TAKTIK PEMASANGAN BALIHO PERNAH DIGUNAKAN SAAT PILPRES 2019, KADRUN SUKA YANG BASI?

Jaya Wijaya – Sudah sering penulis berkata, kalau oposisi itu selalu mengulang taktik dan isu yang sama dan basi. Kadang isu komunis, lalu isu kapitalis, habis itu kembali isu komunis lagi, lalu kembali lagi ke kapitalis. Begitu terus sampai lebaran kuda, muter-muter kaya gasing akhirnya pusing sendiri.

Kali ini terkait kepulangan Bibib, oposisi juga menggunakan taktik yang sudah basi. Taktik pemasangan baliho Bibib ini sebenarnya sudah dilakukan saat perhitungan suara oleh KPU 2019, hanya saja saat itu yang dipasang foto ucapan selamat bahwa Prabowo telah memenangkan pemilihan presiden.

Pemasangan Baliho tersebut jelas adalah tindakan bodoh dan melanggar aturan, karena itu Mayjend TNI Dudung Abdurachman langsung men-skak FPI terkait pemasangan baliho tersebut dan berkata :

“Kalau siapa pun di republik ini, ini negara hukum, harus taat kepada hukum. Kalau masang baliho udah jelas ada aturannya, ada bayar pajak, dan tempat ditentukan. Jangan seenaknya sendiri, seakan-akan dia paling benar, nggak ada itu. Jangan coba-coba pokoknya,” tegasnya.

Kali ini langsung TNI yang turun, karena alasan berikut ini :

“Ada berbaju loreng menurunkan baliho Habib Rizieq itu perintah saya. Karena berapa kali Pol PP menurunkan, dinaikkan lagi. Perintah saya itu,” kata Mayjen Dudung, Jumat (20/11/2020).

Sesuai prosedur memang jika satpol PP kewalahan, maka bisa meminta bantuan kepolisian dan TNI. Kenapa tidak kepolisian yang turun? Penulis curiga ini adalah taktik dari Tito Karnavian, karena beliau adalah ahli dalam urusan menangani gerakan radikal.

Dia tahu bahwa gerakan radikal ini sering menyerang kepolisian, karena mereka menganggap polisi sebagai tameng pertama pertahanan negara. Gerakan terorisme tidak menyerang TNI secara frontal, mereka menyusup dan menyebarkan paham, lalu di dalam tubuh TNI mereka menyarankan kudeta militer seperti yang pernah dilakukan organisasi terlarang HTI (Sumber).

Jadi dengan pemerintah menurunkan TNI, seolah-olah memberikan pesan kepada para kaum radikal, bahwa kepolisian dan TNI dalam keadaan kompak untuk melawan radikalisme. Aparat negara tidak bisa diadu domba oleh kaum radikal.

Alasan lainnya, pemerintah juga menghindari untuk kubu oposisi menggiring opini yang menjelekan citra polisi. Hal ini sudah berulang kali terjadi, terakhir kali demo omnibus law citra polisi dibuat buruk oleh klan Shihab lainnya, Najwa Shihab.

Sedangkan kaum radikal tidak akan menjelekan citra TNI secara frontal, karena mereka membutuhkan militer jika suatu saat ingin melakukan kudeta. Mereka tidak akan berani memposisikan diri secara langsung sebagai musuh TNI, karena jika dilakukan maka akan sulit untuk mereka membenturkan kembali TNI dan polisi.
.
Ini bukan sekedar omong kosong. Terbukti waktu pertama kali TNI mencopot baliho Bibib, FPI di twitter berusaha menghibur diri kalau pelakunya bukan TNI. Berikut perkataan mereka, dilansir viva.co.id :

1. Kami yakin bkn TNI. Krn kalo mrk TNI, knp harus malam & diam?

2. Jika memang resmi dr TNI, knp kesannya ketakutan?

3. Itu merendahkan TNI, krn itu pekerjaan Satpol PP.

4. Upaya adu domba TNI-FPI yg selama ini harmonis. Sumber.

Pernyataan FPI di atas, seperti biasa minim logika, mari kita bahas. Poin 1 dan 2, jika memang FPI menganggap yang mencopot baliho bukan TNI dan ketakutan, kenapa tumben FPI diam-diam saja, biasanya kan kalau bukan sama aparat sering main hakim sendiri?

Jika FPI tahu kalau yang mencopot kesannya ketakutan, artinya FPI ada di lokasi dong? Kalau tidak ada di lokasi, artinya ucapan FPI hanya asumsi orang yang sok menjadi ahli psikologi.

Poin 3, ini jawabannya ada di paragraf sebelumnya. Karena satpol PP sudah menurunkan, namun selalu dinaikan lagi oleh anggota FPI, maka wajar diperbantukan oleh aparat yang tingkatnya di atas satpol PP. FPI jangan pura-pura bego deh, karena ga perlu pura-pura juga sudah ketahuan begonya.

Poin 4, sampai sini sudah jelas yang melakukan pencopotan adalah TNI dan hal tersebut sudah sesuai aturan. Jadi poin 4 ini otomatis gugur!! Soal harmonis, ini hanya rayuan saja, karena bagaimanapun organisasi radikal seperti FPI butuh bantuan TNI jika suatu saat akan melakukan kudeta.

Akhirnya setelah tahu TNI yang melakukan pencopotan (dikonfirmasi Mayjend Dudung), dan asumsi FPI sebelumnya terbukti ngawur, sekarang apa yang FPI lakukan? Ya tentu, playing victim (sumber)!! Inilah jurus terakhir mereka jika kepepet.

Kesimpulannya : pemasangan baliho adalah trik basi untuk meraih simpati masyarakat, counter trik ini pun sangat mudah. Hanya butuh ketegasan, dan ini sudah dilakukan pemerintah lewat perantara Mayjend TNI Dudung Abdurachman.

Begitulah Kura-Kura.

sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *