PEMPROV DKI DAN FPI MULAI SALING SERANG SOAL ACARA RIZIEQ

Xhardy – Ibarat dalam sebuah film, sekelompok orang melakukan sebuah aksi dan rencana, awalnya terlihat berhasil, tapi kemudian timbul masalah, dan kelompok ini mulai pusing kepala, saling menyalahkan, mungkin hubungan bakal retak dan terjadi aksi cakar-cakaran. Ini cuma contoh.

Tapi apa yang terjadi setelah acara pernikahan putri Rizieq dan Maulid Nabi yang menyebabkan kerumunan membuat banyak orang pusing tujuh keliling. Terlihat masing-masing pihak sedang menyelamatkan diri, sinsingkan lengan baju, lipat celana sampai selutut lalu lari sekencang-kencangnya untuk melarikan diri.

Entah benar atau tidak prediksi saya, tampaknya akan ada yang bersalah atau disalahkan dalam hal ini. Wajar, kerumunan yang diakibatkan oleh acara Rizieq sudah berada di luar batas toleransi di masa pandemi ini. Masalahnya siapa yang bertanggung jawab, belum jelas. Karena masih dalam tahap pemeriksaan terhadap pihak terkait.

Kita mulai dari ketua DPP FPI, Slamet Maarif

“Sebelum pelaksanaan untuk menghindari kejadian yang tak diinginkan, panitia menyiapkan hal-hal yang berkenaan dengan protokol covid-19. Termasuk kerjasama dengan kelurahan, pihak kecamatan, wali kota,” katanya, saat menjadi narasumber di acara Mata Najwa.

Najwa Shihab mempertegas soal koordinasi.

Slamet menjawab sudah koordinasi dengan Kecamatan, Kelurahan, dan Wali Kota. “Kemudian kami mendapat surat balasan, kita kerja sama,” katanya.

“Jadi bisa saya katakan Pemprov DKI memfasilitasi acara ini?” tanya Najwa.

“(Iya) Membantu. Dalam rangka melaksanakan kewajiban protokol covid. Karena kan kita punya kewajiban, karena kan koordinasi,” jawab Slamet. Dia juga berkata FPI telah mengantongi izin untuk melakukan penutupan jalan demi lancarnya acara.

“Sudah-sudah. Karena kan kita menutup jalan, kalau menutup jalan itu pasti kita minta izin terhadap Dishub, untuk penutupan jalan. Ketika itu memang kita meminta ditutup jalan sampai dengan arah Slipi supaya kosong, supaya bisa jaga jarak,” katanya.

Selain itu, dia mengaku dibantu jajaran Pemprov DKI melalui Wali Kota Jakarta Pusat, yang tertera pada pemberian surat arahan kepada panitia untuk tetap menjaga protokol covid-19.

Tapi, Wagub DKI Ahmad Riza Patria menyatakan dengan tegas, FPI tidak dibantu oleh Pemprov DKI. Alasannya, sejak awal sikap Pemprov DKI adalah, tidak boleh ada kegiatan yang melanggar protokol kesehatan, dan menimbulkan kerumunan.

Wagub DKI memberi bukti pada Kamis 14 November 2020, Anies sudah secara terbuka memberi arahan kepada jajarannya untuk melakukan sejumlah poin.

Di sisi lain, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan, kegiatan di Petamburan, tidak pernah dapat izin dari Pemprov DKI Jakarta.

“Pemerintah Provinsi DKI, tidak pernah mengizinkan. Tolong diperhatikan. Jadi saya ulangi, Pemerintah DKI tidak pernah mengizinkan,” kata Doni.

“Gubernur DKI, melalui Walikota Jakarta Pusat, telah membuat surat. Kami peroleh dari pemerintah DKI Jakarta. Ya, sekali lagi, supaya tidak terjadi kekeliruan dalam pemberitaan, bahwa Pemerintah DKI Jakarta dari awal tidak memberikan izin ya,” kata Doni.

Benar, kan, kalau masing-masing saling bantah dan membela diri. Yang jelas, pada waktunya akan terbukti siapa yang benar dan siapa yang bohong. Meski kita tahu siapa yang sedang cuci tangan, tapi kita biarkan saja sambil menyimak dengan duduk cantik.

Mungkin, ini berpotensi terjadi konflik di kalangan internal kelompok sebelah. Apa yang sudah dicapai saat pertemuan malam itu bisa dilupakan dan dianggap tidak pernah ada. Kalo sudah begini, pasti saling menyalahkan dan merasa sudah benar.

Ini artinya, mereka awalnya merasa sudah menang. Kelompok ini merasa di atas angin, ketika menganggap dirinya tak terhalang dengan dukungan massa yang besar. Emosi sesaat. Nyatanya, sekarang kocar-kacir gara-gara keangkuhan sendiri. Bingung mau gimana menyelesaikan kekacauan ini.

Kita hanya bisa menyimak, karena lumayan menghibur. Apalagi kelompok ini ngelesnya gak kira-kira, langsung bombastis sehingga terlalu jelas bohongnya. Misalnya undangan hanya 30 orang, padahal tenda yang dibangun sangat panjang bisa menampung ratusan hingga ribuan orang. Ucapan lisan Rizieq juga mengindikasikan sebaliknya. Untung saja tidak bilang mereka tidak undang siapa pun, tapi entah dari mana, orang-orang berdatangan.

Kekacauan dimulai dari sebuah ketidakkompakan. Ini sangat seru untuk diikuti.

Bagaimana menurut Anda?

sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *