SURAT TERBUKA UNTUK DOKTER YANG MENULIS INDONESIA TERSERAH

Alifurrahman – Menyambung dari artikel sebelumnya, terkait oknum dokter yang berpose dengan kertas bertuliskan “Indonesia Terserah,” di artikel sebelumnya saya menyarankan agar para dokter menahan diri. Cara kalian berpose seperti itu tidak akan mengurangi masalah. Sebagai dokter yang pasti berpendidikan, mestinya lebih cerdas dari rakyat awam. Kampanye Indonesia Terserah itu tidak pantas dilakukan. Dan saya yakin banyak dokter yang tidak sependapat dengan foto tersebut. Jadi kalau memang sudah tidak kuat, capek dan sebagainya, silahkan alih profesi seperti dr tirta. Bisa jualan sepatu atau jualan air mata.

Saya paham kalau para dokter bersedih melihat teman serumah sakitnya meninggal dunia. Tak perlu karena covid, karena faktor apapun pasti sedih. Dokter itu sama-sama manusianya. Dan atas nama rekan seprofesi, mereka merasa senasib seperjuangan.

Tak hanya dokter. Ojek online juga begitu. Solid. Wartawan juga sama. Bahkan buruh juga punya solidaritas pada sesama buruh. Hal ini wajar saja. Tapi, kampanye Indonesia Terserah yang dilakukan oleh beberapa oknum dokter itu cukup memuakkan.

Mungkin kita perlu memahami dulu karakter masyarakat Indonesia.

Perlu diakui dan disadari, bahwa tidak semua warga kita menjadikan medis atau dokter sebagai satu-satunya pengobatan. Ada tabib, bekam, obat herbal sampai dukun. Banyak orang tidak mau ke rumah sakit. Dan secara kebetulan, banyak orang yang justru sembuh dengan obat-obatan herbal. Banyak juga yang sembuh dengan pijat, akupuntur atau bekam, padahal sebelumnya mereka sudah mengkonsumsi obat-obatan dokter.

Katakanlah ini kebetulan, tapi tetap saja angkanya cukup besar di Indonesia. Masih banyak orang yang lebih percaya jamu dibanding pil atau tablet.

Nah, kalau ini sudah disadari, maka sebaiknya para dokter di Indonesia tidak melakukan provokasi atau respon emosional kepada masyarakat. Karena warga kita tidak menjadikan dokter sebagai satu-satunya tempat pengobatan penyakit. Kalau para dokter terus mengkampanyekan Indonesia Terserah, bisa-bisa semakin banyak orang yang tak mau datang ke dokter.

Pertanyaannya, apakah kalian para dokter mau hal ini terjadi dan terus memburuk?

Saya paham kalian kecewa dan marah dengan orang-orang yang ngeyel saat PSBB. Tetap berkerumun dan sebagainya. Tapi kampanye Indonesia Terserah itu juga salah. Akui itu dulu.

Kemudian soal curhat atau kelelahan. Sejatinya setiap profesi punya resikonya masing-masing. Pemadam kebakaran, TNI Polri, Supir, Pramugari, Pilot, sampai penjaga taman safari pun punya resiko.

Dan yang namanya pekerjaan, biasanya memang melelahkan, sekalipun kita melakukannya dengan suka cita atau hobi. Capek, semua orang juga capek.

Maka tidak etis kalau ada narasi dari oknum dokter yang meminta masyarakat untuk mencoba memakai APD selama berjam-jam, kacamata google, masker N95, face shield dan sebagainya. Karena ini provokasi.

Kita menjalani hidup yang berbeda-beda. Tidak bisa kita minta supir mencoba profesi wartawan. Pasti bingung dan capek sebelum bekerja. TNI yang biasa terjun ke daerah, tidak bisa dipaksa jadi akuntan yang menginput angka-angka dan duduk manis sepanjang hari di ruangan ber AC. Beda, tiap profesi ada jalannya sendiri.

Duka kita berbeda. Masalah kita berbeda. Maka jangan membandingkan satu dengan yang lainnya.

Rakyat kecil di pasar itu sedang mencari nafkah. Mencari makan. Kalau mereka bisa menulis dan bermain sosmed, mereka akan tantang balik dan meminta kalian untuk merasakan getir nasibnya. Yang harus mendengar tangis anak-anak minta susu, sementara kita masih keliling mencari pinjaman atau menjual barang dagangan.

Apa kalian mau merasakan ditagih dan dibentak ibu kos karena lambat bayar? Kalau kalian mengeluh dan mau kami merasakan tidak minum dan makan selama berjam-jam, karena tak bisa membuka APD, itu karena kalian tidak tahu bahwa ada begitu banyak orang yang tidak bisa makan karena tak punya uang. Dan mereka bukan menjalaninya sebulan dua bulan, tapi bertahun-tahun seperti itu. Kalian tau apa soal penderitaan?

Mohon maaf kepada para dokter atau pihak terkait. Sekali lagi mohon maaf. Sudah lama saya diam dan memaklumi. Tapi kali ini nampaknya kalian juga perlu tahu.

Jadi marilah kita berjalan di jalan masing-masing, dengan mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Soal pelanggaran PSBB biar aparat yang bertindak. Soal masjid yang masih ramai, biar ustad yang berfatwa. Setiap orang gotong royong bekerja dengan tugasnya masing-masing.

Memang, selalu ada yang ngeyel, selalu ada yang tidak taat aturan. Tapi pilihan ada di tangan kita, apakah ingin memperkeruh suasana, atau memperbaiki sesuai kemampuan? Begitulah kura-kura.

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *