SOLUSI AGAR TRAGEDI STADION KANJURUHAN TAK TERULANG KEMBALI.

Erika Ebener – Bad Loser?

Kalah menang adalah hasil dari sebuah pertandingan. Menjadi aneh jika kemudian ketika Arema kalah, penontonnya turun ke lapangan UNTUK bertanya kenapa mereka kalah. Bukan kah selama pertandingan para penonton ini menonton seluruh jalannya pertandingan? Jika dan hanya jika para penonton itu dibiarkan atau diijinkan untuk benar-benar bertanya pada para pemain sepak bola, apa kira-kira yang akan terjadi ketika para pemain itu tidak memberikan jawaban yang memuaskan pada para penonton yang bertanya dalam kondisi marah dan kecewa? Tentu jawabannya “tetap akan terjadi kerusuhan dan akan sudah sangat terlambat untuk dihindari, karena potensi penonton akan bertindak brutal di lapangan sangat tinggi. Dan bahkan keselamatan para pemain sudah diujung tanduk!”

Berapa jumlah personel polisi yang diturunkan untuk menjaga keamanan pertandingan? Sepadankah dengan jumlah penonton yang berjumlah puluhan ribu orang? Dengan atau tanpa gas air mata, kejadian di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Malang, tetap adalah masalah keselamatan. Di sini, keselamatan siapa yang diutamakan? Tentunya keselamatan pemain dari kedua kesebelasan yang utama. Penonton yang turun ke lapangan, mereka berada di posisi yang menyerang. Dari apa yang saya baca, pihak kepolisian sudah mengupayakan melakukan persuasif pada penonton untuk tidak turun ke lapangan, namun bukannya diindahkan, jumlah penonton yang turun ke lapangan malah semakin banyak. Mungkinkah karena para penonton yang asalnya diam, lalu melihat penonton yang turun ke lapangan dihalau pihak keamanan, kemudian memutuskan ikut turun ke lapangan untuk menegaskan bahwa tidak ada yang bisa menghentikan mereka?

Gas air mata ditembakkan karena pihak keamananpun harus pula menjamin keamanan diri sendiri dari serangan penonton yang sedang marah dan kecewa. Mungkinkah kepanikan yang membuat polisi jadi salah menembakkan gas air mata ke tribun penonton? Secara teori, idealis-nya polisi itu tidak boleh panik dalam kondisi dan situasi yang mengancam jiwa sekalipun. Tapi itu hanya teori. Faktanya, polisi juga manusia biasa yang punya rasa takut dan harus melindungi jiwa.

Kejadian di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Malang, harus menjadi catatan dan pelajaran. Kalau semua ini tentang masalah cuan, next time, jika ada pertandingan antara dua kesebelasan yang memiliki pendukung fanatik, sebaiknya tiket masuk dicetak setengah dari kapasitas stadion dan dijual dengan harga yang sangat mahal. Ini juga bisa menjadi filter atas type penonton yang bisa datang ke pertandingan untuk benar-benar menonton pertandingan secara langsung. Yang tidak mampu beli tiket, cukup menonton di rumah lewat televisi saja.

Sepak bola memang olahraga rakyat, tapi rakyat yang mana? Yaitu rakyat yang sportif yang mampu menerima kekalahan kesebelasan panutan dan menerima kemenangan lawan. Rakyat yang tak perlu harus mempertanyakan “kenapa kalah” padahal sepanjang pertandingan mereka menyaksikan.

Rest in peace untuk korban tragedi Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Malang.
sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.