayan (Pa Siman), ayah dari Bapak Siman Sembiring Gurukinayan yang telah banyak mem-berikan informasi dalam penyempurnaan sejarah ini yang pada saat ini telah berusia 75 tahun dan Tempi Sembiring Gurukinayan (Pa Damenta) yang pada saat ini juga telah berusia 89 tahun dengan kondisi yang tetap sehat dan tinggal di kampung Gurukinayan. Mobil tersebut beliau kemudikan sendiri oleh Reti Sembiring dan dikerneki secara bergantian oleh Sempa Sitepu (Pa Rakut); Jumpa Ginting (Pa Akim); Jabab Sembiring Meliala (Pa Ros) dan terakhir oleh Tabas Surbakti (Pa Bini) kemanakannya.

Profil Sjaya-bus Karo- Bis milik Deli Spoor di Brastagi 1900-1940 Foto bus Dataran Tinggi Karo- Bus milik Deli Spoor (DIENS) di Berastagi 1900-1940

Truk tersebut diberi nama Sinabun (bukan Sinabung) dengan logo gambar “Nenas” pada lambungnya, karena pada waktu itu di kampung Gurukinayan disamping hasil kebun utamanya buah jeruk, juga terdapat kebun nenas yang buahnya cukup besar sebagai hasil sampingan pada kebun yang sama. Karena truk tersebut terlalu panjang maka chasissnya dipendekkan atau dihilangkan 2 (dua) roda belakang menjadi roda 6 (enam) serta diubah karoserinya menjadi type “Peti Sabun”, Sehingga bus tersebut lebih mudah di operasikan didaerah tersebut yang jalannya sangat sempit dan berliku-liku yang umumnya terdapat didaerah pegunungan. Bus tersebut dioperasikan untuk melayani angkutan Kotacane Medan penumpang maupun barang didaerah Gurukinayan dan sekitarnya yaitu Berastagi, Kabanjahe dan Tiga Nderket.

profile sjaya-truck chevrolet tahun 1932.1Truck Chevrolet tahun 1932 (ilustrasi)

Sedangkan Batak Bangun (Pa Tringani)  pada tahun 1942 yang juga berasal dari kampung Gurukinayan membeli bus ban hidup (bukan ban mati) pada jaman Jepang hasil penjualan tembakau yang banyak ditanam disekitar kampung Batukarang dan sekitarnya maupun penjualan jeruk yang dijual di Tiganderket sekitar 6 (enam) kilometer dari kampung Gurukinayan yang merupakan pasar utama disekitar daerah terasebut. Beliau menjalani trayek Medan ke Pematang Siantar dan dikerneki oleh adiknya Nabas Bangun (Pa Roma).

profile sjaya-truck chevrolet tahun 1932Truck Chevrolet tahun 1932 (ilustrasi)

Pada jaman Jepang tersebut sudaranya satu kakek Mayan Sembiring Gurukinayan (Pa Ngonggar) yang juga tinggal dikampung Gurukinayan berpatungan dengan Pa Pena Sitepu Batunanggar dan Ngenan Sitepu (Pa Binje) membeli truk yang mereka pergunakan untuk berdagang tembako ke Kotacane, Aceh Tenggara yang dikemudikan oleh Rekat Sembiring Gurukinayan adik kandung bungsu Reti Sembiring Gurukinayan. Oleh sebab itu pada jaman Belanda maupun Jepang penduduk kampung Gurukinayan telah memiliki beberapa tokeh / juragan bus maupun truk. Dari sekian tokeh tersebut hanyalah Reti Sembiring Gurukinayan yang memulai kariernya sebagai kernek sedangkan lainnya hanyalah sebagai pemodal yang awalnya sebagai petani sukses. Hal ini dapat dibuktikan bahwa beberapa diantara mereka sepanjang hidupnya tidak pernah dapat mengemudikan bus/ truk yang mereka miliki antara lain saudaranya Jemat Sembiring Gurukinayan dan Mayan Sembiring Gurukinayan.

Pada tahun 1940 Reti Sembiring Gurukinayan berkongsi lagi dengan Jemat Sembiring Gurukinayan (Pa Siman) membeli mobil truk chasiss yang di daerah tersebut di sebut mobil kope bersama dengan saudaranya Ngasami Sembiring Pandia (Pa Uli/ Toko Cahaya Kabanjahe) yang berasal dari kampung Payung dekat kampung Gurukinayan  yang pada waktu itu juga membeli mobil yang sama dalam kondisi baru.

Profil Sjaya-truck chevrolet tahun 1940.Truk Chevrolet Tahun 1940, sejenis yang pernah dibeli pada tahun 1940 oleh ayahanda Reti Sembiring Gurukinayan berkongsi lagi dengan Jemat Sembiring Gurukinayan (Pa Siman)

Kemudian, pada tahun 1946, bus yang mereka miliki masuk armada perusahaan otobus Maspersada artinya mas ipersada (mas disatukan) yang dipinpin oleh Raja Oekum Sembiring Meliala (Pa Terangmalem) yang berasal dari Berastepu tapi dibesarkan di kampung Tanjung. Bergabung dengan Maspersada terpaksa dilakukan karena pada saat itu bahan bakar hilang dari pasar, sehingga dengan masuk armada Maspersada dengan sendirinya akan mendapat jatah bahan bakar untuk menunjang operasional bus mereka.

Bus yang mereka miliki dikemudikan secara bergantian dengan Batak Bangun (Pa Tringani), yang dipergunakan untuk rute pekan-pekan antara kampung Gurukinayan ke Tiganderket, Berastagi atau ke Kabanjahe.

Walaupun sudah memiliki bus/ truk bersama  Jemaat  Sembiring  Gurukinayan, Reti Sembiring Gurukinayan tidak merasa puas dengan apa yang  sudah  dicapainya,  dimana   beliau   juga   membuka   kedai   kopi dirumah saudaranya Rajangena Sembiring Gurukinayan (Pa Saman) yang kebetulan berlokasi di jalan utama di tengah kampung Gurukinayan pada tahun 1946 atau beberapa bulan setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan bekerja sama dengan Pa Miji perantauan Banjar dari Banjarmasin yang sudah berpengalaman membuka usaha kedai kopi. Disamping pintar memasak juga dapat membuat aneka   macam   kue, yang   dikampung Gurukinayan pada waktu itu merupakan makanan yang sangat digemari oleh masyarakat setempat. Pada waktu membuka kedai kopi tersebut Reti Sembiring Gurukinayan telah menjalin hubungan bisnis, dimana pada hari-hari tertentu beliau berbelanja di toko grosir kelontong toko “MO HAP” (ada spasi antara mo dan hap) yang pemiliknya bernama Mohap di ruko depan pintu masuk sebelah kanan pasar Berastagi atau disamping Kedai Kopi/ Mie “Pa Misang”, tepatnya sederetan Toko Onderdil/ SPBU  Garuda, atau dengan Toko Klontong Sinabung  Berastagi, pada saat ini. Akan  tetapi   karena   terjadi  agresi kedua tahun 1947 oleh Belanda dimana pihak pemerintah Hindia Belanda yang ingin kembali menduduki Wilayah Republik Indonesia menyebabkan sebagian besar penduduk yang tinggal di dataran tinggi Karo terpaksa mengungsi ke hutan, sebagian diantaranya mengungsi ke daerah Aceh Tenggara. Demikian juga halnya dengan situasi tidak menentu yang terjadi di kampung Gurukinayan, maka dengan terpaksa mobil bus peti sabun yang sudah mereka miliki tersebut dijual pada bulan Nopember 1947, sedangkan mobil truk chasiss “dipinjam” oleh pihak Belanda untuk mendukung agresi mereka ke daerah Kotacane dan sekitarnya yang dikemudikan oleh Tabas Surbakti (Pa Bini), yang kemudian karena merasa terancam jiwanya di daerah operasi Belanda di Aceh Tenggara (Kotacane), beliau meninggalkan truk tersebut di “Gunung Setan” sekitar Kotacane, yang akhirnya hilang tidak berbekas.

Profil Sjaya-Tabas Surbakti (Pa Bini) keponakan Reti SembiringBapak Tabas Surbakti (Pa Bini) keponakan ayahanda Reti Sembiring yang mengikuti jejaknya dari kernek, supir dan kongsi dengan pamannya sampai akhir hayatnya sebagai pengusaha angkutan bus di PO. Sinabung Jaya, dan sekarang diteruskan anaknya bernama Dalton Surbakti yang tinggal di desa Mardingding Kabupaten Karo Sumut.

Pada agresi kedua tersebut, keluargapun harus kembali mengungsi ke hutan untuk menghindar dari tentara Belanda setelah membumi hanguskan rumah mereka (rumah adat) atas perintah tentara Republik pada waktu itu dengan pertimbangan agar Belanda tidak memanfaatkan rumah mereka sebagai tempat untuk mendukung operasi penjajah (apa tentara Belanda mau tinggal di rumah adat ?). Akibat dari pembumi hangusan tersebut semua Rumah Adat (atap ijuk) yang telah dibangun dengan cara gotong royong oleh para pendahulunya semua menjadi abu dan tidak berbekas, kecuali rumah adat bapak Tingger Sembiring Gurukinayan dekat Los atau Jambur (gedung pertemuan) kampung Gurukinayan. Dalam pengungsian tersebut, pada tanggal 20 Nopember 1947 lahir anak ketiga dari adik bungsunya Reti Sembiring Gurukinayan yaitu Rekat Sembiring Gurukinayan  seorang laki-laki dan diberi nama Rumah Pudung Sembiring Gurukinayan tepatnya di hutan Liang Date, yang 21 hari sebelumnya pada 31 Oktober 1947 lahir anaknya sendiri anak yang  keenam perempuan diberi nama Nuraini br Sembiring Gurukinayan di Temburun. Dalam pengungsian ini Arnem Sembiring  yang lahir pada tanggal 20 Juni 1942 anak ke empat dari Reti Sembiring Gurukinayan telah berumur 5 (lima ) tahun  sehingga pada waktu itu dalam pengungsian dianggap cukup besar untuk diberi tugas untuk   membawa   cerek/ teko tempat minum sambil berjalan kaki ditengah hutan. Sehingga setelah selesai mengungsi dan untuk mengenang bagaimana suka dukanya dalam pengungsian pada beliau diberi panggilan sehari-hari oleh keluarga dengan sebutan “Pa Cerek” yang didaerah Karo berarti Bapak cerek, karena selama dalam pengungsian cerek tersebut tidak pernah lepas dari genggamannya sehari-hari.

Profil Sjaya-rasmi,rophian dan arnemFoto : Sesuai arah jarum jam Rasmi Sembiring (celana pendenya koyak), Rophian Sembiring dan Arnem Sembiring (Pa Cerek) di depan rumah kontrakan sederhana rumah kontrakan dinding tepas atap rumbia di Gang Sinar, Jl. Udara Berastagi Sumut tahun 1952.

Sedangkan anaknya yang ke lima Rasmi Sembiring yang lahir pada tanggal 01 Oktober 1945  masih berumur 2 (dua) tahun sehingga harus tetap digendong oleh kakaknya Baik br Sembiring Gurukinayan yang yang pada waktu itu sudah berumur 6 (enam) tahun (lahir tanggal  11 Desember 1941) kawin dengan Kenal Singarimbun yang berasal dari Mardingding. Dalam pengungsian tersebut Rasmi Sembiring mengidap penyakit rabun senja akibat kekurangan vitamin A, akan tetapi karena dapat diketahui lebih dini maka dapat disembuhkan dalam waktu yang relatif singkat.

Selama dalam pengungsian darah yang mengalir dalam diri dan jiwa  Reti Sembiring Gurukinayan bukanlah darah seorang petani seperti almarhum ayahnya Ngupahi Sembiring Gurukinayan, akan tetapi darah seorang pengusaha, dimana dalam hal ini dapat dibuktikan dalam suasana pengungsian pun bakat sebagai pengusaha dapat ditunjukkannya yaitu dengan membukan kedai kopi di tengah hutan sekitar perbatasan dengan Aceh Tenggara. Cangkir yang pada waktu itu terbuat dari bahan kaleng/ alumenium diganti dengan sepotog bambu dengan memanfaatkan ruasnya sebagai cangkir. Karena dalam hutan tersebut tidak ada saingannya maka kedai kopi darurat tersebut banyak diminati oleh para pengungsi lainnya, sehingga dalam suasana pengungsian di tengah hutan Reti Sembiring Gurukinayan dapat memberikan nafkah kepada keluarganya.

Pada awal tahun 1948 keluarga kembali ke kampung Gurukinayan dari pengungsian, dan pada waktu mau menempati kembali rumah di ladang Tambak Rahu yang ditinggal beberapa waktu pada waktu mengungsi sudah ditempati keluarga lainya yaitu Nini Bulang (Kakek) dari Kuat Sembiring Gurukinayan (Pa Jaya), dan atas pendekatan secara kekeluargaan beliau mau mengosongkan rumah tersebut, dan kembali ditempati oleh Reti Sembiring Gurukinayan beserta keluarganya.

Karena memang sudah ditakdirkan yang memiliki jiwa pengusaha maka sepulang dari pengungsian Reti Sembiring Gurukinayan kembali membuka usaha kedai kopi ditempat yang sama. Kedai tersebut cukup laris karena disamping menjual minuman dan rokok, beliau juga menjual Sukat (umbi keladi) yang direbus dan dihidangjkan dalam keadaan panas dan dimakan bersamnaan dengan “gula kerep” (gula batak/ merah yang dihidangkan dalam bentuk potongan kecil). Umbi keladi tersebut hasil ladang mereka di Tambak Rahu yang ditanam istrinya tercinta Releng br Sitepu yang mempunyai cukup andil yang cukup besar untuk membantu cita-cita suaminya yang ingin kembali memiliki bus sendiri. Dalam membuka kedai tersebut beliau dibantu oleh iparnya Musim ginting (Pa Sangkut) dan Lem Sitepu Batunanggar (Pa Nomin)

Pada tahun yang sama  yaitu pada tahun 1948, saudaranya satu kakek Mayan Sembiring Gurukinayan (Pa Ngonggar) yang berkongsi dengan Batak Bangun (Pa Tringani) membeli bus peti sabun, akan tetapi mereka mengalami musibah yang cukup fatal karena bus yang dibeli dengan susah payah di bom oleh tentara Jepang dekat sembahe pada waktu terjadi serangan dari pihak sekutu/ Inggris.

profil sjaya-bus damri chevrolet 1948 Bus Chevrolet Tahun 1948, bus peti sabun (dinding belakang bisa dibuka tutup seperti truk supaya dapat digunakan untuk memasukkan keranjang hasil pertanian pada malam hari)  seperti  ini yang pernah dibeli Reti Sembiring  Gurukinayan yang berkongsi dengan saudara sekakek Mayan Sembiring Gurukinayan (Pa Ngonggar) dan  dengan Batak Bangun (Pa Tringani), dimaa untuk menghidupkan mesinya harus diengkol dari depan.

Pa Miji  rekan bisnisnya dalam   membuka usaha kedai kopi sebelum agresi kedua,  tidak ikut ambil bagian membuka kedai kopi di Gurukinayan, akan tetapi Reti Sembiring Gurukinayan memberi bantuan modal kepada beliau untuk membuka kedai kopi/ rumah makan di dekat los Tiganderket atau jalan ke Kutabuluh. Karena keahlian beliau memasak dan membuat aneka makanan kecil, dalam waktu relatif singkat usahanya berkembang dengan pesat karena orang tidak hanya minum kopi, teh atau makan makanan kecil, tapi juga makan nasi khususnya pada hari pekan setiap hari Kamis. Kebetulan pada waktu itu ada orang  menawarkan   motor halus bekas kepada Pa Miji, dan beliau tertarik sehingga langsung membeli motor “Halus”  (dikatakan motor halus karena suara mesinnya nyaris tidak terdengar atau  “Motor Kitik/ Kecil ” yang  didaerah  Tinggi Karo   maksudnya mobil  sedan) tanpa berkonsultasi dengan Reti Sembiring Gurukinayan sebagai penyandang modal, dimana hanya dalam tempo 1 (satu) tahun Pa Miji telah mampu membeli mobil sedan dari usaha rumah makan tersebut.Akan tetapi kepemilikan mobil tersebut hanya berlangsung beberapa bulan, karena beliau menjualnya kembali setelah mengalami kecelakaan sewaktu mengemudikan mobil yang pada waktu itu mungkin belum berpengalaman. Sehingga Pa Miji yang tadinya statusnya meningkat disekitar daerah tersebut (karena tidak semua orang mampu memiliki mobil sedan) , kembali  ke  status  semula sebagai pengusaha kedai kopi/ rumah makan di Tiganderket, penurunan tingkat status sosial tersebut mungkin karena memang  belum saatnya memiliki motor halus pada waktu itu.

Profil Sjaya-Sedan Chevrolet Fleetline tahun 1948, type yang pernah di beli Pa MijiFoto : Sedan Chevrolet Fleetline tahun 1948, type yang pernah di beli Pa Miji yang di Taneh Karo disebut motor halus atau motor kitik/ kecil.

Sambil membuka kedai kopi di Gurukinayan pada tahun 1948, Reti Sembiring Gurukinayan bekerjasama dengan saudaranya Negeri Sembiring Gurukinayan (Pa Guru) dan Batak Bangun (Pa Tringani) membeli 1 (satu) unit truk, dan beberapa waktu kemudian menambah 2 (dua) unit yang dipergunakan untuk mengangkut barang sampai ke Pematang Siantar yang dimotori oleh Negeri Sembiring Gurukinayan (Pa Guru) untuk mencari muatan dan dikemudikan oleh Batak Bangun, sedangkan dari Pematang Siantar dibawa barang barang kelontong maupun minyak tanah untuk dijual disekitar Gurukinayan, Berastepu, Batukarang sampai ke Tiganderket dan sekitarnya yang pada waktu itu sangat langka dijumpai di pasar, sedangkan bus lainnya untuk menjalani trayek pekan-pekan yang dikemudikan oleh Reti Sembiring Gurukinayan beserta adik bungsunya yang poolnya di Berastepu, sedangkan yang dikemudikan Tabas Surbakti poolnya di Gurukinayan. Akan tetapi  rekan bisnisnya Batak Bangun (Pa Tringani) mengundurkan diri dari patungan tyersebut, sehingga Reti Sembiring Gurukinayan harus meminjam uang mertuanya Sepit Sitepu (Pa Sahun) yang tinggal di Berastepu untuk membeli saham Batak Bangun yang mengundurkan diri dari perkongsian tersebut.

Profil Sjaya-chevrolet tahun 1948Truck Chevrolet Tahun 1948, truck/ bus seperti ini yang dibeli Reti Sembiring Gurukinayan bekerjasama dengan saudaranya Negeri Sembiring Gurukinayan (Pa Guru) dan Batak Bangun (Pa Tringani) membeli 1 (satu) unit truck.

Pada waktu membuka kedai kopi di kampung Gurukinayan pada tahun 1948, situasi keamanan belum stabil dan ada pihak tertentu yang ingin menculik Reti Sembiring Gurukinayan,  sehingga  beliau dengan terpaksa kembali mengungsi seorang diri tidak ke hutan akan tetapi ke Berastagi. Menurut informasi dari keluarga, pada waktu beliau membuka kede kopi ada oknum/ warga diluar kampung Gurukinayan yang bertandang ke kampung tersebut dan singgah di kedainya untuk minum kopi. Setelah selesai meminum kopi, beliau langsung membayar minumannya dengan uang Jepang , akan tetapi karena pada waktu itu didaerah tersebut tidak berlaku lagi uang “Jepang” dimana yang berlaku adalah uang “Belanda” maka dengan sopan beliau mengatakan, “tidak usah dibayar”. Rupanya kerena  ucapannya  itu  membuat  “Oknum” tersebut merasa tersinggung atau tercoreng harga dirinya,  sehingga bebe-rapa hari kemudian “Oknum” tersebut beserta dengan kelompoknya berencana untuk menculik Reti Sembiring Gurukinayan dengan alasan tidak jelas. Hal ini pada waktu itu bisa saja terjadi kepada siapapun,  karena situasi yang tidak kondusif yang mengakibatkan ada istilah siapa yang kuat maka ia yang menang dalam arti seseorang dapat saja  langsung  diculik  dengan  alasan  yang  tidak  jelas yang kemudian tidak pernah kembali atau pulang kekeluarganya . Akan tetapi, sebelum rencana tersebut dapat mereka laksanakan,  ada  keluarga  dekat dari kelompok tersebut, Pa Pangkat Ginting memberitahu adiknya Bantamuli br Sembiring Gurukinayan (Nande Budi Singarimbun) di Tiganderket mengenai rencana tersebut. Sehingga malam hari itu juga adiknya Bantamuli br Sembiring Gurukinayan dengan membawa uang simpannya langsung berangkat ke Gurukinayan untuk menginformasikan rencana penculikan tersebut, dan malam itu juga Reti Sembiring Gurukinayan mengungsi ke Berastagi dan tinggal di rumah Pa Namaken Ginting Suka (keluarga dari suami adiknya Bagin Singarimbun) dengan meninggalkan keluarganya di rumah ladang Tambak Rahu (tempat jasadnya di makamkan kemudian hari) sambil membawa uang hasil usaha kede kopinya dan bantuan uang dari adiknya yang pada waktu itu sudah menjadi pedagang tembakau di sekitar daerah Tiganderket dan Batukarang.

Profil Sjaya-kedai kopi gurukinayanSalah satu suasana kedai kopi di desa Gurukinayan yang suasananya  penuh dengan kekeluargaan

Kede kopi yang ditinggalkan di Gurukinayan diteruskan oleh keluarganya Musim Ginting (Pa Sangkut) dan dibantu Lem Sitepu (Pa Nomin) dan diawasi oleh adik bungsunya Rekat Sembiring Gurukinayan (Pa Nimpan). Sedangkan istrinya yang ditinggal di kampung Gurukinayan berjualan sayur mayur dari hasil kebun mereka serta dibantu anak-anaknya.

Pada tahun tersebut juga Reti Sembiring Gurukinayan kembali membeli truk yang dipergunakan untuk mengangkut pasir dari Lau Dah (dekat Kabanjahe) yang kemudian dijual ke toko material (bangunan) di kota Kabanjahe maupun Berastagi dengan dibantu kerneknya Tabas Surbakti (Pa Bini) yang selama ini tinggal di kampung Gurukinayan. Mereka berdua tanpa kenal lelah mengangkut pasir siang malam dari Laudah untuk dijual kembali di kedua kota tersebut di atas. Sedangkan adiknya Rekat Sembiring Gurukinayan diberi tugas untuk mengawasi kedai kopi mereka di Gurukinayan.

Kemudian pada tahun 1949 atau satu tahun kemudian keluarganya menyusul pindah ke Berastagi dan mengontrak rumah petak dengan dinding tepas (teratak) atap rumbia yang sangat sederhana di Gang Sinar, Jalan Udara Berastagi (lihat foto di bawah).

profile sjaya- ibunda Releng bru Sitepu beserta anaknya  (sesuai arah jarum) Nuraini bru Sembiring, Baik bru Sembiring, Rophian Sembiring dan Rasmi Sembiring pada tahun 1952Foto : ibunda Releng bru Sitepu beserta anaknya  (sesuai arah jarum) Nuraini bru Sembiring, Baik bru Sembiring, Rophian Sembiring dan Rasmi Sembiring pada tahun 1952 di rumah kontrakan dinding tepas atap rumbia di Gang Sinar, Jl. Udara Berastagi Kabupaten Karo Sumut

Pada waktu di rumah kontrakan tersebut lahir anaknya yang ke 8 (delapan) pada tanggal 16 Juni 1951 yang diberi nama Rophian Sembiring Gurukinayan. Kemudian pada awal tahun 1952 keluarga pindah dan mengontrak rumah petak yang berdinding papan atap seng  di belakang Toko Mas Namaken/ Toko Roti Samudra, Jl. Veteran Berastagi yang kondisinya lebih baik apabila dibandingkan dengan rumah kontrakan yang ada di Gang Sinar Berastagi. (lihat foto di bawah). Pada waktu mengontrak rumah tersebut lahir anaknya yang ke 9 (sembilan) diberi nama Eriwan Sembiring Gurukinayan yang lahir pada tanggal  01 Oktober 1953.

Profil Sjaya-anak ke 8 delapan) Rophian Sembiring tahun 1952 di depan rumah petak dinding papan atap seng yang dikontrakanFoto anak ke 8 delapan) Rophian Sembiring tahun 1952 di depan rumah petak dinding papan atap seng yang dikontrak  Reti Sembiring Gurukinayan di belakang Toko “Roti Samudra” dan Toko Mas Namaken Berastagi, Dibelakang kelihatan ibunda Releng br Sitepu, dan juga terlihat baterai bekas bus “PO. PMG” dekat pintu sebelah kiri, cikal bakal “PO. Sinabung Jaya” dikemudian hari.

Satu tahun setelah pindah bersama keluarganya di Berastagi, pada tahun 1950 Reti Sembiring Gurukinayan mengundurkan diri dari kerjasama dengan saudaranya Negeri Sembiring Gurukinayan karena ingin berusaha sendiri.

Pada tahun 1950 Tidak lama kemudian, dari hasil penjualan bus/ truk tersebut ditambah dengan hasil usaha kede kopinya di  kampung  Gurukinayan  dan   bantuan uang dari adiknya Bantamuli br Sembiring Gurukinayan dan juga mertuanya  Sepit Sitepu, serta bantuan tokehnya Bapak   Pho Siong Liem pemilik  Bank “South Asia Bank” di Jl. Kesawan Medan, dibelilah mobil  chasiss  Chevrolet tahun 1950  untuk   dijadikan menjadi bus peti sabun (disebut demikian karena bantuk bodynya persis seperti kotak sabun).

Beliau mempunyai hubungan dengan Bapak Pho Siong Liem tidak terlepas dari bantuan atau rekomendasi dari tokehnya  pada waktu  beliau  masih membuka    kedai   kopi  di   Gurukinayan   yaitu   Bapak   Mohap   yang mempunyai toko grosir kelontong Toko  MO HAP (ada spaci antar huruf mo dan hap) di  depan Pasar Berastagi. Bus peti sabun yang baru dibeli masuk perusahaan   armada   bus   DIENST  (Negara Sumatera Timur) yang dioperasikan disamping membawa penumpang juga membawa komoditi pertanian disekitar daerah tersebut untuk dibawa ke Berastagi, Kabanjahe dan sekitarnya, dan selanjutnya dari sana membawa barang-barang kelontong kembali kesekitar daerah Gurukinayan/ Tiga-nderket.

Profil Sjaya-chevrolet tahun 1950 Truck Chevrolet Tahun 1950 (ilustrasi)

Akan tetapi pencantuman nama armada tersebut di atas hanya berlangsung  beberapa  bulan,  karena  pada  tahun 1950 kebetulan telah berdiri “Usaha Nasional PMG “ ( Perusahaan Motor Gunung ) yang dimiliki Kompeni Bangun (biasanya disebut Tokeh PMG) yang berasal dari  Batukarang. Dimana logo PMG meniru logo Chevrolet yang pada waktu itu kenderaan khususnys untuk kenderaan besar yang dipergunakan untuk angkutan penumpang maupun barang menggunakan mobil buatan Amerika Serikat tersebut.

Beliau memilih bergabung dengan PMG, walaupun pada saat itu sudah ada perusahaan otobus Maspersada milik Raja Oekum Sembiring Meliala. Bus tahun 1950 tersebut masuk armada PO. PMG (Perusahaan Motor Gunung) BK. 44980 nomor lambung 36 dengan trayek “Gurukinayan Pekan-Pekan”, dikemudikan   oleh   Tabas   Subakti (Pa Bini)  menjalani trayek  pekan-pekan  dari kampung Gurukinayan ke Berastagi/ Kabanjahe dan  Tiganderket pada waktu hari pekan (pasar) yaitu hari Rabu dan Sabtu ke Berastagi, hari Kamis ke Tiganderket dan hari lainnya ke Kabanjahe. (Bersambung)

 

Posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima, Cerita (Turi - Turin), Informasi Penting, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment