STOP MOCKING, START WORKING; BERSAMA MELAWAN COVID-19

Kolik kulik-Apakah Covid-19? Secara sederhana Covid-19 adalah singkatan dari coronavirus disease 2019. Suatu penyakit yang disebabkan virus yang menyerang organ-organ pernapasan dan dapat berujung pada pneumonia.

Tulisan ini adalah artikel ketiga saya, yang secara berturut-turut membahas tentang Coronavirus. Covid-19 sudah menjadi pandemi di seluruh bagian dunia. Penyakit yang dulunya cuman jadi bahan cemoohan, serta banyak diremehkan, sekarang berubah menjadi monster yang menakutkan.

Virus adalah makhluk yang lemah. Tanpa inang yang hidup, dia cuman sanggup hidup sekejap saja. Virus HIV yang sudah lama jadi momok itu, bisa ditaklukkan dengan sabun cuci tangan biasa. So, saya yakin kita semua sanggup menaklukkannya. Yang penting kita mau bersama-sama melawan mereka.

Melalui artikel ini, saya mengajak semua anak bangsa untuk berbuat sesuatu untuk memerangi makhluk lemah ini. Saya tidak peduli, anda cebong, kampret, kadrun atau makhluk jadi-jadian lainnya. Saya juga tidak mempersoalkan apa ras anda, agama, warna kulit, ataupun tingkat pendidikan anda. Asal darahmu semerah darahku dan tulangmu seputih tulangku, kita pasti bisa mengerjakan bagian kita. So, let’s the fun begin.

Stop Mocking

Saya tidak mau terlalu berpanjang kata, karena seperti kebiasaan saya, tulisan ini pasti tidak akan pendek. Saya akan memberikan beberapa langkah praktis, sebagian sudah beredar di seluruh media cetak, online maupun media sosial, tapi saya akan merangkumkannya untuk kita semua. Karena saya, Kolik Kulik

• Tinggal di rumah. Ini mungkin sudah sangat basi, tapi ini sangat penting. Bila anda tidak ada keperluan mendesak, tinggalah di rumah. Anda bisa jadi pahlawan tanpa perlu mengangkat senjata, mencucurkan darah atau menembus hujan peluru. Anda bahkan tidak perlu meninggalkan tempat tidur, tidak perlu mandi dan gosok gigi. Mudah, sederhana dan murah.

• Jangan mudik. Bagi anda yang dirumahkan, tidak ada kegiatan sekolah atau kuliah, sebisa mungkin jangan mudik. Barusan tadi, saya mendapat kabar ada rombongan, yang menyewa tiga bis meninggalkan kota kami, kota Malang, kembali ke daerah asalnya. Alasannya sederhana, kota Malang adalah zona merah, sedangkan daerah asal mereka rumputnya masih lebih hijau. Mereka tidak sadar, bila satu saja, cukup satu orang saja di antara mereka yang menenteng virus, daerah hijau mereka akan bisa menjadi merah membara.

• Stop forwarding. Saya sungguh-sungguh tidak habis pikir, siapa sih yang kerjaannya memproduksi hoax? Lebih celaka lagi, terlalu banyak, terlalu banyak orang yang hobinya forward berita. Mereka tidak tahu berita itu salah atau benar, mereka nggak ngerti itu menimbulkan keresahan atau tidak, yang penting forward. Apa saja diforward, mulai dari berita ngawur, pseudoscience, hingga foto-foto si Anu atau si Itu, yang katanya terlibat kasus ini atau itu. Seakan-akan, kalau tidak jadi yang nomer satu kirim berita, maka kedudukan sosialnya akan terancam.

• Stop greedy. Di saat semua harga masker, hand sanitizer, hingga vitamin melambung tinggi, berhentilah jadi orang yang mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain. Mencari untung itu wajar, tetapi saya pikir terlalu banyak orang yang memanfaatkan krisis ini untuk memperkaya diri secara berlebihan. Ada juga yang terbawa emosi dan melakukan panic buying, terutama dari kalangan menengah. Mereka tidak sadar, panic buying bisa menimbulkan efek domino yang mengerikan, apalagi buat yang ekonominya pas-pasan. Seperti saya, …..hikz……

• Stop mocking. Hari ini saya mengajak, supaya kita mulai berhenti mencela orang lain. Ini nggak gampang, tapi saya yakin kita bisa kok. Nggak usahlah ngomongin lagi, si Anu orangnya goblok, si Fulan ngomong tanpa otak. Gubernur itu bodoh, walikota ini pinter, Menteri itu lamban, pejabat itu tidak tegas. Ayo kita puasa menghina orang. Nanti kalo badai Covid-19 ini berlalu, masih ada banyak waktu itu menghina mereka. Lheehh……

• Bagi para penulis berita, stop click bait yang berlebihan. Saya tahu, kebencian, ketakutan, rasa ingin tahu, adalah ladang emas bagi media-media daring, tapi terlalu banyak media yang kebablasan. Sadar nggak sih, terlalu banyak pembaca kita yang malas untuk klik suatu portal untuk membaca beritanya secara lengkap. Sebagian lagi adalah mereka yang fakir kuota, sehingga kuota internet mereka cuman cukup buat sosmedan aja. Sisanya, otaknya sudah dipengaruhi judul bombastis, sehingga gagal memfilter berita yang dibaca dengan lebih obyektif

Start Working

Okay, setelah kita berhenti dari semua itu, apa yang harus kita kerjakan? Saya menawarkan beberapa solusi.

• Mari kita mulai menyebarkan kebaikan. Forward-lah berita-berita yang positip. Bagikanlah cerita-cerita heroik para petugas medis kita. Carilah, galilah cerita-cerita mengagumkan dari mereka yang tetap harus bekerja di luar. Para petugas keamanan, pengemudi ojol, tukang sampah, dan banyak lagi yang lain. Terlalu banyak kisah kepahlawanan mereka yang terabaikan. Kita terlalu hiruk dengan berita yang menakutkan, dan kita terlalu pikuk di dalam ketakutan masing-masing.

• Jadilah hero. Saat ini, terlalu banyak orang yang harus ditolong. Pekerja-pekerja harian yang dirumahkan, warung-warung kecil yang kehilangan pembelinya, hingga mereka-mereka yang tidak tahu besok akan makan apa. Bila kita punya sesuatu yang lebih, saya pikir ini saat yang paling tepat untuk berbagi. Pikirkan kreatifitas yang tidak membutuhkan huru hara, sederhana, murah tapi tepat sasaran. Saya pikir kita pasti sanggup untuk menemukan beberapa cara yang out of the box. Daripada seharian cuman nge-game dan ngakalin internet positip aja.

Bersama Melawan Covid-19

Kami, komunitas kecil di kota Malang, mencoba mengerjakan apa yang kami bisa. Saat ini, kami bekerja dengan dokter kenalan kami, yang kebetulan bekerja di sebuah Rumah Sakit swasta. Sekedar informasi, bila anda membaca berita bahwa pemerintah mendatangkan peralatan A, menyebarkan obat B, membagikan perlengkapan C, sebagian besar akan dikirimkan ke rumah sakit-rumah sakit pemerintah. Sedangkan rumah sakit swasta harus sama-sama berjibaku dengan kita, orang-orang sipil, untuk mendapatkan perlengkapan yang mereka perlukan.

Kami mencoba membantu meringankan tugas mereka dengan apa yang kami bisa. Ada yang membantu dengan dana, ada yang mensupport dengan tenaga. Ada yang mendukung dengan narasi tulisan dan broadcast WA, ada yang cuman bisa mencoba menyebarkan api kecil ini melalui media, seperti saya.

Dalam beberapa hari ke depan, kami akan mulai mencoba membantu membuat face protector. Bahan-bahannya sederhana, yang diperlukan adalah kemauan dan koordinasi. Sebagian lagi, yang punya kemampuan menjahit, akan membantu dengan membuat masker pelindung untuk tenaga medis.

Saya yakin, sebagian besar pembaca punya kenalan atau grup WA yang berisi petugas medis. Dokter, admin Rumah Sakit, perawat, hingga janitor. Mereka semua kelelahan, mereka semua ketakutan. Ayo bantu mereka. Cari, gali, tanya, apa yang bisa kami bantu? Saya yakin, bila sebagian besar dari kita bergerak bersama, Indonesia tidak akan lagi sama.

Ini bukan untuk keuntungan diri pribadi, bukan pula untuk mendapatkan puja dan puji. Kami ngerti, kami harus mendukung mereka yang mengabdi tanpa henti. Kami harus mengerjakan apa yang kami bisa beri. Mungkin itu kecil dan tidak berarti. Mungkin itu remeh dan terkesan basi. Namun kami yakin, ketika kami mengerjakannya dengan sepenuh hati, maka Tuhan yang Mah

a Kasih itu, akan memberkati.

God Speed

#aku kok mbrebes mili

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *