TRAGEDI KANJURUHAN: TGIPF SEBUT HANYA ANAK PINTU YANG DIBUKA, PANPEL: ‘SEMUA ADA DI CCTV’

SUMBER GAMBAR,GETTY IMAGES
Keterangan gambar,
Sebuah poster yang mendorong pemerintah mengusut tuntas tragedi di Kanjuruhan dipasang oleh warga di Malang, Jawa Timur.

Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) memastikan seluruh pintu keluar tidak tertutup saat pertandingan usai, namun “hanya anak pintu” yang terbuka.

Keterangan ini didapatkan setelah tim TGIPF mendatangi Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (08/10) untuk melakukan kajian atas tragedi sepekan lalu di tempat kejadian perkara.

“Tapi yang digunakan saat itu, hanya anak pintu atau pintu yang kecil, baik saat penonton masuk maupun pulang,” kata anggota TGIPF Mayjen TNI (Purn) Suwarno, seperti dikutip dari Kompas.

“Jadi apa yang dikatakan pintu tertutup itu tidak benar,” lanjut dia. “Cuma yang dibuka hanya anak pintunya saja dari 14 pintu ini.”

Sebelumnya, polisi pada Jumat (07/10) mengatakan hanya dua pintu darurat yang terbuka saat suporter panik setelah mendapatkan tembakan gas air mata dari aparat.

“Dari delapan pintu darurat, yang terbuka hanya dua. Itu pun untuk jalur evakuasi pemain Persebaya,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo.

Dalam keterangan pers yang diberikan oleh Arema FC pada Jumat (07/10), Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Arema FC Abdul Haris mengatakan semua pintu telah terbuka sepuluh menit sebelum laga berakhir.

“Sesuai SOP, pintu itu semua sudah terbuka. Kalau memang ada, mohon maaf, kalau memang ada oknum yang menutup, semua ada di CCTV,” kata Abdul, yang kini telah ditetapkan sebagai salah satu tersangka dalam tragedi ini.

Presiden FIFA datang ke Indonesia 18 Oktober

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo berkata pemerintah Indonesia bersama dengan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) akan membentuk tim transformasi sepak bola Indonesia.

Hal tersebut merupakan salah satu poin dalam surat dari FIFA yang diterimanya sebagai tindak lanjut pembicaraan per telepon antara Presiden Jokowi dan Presiden FIFA, Gianni Infantino, pada 3 Oktober 2022 lalu.

“FIFA bersama-sama dengan pemerintah akan membentuk tim transformasi sepak bola Indonesia dan FIFA akan berkantor di Indonesia selama proses-proses tersebut,” ujar Presiden Jokowi dalam pernyataan pers, Jumat (07/10/2022), di Istana Merdeka, Jakarta.

Selain itu, dalam surat tersebut juga disampaikan bahwa sepak bola Indonesia tidak dikenakan sanksi oleh FIFA terkait tragedi sepak bola di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, pada 1 Oktober 2022 lalu.

“Berdasarkan surat tersebut, alhamdulillah sepak bola Indonesia tidak dikenakan sanksi oleh FIFA,” imbuh Presiden Jokowi.

Selanjutnya, Kepala Negara memaparkan bahwa akan dilakukan langkah-langkah kolaborasi antara FIFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dan pemerintah Indonesia untuk:

• membangun standar keamanan stadion di seluruh stadion yang ada di Indonesia;

• memformulasikan standar protokol dan prosedur pengamanan yang dilakukan oleh pihak kepolisian berdasarkan standar keamanan internasional;

• melakukan sosialisasi dan diskusi dengan klub-klub bola di Indonesia, termasuk perwakilan suporter untuk mendapatkan saran dan masukan serta komitmen bersama;

• mengatur jadwal pertandingan yang memperhitungkan potensi-potensi risiko yang ada; serta

• menghadirkan pendampingan dari para ahli di bidangnya.

Presiden FIFA Gianni Infantino disebut akan datang ke Indonesia pada 18 Oktober untuk bertemu Jokowi, menurut Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir, Sabtu (08/10).

‘Kapolda Jatim harus bertanggung jawab’

Sebelumnya, penetapan tersangka yang dilakukan Polri terhadap enam tersangka di tragedi Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, direspons keluarga korban.

Devi Athok Yulfitri, 43 tahun yang kehilangan dua putrinya, Natasha dan Naila, mengatakan, pimpinan dari Polda Jawa Timur harus bertanggung jawab.

Alasannya, menurutnya, satuan dari Polda Jatim yang menembakkan gas air mata di dalam stadion.

“Itu Kapolda Jatim harus bertanggung jawab, jangan lepas tangan. Setahu saya, Polda Jatim yang menembak, dari Brimob dan kesatuan di luar Malang.

“Kalau Polres Malang cuma defensif, tapi pemukulan hingga penembakan itu dari luar Malang,” kata Devi saat dihubungi, Jumat (07/10).

Untuk itulah, dia meminta kepada Polri untuk mencopot dan juga membawa ke ranah hukum para pimpinan polisi yang bertanggung jawab.

“Itu kan bukan tawuran, bukan pembakaran. Itu Cuma bentuk ekspresi Aremania. Jangankan pakai gas air mata, pakai water cannon saja anak-anak sudah [bubar],” kata Devi.

Devi mengatakan, penggunaan gas air mata bukan yang pertama terjadi di Stadion Kanjuruhan. Sebelumnya tahun 2018, kala melawan Persib Bandung, gas air mata juga pernah ditembakkan.

“Saya menyaksikan tragedi Kanjuruhan pertama itu, dan lagi-lagi, yang menembakkan itu kesatuan dari Polda Jatim, dan padahal sudah ada MoU sebelumnya untuk tidak menggunakan gas air mata,” katanya.

Devi berharap agar keadilan bagi korban dan keluarga dapat ditegakkan dengan cara menghukum pihak-pihak yang bertanggung jawab.

“Tindakan sebrutal itu menyebabkan banyak nyawa meninggal. Pihak-pihak terkait harus dihukum setimpal dengan kesalahan mereka, maksimal hukuman mati karena kematian keluarga kami di luar nalar manusia, itu pembantaian, bukan lagi kesalahan atau kelalaian,” ujar Devi.

Senada, pendukung Arema Malang, Andika Bimantara juga menyatakan kecewa dengan penetapan tersangka yang dilakukan Polri.

Menurutnya, masih banyak pihak-pihak, khususnya para pimpinan baik dari PSSI hingga kepolisian yang harus bertanggung jawab terhadap tragedi ini.

“Harusnya pihak PSSI juga harus bertanggung jawab, jangan hanya dari LIB saja. Lalu pihak kepolisian Polda Jatim juga harus bertanggung jawab,” kata Andika.

“Karena PSSI selaku otoritas yang dalam regulasi dan Polda Jatim yang punya pasukan.

“Minimal Ketum PSSI mundur lalu regulasi stadion dan keamanan diubah. Dan kalau punya rasa malu, Kapolda Jatim mundur karena dia juga bertanggung jawab di sini khususnya dalam pengerahan pasukan,” ujar Andika.

Kepala Polri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan Danki Tiga Brimob Polda Jatim dan Kasat Samapta Polres Malang, yang telah ditetapkan sebagai tersangka, diduga memerintahkan anak buahnya yang membawa gas air mata untuk ditembakkan di dalam stadion.

Dalam kesempatan berbeda, Menko Polhukam Mahfud MD – yang juga pemimpin Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan – menyatakan ada kemungkinan tersangka masih akan bertambah.

“Tim dari pemerintah akan mencari penyebab-penyebab lain dan mungkin bisa saja dari temuan itu sebenarnya masih ada masalah atau pihak lain atau orang lain yang harus ditindak,” kata Mahfud, saat menjadi pembicara di acara Mata Najwa, Kamis (6/10) malam.

20 anggota polisi diduga melanggar etik

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengumumkan sebanyak 20 anggota polisi diduga melakukan pelanggaran etik terkait tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang.

“Ditemukan bukti yang cukup terhadap 20 orang terduga pelanggar,” ujar Sigit dalam jumpa pers di Mapolres Malang Kota, Kamis (06/10) malam. Empat orang di antaranya merupakan pejabat utama di Polres Malang.

Mereka adalah AKBP Ferli Hidayat (FH), yang saat ini Kapolres Malang, Kompol WS, AKP BS, serta Iptu BS.

Lainnya, perwira pengawas dan pengendali sebanyak dua personel, yakni AKBP AW dan AKP D, kata Kapolri.

Adapun 14 personel lainnya dari Satbrimobda Jatim.

Sementara, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo pada Jumat (07/10) mengatakan, sampai dengan saat ini, tim Bareskrim, Polda Jawa Timur, Propam dan Itsus Polri masih terus bekerja dengan mengedepankan penyidikan Scientific Crime Investigation (SCI).

“Kami berharap masyarakat sabar dan mempercayakan sepenuhnya pengusutan perkara ini kepada kami. Sejak awal kami sudah berkomitmen untuk mengusut tuntas hal ini,” ujar Dedi.

Enam tersangka, di antaranya direktur Liga Indonesia Baru

Jenderal Listyo mengatakan para tersangka diduga menyebabkan tewasnya orang lain atau menyebabkan luka-luka.

Polri telah menetapkan enam tersangka tragedi di Stadion Kanjuruhan yang menewaskan 131 orang, lebih 320 lainnya luka-luka, salah satu bencana sepak bola paling buruk di dunia.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dalam keterangan pers di Malang, hari Kamis (06/10), mengatakan enam tersangka tersebut mencakup AHL, direktur Liga Indonesia Baru, yang memutar liga domestik di Indonesia.

Tersangka lain adalah AH (ketua panitia pelaksana pertandingan), dan SS (security officer).

Tersangka lain adalah tiga anggota Polri, mereka adalah Wahyu SS, H, dan BS.

Jenderal Listyo mengatakan mereka disangka menyebabkan tewasnya orang lain atau menyebabkan luka-luka.

Ia juga menambahkan masih terbuka kemungkinan jumlah tersangka akan bertambah.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menargetkan investigasi tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, yang sejauh ini telah menewaskan 131 orang, agar dapat diselesaikan “secepat-cepatnya”.

Pengusutan atas tragedi ini tengah dilakukan oleh Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) yang dibentuk oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD.

“Kan sudah disampaikan oleh Menko Polhukam, beliau minta satu bulan, tapi saya minta secepat-cepatnya karena ini barangnya kelihatan semua, secepat-cepatnya,” kata Jokowi usai menjenguk para korban di Rumah Sakit Umum daerah (RSUD) Syaiful Anwar, Malang, Rabu (05/10).

Jokowi juga menjanjikan bahwa kasus ini akan “diusut tuntas” dan “tidak ditutup-tutupi”.

Pihak yang terbukti bersalah, lanjut dia, akan disanksi. Begitu pula yang terbukti bersalah secara pidana.

Selain itu, Jokowi juga memerintahkan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk mengaudit total seluruh stadion di Indonesia, baik yang digunakan untuk Liga 1, Liga 2, maupun Liga 3.

“Apakah gerbangnya ukuran sesuai standar, manajemen lapangannya yang memegang kendali siapa, semuanya dari peristiwa ini kita perbaiki semuanya. Manajemen pertandingan, manajemen lapangan, pengelolaan lapangan semuanya kita audit total,” tutur Jokowi.

Jokowi juga telah menelepon Presiden FIFA, Gianni Infantino yang menyatakan bisa membantu memperbaiki tata kelola persepakbolaan Indonesia.

131 orang meninggal, 35 di antaranya anak-anak

Korban meninggal akibat tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Sabtu (01/10) lalu bertambah menjadi 131 orang dan 35 orang di antaranya adalah anak-anak, menurut data resmi Polri dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Tragedi Kanjuruhan menjadi bencana sepak bola terburuk kedua di dunia, setelah peristiwa di Estadio Nacional, Lima, Peru pada 1964 yang menewaskan lebih dari 300 orang.

“Ya, semalam dilakukan coklit bersama kepala Dinas Kesehatan, tim DVI, dan direktur rumah sakit. Penambahan data yang meninggal di non-fasilitas kesehatan, karena tim (sebelumnya) mendatanya korban yang dibawa ke rumah sakit,” kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Dedy Prasetyo kepada BBC News Indonesia, Rabu (5/10).

Dihubungi terpisah, Deputi Bidang Perlindungan Anak KPPPA Nahar mengonfirmasi jumlah korban anak-anak per Rabu pagi bertambah menjadi 35 orang. Korban termuda berusia empat tahun.

Arema FC dikenai sanksi

Sebelumnya, Komisi Disiplin Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menjatuhkan sanksi terhadap klub Arema FC, ketua pelaksana pertandingan, dan penanggung jawab keamanan dalam pertandingan di Stadion Kanjuruhan, Malang, yang menewaskan 125 orang pada Sabtu (01/10/2022).

Ketua Komdis PSSI, Erwin Tobing mengatakan investigasi soal penyelenggaraan pertandingan menemukan “adanya kelalaian yang dilakukan oleh badan pelaksana pertandingan Arema FC, panitia pelaksana, dan penanggung jawab keamanan”.

“Kepada klub Arema FC dan badan pelaksananya, keputusannya adalah dilarang menyelenggarakan pertandingan dengan penonton sebagai tuan rumah dan [pertandingan] harus dilaksanakan di tempat yang jauh dari home base di Malang, jaraknya harus lebih dari 250 kilometer dari lokasi,” kata Erwin dalam keterangan pers di Malang pada Selasa (04/10).

Komdis PSSI juga memberi sanksi denda terhadap Arema FC sebesar Rp250 juta.

Ketua Panitia Pelaksana, Abdul Haris, dilarang beraktivitas di lingkungan sepak bola seumur hidup karena “tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, dengan cermat, dan tidak siap”.

Erwin mengatakan, “Gagal mengantisipasi kerumunan orang datang, padahal punya stewards. Ada hal yang harus disiapkan, pintu yang seharusnya terbuka tetapi tertutup.”

Penanggung jawab keamanan Arema FC, Suko Sutrisno, dilarang beraktivitas di lingkungan sepak bola seumur hidup.

Sebelumnya, Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Albertus Wahyurudhanto, menjelaskan bahwa pihaknya mendapat konfirmasi mengenai penembakan gas air mata di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

“Tidak ada perintah dari Kapolres untuk melakukan penguraian massa dengan tindakan eksesif, yaitu dengan peluru gas air mata. Tidak ada. Itu disampaikan saat apel lima jam sebelumnya,“ papar Albertus dalam konferensi pers terkait investigasi Tragedi Stadion Kanjuruhan di Polres Malang, Selasa (4/10).

Dalam apel tersebut, menurut Albertus, salah satu instruksi dan dilakukan berulang-ulang oleh Kapolres AKBP Ferli Hidayat adalah tidak boleh melakukan tindakan kekerasan dalam keadaan apapun.

Bahkan, sambung Albertus, Kapolres memerintahkan semua anggota menitipkan senjata di luar stadion sehingga tidak ada satupun anggota yang membawa senjata di dalam stadion.

Bahwa kemudian ada tembakan gas air mata di dalam stadion, menurut Komisioner Kompolnas Albertus Wahyurudhanto, “berarti di lapangan ada yang tidak menjalankan instruksi”.

Albertus mengatakan itulah mengapa Kapolri mencopot Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat serta sembilan polisi lainnya yang mencakup komandan batalyon, komandan peleton, dan komandan kompi.

“Jadi ada dugaan memang terjadi pelanggaran instruksi dan ini akan kita cek siapa yang merintah, karena nggak ada yang merintah itu. Ada rekaman yang kami terima, rekaman ketika apel dilakukan ketika lima jam sebelum pertandingan dimulai,” papar Albertus.

Dia juga mengatakan tidak ada perintah dari kepolisian untuk menutup pintu stadion. Berbagai saksi mata yang BBC News Indonesia wawancarai mengaku pintu-pintu stadion ditutup sehingga penonton tidak bisa keluar setelah gas air mata dilontarkan.
sumber: bbc

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.