JEJAK DIGITAL ARIEF HIDAYAT THAMRIN, PEMECAT HELMI YAHYA DARI TVRI TERNYATA KADRUN!

Niha Alif-Dalam artikel saya yang lalu sempat menyinggung adanya persaingan stasisun TV sebagai penyebab dipecatnya Helmi Yahya. Ketua Dewan pengawasnya yakni Arief Hidayat Thamrin memberi seribu satu alasan tak masuk akal untuk memecat Helmi Yahya. Bagaimana tidak, TVRI yang berbau khilafah karena sempat mengundang Felix Siauw kini dialihkan ke channel olahraga tingkat dunia dan fokus pendidikan. Maka jangan salah kalau akhirnya Helmi Yahya yang terdepak.

Jejak digital Arief Hidayat Thamrin yang merupakan pendukung Prabowo, pendukung gerakan 212 dan pengagum Aa Gym bisa dilihat dari facebooknya.

Berikut ss foto facebooknya saat bersama pendukung Prabowo yang mengacungkan salam 2 jari awal Januari 2019:

Awal desember 2016 Arief Hidayat Thamrin juga membagikan kegiatan 212 di faceboonya.

Dia juga menyamakan kumpulan 212 di Monas dengan orang-orang thowaf di Mekkah.

Awal maret 2019 dia berfoto bersama Aa Gym, seorang dai yang fenomenal karena poligami dan juga pendukung Prabowo:

Pertengahan 2018 dia juga terlihat berfoto dengan Said Didu yang terkenal anti pemerintah Jokowi:

Sedang halaman profile facebooknya sendiri sebagai berikut:

Di situ tertulis riwayat pekerjaannya sebagai Ketua Dewan Pengawas TVRI. Sebelumnya bekerja di bawah MNC Group sebagai Former Bussines Development Director di Inews. Dia merupakan alumni ilmu komunikasi di FISIP UI. Juga lulusan SMAN 14 Jakarta. Dia berasal dari Tangerang dan berasal dari Jakarta.

Mengenai adanya dugaan persaingan stasiun TV karena TVRI mendapat hak siar liga inggris gratis dari Mola TV sebagai ganti iklan gratis setahun di TVRI. Sedang sebelumnya hak siar liga inggris selama 3 musim dipegang MNC group. Ini juga sudah pernah saya ulas dalam artikel sebelumnya.

Tapi, dibalik semua itu Arief Hidayat Thamrin sendiri menunjukkan tanda-tanda kadrun dalam dirinya. Ini terlihat dari unggahan-unggahan di facebooknya seperti di atas.

Kenapa dia begitu membenci Helmi Yahya? Mungkin karena siaran religi berbau khilafah dibumi hanguskan di era Helmi Yahya. Berikut foto muktamar HTI tahun 2013:

Jadi teringat kejadian 2014 saat DPR memberhentikan dewan pengawas lantaran ada siaran muktamar khilafah yang disponsori HTI dan sesuka hati memcati direksi TVRI. Seharusnya saat ini DPR juga bisa memecat Arief Hidayat Tahmrin yang memang pendukung 212. Apalagi memiliki rekam jejak di beberapa TV swasta.

Berita pemecatan dewan pengawas tahun 2014 seperti dilansir tempo.com, Komisi Komunikasi Dewan Perwakilan Rakyat sepakat memecat seluruh anggota Dewan Pengawas Televisi Republik Indonesia (TVRI). Keputusan pemecatan itu adalah hasil rapat tertutup Komisi I DPR sore ini, Selasa, 28 Januari 2014.

“Kami sudah sepakat untuk memberhentikan Dewan Pengawas, karena mereka tidak bisa menjalankan tanggung jawab dan tugas dengan baik,” ujar anggota Komisi Komunikasi dari Fraksi PDI Perjuangan, Evita Nursanti.

Lima anggota Dewan Pengawas yang akan dipecat itu adalah Elprisdat (ketua), Indrawadi Tamin, Immas Sunarya, Akhmad Sofyan, dan Bambang Soeprijanto. Mereka dipilih oleh Komisi Komunikasi pada Januari 2012 dengan masa jabatan lima tahun.

Rapat pengambilan keputusan yang berlangsung sejak pukul 13.30 itu berlangsung alot hingga Komisi mesti menggelar voting. Hasilnya, seluruh fraksi selain Demokrat, PKB, dan Gerindra sepakat untuk memecat Dewan Pengawas TVRI. “Tujuh belas suara memilih mempertahankan Dewan Pengawas TVRI sekarang dan 28 suara memilih memecat mereka,” kata Evita.

Anggota Komisi dari Fraksi Demokrat, Max Sopacua, mengatakan Demokrat sejak awal tidak sepakat dengan pemecatan itu. “Karena Dewan Pengawas TVRI adalah produk Komisi I (Komunikasi), produk kami. Sehingga kalau mereka melakukan kesalahan semestinya kami beri kesempatan untuk memperbaiki, tidak lantas langsung memecatnya,” ujarnya.

Pertimbangan lain, lanjut Max, adalah pemilu yang sudah di depan mata. “TVRI memiliki peran menyiarkan pemilu, pemecatan ini bisa mengganggu kinerja TVRI dalam penyiaran pemilu nanti,” katanya. Menurut Max, saat ini TVRI ibarat tubuh tanpa kepala karena tidak memiliki Direksi sekaligus Dewan Dengawas.

Direksi TVRI dipecat oleh Dewan Pengawas pada November tahun lalu. Hingga kini Dewan Pengawas yang memiliki wewenang untuk mengangkat direksi belum menunjuk direksi pengganti. Artinya, pemecatan itu juga akan menyebabkan pemilihan direksi TVRI tertunda hingga Komisi memilih Dewan Pengawas baru.”Tapi bagaimana lagi, pemecatan ini sudah jadi keputusan fraksi melalui mekanisme voting tadi.”

Sebelumnya, wacana pemecatan lima anggota Dewan Pengawas TVRI dipicu oleh “pembangkangan” Dewan Pengawas terhadap hasil keputusan rapat bersama Komisi Komunikasi pada 21 Oktober 2013. Dalam rapat itu, Komisi meminta Dewan Pengawas untuk tidak memecat Dewan Direksi periode 2012-2017 sebelum Panitia Kerja Pengawas TVRI selesai bekerja. Namun sebelum Panitia Kerja menyelesaikan tugasnya, Dewan Pengawas telah memecat empat direktur TVRI pada 18 November 2013.

Persoalan lain yang juga menjadi pemicu adalah munculnya sejumlah siaran TVRI yang oleh sebagian anggota fraksi dianggap melanggar aturan. Salah satunya adalah penyiaran konvensi Partai Demokrat selama dua jam 23 menit pada 15 September 2013. Sebelumnya, TVRI juga sempat mendapat kritik atas penayangan siaran tunda acara muktamar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Dari berita tersebut seharusnya DPR bisa berkaca di masa lalu. Bahwa sebenarnya permasalahan di tubuh TVRI disebabkan oleh adanya dewan pengawas itu sendiri. Kalau sekarang mereka berulah lagi. Sudah sepatutnya dewan pengawas dibubarkan secara permanen. Selain memiliki kepentingan sendiri, orang-orangnya selalu diisi kelompok kadrun. Kalau sudah begitu bagaiman ceritanya negara ini bisa maju.

TVRI sudah sepatutnya menjadi TV nasional kebanggan negara. Sudah sepatutnya menjadi maju mengalahkan TV swasta. Dan untuk itu wajar diisi acara seperti liga inggris, discovery channel maupun kuis siapa berani. Wajar makanya banyak karyawan TVRI yang demo hingga menuntut Helmi Yahya dikembalikan. Karena yang seharusnya dibuang adalah orang-orang seperti Arief Hidayat Thamrin ini.

Begitulah kura-kura.

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *