HARI GURU DAN PERINGATAN SEPINTAS LALU

Yolis Syalala – Assalamualaikum Wr Wb

Dalam suatu waktu saya pernah mendengar senandung seirama dari beberapa orang guru sahabat saya, baik di tingkat SD, sampai dengan SMA, kira-kira jika saya tuliskan suara para guru tersebut berbunyi demikian:

“Bukan harta yang harus kalian berikan untuk menghormati guru, bukan pula benda yang harus kalian berikan untuk membuat senang hati guru. Tapi sikap dan penghormatan kalian kepadanya yang bisa membuat guru bahagia”

Sekelumit harapan itu terdengar sederhana namun jika kita renungkan hati, harapan mereka itu sarat makna. Di sana kita sudah ditampar, bahwa penghormatan kita selama ini kepada guru hanya sekedar seremonial belaka.

Jangan ditanya penghormatan dari pemerintah, kalau saya boleh mengatakan, peringatan hari guru dari pemerintah itu hanya kepura-puraan saja.

Saya banyak mengenal guru, terutama guru honorer, sebagai bukti nyata, saya dan rekan-rekan pernah menghimpun guru honorer dari 13 Provinsi di republik ini untuk menguji materi Undang-Undang ASN (UU ASN) di Mahkamah Konstitusi, dari sana pula saya banyak tahu bahwa gaji guru honorer itu memprihatinkan, bahkan dalam permohonanan Judicial Review di Mahkamah Konstitusi kami mendalilkan gaji guru honorer itu ada yang hanya 150 ribu rupiah saja. Sayang 15 kali Permohonan Judicial Review atas UU ASN yang pernah diajukan tak satupun dikabulkan MK, walau katanya Ketua MK saat ini dulunya pernah menjadi guru honorer.

Setelah saya banyak mengetahui bahwa guru honorer itu belum dimanusiakan oleh pemerintah, baik dari hal gaji dan juga perlindungan hukum, selain gajinya bercanda guru honorer itu walau sudah mengabdi puluhan tahun mereka bisa dipecat kapan saja dan tidak ada satupun instrumen hukum untuk mereka berlindung dari perlakuan sewenang-wenang. Kalau bahasa saya, guru honorer itu digaji suka-suka dipecat bisa kapan saja.

Dari keprihatinan itulah saya membulatkan tekad untuk tidak akan berhenti berupaya memerdekaan nasib guru Honorer sampai dengan mereka merdeka 100%, itu semua saya niatkan agar mereka terlindungi secara hukum baik dari segi penghasilan maupun perlindungan atas eksistensi mereka demi terciptanya Keadilan dan Kepastian hukum untuk para guru.

Bagi saya, yang perlu kita ingat!…Hari guru itu tak hanya sebatas ucapan “Selamat Hari Guru” tanpa upaya nyata melindungi eksistensi mereka, ucapan tersebut hanyalah sebaris kata tanpa makna.

Melibatkan diri sejak tahun 2009 dalam upaya memerdekaan profesi guru honorer dari keterbelakangan penghasilan dan keterbelakangan perlindungan hukum, membuat saya paham bahwa ucapan “Selamat Hari Guru” dari pemerintah, baik rezim sekarang atau rezim sebelumnya hanya sebatas ucapan kosong tanpa upaya nyata memanusiakan mereka.

Republik kita ini terkadang lucu!

Ketika perusahaan swasta bisa dipidana karena memberikan upah murah, tetapi di lain hal pemerintah sendiri menghisap keringat guru honorer dan membayar mereka hanya sekedarnya, itupun gaji mereka terkadang tak lancar. Alangkah Astaganya negara ini dalam menghargai jasa guru.

Sementara itu, isu pemerintah yang katanya akan menghapuskan tenaga honorer termasuk guru honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) secara pribadi saya masih pesimis, saya melihat pemerintah masih terkesan bercanda, buktinya beberapa waktu lalu Menpan & RB mengatakan “masih sulit untuk menghapus honorer tahun 2023” dengan alasan masih banyaknya honorer yang mereka data, lalu kalau mau diangkat menjadi PPPK pemerintah tidak cukup anggaran, kalau mau dirumahkan juga tidak mungkin karena pemerintah membutuhkan tenaga honorer tersebut.

Artinya pemerintah hanya akan mengangkat honorer menjadi PPPK secukupnya saja, sisahnya pemerintah masih akan menungganginya sampai kiamat tiba. Kira-kira begitulah

Wajar kalau ada anggapan yang mengatakan: “untuk urusan memanusiakan tenaga honorer dan guru honorer, Pemerintah dan DPR itu adalah Barisan Pengobral Rindu”

Sebagai penutup, jangan pernah bertanya mengapa pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja, jawabannya karena pemerintah kita tidak pernah serius memanusikan guru.

Benar guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, tapi pandangan tersebut bukan berarti guru adalah sekumpulan manusia yang bebas digaji berapa saja. Kalau peringatan hari guru hanya sebatas seremonial saja, lebih baik negara ini tidak perlu memperingatinya

Salam hormat sehormat-hormatnya untuk Guru di seluruh Indonesia

Riau, 25 November 2022

Yolis Syalala
sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.