FRAMING JAHAT ARTIKEL CNN INDONESIA, SEENAKNYA TUDING JOKOWI! ORDERAN SIAPA?

Ninanoor – Sebuah artikel dari cnnindonesia.com, yang terbit pada hari ini (21 Mei 2020) sangat mengagetkan saya. Saya kerap memakai artikel cnnindonesia.com sebagai sumber tulisan, karena standar penulisannya bagus, dan isinya lebih lengkap daripada media lain. Tapi yang ini kok beda. Kalau artikel ini berada di kanal Kolom, maka saya akan mengerti bahwa hal itu merupakan opini semata, bukan berita. Atau misalnya di kanal Analisis, yang biasanya mengandung hasil analisa dan opini berbagai ahli/pengamat. Namun, artikel yang mengagetkan ini berada di kanal Berita Nasional. Jadi merupakan berita yang di-cover oleh cnnindonesia.com.

Judul artikelnya : “21 Mei, Soeharto Turun, Reformasi Dikorupsi 21 Tahun Kemudian” link. Isi artikel dibuka dengan fakta sejarah soal lengsernya Soeharto. Tepatnya pada tanggal 21 Mei 1998, 22 tahun yang lalu. Lho kok 22? Judul artikel ini kan 21 Tahun Kemudian? Awal artikel ini sudah cukup mencurigakan.

Kemudian disebutkan bahwa tuntutan mahasiswa di tahun 1998 itu, selain meminta Soeharto lengser, juga meminta penindakan tegas terhadap pelaku korupsi hingga minta kebebasan berpendapat di muka umum. “Setelah rezim Soeharto runtuh, berturut-turut terbit sejumlah undang-undang untuk mengakomodir berbagai tuntutan reformasi. Sebut saja UU tentang pemberantasan korupsi, UU kebebasan berpendapat, TNI, kebebasan pers dan seterusnya. Namun, semangat reformasi di berbagai bidang dinilai sudah tak berjalan sebagaimana mestinya. Hingga kemudian muncul slogan Reformasi Dikorupsi pada 2019 lalu atau 21 tahun setelah Soeharto lengser”, demikian ditulis cnnindonesia.com. Semacam intro terhadap isi artikel ini secara keseluruhan. Jadi artikel ini membahas kejadian di tahun 2019? Buat apa dibahas sekarang? Sementara di artikel itu saya tidak menemukan adanya trigger, misal pernyataan dari politisi atau oposisi atau siapa lah. Kok ujug-ujug artikel ini muncul di tahun 2020?

Selanjutnya, artikel ini menceritakan kronologi lengsernya Soeharto. Dengan menekankan pada adanya tuntutan mahasiswa, demo mahasiswa di Yogyakarta dan di Jakarta (Universitas Trisakti) yang memakan korban. Hingga ke penjarahan dan situasi ekonomi yang buruk di saat itu (inflasi tinggi dan banyak PHK). Sampai ke berhentinya Soeharto dari jabatan dan tidak setujunya para mahasiswa dengan pengangkatan BJ Habibie. “Sontak, ucapan syukur menggema di langit. Mahasiswa dari berbagai daerah sujud lalu berulang kali meneriakkan kata merdeka. Mereka merasa perjuangannya telah membuahkan hasil.”, tulis cnnindonesia, menekankan pada besarnya peran mahasiswa waktu itu.

Lalu artikel lanjut ke 21 tahun kemudian, pada 2019. Disebut bahwa mahasiswa kembali turun ke jalan, di berbagai daerah dengan slogan Reformasi Dikorupsi. “Tuntutan mereka cenderung sama, yaitu menolak pengesahan RUU KPK, RKUHP, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS), RUU Minerba serta kasus kriminalisasi aktivis dan isu kerusakan lingkungan”. Disebutkan sejumlah pihak merasa pemerintah dan DPR mengabaikan semangat reformasi dan hanya mengakomodir kepentingan segelintir orang. “Demonstrasi berlangsung berhari-hari pada Bulan September 2019 di berbagai daerah. Korban luka dan jiwa berjatuhan akibat bentrok dengan aparat. ”. Disebut juga bahwa demo mahasiswa ini berhasil menekan pemerintah dan DPR menunda pembahasan beberapa RUU. “Akan tetapi, RUU KPK tetap disahkan menjadi UU, sehingga kekecewaan tak bisa dibendung”.

Selanjutnya artikel menyebut tentang sejumlah RUU yang dikebut pembahasannya oleh DPR dan pemerintah pada 2020. Mislanya RUU Minerba, yang dikecam oleh para pegiat lingkungan karena dinilai menguntungkan pengusaha saja. “Tidak menutup kemungkinan RUU lain yang sempat ditunda kini dibahas kembali dalam rentang waktu yang cepat dan sembunyi-sembunyi agar tidak menuai penolakan dari aktivis dan mahasiswa. Semangat reformasi yang mengidamkan keterbukaan menjadi pertanyaan.”, tulis cnnindonesia.com sebagai penutup.

Bukankah demo mahasiswa di bulan September 2019 waktu itu berujung rusuh dan anarkis kan? Bahkan ada anak-anak yang mengaku sekolah di STM yang ikutan demo. Belakangan ada yang ditangkap karena ternyata pengangguran yang sudah lulus dari sekolah dan ikut demo dengan tujuan anarkis saja. Beberapa universitas secara resmi melarang mahasiswanya ikut demo karena dikhawatirkan rentan penyusup. Ini fakta, yang juga telah diungkap oleh pihak kepolisian. Mirisnya lagi di sebuah acara TV nasional juga terungkap bahwa para mahasiswa ini tidak paham isi RUU yang mereka demo. Yang kayak gini diperbandingkan dengan demo mahasiswa tahun 1998? Sudah bukan apple to apple, cuy!

Kenapa cnnindonesia hanya mengcover setengah-setengah, untuk sebuah artikel berita? Soal adanya penyusup di demo mahasiswa tidak disebut, soal demo berujung anarkis juga tidak disebut, apalagi soal berapa aparat yang terluka juga tidak disebut sama sekali. Soal tuntutan para mahasiswa ini kan sudah pernah dibahas oleh politikus PDIP Eva Kusuma Sundari, panjang lebar dan dilansir oleh cnnindonesia.com sendiri Sumber. Kenapa tidak disebutkan juga? Bahkan soal pernyataan Ketua DPR waktu itu, Bambang Soesatyo yang memaparkan adanya penyusup dalam demo mahasiswa, yang akhirnya merusak banyak fasilitas umum. Ini juga tidak disebut oleh cnnindonesia.com. Apalagi adanya analisa bahwa demo mahasiswa itu sebenarnya bertujuan menggagalkan pelantikan Presiden Jokowi di periode keduanya, ini juga tidak disebut. Ya harus dimasukkan juga dong, agar berimbang beritanya. Bahwa pihak mahasiswa membantah soal ini, ya disebut juga dong, agar fair.

Makanya, saya sebut bahwa artikel cnnindonesia.com ini merupakan sebuah framing jahat terhadap pemerintahan Presiden Jokowi. Mengingat kondisi media yang katanya juga ikutan seret gara-gara Corona, saya pun curiga. Saya pun mempertanyakan, ini orderan siapa? Karena nampak sekali framingnya dan tanpa mengcover kedua sisi sebagaimana etika jurnalisme. Kalau Seword kan jelas, media opini dan memihak. Sekian dulu dari kura-kura!
sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *