MENANTI PERNYATAAN ANIES BASWEDAN SOAL BANJIR JAKARTA YANG MENELAN KORBAN JIWA

Francent Ariyanto – Banjir di Jakarta menelan korban jiwa. Seperti diberitakan detik.com, sebuah tembok di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 19 Jakarta roboh dan menewaskan 3 orang siswa.

Sampai sekarang belum ada pernyataan apa pun dari Anies Baswedan selaku gubernur Jakarta. Tidak mengherankan sih sebenarnya karena jurus menghilangnya memang biasa muncul saat ada masalah. Hanya saja, saya penasaran dengan pernyataan Anies kali ini setelah kemarin dia mengeluarkan pernyataan tidak berbobot soal penanganan banjir.

“Kami berharap kedewasaan kita semua untuk melihat ini (banjir) sebagai sebuah problem yang diselesaikan secara scientific, bukan semata-mata secara politik,” ucap Anies pada hari Rabu, 05 Oktober 2022, seperti dikutip dari kompas.com.

Pernyataan itu dilengkapi Anies dengan mengatakan bahwa salah satu cara scientific untuk mengatasi banjir adalah sumur resapan alias drainase vertical. Menurutnya, sumur resapan berperang penting dalam mengatasi banjir di daerah yang cekung. Dengan sumur resapan yang dibangun baik maka genangan air akan menjadi lebih cepat surut.

Itulah pernyataan tidak berbobot yang pertama. Sumur resapan kembali menjadi andalan mengatasi banjir. Kali ini ditambah dengan penjelasan yang membingungkan pula. Mengapa selalu sumur resapan yang diandalkan? Apa tidak bisa menyadari bahwa sumur resapan terbukti tidak mampu mengatasi banjir dengan baik?

Ambil contoh saja peristiwa yang terjadi di Jalan Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, baru-baru ini. Sumur resapan yang dibangun terbukti tidak mengurangi banjir padahal sudah dibangun selama setahun. Masalah banjir di sana baru selesai ketika ada sodetan yang dibangun untuk mengantarkan air lebih cepat masuk ke saluran air.

Dengan begitu jelas, cara mengatasi banjir yang benar adalah dengan mengalirkan air secepat mungkin ke saluran air. Kalau mau diterapkan ke seluruh Jakarta maka seharusnya banjir diatasi dengan membangun saluran air atau melebarkan aliran sungai agar air lebih cepat mengalir. Analisa soal kejadian di Jalan Karang Tengah sudah pernah saya tulis. Kalau berkenan, anda bisa membacanya disini.

Kalau mengikuti kaidah ilmiah atau scientific, sumur resapan sudah terverifikasi tidak efektif mengatasi banjir. Mengapa masih terus dipaksakan menjadi program penanganan banjir? Mengapa tidak melanjutkan normalisasi sungai dan pembersihan gorong-gorong yang menjadi program gubernur sebelumnya? Ini masalah scientific dan bukan politik kan?

Pernyataan yang kedua adalah saat Anies mengatakan bahwa masalah utama Jakarta bukanlah banjir. Masalah utama Jakarta adalah soal biaya hidup. Setelah masalah biaya hidup, masalah lain yang penting di DKI Jakarta adalah soal pendidikan dan lapangan kerja. Menurut Anies, banjir sebenarnya proporsinya kecil tetapi persepsinya besar.

“Misalnya banjir di medsos jadi masalah, nyatanya dari RT kita ada 30 ribu, yang terkena banjir sekitar 30, it’s not even one percent,” kata Anies seperti dikutip dari kompas.com.

Ini pernyataan yang menggelikan. Gubernur-gubernur sebelumnya selalu mencoba mengatasi banjir agar kehidupan di Jakarta bisa berjalan lebih baik. Gubernur yang sekarang justru melihat banjir sebagai sebuah masalah yang sepele. Tidak heran jika penanganannya pun tidak maksimal.

Selain itu, pernyataan tersebut menunjukkan Anies sama sekali tidak peduli soal banjir. Memangnya kenapa dengan rasio yang tidak sampai satu persen? Apakah ini berarti banjir tidak harus diselesaikan? Apakah berarti 30 RT ini dibiarkan saja karena masih banyak RT lain yang tidak kebanjiran? Rasanya pernyataan seperti itu tidak akan keluar dari mulut seorang pemimpin yang memang sungguh peduli pada seluruh warganya.

Karena itulah, saya penasaran dengan pernyataan Anies soal banjir yang menelan korban jiwa. Apakah dia masih akan meremehkan soal banjir? Faktanya angka yang tidak sampai satu persen itu sudah memakan korban. Apakah dia masih akan ngotot menggunakan sumur resapan yang terbukti gagal? Kita tunggu saja.

Bagi saya kura-kura begitu. Anda bagaimana?
sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.