TAK USAH SERET PRESIDEN SOAL PSBB TOTAL DKI JAKARTA, GAK COCOK

Xhardy – PSBB Total diprotes banyak pihak, karena akan berdampak masif bagi kehidupan warga Jakarta dan juga mempengaruhi Indonesia dari segi ekonomi. Banyak yang mengeluh, hidup susah makin susah. Ada yang mengeluh hidup yang mulai beranjak pulih kembali anjlok lagi seperti saat awal pandemi.

Di sisi lain, ada pula pendukung Anies yang membela mati-matian, mengatakan kalau Anies sangat tegas dengan memberlakukan kembali PSBB Total. Coba kita jelaskan apa itu tegas. PKL liar aja gak tegas ditertibkan. Pemukiman liar di bantara sungai aja gak tegas direlokasi. Tegas dari mana?

Anggota DPRD DKI Jakarta Riano P Ahmad mengatakan langkah Anies menarik “rem darurat” dengan memberlakukan PSBB Total dan ketat sudah sesuai dengan instruksi Presiden Jokowi untuk menyelamatkan warga. Menurut dia, Presiden Jokowi baru-baru ini juga meminta para kepala daerah menempatkan kesehatan menjadi fokus utama sebagai respon atas melonjaknya kasus Covid-19 dan per hari sudah mencapai 3.000 lebih pasien yang terinfeksi.

“Tingginya lonjakan kasus COVID-19 di Jakarta membuat Anies harus berfikir keras. Karena kita lagi berada dalam situasi yang tidak terkendali. Artinya, Anies ingin menyelamatkan kesehatan dan keselamatan warga, sesuai arahan Pak Jokowi,” kata Riano.

Dia meminta semua pihak memahami realitas di DKI karena kemarin pelonggaran dengan PSBB Transisi yang dirancang untuk memulihkan ekonomi kini malah membuat kondisi tidak menentu. Faktanya, sekarang situasi semakin tidak terkendali, jumlah kasus melonjak, rumah sakit rujukan dan tempat pemakaman di DKI mulai kewalahan.

“Pak Anies sebelumnya sudah mencoba menerapkan PSBB Transisi dengan protokol 3M untuk merangsang perekonomian Jakarta, namun terbukti belum efektif dan justru jumlah kasus positif COVID-19 semakin melonjak,” kata Riano.

Please, instruksi Jokowi tidak bisa serta merta dijadikan alasan untuk menerapkan PSBB Total. Akar masalahnya adalah masyarakat yang masih banyak yang tidak disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Makanya jumlah kasus positif terus meningkat dari hari ke hari.

Jokowi memang mengatakan fokus kepada kesehatan dan menyelamatkan warga, tapi saya yakin kalau ekonomi juga ikut terseret, bukan itu yang diinginkan Jokowi. Makanya saya bingung dengan mereka yang menggunakan alasan ini untuk membenarkan tindakan yang dilakukan Anies.

Kepala daerah penyangga Jakarta saja dibuat kebingungan karena masih belum jelas saat rapat. Bahkan mereka meminta Anies koordinasikan ini dengan pemerintah pusat terlebih dahulu. Kalau tidak serius, maka PSBB ini pasti akan gagal seperti yang sudah-sudah, plus bonusnya ekonomi kian merosot, rakyat makin susah. Apakah ini hadiah yang mau diberikan Anies kepada warga?

Jika Anies bijak, tentunya dia tidak perlu PSBB Totak karena percuma saja, kecuali dia ada niat bikin warga sengsara dan menciptakan polemik. Saya tadi sempat menonton video, lucu tapi mengena. Dibilang PSBB diperpanjang, tapi juga harus dikerasin (tegas sanksinya). Percuma aja dipanjangin tapi nggak dikerasin. Panjang tapi gak keras, tahu sendiri lah, hahaha. Masuk akal sih.

Percuma mau PSBB bahkan lockdown kalau tidak tegas kepada mereka yang bandel. Anies tidak tegas, sejak menjabat sampai sekarang. Itu faktanya. Dan sekarang dengan PSBB, hanya Tuhan yang tahu bagaimana dampaknya ke depan.

Kesimpulannya, nggak nyambung kalau instruksi presiden ini dijadikan alasan, apalagi sampai menarik rem darurat di saat pengendara mobil ngebut ugal-ugalan. Mobil bakal terbalik terguling-guling. Nanti, ketika PSBB gagal, warga makin susah, ekonomi pun makin hancur, angka positif pun terus naik tak turun-turun, pasti salahkan Jokowi lagi, kan?

Dari awal saja Jokowi disalahkan karena tidak mau memberlakukan lockdown secara nasional. Dan sekarang ketika PSBB nanti gagal lagi, dan ekonomi hancur lebur, tinggal salahkan Jokowi lagi dengan alasan ini sudah sesuai instruksi presiden untuk fokus pada kesehatan.

Padahal intinya adalah ketidaktegasan dalam menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan tidak ada sanksi yang berat. Ingat lagi, panjang tapi tidak keras, percuma aja, kan? Buang-buang anggaran, pandemi tidak selesai, kasus positif tidak menurun, ekonomi megap-megap. Komplit efek sampingnya. Masalahnya apakah Anies paham? Atau memang tidak paham? Atau ada tujuan lain di balik kebijakan fatal ini?

Bagaimana menurut Anda?

sumber: seword

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *