MENAMPAR LAWAN DENGAN TENAGA DALAM : JOKOWI TERBAIK DI DUNIA MENGHADAPI CORONA

Erika Ebener-Jika kita menganalogikan sosok Presiden Jokowi pada semua karakter yang ada di dalam film The Avengers, dia adalah Kapten Mar-Vell atau Marvell. Manusia biasa yang memiliki kekuatan menyamai Superman. Tapi Kapten Marvell itu perempuan. So what? Sebagai Presiden Indonesia, Jokowi mampu bertindak dan berpikir sekaligus sebagai ayah yang tegas dan keras kepala dan sebagai Ibu yang penuh kelembutan dan kasih sayang untuk seluruh rakyat Indonesia.

Sosok pribadi Jokowi yang sudah “benar” adalah modal dasar kekuatan super yang dia miliki sekarang. Tapi eiit… jangan salah kalian mengartikan kata “benar” di sini. Jokowi adalah manusia yang benar dalam artian bahwa dia adalah sosok yang hanya patuh pada hukum dan peraturan. Baik itu hukum alam, hukum manusia, peraturan Negara maupun peraturan agama. Kepatuhan Jokowi terhadap hukum dan peraturan inilah yang membuat semua lawan kewalahan menemukan celah untuk menancapkan tongkat pendongkel mereka. Sebagai manusia biasa, Jokowi memang istimewa. Kekuatan lawan Jokowi hanya sebatas mempertahankan semua fitnah yang telah berhasil mendokrin para manusia “instan” Indonesia (manusia yg ingin sejahtera dengan cara instan).

Jokowi tidak hanya harus berhadapan dengan para manusia instan indonesia, pada saat yang sama Jokowi juga harus berhadapan dengan musuh lain, yaitu wabah corona, sebagai musuh kedua yang harus diperangin. Namun demikian, Jokowi tetap tegar menjaga rakyat Indonesia dari perpecahan.

Jokowi juga seorang pemimpin yang memiliki kekuatan “tenaga dalam”. Tunggu… ini bukan tenaga dalam seperti yang kalian lihat di film-film kungfu. Tenaga dalam di sini adalah kemampuan Jokowi sebagai seorang visioner, seorang yang mampu melihat hasil yang akan dicapai di masa depan atas kebijakan dan keputusan yang dia buat hari ini. Kevisioneran Jokowi tertuang pada pemikirannya atas langkah politik dalam dan luar negeri, yang sangat tajam, tenang dan penuh perhitungan. Langkah politik yang dilakukan dengan kekuatan tenaga dalam ini, membuat siapapun tak mampu menebaknya, termasuk oleh para politikus senior, baik lawan maupun kawan, yang telah berpolitik dari sejak jaman Orba. Pemikiran Jokowi yang inovatif, modern dan jauh ke depan membuat siapapun tertinggal dan baru paham setelah hasilnya kelihatan.

Dan terkait corona… siapa yang menyangka bahwa wabah virus corona yang muncul di akhir tahun 2019 akan menghantam dunia begitu dahsyat dan merata? Tidak ada! Bahkan pemerintah Cina sendiripun tidak pernah menyangka kalau virus corona akan muncul pertama kali di wilayahnya. Dan hanya dalam kurun waktu 3 bulan, virus corona telah mampu menghajar lebih dari 150 negara di dunia.

Kalau Jokowi tak punya kekuatan “tenaga dalam”, mungkin Indonesia akan terengah-engah bahkan kalah menghadapi serangan virus corona. Kalau sudah kalah, maka para manusia instan akan bersuka cita. Mereka akan berpikir melihat peluang besar untuk melengserkan Jokowi dari jabatannya sebagai Presiden Indonesia, lalu mereka akan mendadak sejahtera.

Kekuatan “tenaga dalam” Jokowi, dia salurkan lewat langkah-langkah politik luar negeri Indonesia yang dia lakukan jauh sebelum virus corona ditemukan di Wuhan. Dan sekarang hasilnya mulai terasa dan bahkan sangat terlihat jelas dengan telah menjadikan Indonesia sebagai 1 dari 3 negara yang dipilih oleh Pemerintah Korea Selatan menjadi negara tujuan prioritas ekspor barang-barang penanggulangan covid-19. Dua Negara lainnya adalah Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab (UAE), sebagaimana dilansir oleh surat kabar harian The Korea Harold.

Korea Selatan adalah negara produsen produk penanggulangan pandemic covid-19 terbesar di dunia, seperti Alat Pelindung Diri, test kit, masker medis serta alat-alat lainnya. Test Kit covid-19 Korea Selatan yang saat ini dicari oleh seluruh Negara di dunia, awalnya dikembangkan oleh perusahaan farmasi bernama Seegene di Seoul. Mereka dapat membuat alat sebanyak 10.000 alat per minggu, dan setiap alat dapat menguji 100 pasien. Artinya, cukup untuk menguji 1 juta pasien setiap minggu dengan biaya di bawah USD 20 atau sekitar Rp 295.680 per testnya.

Itu sebabnya, sebanyak 117 negara-negara di dunia berlomba-lomba ingin mendapatkan produk-produk tersebut. Namun, Pemerintah Korea Selatan hanya memutuskan untuk memberikan produk-produk tersebut kepada 3 negara saja, yaitu Amerika Serikat, United Arab Emirat dan Indonesia.

Keputusan pemerintah Korea Selatan ini bukan atas dasar bahwa Amerika Serikat dan Indonesia adalah 2 negara yang memiliki kasus covid-19 terbanyak di dunia. Karena faktanya, Italia, Spanyol, India, Iran dan Negara-negara dengan kasus besar atas covid-19 tidak menjadi perhatian Negara Korea Selatan untuk mengirimkan produk-produk penanggulangan pandemic covid-19 tersebut.

Terhadap Amerika Serikat, alasan Korea Selatan karena selain terjadinya lonjakan kasus covid-19 di Amerika, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sendiri membuat permintaan dan mencapai kesepakatan setelah membahas mengenai pertukaran mata uang dengan Korea Selatam. Ingat, pada krisis ekonomi sebagai akibat dari adanya pandemic covid-19 ini, nilai tukar mata uang dolar menguat terhadap nilai mata uang seluruh negara di dunia. Dan Indonesia sendiri nilai rupiah terus melemah hingga diprediksi akan menembus pada angka Rp 20.000/dolar. Dan dengan membantu Amerika Serikat atas kebutuhan produk penanggulangan pandemic covid-19 ini, maka perekonomian Korea Selatan akan terselamatkan.

Terhadap Uni Emirat Arab diprioritaskan karena dipandang telah mempertahankan kerja sama di perbagai sektor. Uni Emirat Arab memang bukan Negara penghasil minyak terbesar di Jazirah Arab, tetapi dibandingkan dengan Arab Saudia, Uni Emirat Arab jauh lebih aktif berperan dalam kancah internasional.

Dan alasan terpilihnya Indonesia menjadi negara tujuan prioritas ekspor barang-barang penanggulangan covid-19 adalah karena Indonesia merupakan Negara mitra utama untuk kebijakan baru ke arah selatan atau New Southern Policy yang bertujuan meningkatkan hubungan dengan 10 anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara.

Kita semua tahu, bahkan dunia pun tahu, bahwa Pemerintahan Jokowi telah membangun kerja sama bilateral dengan Korea Selatan dalam berbagai sector, mulai dari kerjasama dibidang ekonomi, kerjasama regional dan global, hingga kerjasama teknis pembangunan Ibukota baru Indonesia. Semua kerjasama itulah yang menjadi salah satu pertimbangan Korea Selatan untuk memilih Indonesia sebagai 1 dari 3 negara prioritas yang akan mendapatkan produk-produk kesehatan terkait wabah covid-19. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi Negara-negara lain di dunia yang tidak menjadi prioritas tujuan ekspor alat-alat kesehatan atas covid-19? Lalu masih ada saja orang yang teriak Indonesia lambat dalam menangani wabah corona.

Tak hanya berhenti pada keberuntungan Indonesia menjadi Negara tujuan prioritas ekspor alat-alat kesehatan untuk covid-19 dari Korea Selatan. Langkah dan kebijakan Jokowi menghadapi wabah corona tak lepas dari role model yang diperlihatkan oleh Pemerintah Korea Selatan. Ketika banyak Negara di dunia melakukan lockdown, tidak dengan Korea Selatan. Langkah dan kebijakan Pemerintah Korea Selatan dalam memerangi dan mengurangi penyebaran virus corona tersebut adalah dengan melakukan jutaan rapid test, hingga korea Selatan menjadi negara yang terbanyak melakukan test covid-19 di dunia. Selain itu, pemerintah Korea Selatan melakukan pencegahan secara terkoordinasi serta meminta kerjasama dari warga sebagai pengganti lockdown.

Kebijakan Presiden Jokowi untuk menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB adalah sama seperti apa yang telah Pemerintah Korea Selatan lakukan. Terlebih untuk Negara dengan populasi sebanyak Indonesia, tak akan terbayang jika Jokowi menerapkan Lockdown. PSBB adalah langkah yang sangat tepat bagi seluruh rakyat Indonesia ketibang lockdown-lockdown yang diteriakan oleh orang-orang yang ekonominya mapan. Dengan kebijakan PSBB, rakyat masih dapat bergerak walaupun dalam gerakan yang terbatas. Terlebih kebijakan PSBB ini memiliki dasar dan pijakan hukum yang kuat hingga manusia instan yang tak pernah lelah mencari kesalahan Jokowipun membisu dan sekalinya ngomong menyalahkan Jokowi, eh dia diciduk polisi dan calon masuk penjara.

Tak berhenti pada keuntungan Indonesia yang menjadi Negara prioritas tujuan ekspor alat kesehatan untuk covid-19, “tenaga dalam” Jokowi juga telah menyelamatkan Indonesia dari masalah resesi ekonomi global.

Seperti dilansir oleh Malajah The Economist tanggal 26 Maret 2020, mereka memprediksi pertumbuhan ekonomi untuk semua negara di seluruh dunia, terutama Negara-negara yang tergabung pada G20, akan memiliki grafik yang negative kecuali tiga negara akan selamat walaupun dengan angka pertumbuhan ekonomi yang sangat kecil. Pertumbuhan ekonomi global dunia sendiri akan berkisar di angka 2,2%.

Zona Eropa akan menjadi salah satu daerah yang paling terpukul resesi setahun penuh dengan angka menyentuh hingga 5,9%. Jerman (-6,8%), Prancis (-5%), dan Italia (-7%) akan mengalami resesi setahun penuh. Jerman, yang sebagian besar dari pabrik-pabriknya adalah export-oriented, akan terpuruk karena terkena gangguan rantai pasokan dan permintaan global yang melemah. Akibatnya, pemulihan yang diharapkan di negara-negara Zona Eropa lainnya pada paruh kedua tahun 2020 akan terwujud jauh lebih lambat dari Jerman.

Sementara, 3 Negara yang dinyatakan selamat dari jurang resesi adalah India dengan angka pertumbuhan ekonomi menyentuh 2.1% dari target 6%, Cina 1% dari target 5.9% DAN INDONESIA 1% dari target 5.1% pertumbuhan ekonomi.

Kerenkan!!! Dan prediksi The Economist ini adalah bagian dari apa yang melatar belakangi informasi yang disampaikan oleh Erick Thohir tempo hari tentang skenario buruk dan sangat buruk tentang ekonomi Indonesia, terutama tentang nilai tukar rupiah terhadap dolar yang katanya akan menembus hingga Rp 20.000 per dolar. Para manusia instan langsung menerima informasi ini sebagai celah untuk menyerang. Tapi mereka lupa bahwa negara lain jauh lebih buruk kondisinya daripada Indonesia.

Melihat fakta-fakta yang diberitakan di luar negeri tentang apa yang sudah Jokowi lakukan dimasa lalu dengan hasil yang didapatkan hari ini, semua itu tak akan tercapai jika Jokowi tak memiliki kekuatan “tenaga dalam”. Dan yang namanya tenaga dalam itu tidak kasat mata, tidak terasa pula, tapi tiba-tiba sakit dan terjungkal. Nah seperti itu pula lawan-lawan Jokowi yang saat ini sibuk merecoki. Mereka ditampar Jokowi dengan kekuatan tenaga dalam!!!

Kalau lawan Jokowi ga mati-mati, itu karena mereka pake ilmu debus. Kalau lawan Jokowi selalu memandang Indonesia jelek di tangan Jokowi, itu karena mereka membandingkan Indonesia dengan surga. Jadi ya mau digimana-gimanain juga susah kecuali mereka kita lockdown di surga.

Begitulah kura-kura

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *