𝗣𝗜𝗔𝗟𝗔 𝗗𝗨𝗡𝗜𝗔 𝗨-𝟮𝟬 𝗕𝗔𝗧𝗔𝗟, 𝗡𝗘𝗚𝗔𝗥𝗔 𝗟𝗔𝗚𝗜-𝗟𝗔𝗚𝗜 𝗗𝗜𝗣𝗘𝗥𝗠𝗔𝗟𝗨𝗞𝗔𝗡 𝗢𝗞𝗡𝗨𝗠 𝗡𝗘𝗚𝗔𝗥𝗔 𝗦𝗘𝗡𝗗𝗜𝗥𝗜

Xhardy – Di saat FIFA batalkan drawing, sinyal pembatalan udah mulai tercium. Ditambah lagi lagu teaser resmi Piala Dunia U-20 dari Weird Genius hilang dari laman resmi FIFA, sinyal pembatalan makin kuat. Ketika Jokowi mengutus Erick Thohir melobi FIFA, itu pertanda ada masalah serius. Dan puncaknya adalah ini. Indonesia batal jadi tuan rumah.

Ini ibarat kita mau menikah, 4 tahun melakukan perencanaan, udah foto prewedding, tempat resepsi udah dipilih, udah bayar uangnya, undangan udah disebar, udah pesan tiket pesawat dan hotel untuk honeymoon, dan dua bulan menjelang nikah, batal.

Saya sebagai orang yang nggak terlalu peduli dengan sepakbola, bisa prihatin dan sedih dengan berita ini. Bayangin gimana perasaan para pecinta bola yang jumlahnya lebih dari setengah jumlah penduduk Indonesia? Bayangin gimana sakitnya pemain Timnas U-20 yang nggak bisa bertanding padahal udah latihan mati-matian? Yang paling sedih pastinya Pak Jokowi. Dia yang mati-matian mau mengangkat derajat negara ini, dihancurkan dalam waktu singkat oleh orang-orang gila politik dan mabuk agama.

Indonesia pelan-pelan dapat respek dari dunia internasional saat Asian Games 2018 dan G-20 tahun 2022. Nggak gampang bangun reputasi, butuh waktu bertahun-tahun, tapi semua itu dihancurkan hanya dalam waktu beberapa hari.

Satu pertanyaan buat kita semua, kenapa FIFA akhirnya batalkan Indonesia sebagai tuan rumah di saat Piala Dunia U-20 tinggal dua bulan lagi?

Saya akan buka semua kemungkinan dan akan kita bahas satu per satu.

Ada yang bilang FIFA batalin Indonesia karena masalah Kanjuruhan. Ada yang mendukung keputusan FIFA karena PSSI nggak becus ngurusin Kanjuruhan.

Kalo yang ini, sangat gampang dibantah. Kalo memang ini karena Kanjuruhan, udah dari dulu FIFA batalin ketika tragedi itu terjadi. Buktinya nggak ada sanksi dari FIFA dan Indonesia tetap jadi tuan rumah Piala Dunia U-20. Bahkan, ada inspeksi stadion dari tim FIFA.

Kemungkinan berikutnya, karena ada isu keamanan terhadap Timnas Israel. Kalian pasti tahu, belakangan ini ada yang memaklumi kalau Indonesia batal jadi tuan rumah karena takut insiden terorisme akan terjadi atau akan ada kerusuhan besar untuk menolak Timnas Israel.

Terlihat masuk akal. Tapi coba pikir deh. Indonesia udah sering gelar acara besar, pengamanan ketat, acara berjalan lancar. Paling nyata itu G-20 di Bali. 20 pemimpin negara dengan ekonomi terbesar di dunia ngumpul di Bali. Presiden Amerika aja ada di sana. Harusnya itu kesempatan bagus buat kaum intoleran dan radikal untuk beraksi.

Kemungkinan selanjutnya, ada yang bilang karena infrastruktur dan stadion belum siap dan belum layak. Ini lebih nggak masuk akal. Asian Games yang skala lebih gede aja bisa sukses kok. Masa nyiapin 6 stadion aja nggak bisa. Ini mah nggak masuk akal.

Kemungkinan Keempat, ini karena blunder dua kepala daerah yang menolak Israel tanding di Indonesia. Gubernur Bali bahkan berkirim surat ke Menpora, menolak Timnas Israel tanding di Bali. Entah kenapa isi surat itu bocor, tapi isinya kayak petir di siang bolong.

Bali adalah salah satu host, kepala daerah harus komitmen, katanya udah tandatangan juga. Tapi gubernurnya menolak secara mendadak.

Coba kita berpikir dari sudut pandang FIFA. Bali yang harusnya jadi host dan tempat drawing, kepala daerahnya menolak. Pakai surat pula. Kalau cuma koar-koar di media masih mending lah, tapi ini pake surat. Surat itu dianggap sebagai statement yang levelnya sangat serius. Wajar kalau FIFA nggak senang dan kemudian membatalkan drawing di Bali. Udah tandatangan komitmen, tapi dibatalkan secara sepihak, ini namanya nggak profesional. FIFA memandang ini dengan sangat serius.

Coba kalian digituin, marah nggak? Menjalin relasi dengan orang lain, udah serius, udah tandatangan komitmen, deal udah oke, mendadak dia batalin semuanya.

Tapi ada satu hal lagi yang mau saya sampaikan. Banyak yang menyalahkan dua gubernur itu. Tapi ada satu lagi yang harus diwaspadai. Kelompok intoleran dan mabuk agama yang memulai semua ini. Saya juga anggap ada kemungkinan demo-demo penolakan ini yang jadi catatan dari FIFA. Mereka nggak mungkin nggak tahu kalau di negara ini ada kelompok sampah yang siap bikin rusuh karena disetir oleh kelompok politik tertentu.

Inilah yang saya maksud dengan pembiaran yang menjadi bom waktu. Sampai kapan negara mau kalah dan dipermalukan oleh kelompok kayak begini?

Saya cuma berharap, momentum ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pemerintah untuk jadi lebih serius terhadap kelompok ini. Mumpung Indonesia udah dipermalukan kayak begini, saatnya pemerintah lebih tegas dan keras. Mau sampai kapan negara ini malu-maluin kayak begini?

Bagaimana menurut Anda?
sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.