HANYA SEGINIKAH LOGIKA MUI YANG BELA UMAR ASSEGAF SAAT CEKCOK DENGAN PETUGAS?

Xhardy – Video antara seorang yang bernama Habib Umar Assegaf Bangil yang ribut-ribut dengan petugas yang berjaga di pos check point PSBB di Exit Tol Satelit menjadi viral. Di video tersebut terlihat jelas terjadi aksi mendorong. Tapi di web portal sapi, video ini dipotong dengan tujuan menghasut karena salah satu pihak yang cekcok adalah orang berpakaian gamis.

MUI Jatim melakukan pembelaan terhadap Umar Assegaf.

Oh ya biar pembaca tahu, MUI Jatim ini kadang suka eksis dan cari panggung sendiri. Salah satu contohnya adalah membuat sensasi dengan mengatakan umat Islam dan pejabat seharusnya tidak mengucapkan salam lintas agama.

Jadi kali ini, MUI Jatim kembali muncul dengan logika yang menurut saya aneh dan tidak masuk akal.

Begini ceritanya.

Sekretaris MUI Jatim, Ainul Yaqin menyampaikan seharusnya aksi adu dorong petugas PSBB Surabaya dengan Habib Umar Assegaf Bangil itu tak harusnya terjadi. Aparat yang bertugas saat itu seharusnya bisa lebih sabar dan mengendalikan diri melihat orang yang ditangani adalah seorang Habib dan sudah sepuh.

“Jadi kami sangat menyayangkan kejadian itu. Saya sendiri gak tahu persis kejadian sampai memukul Habib Umar, itu kan orang sepuh, seharusnya aparat paham beliau menggunakan pakaian seperti itu, berarti bukan orang sembarangan,” kata Ainul.

Ainul mengatakan, aparat yang bertugas dilapangan kurang dalam membekali dirinya dalam menghadapi kemarahan Umar Assegaf. “Kami selalu menyampaikan, aparat di lapangan itu harus dibekali dengan keterampilan yang baik di dalam human relation. Jadi harus pandai-pandai menyikapi masyarakat di dalam permasalahan seperti itu,” katanya.

Ainul menyarankan kepada aparat yang sedang bertugas dilapangan memiliki pembekalan dalam menangani masyarakat yang tak bisa menahan emosi ketika melakukan pelanggaran PSBB dengan cara yang persuasif dan komunikatif. “Intinya, majelis ulama Indonesia memberikan rekomendasi agar aparat dilapangan dibekali human relation yang baik, pendekatan persuasif lebih mengena daripada represif,” katanya.

Kabarnya sih orang ini dilaporkan ke polisi. Tapi bukan itu yang perlu kita bahas, tapi logika konyol MUI Jatim yang membela orang seperti itu.

Oke, videonya saya tidak tahu apakah itu utuh atau gimana. Dan kita juga tidak tahu bagaimana kondisi riil di lapangan. Jadi kita hanya bahas sesuai video yang beredar dan juga pemberitaan dari media.

Tadi dibilang aparat harusnya diminta sabar menghadapi kemarahan Umar Assegaf. Bukannya terbalik yah? Harusnya dia yang harus memiliki kesabaran yang tinggi, kan predikat dia sebagai Habib, lah kok malah petugas sih yang disalahkan? Logikanya aneh menurut saya.

MUI Jatim mengatakan Umar Assegaf ini bukan orang sembarangan. Bukankah justru karena dia bukan orang sembarangan, harusnya dia menaati peraturan dan memberikan contoh sebagai warga negara yang baik? Terlepas dari aturan PSBB yang sebagian memang aneh, harusnya orang ini yang malu. Malah emosional dan membentak. Bukankah ini jadi contoh tidak baik? Orang-orang pada berpikir, wah, ini orang hebat bisa seenaknya marahi aparat. Orang-orang dengan label Habib, ulama atau berpakaian agamis ternyta istimewa bisa berbuat seenaknya. Orang-orang pada berpikir, mereka ini kayak auto imun hukum, mendapatkan hak istimewa, selalu benar. Ingat, kita harus membiasakan diri hidup yang benar, bukan membenarkan yang biasa.

Mikir dong, seandainya Umar Assegaf ini hanya orang biasa dan bentak-bentak seperti itu, pasti langsung dibawa ke kantor polisi.

Sudah saya katakan berkali-kali. Urusan label agama ini sudah akut di negara ini. Pakaian gamis atau yang ada kaitannya dengan label agama seolah menentukan status dan hak istimewa dalam hukum. Semua dibenarkan atas nama agama. Semua dimaklumi kalau orangnya sudah berpakaian gamis atau bergelar ulama, Habib atau sejenisnya.

Meski dia bukan orang sembarangan, kenapa rupanya? Apakah hal tersebut harus dimaklumi karena gelar dan penampilan tertentu? Negara ini negara hukum, ada aturan yang harus dipatuhi dan sifatnya kadang memaksa.

Logikanya orang seperti Umar Assegaf yang harusnya lebih bijaksana karena dia bukan orang sembarangan. Apalagi dia Habib. Masa sikapnya begitu?

Kesimpulannya begini. Pertama : karena bukan orang biasa harusnya bisa jadi contoh yang baik bagi orang biasa. Kedua: orang yang sepuh biasanya bijaksana dalam menghadapi berbagai hal.

Ini logika saya sih, terserah kalau pembaca tidak setuju.

Bagaimana menurut Anda?

sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *