IKUT DEMO, PULUHAN BURUH DI KALTIM DI-PHK, SEKARANG MENYESAL, KAN?

Xhardy – Baru-baru ini, sebuah video viral yang katanya, isinya seorang ibu-ibu pakai toa meminta parah buruh untuk pulang dan berlibur imbas ikut demo menolak UU Cipta Kerja.

Dan sekarang ada lagi berita di mana puluhan buruh terkena PHK karena sempat ikut demo tolak UU Cipta Kerja. Puluhan buruh ini juga bahkan tak diberi pesangon.

Masalah ini terungkap saat buruh dan mahasiswa menggelar demo penolakan UU Cipta Kerja di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur pada tanggal 6 Oktober lalu.

Mereka tergabung dalam Aliansi Gerakan Buruh Menuntut Keadilan (GBMK) ini memadati Jalan Gajah Mada. Selain penolakan terhadap UU Cipta Kerja, mereka memperjuangkan puluhan buruh di salah satu perusahaan sawit di Kutai Barat yang belum lama ini di-PHK tapi tidak diberi pesangon.

Mereka menyebut puluhan buruh tersebut di-PHK perusahaan karena menggelar aksi penolakan UU Cipta Kerja pada 25 Agustus 2020. “Sudah bulan lebih mereka (buruh) belum dapat hak dan kini telantar di Kantor Dinas Tenaga Kerja Kaltim,” kata dia.

Selain sempat membakar ban, mereka juga sempat memberhentikan sebuah mobil plat merah warna hitam yang kebetulan melintas di jalan tersebut. “Bapak turun pak. Dengarkan suara kami pak,” teriak massa aksi. Tapi teriakan aksi tidak ditanggapi orang yang mengendarai mobil tersebut. Tak lama kemudian mobil dibiarkan melintas.

Massa aksi juga meminta bertemu dengan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur, tapi tak dapat dilakukan. Pemprov Kaltim tak memberi ruang mediasi hingga massa membubarkan diri.

Nah, kadang kasihan melihat para buruh ini. Tapi mau gimana lagi. Ini adalah pilihan mereka sekaligus menunjukkan betapa cerobohnya mereka tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya.

Setelah ikutan demo dan sekarang terkena PHK, pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang bisa menolong mereka? Pemerintah pun tak bisa bantu karena pemerintah tak punya pabrik. Waktu demo bicaranya lantang, menantang dan garang. Sekarang menyesal. Coba lapor ke yang mengajak demo, atau serikat pekerja, mana tahu bisa bantu menafkahi mereka.

Apa mau dikata, nasi sudah menjadi sushi, demo berlalu terjadilah PHK, kini tinggal penyesalan. Apalagi bagi mereka yang sudah berkeluarga, punya anak, punya cicilan motor atau rumah yang belum lunas, biaya ini itu. Terpaksa gigit jari dah.

Bagaimana pun juga perusahaan atau pabrik lebih unggul dan punya power. Bahasa kasarnya, mereka mau apa pun juga terserah mereka. Pekerja bisa apa? Pengusaha memberikan pekerjaan dan nafkah, sedangkan pekerja memberikan output dalam bentuk kinerja untuk menghasilkan barang atau jasa. Win-win solution. Yang penting pengusaha tidak sewenang-wenang. Kalau pun sewenang-wenang, bisa cari pekerjaan lain, mana tahu dapat yang lebih baik.

Pengusaha juga tidak bodoh. Jangan dipikir buruh ancam seenaknya, lantas pengusaha bakal tunduk. Justru ini membuat buruh jelek nilainya, makin tidak disukai dan tinggal menunggu waktu di-PHK. Apalagi di Indonesia ini, pengangguran cukup banyak. Masih banyak yang mau antre dapatkan pekerjaan. Bersyukurlah kalau masih dapat pekerjaan. Dan pengusaha juga punya opsi pamungkas, minggat ke negara lain yang buruhnya tidak rewel. Buruh bisa apa? Silakan minta kerjaan pada serikat pekerja atau siapa pun yang minta mereka demo.

Di tempat lain, ada juga kelompok yang mengaku tidak takut di-PHK karena demo tolak UU Cipta Kerja. Mereka mengaku sudah siap menghadapi kemungkinan terburuk. Lebih baik di-PHK ketimbang menjadi seperti sekarang, hak dikebiri.

Yakin?

Perusahaan tidak punya beban, banyak yang antre mau bekerja. Masih banyak negara lain yang mau menampung. Memangnya siapa buruh? Gara-gara ulah segelintir dari mereka, banyak yang kena getah. Habis itu demo naik panggung salahkan pemerintah karena tidak mampu menyediakan lapangan kerja. Padahal pas dikasih kerja, banyak ulah dan demo tak jelas menuntut sesuatu yang di luar akal sehat. Orang model begini, memang harus diberi pelajaran. Kasihan sih, tapi hanya dengan beginilah baru bisa kapok dan jera.

Buat yang masih punya kerjaan, ingat keluarga di rumah, sekarang masih pandemi, serba susah. Jangan mau dengan bodohnya diprovokasi. Kalau kehilangan pekerjaan, tak ada yang mau menolong. Menangis sendiri di pojokan.

Bagaimana menurut Anda?

sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *