BELAJAR DARI PARA PEMBENCI PRESIDEN JOKOWI

Francent Ariyanto – Terkadang saya geleng-geleng kepala melihat kelakuan para pembenci Presiden Jokowi. Mereka begitu gigih menyerang Pak Jokowi tanpa ragu meski tanpa data dan fakta yang benar. Saat sudah terdesak pun, mereka masih berupaya menggiring opini untuk menyerang Pak Jokowi.

Ambil contoh soal tuduhan ijazah palsu. Sebuah tuduhan yang mudah sekali dipatahkan sebenarnya tetapi kelompok mereka terus membesarkan masalah ini tanpa ragu. Mereka tampil di media sosial dengan narasi memojokkan Pak Jokowi. Pencetus tuduhan ini pun tampil percaya diri membeberkan tuduhan-tuduhannya.

Tidak ketinggalan para pembenci Jokowi yang katanya berpendidikan mengeluarkan pendapat yang isinya banyak cacat logika. Semua itu disampaikan dengan keyakinan tinggi bahwa mereka benar. Mereka pun menggugat ke pengadilan karena merasa harus menegakkan keadilan. Luar biasa sekali kan keyakinan mereka?

Saat satu per satu orang mengeluarkan bukti bahwa ijazah Pak Jokowi asli, semangat mereka tidak padam. Mereka terus mencari celah untuk menyerang Pak Jokowi. Bukti-bukti dan pernyataan-pernyataan pihak yang menyatakan keaslian ijazah Pak Jokowi seolah tidak membuat mereka sadar. Saat mencabut gugatan pun, mereka menggambarkan ada situasi yang membuat mereka tidak lanjut, bukan karena mereka salah. Ditambah lagi dengan kemunculan video-video yang memberi narasi bahwa pencabutan gugatan itu karena tekanan Pak Jokowi.

Komitmen yang luar biasa tetapi sayang bukan untuk kebaikan. Komitmen yang berdasarkan kebencian yang akhirnya membuat degradasi nalar. Seandainya komitmen seperti ini digunakan untuk bersama membangun negara tentu bangsa ini bisa mencapai kemajuan yang dicita-citakan.

Bagi saya, keberadaan kelompok ini menjadi pengingat bahwa kebencian yang berlebihan akan menghilangkan nalar yang benar. Yang ada dalam pikiran hanyalah upaya untuk menyerang dan menjatuhkan. Hal apa pun yang bisa dijadikan amunisi serangan akan dicoba sekalipun mudah dipatahkan karena seringkali hanya hoax atau tuduhan semata. Kebencian membuat tiada niat mencari data dan fakta yang benar. Yang penting serangan dilancarkan!

Ini menjadi pengingat bagi saya agar tidak jatuh kepada sikap seperti itu. Sikap tidak senang kepada sesuatu atau seseorang juga saya miliki. Jangan sampai sikap kritis kepada seseorang berubah menjadi kebencian. Jangan sampai keinginan menyampaikan kritik lalu mengabaikan fakta karena tingginya nafsu menyerang dan menjatuhkan.

Apa bedanya saya dengan para pembenci Pak Jokowi kalau jatuh kepada kebencian yang berlebihan? Apa bedanya saya dengan mereka ketika mengkritik tanpa data dan fakta yang benar? Jangan sampai saya justru menjadi bagian siklus kebencian yang berputar terus sehingga tidak pernah padam.

Yah, ini sekedar renungan pribadi saja. Meski berada di kubu yang berseberangan dengan para pembenci Pak Jokowi, saya merasa perlu belajar dari mereka. Belajar bahwa kebencian berlebihan bisa mematikan nalar yang benar sehingga saya tidak jatuh dalam kondisi yang sama. Bukankah belajar dari lawan juga merupakan sebuah kebijaksanaan? Semoga demikian.
sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.