PERIHAL MEMBERI HORMAT PADA BENDERA

“Tet, ngapain Kau menghormat pada bendera? Itu kan sama seperti menyembah berhala?”

“Sebenarnya Aku sedang memberi hormat kepadamu, Cok. Juga kepada semua keluargamu dan kawan2mu.”

“Bah, kok bisa? Jangan halu Kau ya Tet. Cantik2 gini kok sukanya halu? Tobat woy.. Sadar..”

“Gini Cokna. Dulu nenek moyang Kita sama2 menderita dijajah bangsa lain. Mereka bukan cuma kehilangan harta benda, karena kekayaan negeri mereka dirampok dan dibawa ke negeri asing, tapi juga kehilangan harga diri mereka sebagai manusia. Sehebat apapun mereka berkarya, mereka selalu diperlakukan seperti binatang yang dipelihara. Padahal merekalah sebenarnya pemilik dari kekayaan negeri mereka. Menyakitkan sekali. Oleh karena itu mereka lalu sama2 berjuang memerdekakan diri. Bahu membahu saling membantu, mengorbankan segala yang mereka miliki, termasuk darah dan air mata. Terus mereka berjanji, kalau penjajahnya udah kalah, mereka akan bikin satu negara bersama, rumah bersama untuk semua, dengan hak dan kewajiban yang sama. Waktu itu mereka semua berjanji, dirumah bersama itu kelak, tidak akan ada lagi yang diperlakukan tidak adil, seperti ketika mereka masih dijajah. Mereka semua berjanji, kalau sudah merdeka nanti, semua orang, semua suku, semua penganut agama, semua golongan yang ikut memperjuangkan kemerdekaan itu, akan dihormati dengan cara selayaknya manusia yang setara. Tidak ada lagi perbedaan diantara anak negeri, seperti yang biasa dilakukan oleh penjajah negeri. Semua dilindungi, semua dimuliakan. Itulah janji mereka. Itulah cita2 perjuangan mereka, yang dibayar dengan darah dan nyawa mereka.

Perjanjian suci itu lalu dibuatkan simbolisasinya, itulah bendera merah putih yang kuhormati itu, yang kamu tuduh berhala.itu. Banyak diantara mereka yang mati terbunuh gara2 mempertahankan janji itu. Jadi ketika Aku memberi hormat pada bendera itu, sebetulnya Aku sedang memberi hormat pada perjanjian leluhur Kita. Dan karena Kamu adalah keturunan orang2 yang telah berjanji itu, maka hormatku kepada bendera sama artinya Aku sedang memberi hormat kepada Kamu dan sanak keluargamu, YANG ADALAH PEWARIS PERJANJIAN SUCI ITU.”

“Bah, dalam juga pemahaman Kau soal bendera ini ya Tetna? Minta maaf lah Aku ya, sudah menuduhmu menyembah berhala.”

“Nggak apa2 Cok. Kau kumaafkan. Tapi jangan lupa kasih tahu teman dan keluargamu ya. Masih banyak yang mengidap kebodohan akut seperti itu.”

fb Leo Tarigan

This entry was posted in Berita, Berita Pilihan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *