DUKUNGAN TERHADAP PANGDAM JAYA MEMBLUDAK, MUSUH DALAM SELIMUT NABRAK TEMBOK

Jaya Wijaya – Setelah keberanian Nikita Mirzani viral dan didukung banyak pihak, kini muncul satu orang idola baru bernama Mayjen TNI Dudung Abdurachman. Ketegasan Mayjend Dudung dipuji karena dengan berani melakukan pencopotan baliho untuk menakut-nakuti tikus. Mayjend Dudung juga dengan tegas mengatakan siap jika harus membubarkan FPI, dikutip dari detik.com :

“Kalau perlu, FPI bubarkan saja itu. Bubarkan saja. Kalau coba-coba dengan TNI, mari. Sekarang kok mereka ini seperti yang ngatur suka-sukanya sendiri. Saya katakan, itu (penurunan baliho) perintah saya. Dan ini akan saya bersihkan semua, tidak ada itu baliho yang mengajak revolusi dan segala macam,” ujarnya.

Sikap tegas yang mendapatkan banyak dukungan tersebut semakin membuka fakta, betapa rakyat membutuhkan sosok-sosok tegas dan pemberani terhadap kaum radikal. Jangan-jangan nanti duet Dudung – Nikita bisa menggema di 2024? Hahaha becanda.

Selain ketegasan dalam sikap, tampaknya Mayjend Dudung juga kuat dalam hal argumentasi. Nanti akan kita buktikan, betapa argumentasi beliau begitu kokoh dan bisa menjadi tembok bagi siapa saja yang mencoba membela FPI, termasuk para musuh di dalam selimut.

Silakan perhatikan kalimat beliau berikut ini :

“Ada berbaju loreng menurunkan baliho Habib Rizieq itu perintah saya. Karena berapa kali Pol PP menurunkan, dinaikkan lagi. Perintah saya itu,” kata Mayjen Dudung, Jumat (20/11/2020).

Pernyataan di atas berbicara soal prosedur yang dilakukan TNI sudah tepat!! Karena satpol PP sudah tidak digubris, kepolisian tidak becus hingga kapolda dipecat, maka TNI bisa diperbantukan.

Apalagi pemasangan baliho jelas melanggar aturan dan hukum, apalagi berisi ajakan untuk melakukan perlawanan dan revolusi, yang artinya berpotensi menimbulkan perpecahan dan pembangkangan terhadap negara. Maka wajib bagi TNI yang adalah garda terdepan pertahanan negara (baik dari ancaman dalam ataupun luar) untuk bertindak. Hal ini ditegaskan oleh Mayjen Dudung, seperti dikutip detik.com di bawah ini :

“Kalau siapa pun di republik ini, ini negara hukum, harus taat kepada hukum. Kalau masang baliho udah jelas ada aturannya, ada bayar pajak, dan tempat ditentukan. Jangan seenaknya sendiri, seakan-akan dia paling benar, nggak ada itu. Jangan coba-coba pokoknya,” tegasnya.

Ini adalah argumentasi yang sangat kokoh dan kuat!! Bagi siapa saja yang mencoba membela FPI akan menabrak tembok kokoh tersebut. Siapa saja yang sudah menabrak tembok dan benjol?

A. Fadli Zon Dan Wagub DKI

Kader partai Gerindra di atas berkata, kalau tugas penurunan Baliho adalah tugas satpol PP. Jelas perkataan kader partai pendukung pemerintah di atas menabrak tembok kokoh Mayjend Dudung yang sudah menjelaskan kalau satpol PP tidak berdaya, setiap menurunkan maka dinaikan lagi oleh anggota FPI.

Satpol PP tidak berdaya, maka aparat di atasnya wajar jika turun tangan. Jadi dalam hal ini TNI sudah benar dan sesuai prosedur. Ngomong-ngomong, kader partai pendukung pemerintahan kok bela FPI? Jelas ini adalah musuh dalam selimut.

B. Legislator PPP dan Willy Aditya Nasdem

Sama-sama musuh dalam selimut, dan sama-sama menyalahkan TNI atas penurunan baliho. Bahkan TNI dianggap melakukan maladministrasi.

Keduanya juga sama-sama menabrak tembok kokoh dan benjol. Argumentasi kokoh Mayjend Dudung kembali menjadi jawaban telak bagi para musuh dalam selimut.

Tembok tersebut semakin kokoh dengan dukungan dari masyarakat, di detik.com contohnya, dari 2000 komentar lebih hampir semuanya mendukung pernyataan Mayjend TNI Dudung Abdurachman. Silakan lihat di sini.

C. FPI

Pihak terakhir yang menghantam tembok kokoh dan benjol adalah FPI sendiri. Awalnya FPI mencoba menghibur diri kalau yang melakukan pencopotan bukan TNI, setelah Mayjend Dudung dengan tegas menyatakan bahwa dia yang memerintahkan, maka FPI mulai menggunakan jurus ultimate, yaitu playing victim!!

Silakan pembaca baca pernyataan FPI di sini. Dari banyaknya kalimat tidak berbobot FPI, intinya ada di kalimat berikut ini :

“Tugas TNI setahu saya, selain operasi militer adalah tugas-tugas khusus yang berdasarkan perintah presiden,” kata Juru Bicara FPI, Munarman kepada wartawan, Jumat (20/11/2020).

Sebenarnya penulis malas membahas perkataan yang “setahu saya”, karena artinya orang tersebut hanya menerka-nerka. Intinya FPI sama seperti para musuh dalam selimut, menduduh TNI salah prosedur. Namun, FPI juga menuduh Jokowi sebagai orang yang memerintahkan TNI melakukan pencopotan baliho tersebut.

Secara tidak langsung FPI sedang berusaha menggiring opini masyarakat bahwa mereka dizholimi Jokowi. “Oh aku dizholimi”, basi!!

Memangnya kenapa kalau Jokowi yang memerintahkan? sebagai panglima tertinggi, Jokowi punya hak membantai siapa saja yang tidak taat aturan, seenaknya pasang baliho padahal ada aturannya. Memangnya negara ini punya nenek moyang FPI?

Kesimpulan : selain ketegasan dan keberanian, Mayjend TNI Dudung Abdurachman juga memiliki dasar argumentasi yang kokoh atas tindakannya. Bagi siapa saja yang mau menabrak tembok kokoh tersebut, maka siap-siap benjol dan babak belur.
Begitulah Kura-Kura.

sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *