PEMERINTAH TANGKAP BAHAR TANPA ALASAN JELAS, SITU WARAS?

Xhardy -!Penangkapan Habib Bahar bin Smith setelah 2 hari bebas melalui program asimilasi dinilai tanpa alasan yang jelas dan masuk akal.

Habib Bahar dianggap mengabaikan protokol keselamatan Covid-19 sehingga pemberian asimilasi pun dibatalkan dan ditahan kembali.

Tak hanya itu, usai ditahan di Lapas Gunung Sindur, Habib Bahar secara mendadak dipindahkan ke Lapas Batu Nusa Kambangan. Bukan tanpa alasan yang jelas. Simpatisan dan pendukungnya berkerumun di depan lapas, menimbulkan ketidaknyamanan bahkan mengganggu ketertiban dengan merusak pagar lapas.

Sudah cukup belum alasan Bahar diungsikan?

Adalah Ketua GNPF Ulama Kota Binjai, Sanni Abdul Fattah yanh menyatakan alasan penangkapan Habib bahar yang tak mengindahkan PSBB itu hanya sebuah lawakan yang harus ditertawakan.

Uppss, GNPF Ulama, hahaha, lu lagi lu lagi. Kelompok yang tidak tahu malu, memanfaatkan agama tapi merasa paling suci. Kelompok yang berlabel agama, tapi kerjanya cuma tukang demo. Hanya bisa teriak kriminalisasi agama kalau sudah terdesak oleh kesalahan yang diperbuat.

Negara dan penegak hukum terkesan takut untuk mengumumkan kepada publik mengenai keresahan atas isi dan materi ceramah Habib Bahar di depan jamaahnya yang viral di dunia maya. “Alasan penangkapan Habib Bahar bin Smith harus disikapi dengan ketawa! Karena pemerintah tak berani mengakui ketakutannya untuk mengatakan, bahwa mereka kuatir dengan ceramah yang mengingatkan khususnya umat Islam akan ancaman dan bahayanya penyelenggaraan kekuasaan yang asal-asalan,” kata Sanni.

Sanni mengatakan, ceramah Bahar yang viral itu bisa menggerakkan perlawanan terhadap pemerintah yang menyelenggarakan berbagai kebijakan yang terkesan ugal-ugalan. “Tapi kan pemerintah nggak berani mengatakan alasan itu. Takut akan menimbulkan kemarahan yang semakin besar. Maka dipakailah alasan yang tak masuk akal, membingungkan. Dan pantas ditertawakan,” katanya.

“Di saat bulan puasa, di mana ceramah adalah bagian dari aktivitas umat Islam dalam mengisi ibadah, seorang penceramah malah ditangkap karena alasan itu. Sementara, pemerintah Joko Widodo melonggarkan dan membiarkan aktivitas manusia untuk berdesak-desakan. Dan lebih ironis, para pejabat berfoto gembira usai konser amal. Dan tak mengindahan protokol. Inikah damai dengan corona yang dimaksud Presiden Jokowi?” kata Sanni.

“Pemerintah harus berani bilang, Habib Bahar ditangkap karena makar, bukan karena menabrak aturan keselamatan Covid-19. Biar nggak jadi bahan ketawaan bagi umat Islam,” kata Sanni.

Pemerintah takut dengan ceramah Bahar? Justru inilah lawakan paling bodoh yang pernah saya dengar. Halo, pemerintah sudah beberapa kali digoyang dengan aksi demo berjilid-jilid. Aksi 411, aksi 212 dan aksi-aksi lainnya bisa diredam dengan baik oleh pemerintah. Bahkan sebelum aksi 212 dimulai, para pengacau sudah diciduk duluan.

Aksi rusuh yang memprotes RKUHP dan UU KPK Baru yang melibatkan preman sampah dan siswa sekolah juga berhasil diredam dengan baik.

Aksi berbahaya seperti apa pun bisa ditangani oleh negara dengan baik. Bahkan pemerintah pun tidak gentar melawan terorisme yang jelas-jelas lebih berbahaya. Masa pemerintah takut dengan Bahar? Memang dia siapa selain tukang aniaya bocah. Kalau dia sendiri mah, mau dibereskan juga tidak sulit.

Mau tertawakan pemerintah ya silakan. Yang jelas, kita sebagai orang yang waras malah tertawa melihat ketidakwarasan mereka yang jelas-jelas lebih nyata.

Rasanya, lebih banyak warga yang mendukung ditahannya Bahar. Katanya ulama, tapi kok suka main thai boxing dengan bocah. Katanya ulama, tapi mulutnya kok tidak bisa dijaga dengan baik, malah menyindir pemerintah dengan kata-kata kasar yang tidak pantas. Orang begini masih ada yang bela, perlu dipertanyakan kewarasannya.

Sudah salah, membiarkan kerumunan tanpa memperhatikan aspek kesehatan, malah pendukungnya bikin onar merusak pagar, ya pasti diangkut lah ke Nusakambangan, biar pendukungnya tidak bisa lagi teriak-teriak. Bisa sih bikin onar, kalau mereka berani berhadapan dengan buaya.

Tak lelahnya mereka mengagung-agungkan mereka yang berpenampilan agamis tapi kelakuan jeblok. Dengan penampilan seperti itu, dengan secuil pemahaman ilmu agama, sudah bisa dianggap ulama. Berbuat salah tapi masih saja dibela dan diangkat derajatnya. Situ waras gak sih?

Tahu gak yang lucu itu apa? Sudah bebas, lalu dipenjara beberapa hari kemudian, eh dipindahkan ke lapas yang lebih mantap. Ngakak.

Bagaimana menurut Anda?

sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *