SEKDA DAN WALKOT JABAR KENA COVID, BALAI KOTA JADI KLASTER, ANIES HARUSNYA DILOCK DOWN

Ronindo – Anies patut bersyukur karena bukankah dengan banyak pejabat Balai Kota positif COVID-19 itu maka target dan tujuan Anies tercapai? Ada kabar satu lagi pejabat dan orang ketiga Anies yang positif COVID. Makanya ketika pengumuman soal PSBB yang disampaikan oleh Anies, Sekda tak nampak batang hidungnya.

Klaster Balai Kota terus menyebar. Sebelumnya Sekda DKI Saefullah pernah mengumumkan beberapa pejabat di Balai Kota itu positif COVID-19. Sudah seharusnya Anies melockdown dirinya dulu/

Balai Kota menjadi klaster penularan dari COVID-19.

Wajah Anies mestinya merona karena dengan data yang semakin tinggi maka Anies bisa menunjukkan seolah keberhasilan tes itu menjadi indikator keberhasilan menangani pandemi. Tapi ujungnya kontradiktif sendiri dalam dirinya karena dia terpaksa harus mengakui bahwa rumah sakit bisa kolpas dengan penambahan masif pasien Korona.

Oh ya sebelumnya kembali ke Sekda, Saefullah pernah merilis daftar 7 pejabat yang positif terinfeksi Corona yakni: • Asisten Pemerintah Setda Provinsi DKI Jakarta Reswan W Soewaryo; • Kepala Biro Pemerintahan Setda Provinsi DKI Jakarta Premi Lesari; • Kepala Biro Pendidikan Mental dan Spiritual Provinsi DKI Jakarta Hendra Hidayat; • Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta Suzy Marsitawati; • Direktur Utama PD Pasar Jaya Arief Nasruddin; • Kepala Biro Penataan Kota dan Lingkungan Hidup Afan Adriansyah Idris; dan • Ketua TGUPP Amin Subekti.

Dan daftar itu bertambah selain dirinya ada Wali Kota Jakarta Barat Uus Kuswanto positif terpapar Covid-19. Meski begitu, kata Anies, baik Sekda DKI maupun Uus tak bergejala Covid-19 sebelumnya.

Sekda DKI si Saefullah adalah orang kuat di DKI, menjabat dari Juli 2014. Moga cepat pulih Pak karena Sekda ini jadi tulang punggungnya si Gubernur DKI!

Di satui sisi kebijakan pengumuman soal positif Korona sepertinya menunjukkan keterbukaan dan transparansi data dari Balai Kota. Tapi itu tak berlaku untuk transparansi data APBD DKI. Ironis bukan. Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Muhammad Taufik terus Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar terbuka mengumumkan siapa pejabat saja daerah yang positif terpapar virus Corona. Katanya demi penelusuran kontak.

Nah ujung-ujung Taufik sendiri rupanya pernah bertemu dengan si Sekda. Dia pun lantas melakukan tes swab mandiri.

“Beberapa hari sebelumnya pernah bertemu (Sekda DKI) di satu kegiatan.”

Jaid semestinya para pejabat DKI itu jangan dulu keluyuran. Buktinya banyak pejabat yang kalau dilakukan pengetesan itu akhirnya ketahuan juga. Ngeri klastert Balai Kota itu terus bertambah.

Zona merah sudah masuk ke pusat atau ke Balai Kota. Kalau setiap kota di Jakarta jangan ditanya, semua kota di Jakarta sudah zona merah, mulai dari pusat, barat, timur, utara dan selatan. Kecuali Kepulauan Seribu. Itu pun karena wilayahnya nggak nempel dengan Jakarta. Kalau nempel dikit saja langsung sudah ketularan merahnya.

Lingkaran yang memepet Anies dengan COVID-19 itu makin dekat saja nih. Tapi si Anies ini memang sakti mandra lidah. Kendati para pejabat di ring 1 Anies terkena tapi si Giubernur terus keluyuran dengan membawa para punggawa-punggawanya.

Maka Anies dan para punggawa itu akan membawa penularan yang lebih besar dan menyebar. Apalagi Anies itu sering kontak dengan para pejabatnya di Balai Kota.

Sudah saatnya Anies itu melakukan lockdown di Balai Kota. Jadi inilah realita di DKI. Para pejabat Anies turut menyebarkan penularan itu ke rakyatnya sendiri. Apes benar jadi warga DKI. Paling apes adalah orang yang bertemu dengan para pejabat yang sudah positif tersebut.

Jangan-jangan penyebab Anies melakukan PSBB total itu adalah karena pejabatnya sudha banyak jadi korban. Jadi biar nggak menyorot khusus ke para pejabat di Balai Kota maka rakyat pun itu tyerkena kebijakannya yang sangat fleksibel ini.

Karena ujungnya dia menggarisbawahi bahwa tak ada pelarangan kegiatan tapi hanya pengetatan.

Itu yang harusnya dilakukan pengetatan lidah dan omongan yang terlampau boros. Makanya berdampak ke anggaran. Semakin banyak bicara maka semakin bocorlah anggaran dan semakin meranalah para penerima bantuan yang bantuannya itu makin tersunat oleh Pemprov DKI.

Gws ya Pak Sekda!

Demikian kura-kura.

sumber: seword

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *